
Setelah menatap Mizuka sebentar, Raka kembali melanjutkan makanya. Mizuka sendiri hanya mendekat dan duduk berhadapan dengan Raka.
Dia menatap lelaki di depanya dengan penuh hasrat 'apakah kamu ingin mengulangi pergulatan tadi malam, jika kamu meminta, aku akan langsung meng iyakanya. Tapi aku juga tidak mungkin mengajak kan, walaupun aku sangat menginginkanya, aku gengsi hehe itu sangat memalukan sayang.' Batin Mizuka.
Setelah selesai makan, Raka langsung beranjak bersiap ke sekolah "baiklah, kamu bisa lakukan apapun yang kamu mau selama aku bergi, dan jangan lupa makan,!! Aku berangkat kesekolah dulu." Ucap Raka pada Mizuka sambil tersenyum.
"Apa?? Kamu masih sekolah??" Tanya Mizuka heran 'bukankah kita telah menikah, kenapa kamu masih bersekolah," pikirnya dalam hati dan merasa sedikit bingung.
"Yah aku kan memang harus sekolah, karena tak mungkin aku bisa memimpin keluarga kita bila aku tak pintar," jawab Raka masih biasa saja, belum sadar dengan gelagat aneh Mizuka.
"Oh iya benar juga hehe maaf, yaudah kamu semangat ya belajarnya agar nanti bisa memimpin keluarga kita dengan sangat baik," jawab Mizuka senang. 'Yah tentu saja kamu harus pintar karena kita akan segera punya anak dan kamu adalah pemimpinya, kenapa aku melupakan hal sekecil ini sih ah,' batinya.
"Baiklah, jika tidak ada yang perlu di katakan lagi aku akan berangkat, sampai nanti," ucap Raka melambai tanganya sebelum memalingkan badanya dan bersiap untuk pergi.
"Tunggu sebentar!!" Ucap Mizuka sambil berjalan cepat mengejar Raka dan memegang tangan Raka sebelum mencium dengan lembut punggung tangan Raka.
Raka pun merasa itu biasa saja, dan tidak terlalu menanggapi. Setelah itu mereka berpisah dan Mizuka masih mengantar Raka keluar.
"Hati-hati di jalan yah...." ucap Mizuka sambil melambaikan tangan.
Deni sudah berangkat lebih dahulu karena selalu antar jemput Susi, bahkan mereka sekarang sering pergi berduaan, dan bahkan Deni sering pulang malam.
Setelah Deni di beri aset exclusiv dari keluarga Randika karena dia teman baik Raka, dia sudah menjadi kaya secara otomatis dan menjadi penghambur uang.
*****
Raka tiba ke sekolah seperti biasa memarkir kendaraanya, tapi bedanya sekarang dia tidak memakai ferrari nya dan hanya mengenakan Brio saja.
"Hey Raka," sapa Siwi saat melihat Raka keluar dari mobil. Laras hanya diam dan sedikit senyum.
"Hey Siwi," balas Raka sambil melambai tanganya dan mendekat ke Siwi dan Laras.
Saat Raka mulai mendekat, bau parfumnya semakin menyengat karena sangat harum. Jantung Laras sendiri sudah semakin berdetak hebat karena setiap kali Raka mendekat dia akan salah tingkah seperti gadis yang jatuh cinta pada umumnya.
"Dimana ferrari mu Raka??" Tanya Siwi pelan saat Raka semakin dekat.
"Yah saya tinggal di rumah, lagian saya malas menggunakan mobil mewah." Jawab Raka sebelum menoleh ke Laras.
"Kamu kok diem saja, kenapa??" Tanya Raka ke Laras.
"Oh aku tidak apa, hanya sedikit bingung ku kira ada murid baru," jawab Laras menjawab dengan canggung.
"Apakah kamu akan mendekatinya??" Tanya Raka sambil terkekeh, bahkan Siwi ikutan terkekeh.
"Ah kalian menyebalkan." Jawab Laras tak senang karena sedikit malu dan mengerutkan dahinya.
"Baiklah-baiklah, maaf aku hanya bercanda kok," ujar Raka meminta maaf sambil memohon sedikit.
Laras hanya diam tapi menjulurkan lidahnya ke Raka.
"Yasudah, ayo kita masuk kelas!!" Sambung Siwi.
"Baiklah ayo," jawab Laras dan Raka bersamaan.
Siwi hanya menatap keduanya dengan kaget.
"Ehemmm-ehemmmm." Siwi hanya berdehem dan menggoda keduanya.
Laras terlihat malu dan menutup mulutnya sebelum dia langsung berlari langsung menuju kelas.
Raka sendiri biasa saja, karena hatinya sudah menjadi milik Angelica.
