Terlihat Miskin Padahal Sultan

Terlihat Miskin Padahal Sultan
Bab 39


__ADS_3

Setelah kembali dari keluarga Jonson, Silvia pergi jalan-jalan di temani Mizuka.


Mizuka dengan senang hati menunjukan proyek milik keluarga mereka.


Di mulai dari 16 Gedung Hotel berbintang yang cukup besar sudah di bangun sekitar 70%, dua Gedung pencakar langit yang sudah di bangun 40%, Rell Kereta Khusus, Tempat Hiburan Malam, Restoren, Cafe, Wisata yang mengelilingi Danau buatan, Villa Puncak Gunung sudah di bangun 20% yang rencananya akan menjadi tempat tinggal pemimpin keluarga Randika di masa depan, Rumah Makan, Mall, dan lain sebagainya.


Bahkan rencananya keluarga Randika akan menambahkan biaya kekurangan lainya yang mencapai lebih dari 25 miliyar dolar. Sebab Anggaran sebelumnya dirasa sangat kurang untuk pembangunan yang lebih maju. Apalagi sebuah Gedung Perguruan Tinggi dan Sekolah-sekolah lainya juga akan di bangun semewah dan semaju mungkin.


Saat ini kedua Ibu dan Anak sedang duduk di bawah pohon besar yang terletak di dekat Danau buatan.


"Ternyata pembangunanya lebih cepat dari rencana sebelumnya,." ucap Silvia pada anaknya.


"Iya Ibu, sebenarnya keluarga Jonson lebih pandai menghitung dan mendesain berbagai proyek daripada keluarga Armando,." jawab Mizuka pelan.


"Sebenarnya ini juga alasan paman Tiger tidak menghukum keluarga Jonson,." jelas Silvia.


Tiger adalah pemimpin keluarga Randika, yang berarti kakek Raka.


"Oh jadi begitu ya Bu, pantas!!" jawab Mizuka sedikit mengerti.


"Nak? Ibu mau tanya sesuatu ke kamu,." ucap Silvia seraya mengelus ramput putrinya.


"Iya Ibu tanya saja, pasti Mizuka jawab kok,." Mizuka berkata dengan lembutnya, bahkan seperti anak kecil yang sedang bermanja dengan Ibunya.


"Apakah kamu ada rasa dengan Tuan Muda,.??" tanya Silvia lembut, sembari menatap putrinya yang cantik.


Mizuka hanya diam dan menundukan, dia takut juga malu.


"Kenapa diem,.?? Terus terang saja ke Ibu,.??" Perintah Silvia seraya mengangkat dagu anaknya agar mereka saling tatap.


"Ibu, apakah salah seandainya Mizuka ada rasa dengan orang yang lebih muda,.??" bukan menjawab, Mizuka malah bertanya pada ibunya dengan suara lembutnya.


"Tidak ada yang salah nak, sejujurnya Ibu senang seandainya kamu yang menjadi istri dari Tuan Muda, karena sebagian besar keluarga sudah mengetahui kelembutanmu,." jawab Silvia lembut.


"Ah apakah begitu Ibu, Ibu pasti hanya memujiku,." ucap Mizuka merasa Ibunya hanya berbohong untuk menyenangkanya.


"Ibu tidak berbohong, kamu sangat mirip dengan Ayah kandungmu yang berhati sangat rendah hati dan juga lembut,." ucap Silvia lembut lagi.


"Ah Ibu, mengingatkan Mizuka tentang Ayah kandung Mizuka Bu,." Ucap Mizuka pelan seraya matanya mulai berkaca karena belum pernah bertemu ayah kandungnya "apakah menurut Ibu, Ayah sangat berhati lembut Bu,.??" Tambah Mizuka.


"Iya tentu saja, dia adalah lelaki yang memiliki hati terbaik dan paling lembut yang Ibu kenal, tapi Osaka juga tidak kalah baik dengan Ayahmu,." Jawab Silvia.


"Ah, aku juga jadi rindu Tuan Osaka Bu, maksutku Ayah,." Mizuka mulai tidur di pangkuan Ibu nya.


"Kamu tunggu saja, Ayahmu akan datang kesini suatu hari nanti, saat dia tidak bisa membendung rindu pada kita berdua,." Ucap Silvia percaya diri, ini membuat Mizuka terkekeh.


"Ah ibu seperti gadis remaja saja,." ledek Mizuka.


Silvia tertawa kecil mendengar ledekan Putrinya.


"Mungkin puber kedua nak,." Jawab Silvia seraya terkekeh.


"Heemmm, pasti sekarang Ibu sedang rindu ingin di belai Ayah kan,.??" Goda Mizuka pada Silvia yang membuat keduanya tertawa lepas.


