
Akhirnya gadis sebelumnya ikut tinggal di hutan bersama Raka.
Raka sempat kasihan pada gadis ini, tapi tidak peduli lagi karena gadis ini sangat cerewet.
Raka memilih pergi setiap gadis tadi mulai ceramah dengan panjang kali lebar.
***
Tanpa terasa seminggu sudah Raka tinggal bersama gadis ini, tetapi mereka sama sekali belum mengetahui nama satu sama lainya.
'Sungguh aneh, seminggu beraama Pria hutan ini, tapi belum mengetahui namanya, bukankah itu koyol,.' Batin wanita tadi.
"Hey apakah kau tidak akan memberi tahuku namamu,.?? Jadi bagaimana nanti saat aku memanggilmu,.??" Tanya gadis itu.
"Terserah kau saja, bukankah kau biasa panggil aku dengan Pria hutan,.??" Jawab Raka dengan senyum kecut.
"Arghhhhh, kenapa sih kamu keras kepala banget,.??" tanya Melany dengan nada tinggi.
"Dasar wanita!!,." Gumam Raka yang di dengar Melany.
"Apa?? Kenapa emang kalau aku wanita,.??" Tanya Melany ketus.
"Yah, berisik tau,.??" tanya Raka saat berdiri, siyap pergi.
"Tunguuuuu,.!!" ucapa gadis tadi seraya tanganya memegang tangan Raka, "maafkan aku, aku hanya ingin menolongmu keluar dari sini karena sejak kau menolongku..... aku....," Melany tidak melanjutkan kerena memalukan. 'Masa iya cewek yang tembak cowok' batinya.
"Hemmm,.??" Raka menoleh penasaran saat gadis tadi tidak melanjutkan.
"Sudah tidak usah di fikirkan,." jawab Melany merasa malu.
"Tapi kamu tetap disini ya, aku hanya ingin bersama kamu dimanapun, aku janji gak akan cerewet lagi,.!!" Tambah Melany lembut dan meyakinkan, sekarang mata nya berkaca, tanpa terasa bulir bening dari matanya pun terjatuh dan semakin derasnya.
Raka hanya mendengus sebelum kembali duduk, karena dia paling tidak tahan melihat seorang wanita menangis di depanya.
"Panggil saja aku Raka,." ucap Raka pelan seraya mengusap air mata gadis tadi dengan lembut, tapi masih di dengar gadis tadi.
"Apa?? Aku kurang dengar,.??" tanya Melany saat semakin mendekat ke Raka.
"Aku sudah memberi tahumu, terserah kau dengar atau tidak,." jawab Raka sinis.
"Ah iya iya, aku dengar, maaf," jawab Melany lembut saat meminta maaf ke Raka, "panggil aku Mela ya,.!!" tambah Melany.
"Baiklah,." jawab Raka seraya memalingkan wajahnya.
"Urghhhhh, kenapa sih kamu,.?? Selalu membuang muka saat bicara denganku,.??" tanya Melany penasaran saat menatap Raka.
Melany juga tidak tahu apa yang terjadi denganya, dia merasa aneh saja melihat Raka seperti ini.
'Apakah Pria ini tidak tertarik padaku,.??' Batin Melany, masih belum bisa terima kenyataan.
Saat teejadi keheningan antara keduanya, Raka mendengar ada ratusan orang mendekat ke arahnya.
"Kamu diam, jangan bicara,.!! Ikusi saja permintaanku,!!." pinta Raka pada Melany.
"Apa,.??" Apa maksutmu,..."
Sebelum Melani melanjutka bicaranya, Raka sudah menutum mulutnya dengan tangan.
"Jangan berisik, patuh saja,." ucap Raka meyakinkan.
Melani hanya mengangguk yang artinya dia setuju.
__ADS_1
Wajah Raka semakin dekat ke wajah Melany, dan nafasnya pun sudah sangat terasa. Raka membaringkan Melany di tempat tidur.