"Kenapa dengan anak itu, uch." Ucap siwi.
"Ayo kejar dia!!"ucap Raka dan kemudian dia menuju kelas bersama dengan Siwi.
Sampai di kelas mereka langsung duduk di tempat masing-masing, Raka sibuk dengan biasanya yang langsung membaca buku. Sedangkan Laras hanya curi-curi pandang menatap ketampanan Raka.
"Hey,hey, sudah-sudah, jangan terlalu berharap nanti sakit lagi..." ucap Siwi pelan.
Setelah itu susi menyenggolkan bahunya ke bahu Laras.
Laras sontak kaget karena dia sedang melamun.
"Ach siapa yang berharap sich..." jawab Laras menutupinya karena malu.
"Aku ini sahabatmu lo." Jawab Siwi yang mengerti sahabatnya sedang berbohong.
"Ah lu diem aja ya, ini disekolah." Jawab Laras kemudian dia pura-pura membaca.
"Hemmmmmmm, dasar." Ujar Siwi.
"Ayok sebaiknya belajar dari pada nanti gak bisa mengerjakan ulangan," ucap Laras mengingatkan Siwi, yah hari ini mereka ada ulangan matematika yang membuat otak mereka panas.
"Ah aku lupa," jawab Siwi seraya menepuk dahinya karena ingat sesuatu.
Mereka akhirnya belajar, hanya saja Laras masih diam dan curi-curi pandang menatap pujaanya 'sungguh lelaki sempurna' batinya.
Setelah melihat Angelica masuk kelas, Laras hanya mengecutkan bibirnya karena cemburu, ya seperti biasanya.
***
"Hey sayang, aku kira kamu belum berangkat." Ucap Angelica seraya mendekati Raka sebelum mereka berdua cium pipi kanan dan kiri, ini membuat hati Laras tertusuk dan rasanya sangat sesak. Tapi Laras hanya memalingkan muka karena dia tidak ingin menatap kemesraan mereka 'dasar penjilat, ini di sekolah bukan tempat mesra-mesra an huh.' Batin Laras sedikit pahit seperti brotowali.
"Oh maaf, tadi aku pake Brio." Jawab Raka tersenyum ramah.
"Oh jadi Brio itu milik kamu, ku kira ada anak baru hehe." Ucap Angelica kemudian dia duduk tepat di sebelah Raka. Dia bahkan memeluk Raka.
"Ini di sekolah sayang." Bisik Raka pelan dan mencium kening Angelica.
__ADS_1
"Biarin, aku kangen sayang." Jawab Mizuka setelah itu dia mengedipkan mata kirinya dengan manja.
"Ya kan kita sudah bertemu, tapi jangan berlebihan ini di sekolah." Ucap Raka pelan tapi sedikit tegas.
"Ah iya baiklah." Ucap Angelica seraya melepaskan pelukanya.
Mereka mengobrol sedikit sebelum belajar masing-masing setelah Raka mengingatkan bahwa hari ini ada ulangan Matematika.
***
Bell tanda masuk kelas sudah di bunyikan, Deni dan Susi juga sudah tiba dan duduk berdampingan seperti biasanya.
Tiba-tiba datang seseorang seperti Mahasiswi cantik yang masih kuliah dan masuk ke kelas mereka perlahan.
"Selamat pagi...." ucapnya pelan setelah tiba di dalam.
"Pagi...." jawab semua murid bersamaan.
"Terimakasih, perkenalkan nama saya Jesica Laurans, saya guru baru disini yang akan mengajar pelajaran bahasa inggris, kalian bisa panggil aku bu Jesica saja atau kak jesica, terserah kalian." Ucapnya memperkenalkan diri dengan senyum ramah.
"Wahhhh guru yang masih sangat muda." Ucap Deni takjup.
Guru hanya tersenyum pada Deni dan mengangguk sebelum Deni di cubit oleh Susi, sepertinya jiwa buayanya masih ada.
"Auw,... sakit sayang." Ucapnya pelan sambil menggosok bagian yang di cubit Susi.
"Dasar buaya." Ucap Susi ketus kemudian mengalihkan pandanganya.
"aku hanya memuji seorang guru, kenapa kamu marah??? Apakah kamu cemburu pada guru ini.... padahal kamu sangat cantik." Balas Deni tak mau mengakui kesalahanya.
"Terserah......." jawab Susi sambil menjulurkan lidahnya.
"Sudah-sudah," ucap sang guru menghentikan perdebatan dua pasangan muda ini.
"Maaf mau tanya bu, ibu baru lulus Kuliah kah??" Tanya seorang siswa berkacamata.
"Iya baru lulus tahun kemarin, jadi bisa di bilang ini pertama kalinya saya mengajar, lebih tepatnya belajar bersama dengan kalian semua, jadi mohon bantuanya ya!!!" Jawab guru itu kepada siswanya.
