
Angelica hanya tersenyum dengan tatapan semua orang padanya.
"Ayo kita masuk,.!!" ajak Susi ke Deni dan Angelica.
"Eh Nona sebentar,." tiba-tiba ada wanifa memanggil dan Angelica langsung menolah.
"Apakah kita saling kenal,.??" tanya Angelica pada gadis itu.
"Kamu tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu, bukankah kamu kekasih Raka Randika,.??" tanya gadis ini dengan senyuman.
Deg?? jantung Deni dan Susi hampir copot.
Deni dan Susi mengingat jelas gadis ini, ternyata dia adalah pemandu lagu di temoat karaoke yang bertemu dengan mereka sewaktu menjemput Angelica.
"Hay, bukankah kamu Dista,.??" sambung Deni sebelum Angel sempat menjawab pertanyaan Dista.
"Iya tentu saja, bukankah kamu teman Raka,.?? dimana dia,.?? apakah dia sudah bangkrut lagi,.?? sampai tidak pernah kelihatan batang hidungnya lagi,.??" cerocos Dista kembali menghina Raka.
"Oh maaf, itu bukan urusanku... kita pergi dulu ya, baey,.??" jawab Deni seraya melambaikan tanganya, karena tidak ingin Dista banyak bicara tentang Raka.
"Hey tunggu, kalian sombong sekali pergi dariku begitu saja,.!!!" teriak Dista yang tak terima, Diata pun sontak berlari dan mencegah Deni untuk pergi.
Angel dan Susi hanya saling pandanh, di buat bingung dengan pergantian peristiwa. Apalagi Angel yang saat ini bingung di buatnya.
'Apakah gadis Dista ini mengatakan dengan sungguh-sunggub bahwa aku kekasih Raka Randika, atu Tuan Muda keluarga Randika,.?? tapi mana mungkin,' batin Angel bertanya-tanya.
"Ada apa lagi,.?? kalau kita terus mengobrol, entar keburu sore dan tidak jadi masuk kedalam,." ucap Deni sinis pada Dista.
"Dasar,.!!!" ucap dista marah, dia di perlakukan seperti ini oleh seorang cowok yang mengendarai Ferrari dan itu membuatnya tak nyaman, tapi salah dia sendiri selalu memandang rendah orang yang tidak di sukainya.
"Aku akan menemani kalian ke dalam,." tambah Dista seraya menggigit bibir bawahnya, 'aku tidak peduli Raka, anak ini mungkin lebih kaya dari Raka, dan yah aku harus mendapatkanya, tidak peduli dengan dua wanita ini,.' batin Dista seraya tersenyum sendiri.
"Dasar Gila,." ucap Deni lirih dan masih di dengar Susi dan Angel, keduanya kemudian terkekeh.
"Apa-apa yang kalian tertawakan,.??" tanya Dista pensasaran, lagian masih banyak orang memandang mereka, bisa-bisa Dista akan mempermalukan dirinya sendiri jika di tolak Deni.
"Kita bisa masuk sendiri, sudah ya nanti keburu sore,." sahut Amgelica seraya langsung berjalan melewati Dista, Deni dan Susi hanya mengikuti dari belakang, dan juga meninggalkan Dista.
Dista benar-benar telah mempermalukan dirinya sendiri sekarang. Dista menunduk malu sebelum berlalu pergi dari lokasinya saat ini.
"Siapa sih gadis tadi sombong sekali nada bicaranya,." gerufu Angel merasa jengkel dengan Dista.
"Dia hannya ssorang Pemandu Lagu Ngel,." jawab Deni.
"Oh iya Den, sepertinya kamu mengenalnya ya,.??"
"Kita cuma sekali ketemu, tapi untuk saat ini kita fokus jalan-jalan saja, tak perlu memikirkan wanuta gila itu lagi," jawab Deni.
"Baiklah, kita langsung masuk taman bunga ya,.?? Atau kamu dan Susi mau ku foto dulu di depan pintu masuk,.??" goda Angel pada keduanya.
"Ah iya, tolong foto'in kita di depan pintu masuk ya Ngel,.!!" pinta Susi seraya menarik Deni dan membawanya kedepan pintu masuk Celosia.
"Ah baiklah,." ucap Deni pasrah.
Cekrek, cekrek
Cekrek,
Cekrek
Cekrek
"Sekarang gaya bebas,!!" pinta Angel.
__ADS_1
Keduanya langsung "pose" saling ledek, sangat lucu jika pasangan Deni dan Susi saling ledek.