Silvia dan Mizuka terus mengobrol dan bercerita, Mizuka bahkan bercerita tentang mimpinya pada Raka yang membuat Silvia tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.


"Ah Ibu, jangan di tertawakan dong, aku kan malu,." ucap Mizuka seraya menutup wajahnya dengan dua tangan.


"Hahaha kamu lucu sih,. belum apa-apa sudah mimpi di nikahi,." Ledek Silvia yang masih terkekeh.


"Ah Ibu sudah...., aku gak mau cerita lagi kalau masih di ledek,." ucap Mizuka ketus, tapi masih menutup wajahnya.


"Hahaha iyaiya, tidak di ledek lagi deh,. terus kelanjutanya gimana,.??" tanya Silvia, semakin penasaran juga dengan kekonyolan putrinya.


Mizuka bercerita lagi, sekarang Silvia mencoba menahan tertawanya walaupun tidak bisa.


Setelah Mizuka selesai cerita, Silvia tertawa kembali, sekarang tambah keras suaranya.


"Ah Ibu jangan keras-keras, Malu." ucap Mizuka seraya memegang tangan Ibunya.


"Iya nak, ahahaha Ibu sakit perut,. kamu kok bisa ya sekonyol itu,." tanya Silvia yang masih menahan tawa.


"Ah Ibu sudah, ah ayo pulang saja,." ketus Mizuka karena malu.


"Hihihi anak Ibu bisa ngambek juga ya,." Goda Silvia sebelum mencubit dengan gemas kedua pipi putrinya.


"Biarin kok , Ibu ledekin aku terus sih,." ucap Mizuka ketus, tapi masih lucu dan imut.


"Habis kamu luci sihhh." Goda Silvia.


"Ya kan namanya gadis sedang jatuh cinta, apalagi Mizuka baru pertama mengalaminya,." jawab Mizuka tak mau kalah.


"Iyaiya, jadi kisah cinta anak Ibu seperti itu,." ucap Silvia ramah seraya tersenyum.

__ADS_1


"Iya Ibu, jangan di ledek lagi ya,." ucap Mizuka kembali lembut.


"Iya, iya,... terus bagaimana dengan kisahmu sekarang ini,.??" Tanya Silvia penasaran.


"Ah Mizuka tak tau lah Bu, lihat ke depanya saja,. sekarang Tuan Muda sedang menjalani pengasinganya,." jawab Mizuka saat menghela nafas panjang.


"Hehehe kamu memang lucu sayang, Ibu akan dukung kamu, Ibu yakin bahkan paman Tiger akan merestui mu, beliau sangat tahu tentang kepribadianmu yang baik, lembut, dan tulus,." ucap Silvia meyakinkan.


"Bukan cuma restunya Bu, tapi juga hati Tuan Muda ada gak buat Mizuka,... karena sepertinya hati Tuan Muda masih untuk Angelica,." jawab Mizuka terdengar lemas dan sedikit putus asa.


"Kalau kamu sayang sama Tuan Muda, perjuangin dia dan jangan menyerah semudah itu,.. Oke,.??" tambah Silvia memberi semangat anaknya.


Kedua wanita itu terus mengobrol dan bercanda melepas rindu.


***


Tanpa terasa 3 hari berlalu begitu saja, Mizuka selalu memasak untuk Ibu tercinta dan tidak luma memberikan hidangan kesukaan Raka pada Ibunya.


"Kamu sekarang sudah pandai memasak ya,." Puji Silvia pada putrinya setelah mereka makan.


"Iya tentu saja harus dong Bu, harus pandai merawat suami nanti,." jawab Mizuka seraya tertawa kecil.


Silvia yang mendengar pernyataan anaknya hanya tertawa.


"Ternyata anak Ibu sudah dewasa ya, sudah memikirkan pernikahan,." ucap Silvia seraya tertawa kecil.


"Iya sudah dong bu, kan sudah 30 tahun,." jawab Mizuka mengingatkan.


"Hehe benar juga, Ibu sampai lupa,.. tapi jujur wajahmu masih seperti gadis remaja nak,." tambah Silvia memuji anaknya.


"Ibu seneng banget muji aku,." jawab Mizuka ramah.


"Bukan pujian sayang, ini serius,." ucap Silvia yakin.


"Iya, soalnya Ibunya juga awet muda kok hehe,." Jawab Mizuka jujur, Ibunya yang sudah berumur lebih dari setengah abad masih sangat cantik seperti wanita 30 tahunan.


"Sekarang kamu yang pandai muji Ibu,." ucap Silvia sedikit terkekeh.


"Loh serius Bu, coba Ibu bandingkan wajah Ibu dengan wanita di luar sana yang masih berumur 30 tahunan, pasti masih lebih cantikan Ibuku,." jawab Mizuka dengan bangga.