Setelah sesi perkenalan selesai, mereka melanjutkan pelajaran seperti biasanya sampai pulang sekolah.
"Eh guru tadi sangat cantik ya."
"Iya, mungkin karena beliau adalah guru termuda di sekolah kita."
"Berapa ya umurnya.."
"Aku kira dia seumuran kita, wajahnya juga seperti gadis SMA,"
"Apakah mungkin dia suka padaku ahahaha...."
"Dasar gila lu...
Banyak siswa yang menatap dan membicarakan guru baru yang dikira masih seumuran mereka.
***
"Oh iya, guru itu cantik juga, biar nanti ku antar dia pulang." Jawab Raka tersenyum.
"Apa????
Uch..." jawab Angelica sambil mencibit bahu Raka.
"auw sayang sakit," ucap Raka sambil mengelus bahu nya yang di cubit Angelica.
"Pacarku kok galak banget ya, mungkin aku beneran antar guru itu kalau masih di galaki." tambah Raka sebelum dia berlari dari Angelica sambil tertawa.
Apa??? Tunggu Raka, awas saja nanti," ujar Angel sambil mengejar Raka dengan senyum juga.
'Ah dasar pacarku senang sekali menggodaku..' batinya saat berlari mengejar Raka.
Karena saat ini mereka berada di sekolah, jadi mereka berlari seperti manusia pada umumnya tanpa meningkatkan kecepatanya.
Saat Raka mendekati depan ruang guru, tiba-tiba dia berhenti mendadak karena hampir menabrak seseorang yang familiar.
"Maaf bu hampir menabrak anda." Ucap Raka sopan pada guru baru itu.
"Oh iya, kenapa kamu berlarian.??" Tanya Guru tadi.
"Maaf bu pacar saya memang sedikit gila." Sambung Angel saat sampai pada Raka.
"Oh, walaupun gila tapi kamu sayang kan.??" Jawab guru itu menggoda Angel.
"A-yah iya sih," jawab Angel malu 'ternyata orang ini bisa juga bercanda ya' batinya.
Raka hanya bisa terkekeh.
"Apa sih yang di ketawain ah." Ucap Angel saat kembali mencubit Raka.
"Auw sakitttt, tolong bu dia galak banget, aku bisa mati disiksa dia." Ucap Raka menatap Angel sambil menjulurkan lidahnya meledek sebelum berlari bersembunyi di belakang bu Jesika dan dia terkekeh.
"Raka!!! Kembali!!" Pinta Angel dengan gemas dan sedikit mengerutkan dahinya.
Jesica hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah Raka dan Angel.
"Sudah-sudah, jangan bertengkar." Ujar Jesica sambil tersenyum.
"Bu tolongin aku ya, tolong antar aku pulang." Pinta Raka sedikit pura-pura memelas sebelum meledek ke arah Angel yang terlihat tak suka.
"APA KAMU BILANG??" ucap Angel benar-benar marah dan langsung mencoba menangkap Raka. Setelah tertangkap dia menjewer telinganya.
__ADS_1
"Aduh, aduh ,aduh. sakittt, kasihanilah saya...." pinta Raka pura-pura memelas.
"Aku akan memberimu hukuman, ayo ikut" bentak Angel.
"Jangan terlalu kasar nanti telinganya putus." Ucap Jesica sambil terkekeh.
"Biarin bu dia memang bandel," jawab Angel lembut, sebelum menyeret Raka ke mobilnya.
"Aduh lepasin sayang, ini beneran sakit." Ucap Raka memohon.
"Uch..." Angel memukul-mukul dada Raka sebelum memeluknya.
"Aku kan hanya bercanda kok kamu serius," ucap Raka lembut sambil mengusap Rambut pacarnya.
"Salahmu sendiri bikin aku cemburu." Ucap Angelica manyun.
"Hehehe jadi beneran cemburu ya, bagaimana jadinya jika aku mengantar bu Jesica ya," ucap Raka terkekeh.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU." Ucap Angelica tegas dan lantang.
"Tidak, tidak, dasar "Bojo galak"." Ucap Raka mencium kening Angel dan membuatnya tersenyum.
Keduanya masuk ke mobil Angel dan pergi bersama ke Restoran di kaki gunung Sindoro yang baru saja di resmikan setelah selesai pembangunan.
Restoran tersebut bernama Sindoro Restaurant Kitchen.
Saat mereka memarkir mobilnya, sudah terlihat pandangan iri ke arah mereka.
"Siapa yang mengendarai mobil semewah itu di Temanggung."
"Pasti orang yang kuat dan kaya."