Wajah Melany sudah merah, Raka semakin dekat dan wajah keduanya sudah tidak ada pembatas lagi. Melany hanya menutup matanya, 'ya Tuhan maafkan aku, aku ingin Pria ini menjadi miliku bagaimanapun caranya, jika hal dosa aku lakukan di sini bersama Pria ini, mohon ampuni dosaku Tuhan,' batin Melany, pikiranya sudah kemana-mana, dalam hatinya ada rasa takut, tapi juga ada rasa senang karena Raka mau menyentuhnya. Jantung Melany terpacu semakin cepat saat bibir Raka terasa mendekat ke telinganya dan nafasnya juga sangat terasa membuat tubuh Melany terangsang dan menggeliat, walaupun mulut dan matanya masih tertutup. Terlihat Melany sangat menikmati dengan senangnya.
"Aku akan kebawah, tetap disini jangan bergerak,." Bisik Raka pada Melany, ini membuat Melany terbelalak dan membuka mata nya 'langsung ke bawah, hadus apakah aku sudah siap?? Tuhan tolong maafkan dosa ku, saat ini aku bahagia banget Tuhan, aku berharap Pria ini melakukanya dengan pelan,.' batin Melany saat tubuhnya sedikit begidik, karena dia belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
Apalagi selama ini dia tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, selain menjadi teman ataupun sahabatnya.
Tiba-tiba, Raka melepaskan tanganya sebelum melompat ke bawah. Melany yang kaget langsung di buat melongo saat langsung bangun dan terduduk di tempat tidurnya.
"Apa??" Melany sungguh tak percaya dengan yang di lihatnya.
"Pria itu tadi hanya mengerjaiku atau bagaimana,.??" Gumamnya merasa malu dan marah.
"Jadi apakah aku terlalu berharap, atau arghhhhh, apakah kamu tidak tertarik padaku Raka, tadi ku kira kamu mau melakukan..... arghhhh aku terlalu banyak mikir,.... apakah aku terlalu berharap dia melakukan lebih... aku wanita bodoh.... kenapa aku bisa berfikiran seperti tadi ahhhh... aku akan meminta kejelasan ini, daras pria brengsek, beraninya kau memberikan harapan palsu padaku.... aku akan memberimu pelajaran nanti.... uh dasar pria gila... tapi tapi, ganteng juga ahhhhh aku bisa gila.... kemana preginya pria gila itu... Raka...." cerocos Melany merasa kecewa dengan tingkah Raka yang di kiranya akan menyentuhnya, Melany menjadi sangat cerewet saat bicara sendiri di rumah pohon. Seperti orang setres karena hasratnya terabaikan.
***
Kembali ke Raka, setelah melompat. Raka langsung berdiri di atas cabang pohon untuk melihat lebih dari 300 orang sedang berlatih bela diri di hutan.
"Apakah mereka Tentara,.??" Batinya pelan
"Tapi mereka tidak berseragam sama sekali, dan sepertinya mereka asli penduduk sini,." Batin Raka melanjutkan pengamatanya.
"Aku harus mendekat,."
Raka melompat sangat cepat dan tiba di balik pohon untuk bersembunyi dari orang-orang ini.
"Kita akan terus berlatih dan mengumpulkan masa sebanyak mungkin untuk mendukung kita memerdekakan tanah kita!!!" Ucap salah satu orang yang berasa di depan, seperti pemimpin mereka.
"Siyap laksanakan," teriak semua orang serempak.
"Tanah kita tanah paling kaya akan minyak dan emas, tapi Negara ini mengambilnya dari kita dengan paksa, bahkan kita tidak di berikan sedikitpun sisa, kita akan mengambil kembali yang seharusnya menjadi milik kita, dan memerdekakan tanah kita, Betul,.???" Teriak lelaki yang seperti pemimpin itu.
