Terlihat Miskin Padahal Sultan

Terlihat Miskin Padahal Sultan
Bab 9


__ADS_3

Para pengawal pun maju serempak hanya untuk di jatuhkan kembali dengan mudah dan cepat, banyak dari mereka mengalami patah tulang tangan, kaki dan tulang rusuk mereka.


Namun sekarang yang maju adalah Raka, dia sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Widodo dan wanita tadi, mereka terlalu sombong hanya karena dia menguasai seluruh lereng gunung.


"Apa kalian tidak malu mengroyok wanita??" Ujar Raka dia langsung menendang mulut Widodo sampai tubuh Widodo terlempar keluar ruangan.


Merasa sangat ketakutan, wanita tadi pun ingin secepatnya pergi, hanya untuk dijatuhkan setelah kakinya merasakan ada benda yang memekul sangat keras. Sekarang wanita tersebut merasakan sakit yang sangat.


Raka maju ke depan dan wanita tadi menatap ketakutan 'bagaimana mungkin ada manusia sekuat ini di dunia' pikir wanita tersebut.


"Tolong tuan selamatkan hidupku, jangan lukai aku" ujar Wanita tadi sambil memohon pengampunan.


"Tadi kan temanku mau membayar uang ganti rugi kamu, seandainya kamu mau di ajak kerja sama, mungkin tidak akan terjadi seperti ini" jawab Raka dingin membuat wanita tadi begidik ketakutan.


"Maaf tuan" wanita itu sangat ketakutan sampai- sampai dia sudah menangis.


"Sekarang kami tidak akan meminta ganti rugi apapun tuan, kami akan pergi sergera" lanjut wanita tadi masih ketakutan.


"Sekarang dengarkan" bentak Raka.


"Karena ini sudah terjadi dan berkat kalian juga tempat ini menjadi kacau. Sekarang aku bicara soal bagaimana kalian akan membayar kompensasi untuk rumah makan ini" ujar raka masih sedingin mentimun.


Wanita tadi sangat menyesali tindakanya, seandainya saja tidak menyinggung orang yang begitu kuat dia tidak akan merugi sebesar ini.


"Baik tuan , saya akan membayar kompensasi semuanya dengan kartu tuan" jawab wanita tadi masih begidik ketakutan.


Wanita itu langsung menuju mesin pembayaran kartu dan mengeluarkan uang 15 juta rupiah. Sungguh dia sangat menyesali tindakanya.


Sekarang Widodo dan pengawalnya sudah bisa sedikit bergerak dan berdiri, tapi mereka masih bisa merasakan sakit yang sangat.


"Tuan maafkan saya" sekarang Widodo benar-benar ketakutan dan meminta maaf 'seandainya saya mengetahui dia begitu kuat aku tidak akan pernah berani menyinggungnya' pikirnya dalam hati.


"Maafkan kamu tuan" suara dari pengawal serempak. Mereka sekarang sangat menghormati Angel dan Raka. Raka hanya mengangguk ke Widodo dan pengawalnya setelah itu dia menuju ke pemilik rumah makan yang masih diam karena ketakutan.


"Maaf nyonya, kami tidak berniat membuat keributan disini" ujar Raka.


"Ah ah tidak apa-apa tuan, lagian semua kerusakan sudah di bayarkan oleh nona tadi" pemilik rumah makan tidak berani bicara sembarangan karena dia tau , dia tidak boleh menyinggung salah satu dari mereka.


"Apakah uang 15 juta sudah cukup nyonya??" Tanya Angel ke pemilik rumah makan tadi.


"Sudah lebih dari cukup nona muda" jawab pemilik rumah makan tadi dengan sedikit membungkuk.


"Baiklah kami permisi dulu nyonya" ujar Angel berpamitan.


Setelah itu dia menatap semua pengawal Widodo "jika kalian ingin tetap bisa menjaga gunung ini harap ingat kata-kataku, JANGAN PERNAH BERBUAT RUSUH LAGI DENGAN YANG LEBIH LEMAH DARI KALIAN" Angel bicara mengancam, orang-orang seperti mereka harus benar-benar di ancam. Agar tidak seenaknya mengancam orang lain.


Semua orang hanya mengangguk tidak berani bicara, akhirnya Angel dan Raka meninggalkan rumah makan tadi dengan sangat cepat berlari. Bahkan semua orang tidak sadar sejak kapan Angel dan Raka pergi. Hanya hembusan angin yang terasa melewati mereka.


"Sungguh menyebalkan ada orang seperti tadi" ujar Angel sambil berlari, saat ini mereka masih melakukan pelatihan keringanan tubuh.


"Hahaha di dunia ini memang banyak sekali manusia-manusia berbeda" jawab Raka.


Mereka berlari semakin cepat, dalam singkat waktu mereka sampai di kediaman Raka.

__ADS_1


Mereka di sambut oleh pengawal atau pelatih mereka, pengawal dangat kagum dengan bakat Angel dan Raka karena bisa melampaui mereka berdua. Bahkan sekarang kedua pengawal yang melatih Raka, sudah bukan tandingan Raka saat berduel. Tapi Raka tetap menghormati mereka.


