
"Baik Mel, aku tunggu nanti pulang sekolah,." ucap Joni ramah sebelum pergi berlalu pergi.
Masih kembali ke kelas Mela yang saat ini sudah hampir membubarkan semua muritnya.
Bell tanda berakhirnya belajar di sekolah telah di bunyikan dan semua orang membubarkan diri.
Saat ini Mela dan sahabatnya sudah berada di dekat parkiran sekolah.
"Eh Mel, kamu jadi makan bareng Joni kan,.??" Tanya Siska penasaran dengan jawaban Mela.
"Kayaknya aku gak ikut deh, kalian saja sana,.!!"
"Apa?? Bagaimana mungkin kami makan dengan Joni bila kamu tak ikut, yang di ajak Joni itu kamu, bukan kita,."
Teman-temanya merasa Mela kurang akal sehat.
"Hahaha ya terserah kalian, yang penting aku ada urusan pribadi,." Jawab Mela seraya menertawakan temanya.
"Uh, jangan bilang urusan menghilang lagi Mel.,"
"Kamu gak tau kan Mel seperti apa paniknya Om dan Tante saat mencarimu kemana-mana tapi tidak di temukan,?"
"Aku sadar kok, makanya sekarang aku akan pamit sama Papa, agar dia tidak khawatir,." jawab Mela meyakinkan.
"Apa maksutmu itu Mel,.?? Oh iya sebenarnya kamu menghilang kemana sih,.?? Jangan bilang kamu bertemu dengan Pria dan pergi berdua selama sebulan terakhir,.??" Cerocos Siska yang membuat semua sahabat Mela saling pandang.
Mela bukan menjawab malah senyum-senyum sediri.
"Sepertinya perkatanmu benar deh Sis,." Tambah Cantika merasa penasaran juga.
"Ayo lah Mel cerita, jangan bikin kita penasaran,..!"
"Apakah Pria itu tampan, tajir juga seperti Joni?? Atau... atau lebih dari Joni, Mel,.??"
"Kalian kepo amat sih dengan urusanku, daaaaaa aku pulang dulu,." ucap Mela seraya tertawa kecil sebelum berlalu dan pergi begitu saja meninggalkan semua temanya yang di buat penasaran.
Tak berapa lama, akhirnya Joni pun datang kepada sahabat Mela.
"Eh dimana Mela Sis,.?? kok gak ada,.??" tanya Joni langsung saat setelah sampai di dekat Siska.
"Maaf Jon, Mela langsung pulang,, dia bilang ada urusan pribadi gitu, bahkan kita sahabatnya tidak tahu urusan apa itu,." Jawab Siska seraya menggigit bibir bawahnya.
Joni langsung terlihat lemas, dia selalu menjadi idola pada gadis di sekolah, tapi selalu di tolak dengan halus oleh Mela. Ini sungguh membuatnya merasa sedikit putus asa dan juga penasaran dengan Pria seperti apa yang di inginkan Mela. Mela adalah gadis cantik bertubuh ramping, Joni sangat menyukainya. Apalagi dia di minta ayahnya untuk deketin Mela secara langsung, agar bisnis keluarga mereka bisa bersatu dan semakin kuat.
"Yasudah ayo kita pergi, aku akan traktir kalian makan,." ajak Joni ke sahabat Mela, karena dia sudah berjanji dan tak ingin membuat mereka kecewe.
Cantikalah yang paling semangat saat masuk ke mobil mewah Joni, Joni mengendarai BMW X6 yang harganya sekitar 1,8 milyar rupiah. Semua gadis pasti sangat menyukainya.
Karena mobil hanya muat 4 orang, jadi kedua teman yang lain memilih pulang saja.
"Baiklah gadis-gadis aku akan membawamu berkeliling sebelum kita makan,." ucap Joni percaya diri, ini membuat Cantika merasa paling bahagia, karena sebenarnya dialah yang paling tertarik pada Joni.
Yang lainya hanya mengikuti saja kemanapun Joni membawa mereka.
***
Kembali ke Mela, setelah pergi dengan mobilnya langsung ke kantor ayahnya yang ada di pusat kota.