Sebenarnya Raka tidak mau terlalu ikut campur urusan mereka, jadi dia bersiap untuk pergi.
"Siapa di sana,.??" Teriak pemimpin yang sepertinya mengetahui keberadaan seseorang di balik pohon.
Mendengar teriakanya, Raka mengurungkan niatnya untuk melompat karena pasti akan ketahuan bahwa di hutan ini ada manusia selain mereka. Jika Raka melompat dan berlari itu mudah saja, tapi bila semua orang ini mencarinya dan menemukan persembunyianya, bisa-bisa Melany juga dalam bahaya. Semua orang ini ahli dalam bela diri, walaupun Raka bisa melihat bahwa dia mampu mengalahkan semuanya sendirian. Raka tidak berniat bertarung kecuali tidak punya pilihan lain.
"Hey kau, periksa si balik pohon itu,.!!" Perintah Pemimpin kepada salah satu bawahanya.
Bawahan itu tidak takut sama sekali, mereka semua telah menjalani pelatihan militer yang sangat ketat. Dalam pandangan Raka, orang-orang ini bisa dengan mudah mengalahkan 2 tentara sekaligus saat di keroyok tanpa menggunakan senjata. Karena saat ini semua orang tidak memegang senjata apapun kecuali kayu, sebagai latihan bela dirinya, dan jelas jika bertarung dengan tentara bersenjata lengkap, mereka semua akan mati sebelum mendekat. Mungkin ini alasan mereka masih terus bersembunyi di dalam hutan. Tapi jelas mereka bukan tandingan Raka sama sekali, walaupun menyerang sekaligus.
Karena dalam pengasinganya, Raka masih terus berlatih dan menjadi semakin kuat.
"Baik Tuan,." Jawab bawahan tadi dengan anggukan sebelum mendekat ke pohon yang di perintahkan.
Raka membuang nafas kasar sebelum keluar dari balik pohon dengan senyuman.
Semua orang kaget, karena Raka hanya mengenakan celana pendek tanpa baju.
"Siapa kau,.??" Tanya bawahan tadi dengan tatapan dinginya, semua orang juga memandang Raka dan siap bertarung juga.
"Telihat dari kulitnya, dia bukan termasuk dari suku kita,." Tambah beberapa orang sebelum maju untuk mendekati Raka.
"Maaf sudah mengganggu, aku hanya ijin tinggal di tempat ini,. aku tidak akan mengganggu ataupun ikut campur urusan kalian, jadi mohon biarkan saya pergi!!" ucap Raka seraya menyatukan telapak tanganya dengan sedikit memohon kepada mereka.
Semua orang hanya tertawa teebahak-bahak mendengar cerita Raka.
"Hahahaha apakah orang ini gila,.??" tawa orang-orang semakin keras.
__ADS_1
"Hey anak muda, kamu pikir kami akan melepaskanmu begitu saja,.??" tanya orang yang mendekati Raka.
"kumohon jangan membuat masalah denganku,." ucap Raka mengingatkan.
"Hahahahaha......
Semua orang tertawa terbahak-bahak lagi.
"Hey anak muda, kae sendiri jangan membuat masalah dengan kami,.!!!" Ucap pemimpin mereka dingin.
Raka tak tau harus bicara apa lagi pada mereka agar tak menyakiti semua orang ini. Setelah berfikir sebentar, Raka punya ide.
"Baiklah sepertinya kau yang terkuat di antara yang lain,. bagaimana ini, aku ingin menawarkan sebuah perjanjian padamu,." ucap Raka tegas.
"Apa?? Penjanjian,.?? Kamu pikir kamu siapa?? Sampai ingin membuat perjanjian denganku,.??" Bentak pemimpin mereka ke Raka dengan suara lantang.
"Aku menangtangmu bertarung, satu lawan satu,." Ucap Raka tegas, karena tak punya pilihan lain, dia bisa saja berlari dari mereka, tapi bagaimana bila mereka mencarinya dan menemukan tempat tinggalnya saat Raka tidak ada, bisa-bisa Melany menjadi korban mereka.