"Hahaha kamu bisa saja nak,." ucap Silvia bangga dengan anaknya.


Keduanya mengobrol sampai malam dan tertidur, seperti itu setiap hari.


***


"Sepertinya hari ini dapat banyak ikan, lumayan buat makan sampai sore,." Gumamnya pelan sebelum mendengar dari jauh suara seseorang mendekat padanya. Lebih tepatnya mendekat ke Rumah Pohon.


Raka dengan cepat bergerak menuju Rumah Pohon dengan cepatnya, sebelum melompat keatas untuk mengawasi dari ketinggian, tidak lupa semua ikan sudah dibawanya.


Pria hutan! Pria hutan! Pria hutan! Pria hutan!


Suara seorang gadis berteriak-teriak memanggil Pria hutan, Raka hanya terkekeh karena dirinya di anggap pria hutan.


Tapi dia juga tidak berniat bertemu lagi dengan gadis tadi, jadi Raka hanya mengawasi gadis itu dari jauh karena takut akan terjadi bahaya. Di hutan ini snngat banyak binatang buas jadi dia terus waspada mengawasi gadis itu.


"Dasar wanita gila, dia mencariku sampai ke kedalaman ini,." Gumam Raka pelan.


"Arghhhhh.... Pria hutan kamu dimana sih, aku ingin menolongmu keluar dari hutan ini, kenapa kamu tidak keluar,....!!!!" Teriak gadis tadi semakin keras.


"Apa aku hanya bermimpi ya, tapi itu tidak mungkin,." Gumam gadis tadi merasa putus asa.


Saat dia melanjutkan beberapa langkah, gadis tadi mendengar suara raungan seperti hewat sedang bertarung. Karena penasaran, dia mencari sumber suara untuk si kejutkan dengan Hariamau besar sedang bertarung dengan Babi hutan yang besar juga.


Wanita tadi panik dan berteriak sangat keras sebelum berlari terbirit-birit


"Arghhhhhhhhhhhhh, tolong......"


Bahkan teriakanya kali ini membuat Harimau dan Babi hutan menoleh dan mengejarnya.


Gadia tadi berlari dengan sangat cepat sebelum terpojok di bawah tebing.


Dia tidak bisa berlari kemanapun lagi, sekarang Harimau dan Babi hutan mendekat perlahan, seperti siap untuk menerjang.


"Pria hutan.... tolong aku,.!!!" Rengek gadis tadi tidak di hiraukan Raka.


"Kamu jahat Pria hutan...." ucap gadis tadi pelan, seraya panik memikirkan bahwa dia akan di makan harimau hari ini, dia juga sedikit menyesal karena terlalu bodoh.


Mau-mau nya mencari lelaki yang tidak di kenalnya jauh kedalam hutan.


Saat Harimau dan Babi melompat siap menerjangnya, gadis tadi merunduk dan menutup matanya bersiap untuk di makan binatang buas, saat Harimau sudah sangat dekat gadis itu sudah menangis ketakutan, bahkan mengompol di celana.


Raka dengan sigap menangkap gadis tadi sebelum membawanya ke atas tebing, tapi sebelum gadis tadi membuka matanya kerena tiba-tiba ada yang membawanya, Raka sudah pergi lagi untuk mengawasi dari jauh.

__ADS_1


Saat gadis tadi membuka matanya dengan cepat, berharap dapat bertemu dengan Pria Hutan. Sungguh malang nasipnya, Pria hutan tidak ada di manapun. Gadis ini kembali mencarinya, bahkan saat ini bekal yang di bawa sudah habis. Gadis ini tidak tahu harus bagaimana, hari semakin gelap dan perutnya semakin keroncongan.


"Kenapa kamu tidak menemuiku Pria hutan,.." gumam gadis tadi merasa putus asa saat dia meneteskan air matanya yang langsung jatuh ketanah semakin deras.


Raka yang melihat ini merasa iba juga kasihan, tapi Raka juga tidak ingin melibatkan orang dalam hukumanya.


Raka paling tidak bisa melihat gadis menangis, apalagi kalau gadis itu menangis karena dirinya.


Tapi saat ini Raka masih enggan untuk keluar, Raka menunggu gadis tadi lelah dan tertidur. Benar saja gadis tadi yang kelelahan cepat tertidur.


Pagi ke esokan hari nya, saat gadis tadi membuka mata perlahan. Dia dikagetkan lagi karena saat ini dia sudah ada di pinggiran hutan, lebih tepatnya di sebuah perkebunan milik orang daerah sana.


Di samping gadis itu sudah ada berbagai buah-buahan dan juga ada ikan bakar.


Gadis tadi semakin yakin bahwa yang menyelamatkanya adalah Pria hutan tadi.