Semua orang di kantor sudah mengetahui siapa Melany, jadi semuanya menyapa dengan antusias bahkan seluruh pengawal dan security juga membungkuk saat Melany melangkah melewati mereka. Banyak gadis di kantor menatapnya dengan iri, mereka membayangkan bila jadi Melany pasti bisa melakukan apapun sesukanya.
"Nona Muda silahkan..." ucap sekertaris, bernama Dinda Noviana mempersilahkan Melany masuk.
"Baiklah, terimakasih keramahanya,." Jawab Melany ramah sebelum membuka pintu ruangan Papanya.
"Papa....." sapa Melany sebelum langsung berlari ke arah Papanya dan memeluknya.
"Oh anak Papa,." Jawab Almero senang, sebelum membalas pelukan anak manjanya.
"Papa, aku boleh minta ijin gak ya,." Ucap Melany seraya melepaskan pelan, pelukanya pada Almero.
__ADS_1
Almero mengerutkan keningnya, dia penasaran juga dengan ijin apa yang di minta putrinya.
"Ijin apa sayang,.??" Tanya Almero pelan.
Akhirnya Mela menceritakan semuanya kepada Almero. Tapi Mela tidak menceritakan tentang kekuatan Raka dan pelatihan yang dijalaninya, takut ayahnya akan marah bila mengetahui dirinya di siksa.
Almero yang mendengar cerita anaknya hanya pura-pura tersenyum di hadapan putrinya sambil mengertakan giginya karena ada jejak kemarahan di hatinya.
"Papa ijinkan tapi tidak sekarang, kamu tetap harus belajar, jadi kalau mau pergi pas hari libur saja, kan sebentar lagi akan datang libur panjang kenaikan kelas, apakah kamu lupa sayang,.??" Ucap Almero pura-pura ramah di depan putri kesayanganya.
"Ah Papa, kan masih sebulan lagi,...." jawab Mela merasa Ayahnya sedang tidak berpihak padanya, padahal biasanya Mela akan selalu si ijinkan melakukan apalun yang Mela inginkan.
"Sayang, Papa hanya ingin kamu menjadi wanita yang cerdas agar bisa melanjutkan Bisnis keluarga kita di masa depan,. Karena sepertinya kakakmu tidak tertarik di dunia Bisnis, dia lebih tertarik bernyanyi.," ucap Almero mengingatkan.
"Kamu tidak ingin mengecewakan Papa seperti kakakmu kan,.??" Tambah Almero, membuat Mela kehilangan kata-katanya. Dan hanya mengangguk saja.
Mela pernah berjani pada Papa dan Mamanya bahwa dia tidak akan pernah mengecewakan keduanya.
Jadi Mela tidak punya pilihan lain, selain menunggu satu bulan lagi untuk bisa bertemu Raka.
Mela saat ini masih bermanja dengan Amlero, bahkan Mela di pangkuan Papanya, seperti sepasang kekasih. Orang yang tidak tahu pasti akan mengira ini gadis SMA simpanan Om-Om.
"Yasudah Mela pulang dulu ya Pa,.?? Cup, cup," Melani mencium pipi kanan dan kiri Papanya seperti biasanya.
"Hati-hati nak,." jawab Almero seraya mealambai ke arak putrinya.
Setelah putrinya tidak terlihat, Almero langsung mengambil ponselnya dang langsung menelfon tangan kananya.
"Iya Tuan,." Sapa orang di seberang telefon dengan hormatnya.
"Tolong kamu cari tahu ada anak yang sedang dekat dengan anak saya, bernama Raka,!! Sepertinya dia bersembunyi di tengah hutan di kaki gunung JayaWijaya,. Cari lelaki itu dan bawa padaku setelah di temukan,.!! Terapkan dukungan khusus agar bisa mudah mendapatkanya, kamu juga di ijinkan menggunakan sebagian helicopter keluarga kita dan membawa beberapa pengawal untuk mengantisipasi kejadian terburuk,." Perintah langsung dari Almero.
"Baik akan saya laksanakan Tuan," jawab tangan kanan Almero sebelum di tutup panggilanya.
"Anak muda jangan main-main dengan keluargaku,." Gumam Almero mengertakan giginya, sebelum kembali ke pekerjaanya yang tertunda karena kedatangan putrinya.