"Apa kau berani menantangku,.?? Apakah aku tidak salah dengar,.?? Hahahahaha....." Tanya pemimpin mereka sebelum tertawa.
"Jadi bagaimana,.?? Apakah kamu takut,.??" ucap Raka tersenyum sinis, dan membuat pemimpin mereka marah.
"Apa takut,.?? Sebaiknya hati-hati bicaramu nak,.!! atau kau akan mati di tanganku,.!!" jawab pemimpin kelompok itu.
"Baiklah aku terima tantanganmu, jadi bagaimana dengan perjanjianya,.?? Apa yang akan kau berikan padaku jika aku menang,.??" tambah pemimpin tadi.
"Baiklah, jika kau menang, aku akan menjadi budakmu selama kau mau,." jawab Raka percaya diri.
"Apa?? Sebaiknya kau tidak menyesal nak,." Ucap lemimpin tadi.
"Tuan apakah anda serius akan bertarung denganya,.??" Tanya salah satu pria kepada pemimpinya seraya menunjuk ke Raka.
"Iya mau bagaimana lagi, anak kecil ini berani menantangku, dan aku tidak pernah takut ataupun mundur dari pertarungan,." jawab Pemimpin tegas.
"baiklah, kami akan membuat barekade keliling membundar agar anak ini tidak kabur saat nanti kalah,." Jawab anak buahnya.
Tanpa menunggu lama, seluruh anak buahnya sudah membuat barekade membundar, Raka dan Pemimpin ada di tengah.
"Jangan pernah menyesali tindakanmu nak,." Ucap Pemimpin tadi sebelum dengan cepat berlari ke arah Raka.
Dalam sekejap dia memukul, menendang, mencakar, mendorong, menyiku, seluruh keterampilanya di layangkan untuk menyerang Raka, tapi pemimpin tadi sangat meremehkan Raka. Raka dengan mudah menghindari segala seranganya.
Raka bahkan tidak melawan ataupun menangkis serangan pemimpin tadi, hanya menghindari segala seranganya.
Ini sudah jelas terlihat siapa yang jauh lebih kuat, pemimpin tadi memiliki stamina yang luar biasa, dia mampu menyerang selama satu setengah jam tanpa henti dengan kecepatan dan ketepatan yang sama. Seandainya bukan Raka, pasti sudah menjadi bubur.
Seluruh anak buahnya kagum dengan kecepatan pemimpin mereka, akan tetapi mereka lebih kagum dengan Raka yang tak tergores sedikitpun walaupun di serang dengan membabi buta.
Setelah lebih dari satu setengah jam barulah pemimpin tadi semakin kelelahan dan gerakanya semakin pelan dan melemah, sebelum berhenti karena kelelahan.
"Bagaimana mungkin, anak ini bisa memiliki keterampilan seahli ini,." Gumamnya pelan seraya nafasnya masih ngos-ngosan.
"Apakah sudah selesai,.??" tanya Raka di sertai senyum kecut.
"Apa?? Jangan sombong kau anak muda,!!," geram pemimpin tadi karena merasa terhina dengan kata-kata Raka.
Pemimpin tadi langsung kembali menyerang Raka, tapi sama seperti sebelumnya, Raka menghindari segala seranganya dengan mudah.
"Bagaimana... bagaimana mungkin..." gumam pemimpin tadi dengan nada tidak percaya, sayang sekali saat dia berhenti karena berfikir.
Raka menendangnya di bagian kepala dengan tendangan pisau yang mengenai tepat di jidatnya. Tendanganya sangat kuat dan cepat, bahkan pemimpin tadi tidak sempat berfikir untuk menghindar. Pemimpin tadi terlempar dan jatuh tepat di kaki anak buahnya.
__ADS_1
Mulut semua orang mengenga lebar, tak percaya.