"Mungkin salah satu dari Bos pendiri Abadi Jaya,"
"Dari plat nomornya itu asli milik orang Temanggung."
Saat Raka dan Angel memarkirkan Mobilnya, di luar sudah sangat rame membicarakan pemilik mobil.
"Pemiliknya pasti sangat tampan ataupun sangat cantik."
"Kita tunggu saja dia keluar."
Raka dan Angel membuka pintu mobil, semua orang menatap pintu dengan berdebar, padahal seandainya yang mengendarai adalah seorang Bos besar tidak mungkin Bos itu akan menyapa mereka, tapi mereka tidak ingin melewatkan bisa melihat Bos tersebut.
"Raka??" Teriak wanita dari salah satu orang tadi dengan tidak percaya setelah melihat kedua orang pasangan muda keluar dari dalam mobil.
'Siapa yang mengira, Raka bisa mengendarai mobil semewah itu bukankah dulu bisnis keluarganya bangkrut total dan meninggalkan hutang yang sangat banyak.' Batin wanita yang berteriak tadi.
Setelah mendengar namanya di teriakan, Raka menatap seseorang yang sangat familiar.
"Jadi ternyata kamu Raka, apakah kamu sudah lupa denganku." ujar wanita tadi dengan ramah saat mendekat ke Raka.
Angel hanya menatap Raka, Raka sendiri hanya mengerutkan kening karena dia sangat mengenal wanita ini.
Dulu saat keluarga Raka bangkrut, wanita ini selalu menghina dan mengejeknya.
Tapi saat ini dia bicara sangat lembut setelah Raka keluar dari mobil Angelica.
"Dina??" Ucap Raka kaget.
"Apakah kamu sudah lupa padaku Raka,??" Tanyanya lagi setelah dekat dengan Raka. Angel hanya masih diam menatap mereka.
"Maaf, sedikit pangling," jawab Raka cepat. Dia masih tidak percaya bahwa Dina yang sering menghinanya kini berubah 180 derajat.
"Apa kau bilang??" Ujar Dina sedikit tak suka dengan nada bicara Raka.
"Tidak apa, sekarang aku akan masuk kedalam untuk makan karena sudah lapar, jadi kami permisi dulu." Jawab Raka dengan wajah datarnya kemudian dia menggandeng Angel pergi, Angel yang bingung hanya mengikuti kekasihnya.
Dina di biarkan melongo, belum pernah ada orang yang memperlakukanya seperti ini sebelumnya. Dia menjadi marah saat dia dengan cepat mengejar Raka.
"Berhenti!!!" Dina teriak histeris saat Raka tidak memperdulikanya, semua orang saat ini menatapnya. Sungguh memalukan untuk wanita seperti dia sampai di tolak seorang pria.
Dina dengan cepat mencegat jalanya Raka dengan terengah-engah karena lelah setelah berlari.
"Ada apa lagi??" Tanya Raka sinis.
'Sejak kapan kekasihku menjadi begitu dingin' batin Angel.
"Kau???? Berani sekali kau mengabaikanku," bentak Dina yang sangat frustasi, Raka yang dulu dikenalnya sudah sangat berubah.
"Tidak ada niatku mengabaikanmu, aku hanya akan makan dengan pacarku." Jawab Raka ketus.
"Apa kau bilang, wanita ini pacarmu?? " Dina sungguh tak percaya bila Raka mempunyai pacar seanggun bidadari.
"memangnya kamu belum mengerti juga ya??" Tanya Raka pada Dina.
'Bodoh!!!bodoh!!!bodoh!!!, kenapa aku tidak memperhatikan wanita ini yang bergandengan tangan dengan Raka.' Batin Dina merasa malu.
"Jadi kecantikan ini pacarmu,.??" Tanya Dina pada Raka sebelum memandang Angelica dari atas kebawah
'Sungguh wanita yang sangat cantik, apa mungkin wanita ini hanya tertarik dengan uang Raka.' batinya mulai memikirkan sesuatu.
"Kenalkan saya Dina, teman Raka waktu SMP." Ucap Dina pada Angel.
"Iya, saya Angelica, senang berkenalan dengan anda," jawab Angelica sopan sambil berjabat tangan dengan Dina.
'Bukan hanya dia sangat cantik, namanya juga indah dan kulitnya sangat halus.' Pikir Dina dalam hati.
Raka hanya tersenyum kecut dengan Dina yang sepertinya menatap Angel dengan takjub karena Dina sama sekali bukan tandingannya.
__ADS_1
"Apakah sudah selesai, kalau sudah selesai kami mau masuk dulu," ucap Raka setelah itu menarik tangan Angel dan membawanya masuk.
"Baiklah." Jawab Dina, sekarang tidak menghentikan Raka.