"Tapi kenapa kamu tidak menemuiku Pria hutan,." Gumam gadis tadi merasa sedih, dia belum pernah mendapatkan perhatian seperti ini dari seorang pria, karena dia masih sangat muda.


Tanpa basa-basi gadis tadi memutuskan untuk mencari Pria hutanya kembali setelah makan buah dan ikan bakar yang di siapkan.


Kejadian itu berulang sampai tuju kali, gadis tadi tidak berfikir bahwa orang tuanya akan mencarinya jika dia tidak pulang selama seminggu lebih.


Raka yang melihat kegigihan gadis itu juga merasa tersentuh.


"Dasar gadis gila yang keras kepala,." Gumam Raka pelan.


Saat ini gadis itu tepat berada di pinggira sungai , sudah sangat kelaparan karena buah yang di berikan Pria hutan juga sudah habis.


Akhirnya gadis itu pingsan karena kelaparan dan juga terlalu lelah.


10 hari dia bekerja tanpa henti mencari Pria hutan, dan pastinya sangat melelahkan untuknya.


Raka dengan sigap menangkap gadis tadi sebelum kepalanya terbentur batu di pingir sungai, kali ini Raka terpaksa membawa gadis ini ke rumah pohonya.


Saat sore tiba, gadis itu membuka matanya perlahan saat dia melihat seorang lelaki sedang duduk memunggunginya, wanita tadi sangat senang dan langsung bangkit dari tidurnya.


"Alhirnya kamu muncul juga,." Ucap gadis tadi seraya memeluk Pria hutan dari belakang.


"Kamu adalah gadis paling gila dan paling keras kepala yang pernah ku temui,."ucap Raka seraya mulutnya makan buah yang baru di petiknya.


"Apa?? gadis yang pernah kau temui,.??" Tanya gadis itu semakin penasaran seraya melepaskan pelukanya.


"Iya,." Jawab Raka singkat dan mengangguk.


"Kau sebaiknya makan dulu sebelum pingsan lagi, dasar merepotkan saja,." ucap Raka merasa kesal.


"Ah, nada macam apa itu, apakah kamu tidak tahu cara bicara dengan gadis,.??" tanya gadis itu sedikit cemberut.


"Terserah kau saja,." balas Raka lebih cuek.


"Kamu itu kenapa sih,.?? Lagian kamu kenapa bisa-bisanya hidup di hutan belantara seperti ini,." tanya gadis tadi juga sedikit bingung.


"Itu urusan pribadi,." Jawab Raka datar "sebernarnya ada urusan apa kau mencariku,.??" Tanya Raka datar.


"Oh maaf sebelumnya, eh ,oh iya aku lupa belum tahu namamu,.??" ucap gadis tadi malu-malu 'masa iya gadis dulu yang minta berkenalan, ah pria ini tidak peka,.' batin gadis tadi.


"Apakah itu penting,.?? Jawab Raka ketus.


"Kamu ini kenapa sih,.??" Tanya gadis tadi seolah merasa penasaran dengan Pria hutanya.


"Tidak apa, kenapa kamu mencariku,.?? Aku hanya menolongmu sekali dan kuharap berhenti menggangguku,.!!!" Ucap Raka tegas.


"Uh dasar lelaki aneh, aku kesini ingin menolongmu keluar dari hutan dan hidup bersama orang-orang pada umumnya, tapi sepertinya kamu sangat membenciku uhhhh,." jawab gadis tadi cemberut.


'Gadis gila ini lucu juga kalau cemberut,' batin Raka, tapi dia mancoba secuek mungkin. Berharap gadis ini akan pergi dan tidak mengganggunya lagi.


"arghhhhh dasar, kenapa ya aku bisa peduli pada pria seperti ini,." Gumam gadis tadi yang di dengar Raka.


"Terus kenapa kamu masih peduli padaku, besok pagi aku akan membawamu keluar dari hutan ini,." Pasti orang tuamu sudah mencarimu, karena 11 malam kamu tidak pulang,." jawab Raka.


"Tidakkkkkk,." Teriak gadis tadi membuat Raka menutup telinganya.


"Apakah bisa kecilkan sedikit suaramu,.??" Pinta Raka pada gadis tadi.


"Ah maaf, tapi aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu ikut bersamaku,.!!!" Jawab gadis tadi sudah bulat.


"Terserah kau saja kalau begitu,." jawab Raka datar.


"Apa itu,.?? Apakah kau akan pergi bersamaku,.??" Tanya gadis tadi daat mengelus elus jemarinya.


"Maaf mengecewakan, aku tidak akan pergi bersamamu keluar dari hutan ini,." Jawab Raka tegas.


"Arghhhh, kenapa kamu keras kepala sekali,...." suara gadis itu meninggi, tapi Raka tidak peduli.

__ADS_1


__ADS_2