Mau seperti apapun, kedua pengawal tadi tetaplah guru pertama Raka.


"Tuan muda , sepertinya anda semakin mahir beladiri, pelatihan anda sudah melampaui kami" ujar salah satu pengawal.


"sepertinya begitu, tapi bagaimanapun kalian tetaplah guruku , terimakasih atas bantuan kalian" jawab Raka dengan anggukan.


Para pengawal pun senang setelah mendengar ucapan Raka.


Setelah jeda singkat mereka mengobrol sebentar, Angel pun pamit untuk pulang. Setelah Angel pulang Raka pun bersiap untuk pensiun karena tubuhnya juga butuh istirahat, tiba-tiba dia mendengar "tuan muda sebentar, ada yang ingin kami bicarakan dengan anda" ujar pengawal.


Raka hanya tersenyum dan mengangguk, dia pun duduk kembali.


"Sebenarnya ini rahasia tuan, keluarga anda adalah sepesialis ahli beladiri tinggi, bahkan tingkatanya semakin bertambah kuat dengan hitungan hari walaupun anda tidak berlatih setelah melakukan pelatihan pertama, tapi ini juga peringatan dari tuan dan nyonya Randika , atau orang tua anda, saat anda mencapai tingkatan yang lebih tinggi, tidak perlu mengexpos kekuatan anda , karena akan menimbulkan kekacauan besar dalam dunia manusia tingkat biasa. Mereka akan sangat ketakutan dan akan mulai memusuhi kita" kata pengawal menyarankan.


"Oh baiklah aku mengerti, sepertinya memang semakin lama, semakin banyak misteri dalam keluargaku, pantas saja dulu mas Bima bernah menghancurkan batu besar dengan kepalanya. Sebenarnya saat melihat itu, akupun sedikit takut setiap kali dekat denganya, batu yang begitu besar saja hancur, apa lagi hanya manusia biasa. Ternyata ada rahasia tersembunyi di balik semua ini" jawab Raka, dia akhirnya sedikit mengerti.


"Itu benar tuan, kami hanya dapat menjelaskan ini sekarang karena takut keluarga Jonson tahu dan menyebarkan ini kedunia luar" jawab pengawal.


"Tidak heran ya, walaupun aku menjalani pelatihan yang sama dengan Angelica tapi aku menjadi lebih kuat darinya, bahkan jarak kami terlalu jauh" ujar Raka.


"Benar sekali tuan, ini adalah pelatihan pertama anda, anda masih harus menyelesaikan satu bulan lagi pelatihan lanjutan, tapi tidak ada yang bisa kami berikan lagi ke anda, jadi anda akan belajar sendiri untuk mencapai puncak pelatihan pertama, gadis keluarga Jonson itu tidak akan mampu mengikuti pelatihan anda yang saat ini sampai sebulan kedepan, maka dari itu saya menyarankan anda untuk tidak melibatkanya" saran pengawal.


Setelah berfikir sebentar Raka bangkit dan bicara sedikit "baiklah aku mengerti" setelah itu dia pergi untuk membersihkan dirinya dan istirahat.


Pagi keesokan harinya Raka dan Deni bergi ke sekolah bersama tapi sekarang mereka memakai mobil sendiri-sendiri karena Raka sudah bisa menyetir.


Saat sampai dekat sekolah Raka hampir menabrak siswa dari sekolah lain.


Padahal dia yang salah karena berlari saat menyebrang jalan tanpa menoleh dulu. Raka hanya mengela nafas panjang.


Tapi siswa tadi langsung berlari dan membuka pintu mobil Raka, dia punya tubuh lebih besar dari Raka. Jadi tidak ada yang dia takuti, siswa tadi langsung memegang kerah Raka dan menariknya keluar mobil, siap untuk bertarung.


Tiba-tiba semua taman siswa itupun langsung mengepung Raka.


"Jangan berlagak sok di depanku hanya karena lu kaya" bentak siswa tadi.


"Em maaf" jawab Raka dengan senyuman.


"Hajar aja Ndra!!" Ujar teman siswa tadi, iya nama siswa tadi adalah Indra.


Deni yang melihat ini langsung keluar dari mobil untuk bersiap membela Raka. Tapi dia di halangi oleh teman-teman Indra yang banyak.


'Kenapa banyak sekali siswa dari sekolah lain di dekat sekolahku, apakah mereka di sini untuk membuat masalah' pikir Deni dalam hati.


Tepat saat Indra bersiap untuk memukul Raka, tiba-tiba banyak teman sekolah Raka langsung datang berlari ke arah mereka. Indra dan temanya semua langsung berlari karena mereka pasti kalah jumlah jika terjadi pertarungan.


Akhirnya pertarungan pun tidak terjadi "apakah kalian baik-baik saja?? " tanya Susi sambil mendekati mereka.


"Oh tidak apa-apa, terimakasih sudah menyelamatkan kami" jawab Raka.


