Terlihat Miskin Padahal Sultan

Terlihat Miskin Padahal Sultan
Bab 72


__ADS_3

Pagi-pagi keesokan harinya, di tengah hutan seorang pemuda sedang melatih ratusan anak buahnya untuk menjadi ahli seorang ahli beladiri. Tentu saja pemuda tersebut adalah Tuan Muda Randika sendiri.


Mereka berlatih dengan pelatihan yang sangat mengerikan untuk menjadi seorang pengawal yang benar-benar kuat dan terlatih. Semua ini di lakukan agar pelatihan seseorang tidak menurun karena perkembengan zaman. Di tambah, saat ini mereka memerlukan keahlian bela diri yang sesungguhnya saat melindungi semua rakyatnya yang ada di dallam hutan.


Selesai pelatihan militer, semua orang kembali ke tempat persembunyian bawah tanah untuk makan dan minum sebelum membersihkan diri dari keringat.


"Terimakasih kalian masih setia padaku," ucap Raka dengan perasaan bahagia, dirinya sendiri tidak pernah mengira akan mendapatkan begitu banyak anak buah yang sangat setia padanya.


"Seharusnya kami yang berterimakasih, bukan hanya anda telah menerima permohonan maaf kami, anda juga membantu kelangsungan hidup kami di masa depan, dengan memikirkan kemajuan kami," jawab Liben senang juga.


"Ya itu memang sudah niatku dari awal, bahwa aku ingin merubah Indonesia agar menjadi Negara maju di masa depan, agar tidak menjadi tempat pembuangan sampah luar Negeri," jawab Raka seraya berfikir.


"Sungguh mulia keinginan anda Tuan, kami akan sangat senang membantu," jawab Liben dengan anggukan.


Semua orang berfikiran hampir sama, termasuk anak buah Randika yang dibawa Mizuka dan Silvia.


Setelah bertukar basa basi sebentar, Raka dan para pengawal bersiap membantu para pekerja untuk mulai membuat jalan menuju Kota terdekat, agar nanti memudahkan seseorang untuk datang saat membawa beberapa peralatan dari keluarganya.


Sebagian pengawal yang berketerampilan khusus di tugaskan untuk berburu dan mencari makanan, semua tugas dibagi rata, agar semuanya dapat selesai dengan cepat.


Tak terasa 7 hari berlalu begitu saja, dan jalan setapak sudah bisa di lewati sampai jalan raya di dekat Kota.


"Liben, tolong jaga semua orang disini! kamu yang aku percayakan menjadi pemimpin disini sementara aku akan pergi dan melihat-lihat ke Kota terdekat," pinta Raka pada Liben.


"Baik Tuan Muda, apakah anda ingin membawa beberapa pengawal juga,?" jawab Liben sebelum balik bertanya.


"Tidak! aku akan pergi sendiri, kalau bawa pengawal nanti takutnya tidak bisa leluasa saat menelusuri Kota," jawab Raka tegas.


"Baik, Tuan Muda, tolong berhati-hati!" pinta Liben.


"Ya pasti, aku pergi dulu," jawab Raka dengan anggukan sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Liben dan seluruh rakyatnya.


Raka berjalan dan berlari cukup cepat, dirinya bahkan melompat dari pohon ke pohon dengan lihainya. Dalam jeda singkat, dirinya sudah sampai di pinggiran Kota Jayawijaya. Raka yang mengenakan pakaian terbilang biasa saja perlahan mulai berjalan ke arah Kota. Raka tidak mengenakan keterampilanya yang bisa berlari dan melompat dengan cepat, dikarenakan akan ada orang yang melihatnya dan mungkin juga akan menyebarkan berita tentangnya.


"Hey Bung,!" sapa seorang lelaki setengah baya saat Raka sedang berjalan di pinggir jalan arah Kota.

__ADS_1


"Hem, iya Pak, ada yang bisa di bantu,?" tanya Raka ramah.


"Darimana asalmu Bung, sepertinya bukan dari daerah sini?" tanya lelaki itu seraya mendekat ke arah Raka.


"Iya Pak, saya dari Jawa," jawab Raka jujur.


"Lalu kenapa kamu disini,? apakah kamu bekerja disini atau kamu mata-mata?" tanya lelaki tadi seraya menyipitkan matanya.


"Tidak keduanya Pak, saya di sini karena sedang jalan-jalan saja," jawab Raka jujur.


"Apa?? jalan-jalan? jangan bohong kamu! terlihat dari pakaianmu, kamu sudah lama berada disini, tidak mungkin juga kamu berasal dari keluarga kaya, yang sengaja jalan-jalan ke pulau ini, karena pakaianmu dari atas kebawah termasuk pakaian biasa, bukan pakaian mewah, apalagi kamu hanya mengenakan sendal jepit," jelas lelaki tadi penuh selidik.


"Ah maaf Pak, tapi saya memang sedang berjalan-jalan disini, sebenarnya saya tinggal di tengah hutan lebih dari 1 tahun yang lalu, juga disana bersama teman-temab saya, karena...." ucapan Raka terhenti ketika dia mengingat bahwa dirinya kesini kan hanya untuk menyusuri Kota, hampir saja dia keceplosan.