***
Tanpa basa-basi lagi, Mela langsung memesan daging Babi rebus, dan memakanya perlahan menikmati setiap kunyahanya.
Setelah selesai makan dan mebayar tagihanya, Mela besiap untuk pergi sebelum di kejutkan dengan pasangan muda yang sedang berfoto di mobilnya.
Tidak ingin mengganggu pasangan ini, Mela menunggu dan duduk di sebuah motor Kawasaki Ninja 250 cc.
Terlihat wanita dengan santainya duduk di kap mobil milik Mela dan si cowok sebagai foto grafernya.
Melihat Mela duduk di motornya, dengan santai cowok itu maju dan mengusir Mela dengan mendorongnya. Mela yang tak terima, langsung saja berjalan ke mobilnya sebelum mendorong wanita tadi sampai terjatuh ke tanah dan sedikit lecet, sebelum Mela mengeluarkan kunci mobilnya dan membuka pintu mobilnya sebelum masuk dan duduk di kursi pengemudi.
Cowok tadi bersiap untuk membalas Mela karena tingkahnya pada kekasihnya, di buat melongo dan sangat malu.
Lelaki sombong itu bukan apa-apa bagi Mela, dan hanya semut kecil.
Dia hanya mengendarai sepeda motor yang harganya cuma 64 juta rupiah, sedangkan Mobil milik Melani seharga 14,2 milyar rupiah. Itu mampu membeli 222 motor milik cowok tadi.
Mela tidak terlalu peduli dengan yang di fikirkan cowok itu, dan hanya berlalu pergi.
***
Tak terasa 30 hari sudah Mela ke sekolah dan seperti biasa Joni selalu mengajaknya makan bahkan setiap hari.
Dan dalam 30 hari itu pula, Mela selalu menolaknya dengan halus. Mela tidak ingin ada lelaki yang berharap padanya selain Raka tentunya.
Mela juga penasaran, padahal di sekolahnya saja banyak pria tertarik padanya. Tapi kenapa sepertinya Raka sama sekali tidak tertarik padanya. Apa yang salah dengan Raka.
Ini yang membuat Mela selalu kepikiran Raka, dan semakin hari rasa rindunya ke Raka semakin besar.
Jantungnya selalu berdetak cepat ketika mengingat kekonyolanya saat hidup berdua.
"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang,.??" Gumam Melany seraya menatap keluar Jendela ke arah gunung Jayawijaya.
__ADS_1
"Apakah kamu juga merindukanku, seperti aku merindukanmu,.??" Gumamnya lagi.
***
Di tempat lain tanpa sepengetahuan Mela, Almero sudah sangat khawatir karena besok adalah hari minggu. Dan tentu saja saat ini atau besok mungkin anaknya akan pergi mencari Raka, sedangkan bawahanya sendiri belum menemukan jejak Raka sedikitpun.
Dia lupa bertanya kepada Mela, di kaki gunung sebelah mana tepatnya lelaki itu tinggal.
Saat Almero hampir putus asa, dia mendapatkan panggilan telefon dari anak buahnya yang mencari Raka. Almero mengangkatnya dengan cepat.
"Iya bagaimana,.??" tanyanya cepat.
"Kami sudah menemukan sebuah Rumah Pohon dia atas pohon rindang, tapi sepertinya sudah tidak di tinggali lagi Tuan,." jawab bawahan di ujung telefon.
"Ahhhh, cepat kalian kembali, sementara jangan tunjukan batang hidung kalian di hutan itu, aku tidak mau mengambil resiko putriku mengetahuinya dan pergi meninggalkanku bila dia marah,." Perintah Almero tegas ke bawahanya, ada nada khawatir bila Mela mengetahuinya juga.
"Baik Tuan, kami segera pergi,." jawab Bawahan dengan tegas.
Setelah itu Almero langsung memutuskan sepihak.
Dia berharap putrinya akan baik-baik saja saat ke hutan nanti. Dia tidak bisa melarang putrinya atau putinya bisa meninggalkanya. Mela adalah putri kesayanganya dan dia tidak akan membiarkan Mela meninggalkanya apapun yang terjadi.
Tok... Tok... Tok...
Saat Almero melamun, tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamarnya, tanpa menunggu dia langsung membukanya dan di kejutkan dengan Mela yang sudah bersiap pergi sendiri ke hutan.