Setelah membeli tiket masuk, ketiganya langsung masuk kedalam. Mereka di kejutkan dengan terowongan yang penuh dengan bungga, ada berbagai macam anggrek langka, dan bunga-bunga langka yang sangat terawat di dalam, Susi meminta di fotoin dengan bermacam gaya seperti biasanya, Angel menjadi foto grafernya.
Deni hanya bisa mengikuti kekasihnya itu, karena tidak ingin mengecewakanya.
Di dalam Celosia ada berbagai karangan bunga yang di desain sangat indah, ada juga jembatan kaca, dan jembatan penung dengan bunga. Semuanya pemuh bunga yang langka dan indah.
Sekitar 2 jam lebih, ketiganya bermain di dalam Celosia. Angel bahkan sempat melupakan kejadian-kejadian yang telah berlalu, rermasuk kejadian dengan Dista.
"Sudah cukup, sepertinya hari sudah mulai gelap,." ucap Deni.
"Baiklah, tapi sebelumnya kita makan dulu ya, aku sudah lapar,.??" tanya Susi yang membuat Deni dan Angel terkekeh kembali.
"Tadi kan baru saja makan,.?? masak sekarang makan lagi,.??" tanya Deni.
"Biarin lah, namanya juga laper, aku makan sendiri kalau kalian tak ikut.," ketus Susi.
"Dasar..., baiklah kita ikut,." ucap Angel ramah.
Akhirnya Angel dan Deni mengikuti Susi mencari makan di restoran dalam Celosia.
Makanan yang di sajikan benar-benar enak, dan ketiganya makan dengan lahabnya.
Selesai makan, ketiganya keluar dari dalam Celosia langsung menuju tempat parkir.
"Aku ketoilet sebentar ya, kalian tunggu sini saja, aku kebelet banget soalnya,.??" ucap Deni seraya mengelus perutnya.
"Baiklah, sana pergi,!!! , bauk,." ucap Susi seraya menutup hidungnya dengan telapak tangan.
Deni pun langsung berlalu ke toilet, setelah jeda 15 menit Deni keluar dari toilet.
"Berhenti,.!!!" tiba-tiba ada yang menghentikan langkah Deni, ada sekitar 12 pria dewasa.
"Sebaiknya kau ikut kami dan jangan banyak bicara,!!" pinta salah satu pria.
"Bagaimana kalau aku menolak,.?? lagian aku tidak kenal kalian," jawab Deni.
"Aku akan mematahkan kaki dan tanganmu jika kau menolak,." ucap lelaki tadi dengan dinginya.
Deni sendiri mulai berfikir bahwa dia tidak akan bisa mengalahkan semua pria ini sendirian, jadi dia langsunh berlari.
"Hey berhenti,!!!" teriak semua pria seraya berlari mengejar Deni.
Deni tidak mengiraukan mereka dan hanya berlari menuju parkiran mobil. Ke 12 pria itu dengan cepat mengejar Deni dan langsung mengepungnya, karena ini sudah sore, jadi sudah tidak banyak orang orang di lokasi.
"Eh Ngel,. bukankah itu Deni,.??" tanya Susi pada Angelica seraya mengacung ke arah sekumpulan orang.
Angel pun hanya menoleh ke tempat yang di tunjuk Susi,
"Sepertinya dia dalam masalah," ucap Angel seraya menatap tajam kerumunan.
"Kita harus menolongnya sebelum terlambat,." lanjut Angelica, sebelum melompat dan berlari menuju kerumunan.
"Berani sekali kau lari dari kami," bentak pria yang mengejar Deni.
Deni hanya mengerutkan kening dan menatap tajam pada pria yang membentaknya.
"Berani sekali kau menatapku seperti itu, akan ku patahkan lehermu sekarang juga,.!! ucap Pria itu dingin sebelum mengangkat tanganya memberikan tanda pada bawahanya "hey Pria.... tangan anak kecil ini dan beri dia pelajaran,.!!" lanjut Pria tadi.
Bawahanpun hanya melompat dan bersiap melumpuhkan Deni.
PLAK
__ADS_1
PLAK
PLAK
PLAK
PLAK
Semua pria yang melompat untuk menghajar Deni, tiba-tiba merasakan tamparang yang begitu keras mengenai pipinya dan langsung jatuh ke tanah, bahkan sampai sebagian giginya copot dan mulutnya berdarah.