"Maaf Pak, saya harus segera pergi," ucap Raka seraya berbalik siap pergi meninggalkan lelaki tadi.


"Tunggu sebentar Bung!" teriak pria tadi sebelum berlari dengan cepat dan mencegat di depan Raka. Sebenarnya Raka bisa dengan mudah menghindarinya dan berlari dengan cepat, tapi karena dia belum merasa perlu untuk menunjukan dirinya ke publik, jadi dia berusaha tenang dan tidak menunjukan kekuatanya.


"Ada apa lagi Pak?" tanya Raka datar.


Bukan menjawab, Raka malah melihat kekiri dan kekanan untuk memastikan bila saat ini tak ada orang lain selain dia dengan pria tadi.


Saat Raka tidak melihat ataupun merasakan kehadiran orang lain, Raka dengan cepat memukul bagian punggung orang tadi sampai orang tadi pingsan.


Setelah orang tadi pingsan, Raka membawanya ketempat yang aman, agar orang tadi terlindung jika hujan turun saat dia masih pingsan.


Setelah semua selesai, Raka kembali melanjutkan berjalan ke arah Kota.


Sampai di Kota Jawawijaya, waktu sudah menjelang sore, karena itu Raka mencari warung makan dan juga berniat menginap di penginapan sederhana yang ada di daerah sana.


"Silahkan Tuan, mau memesan apa?" tawar seorang pelayan warung makan tersebut, setelah melihat Raka masuk kedalam warungnya.


"Nasi dan lele goreng saja, minumnya teh hangat," jawab Raka ramah.


"Baik Tuan, silahkan tunggu, akan segera saya siapkan," ucap pelayan tadi dengan ramah, sebelum mengangguk dan berlalu meninggalkan Raka, untuk menyiapkan pesanan.

__ADS_1


Raka sendiri berjalan menuju meja untuk menunggu pesananya.


'Sepertinya Kota ini cukup kacau juga,' batin Raka seraya menatap jalanan yang ramai dengan berbagai preman yang sedang memalak orang-orang lemah di daerah sana.


Sebenarnya Raka tidak bisa melihat hal seperti ini di depan matanya, hanya saja saat ini dia belum ingin menunjukan keterampilanya. Jadi dia hanya diam dan menggelengkan kepala dengan kacaunya Kota Jayawijawa.


"Silahkan di nikmati Tuan," ucap pelayan tadi seraya menyerahkan pesanan Raka, dan menaruhnya di atas meja.


"Ah iya, terimakasih," jawab Raka dengan senyuman.


Raka pun dengan senang hati menyantap pesananya, yang ternyata cukup enak juga. Saat Raka makan, tiba-tiba datang beberapa orang, langsung menghampiri pelayan tadi. Raka hanya menatapnya dari jauh, dan tidak ingin terlibat sama sekali.


"Mana uang keamananya!" pinta lelaki kekar, yang sepertinya adalah pemimpin preman tadi.


"Belum ada Tuan, seharian ini hanya sedikit orang yang makan di warung kami," lirih pelayan karena merasa takut.


"Aku tidak peduli, yang penting bayar keamananya, atau kamu ingin terjadi hal yang tidak di inginkan?" ucap pemimpin preman dengan dingin.


"Sepertinya kamu lumayan cantik juga, bagaimana kalau kamu membayar dengan tubuhmu?" tambah pemimpin tadi seraya matanya menatap pelayan tadi dari atas kebawah, sampai tak bisa menutupi nafsu liarnya.


"Ahhhh, jangan Tuan, aku mohon jangan!" pinta pelayan tadi dengan menyatukan kedua telapak tanganya den memohon.


"Ayo bawa dia ke belakan! kita bersenang-senang denganya," perintah pemimpin tadi kepada bawahanya, dia bahkan tidak menganggap atau mendengarkan permohonan pelayan tadi.


"Baik Tuan," jawab bawahan preman tadi dan langsung bersiap menyeret pelayan ke belakang. Pemilik warung makan sendiri hanya bersembunyi karena juga merasa ketakutan.


Pelayan yang ketakutan hanya bisa menangis dan meratapi, bahwa mahkotanya akan di renggut oleh seorang preman karena jelas saat ini dia tidak akan mampu membayar uang keamanan.


"Jangan menangis! kalau kamu terlihat jelek saat melayaniku nanti, aku akan menghancurkan warung ini!" teeiak pemimpin tadi dengan dingin.


Karena merasa sangat ketakutan, pelayan tadi langsung berhenti menangis, tapi masih bisa terdengar isakanya.


"Berapa yang harus di bayarkan sebagai uang keamanan disini? aku yang akan membayar!"


Tiba-tiba ada suara seseorang yang angkat bicara sesaat preman ini bersiap membawa pelayan tadi ke belakang, semua orang menoleh ke sumber suara. Mereka penasaran, karena selama ini tidak ada yang pernah berani menggertak mereka saat mereka menginginkan sesuatu. Dan sekarang ada yang ingin menjadi sok pahlawan di depan mereka. Pasti orang itu ingin menggali kuburanya sendiri, saat meminta kematian.

__ADS_1


__ADS_2