"Papa, Mela pamit dulu ya,.??" Ucap Mela berpamitan.
"Apakah kamu tidak menunggu untuk berpamitan dengan Ibumu,.??" Tanya Almero mencoba menahan putrinya.
"Ibu kan sedang ada Bisnis dengan temanya Pa, tidak nentu juga pulangnya jam berapa, Mela takut kemalaman jadi berangkat sekarang saja ya Pa,.??" Ucap Mela, sebelum menjabat tangan Papanya dan mencium punggung tanganya.
"Hati-hati nak,." Jawab Almero mencoba tersenyum terpaksa dia harus membiarkan putrinya pergi ke hutan sendirian, daripada putrinya meninggalkanya selamanya.
Setelah berpamitan dengan Papa nya, Mela memanggil sopir untuk mengantarnya sampai di pinggiran hutan. Dia tidak mungkin pergi sendiri karena tidak ada yang jaga tempat parkir disana.
Setelah perjalanan 2 jam penuh, akhirnya Mela sampai di lokasi. Saat dia dalam perjalanan, Mela melihat beberapa Helicopter menuju arah berlawanan denganya, yang berarti Helicopter berasal dari hutan menuju Kota. Tapi Mela tidak curiga sedikitpun bahwa Helicopter itu milik keluarganya.
Saat tiba di lokasi, ada sekitar 11 orang yang mungkin adalah begal mencegat mobil yang di tumpangi Mela. Sopir sudah sedikit mengeluarkan keringat di dahinya. Walaupun dia pandai bertarung, jelas sekarang dia kalah jumlah karena tidak ada pengawal sedikitpun yang ikut dengan mereka.
Mela sendiri hanya mengerutkan keningnya, dia ingin mencoba berbagai tehnik yang di ajarkan Raka, hanya dia tidak percaya diri karena sama sekali belum pernah mencobanya.
"Hey keluar!!"
"Cepat keluar, atau ku bakar mobilmu,.!!"
Brong!!Brong!!Brong!!
Semua pria telah mengepung mobil dan menuntut agar yang di dalam mobil keluar, bahkan sudah menggedor-nggedor kaca dan kap mobil.
"Nona biarka saya yang keluar, setelah saya keluar dan berurusan dengan mereka, anda langsung setir mobil dan kembali untuk memanggil bantuan,.!!" saran Sopir seraya mencoba membuka pintu mobil, sebelum di hentikan Mela.
"Anda di sini saja pak, biar saya yang mengatasi semuanya dengan cepat,." ucap Mela percaya diri dengan senyumanya.
"Tapi Non, mereka banyak dan saya tidak ingin Nona kenapa-kenapa, apalagi Tuan telah meminta saya menjaga anda,. Biarkan saya yang keluar dan anda minta bantuan saja, tidak apa jika mereka membunuh saya, yang penting anda selamat Nona,."
Mendengar kata-kata sopirnya yang begitu tulus ingin mengorbankan nyawanya demi dirinya, membuat Melany tersentuh.
"Anda percayakan pada saya Pak, saya akan menyelesaikan mereka dengan cepat, dan anda tidak boleh keluar dari dalam mobil, apapun yang terjadi,. INI PERINTAH!!!"
Sopirnya tidak bisa berkata-kata, walaupun sangat khawatir, tapi dia tetap mematuhi perintah dan menunggu di dalam mobil.
"Hey cepat keluar!!!" Suara di luar semakin lantang.
Mela membuka pintu mobil perlahan sebelum dirinya keluar dari mobil.
"Waow wanita yang sangat cantik, dan sepertinya masih muda Boss,." Ucap seorang pria kepada pria lain yang sepertinya adalah bos mereka.
"Memang benar, baiklah nona cantik. Kami akan biarkan mobil itu pergi, tapi anda harus menemani kami semua,. Bagaimana?? Tapi tentu saja aku yang pertama,." Ucap Bos tadi percaya diri sekali, dan tidak bisa menutupi mata dan nafsu liarnya, saat melihat gadis remaja secantik Mela.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menemani kalian,." Jawab Mela tersenyum cerah dengan sedikit menggoda.
*Bersambung*