"Arhhhhhhhh..." teriak semua pria yang tertampar tadi.
"Siapa kau berani sekali mengganggu urusan kami,.??" ucap pemimpin tadi dengan dingin, tapi dia juga merasakan keringat dingin mulai menetes di dahinya.
"Aku akan memberi pelajaran siapapun orang yang berani menyentuh temanku, jika kau tahu, lebih baik pergi karena belum menyentuh temanku, atau....." kalimat Angelica berhenti sebelum melirik tajam pemimpin tadi.
"Apa maksutmu,.?? kau pikir aku takut denganmu,.?? kurang ajar,." ucap pemimpin tadi sebelum melompat dan bersiap mendaratkan pukulan telak ke wajah Angelica, hanya untuk di jatuhkan saat Angelica menendang tepat di ulu hatinya sampai pria tadi meringkuk di tanah.
"Arhhhhhh, bagaimana mungkin ada wanita sekuat ini, dia bahkan lebih kuat dari pasukan militer,." gumam pemimpin tadi seolah tak percaya saat menatap Angel.
"Aku sudah bilang kan tadi,.!! jangan buat aku mengulangi perkataanku lagi,.!!" ucap Angel dingin.
"Ba-baik Nona, maafkan kami,." ucap pemimpin tadi dengan gagap, dia merasa dunianya telah hancur saat memegangi perutnya.
"Pergi!!!! sebelum aku berubah pikiran,!!" bentak Angel dengan dingin.
Semua pria hanya berani menundukan kepalanya dan meninggalkan Angelica dan Deni, mereka merasa sangat malu karena di kalahkan oleh wanita. Padahal mereka adalah preman yang menguasai daerah Bandungan.
"Kau sangat kuat,." ucap Susi kagum pada kekuatan Angelica yang semakin kuat.
Angelica hanya mengela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Ayo balik, jangan sampai Tuan Jonson khawatir karena kita belum pulang seharian,." sahut Deni.
"Baiklah kita langsung pulang,." jawab Angelica dengan anggukan.
Ketiganya lansung menuju mobil untuk pulang mengantar Angelica.
---
Di tempat lain, semua pria langsung di bawa ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan.
"Maafkan kami Dis, kami semua bukanlah tandingan gadis itu sama sekali.," ucap pemimpin kelompok tadi pada Dista.
Benar sekali, yang mengirim orang-orang ini untuk memberi pelajaran pada Deni adalah Dista sendiri, dia merasa di permalukan dan berencana membalas dendam pada Deni.
"Bagaimana seorang wanita bisa mengalahkan kalian, bukankah kalian bilang padaku bahwa kalian penguasa sini, jangan bercanda denganku.," ucap Dista merasa kecewa dengan orang-orang suruhanya.
Dista sudah merencanakan semuanya dengan matang, dia akan menjebak Deni. Jika Dista bisa menjebak Deni dan seolah dia yang menyelamatkanya, mungkin Deni akan merasa berhutang budi dan mau menerimanya. Tapi orang-orang suruhanya bisa di kalahkan dengan mudah, bahkan sampai terluka begitu parah, hanya menghadapi seorang wanita. Dista merasa seolah tak percaya dengan kejadian ini.
"Wanita itu memang sangat kuat Dis, ini semua bukti luka kita yang terkena tamparan serta tendanganya yang begitu kuat dan cepat, bahkan kami tidak punya kesempatan untuk menghindar, apalagi melawan.," jelas salah satu pria dengan nada tinggi karena Dista tidak mempercayainya.
"Huh, kamu bisa di kalahkan seorang wanita, tapi masih berani membentaku, aku curga bahwa kamu sebenarnya bukan seorang pria,." cemooh Dista dengan menyindir pria itu langsung sambil meliriknya.
"Kurang ajar...." teriak pria tadi siap menghajar Dista karena berani merendahkanya.
PLAK!!!
"Arhhhhhh" teriak Dista karena menerima tamparan yang begitu kuat dan keras.
"Jangan menghina kami hanya kau telah mampu membayar, kamu tidak lebih dari seorang pelacur di depanku,." ucap pemimpin tadi dengan tegas.
Bahkan orang yang tadi bersiap menyerang Dista juga kaget, karene yang menampar Dista adalah pemimpinya sendiri. Dista hanya bisa menunduk di lantai Puskesmas karena merasa malu. Dia juga menyesal telah salah memilih orang bayaran untuk menjebak Deni.
__ADS_1