"Sebenarnya aku sudah ketakutan, tadi sudah bersiap menghubungi pengawal kakakmu Raka" sambung Deni.

__ADS_1


Setekah bicara sedikit, mereka berterimakasih kepada semua teman sekolahnya yang langsung datang, kalau tidak pasti Indra akan mengalami luka yang parah. Tapi Raka tidak bilang seperti itu, dia hanya berterimakasih. Setelah itu semuanya kembali normal, Raka dan Deni pun mengendarai mobilnya masuk sekolah.


Susi pun bercerita sedikit, ternyata saat dia hendak masuk ke sekolah, Susi melihat Raka sedang di tarik keluar dari mobil. Melihat itu Susi langsung berlari dan memanggil semua teman sekolahnya untuk membantu Raka. Banyak teman yang mengenal Raka langsung berlari keluar untuk membantu.


Saat mereka keluar dari mobil, tiba-tiba ada suara berteriak keras datang dari siswi "waow mobil pa itu sangat mewah" semua orang langsung menatap gerbang dengan pemandangan sebuah mobil hitam mewah masuk perlahan kedalam sekilah merek, dan menuju tempat parkir yang sama dengan ferrari.


Setelah parkir tepat di sebelah ferrari, keluarlah wanita muda yang sangat familiar.


"Angelica" teriak Susi kaget.


Bahkan Deni dan Raka juga kaget, Angelica sebelum ini selalu di antar sopirnya. Tapi kenapa sekarang dia menyetir sendiri.


"Halo semuanya" ujar Angelica.


"Halo"


Halo...


"Halo..." banyak siswa dan siswi menjawab dengan antusias.


Laras yang melihat ini hanya semakin marah, Siwi pun demikian, dan semua wanita lainya hanya bisa iri dengan adegan ini.


"Kita ini mau sekolah atau pamer mobil sebenarnya??" Suara Laras lantang dan sangat jelas, tapi setelah itu dia dan kawanya langsung pergi.


"Sepertinya ada masalah dengan otak oran itu" ujar Susi.


"Haha tenang saja sayang, tidak udah di pikirkan" jawab Deni. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Laras yang dulunya lembut, 'apakah dia kerasukan jin atau apa ya hahaha' pikir Deni dalam hati.


"Sudah-sudah, ayo kita masuk dulu dan mengobrol di kelas saja" ujar Raka, setelah itu dia menatap Angel dan menggandeng tanganya.


"Em baiklah" jawan Angel.


Merekapun langsung menuju ke kelas.


Didalam kelas , Laras masih menatap tajam ke mereka 'seandainya aku menjadi kaya raya seperti kalian, pasti aku ku tunjukan kepada kalian kalau kalian bukanlah siapa-siapa dan hanya beruntung memiliki keluarga yang kaya' pikir Laras dalam hati, setelah itu dia mengalihkan pandanganya ke depan.


"Tadi kok sepertinya rame di depan sekolah, ada apa sebenarnya??" Tanya Angel.


"Tadi Raka hampir di pukuli oleh siswa sekolah lain, karena hampir menabraknya, padahal siwa itu sendiri yang salah, menyebrang kok gak lihat kanan kiri.... "


"Tadi seandainya aku gak lihat pasti Raka sudah babak belur di hajar mereka" potong Susi langsung saat Deni menjelaskan.


"Ah apakah begitu, apakah kamu melawan??" Tanya Angel ke Raka.


"Dia mana mungkin melawan, mekera terlalu banyak" Susi yang menjawab.


Tapi Angel hanya tersenyum dan menatap Raka, dia tau seperti apa kemampuan bertarung Raka. Raka hanya membalas senyum Angel karena tidak perlu juga membuat keributan di depan Susi dan Dani. Walaupun Dani mengetahui tentang pelatihan Raka, dia tidak tahu apa-apa tentang kemampuan Raka, karena setiap kali Raka dan Angel berlatih, dia palah pergi maen dengan Susi.


Dalam sekejab kelas pun berakhir dan semua siswa siswi keluar dari kelas untuk pulang.


"Aku sudah tahu semuanya, jadi mulai sekarang aku gak akan ganggu pelatihanmu" tiba-tiba Angel angkat bicara saat jalan keluar kelas bersama Raka.


Raka pun sontak kaget dan langsung menjawab "bagaimana kamu bisa tahu??"

__ADS_1


"yah aku sudah tahu dari ayahku tentang keluargaku, saat kita pertama kali menjalani pelatihan yang mengerikan itu..... " Angel pun bercerita semuanya , waktu itu setelah menjalani pelatihan pertama kali dengan Raka, dia merasa sangat putus asa karena terlalu kejam dan tubuhnya di paksa melalukan semua gerakan yang orang normal pun tidak bisa lakukan. Saat pulang dalam keadaan lelah, ayahnya sangat khawatir dan bersiap memanggil dokter keluarga. Tapi Angel meminta ayahnya untuk tidak khawatir karena dia telah meminum jamu dan membuat tubuhnya semakin membaik.


__ADS_2