
Di tempat lain di sebuah kaki gunung Jawawijaya, Raka dan seluruh anak buahnya sedang bekerja keras untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka.
"Tuan,....!!!!" Teriak salah satu bawahan Raka dengan panik, karena berlari dengan cepatnya menuju tempat Raka bekerja.
"Ada apa,.??" tanya Liben langsung setelah menghentikan dan sedikit menenangkan bawahanya.
"Tuan, ada banyak Helucopter menuju kesini, dan sepertinya mereka semua Tentara, apakah kita akan melawan atau bagaimana Tuan,.??" tanya bawahan tadi.
"Sebentar, jangan bertindak gegabah dulu, apakah kamu yakin semua itu dari pasukan militer,.??" tanya Raka penasaran, 'Masa iya ada pasukan militer langsung terang-terangan datang kesini dengan pasukan besarnya,.' batin Raka penasaran.
"Kami yakin, Tuan," Liben menjeda sebentar ucapanya sebelum melanjutkan, "jadi bagaimana, Tuan,.?? apakah kita serang dulu, sebelum kita di serang, atau bagaimana,.?? sepertinya mereka membawa pasukan lebih dari 1000 orang, Tuan," tanya Liben seraya menjelaskan situasinya.
"Saya tidak mau mengambil resiko besar dengan menyerang terlebih dahulu," kata Raka seraya menghela nafas kasar, "Liben dan 10 anggota terpilih ikut aku untuk menemui pemimpin armada Helicopter tersebut, sedangkan minta kepada yang lain untuk bersembunyi di dalam ruang bawah tanah,.!!" pinta Raka pada semuanya.
"Apakah Anda yakin, Tuan,.??" tanya Liben khawatir.
"100% yakin, kamu tenang saja, semua pasti terkendali," jawab Raka meyakinkan, "jangan ada yang bertindak gegabah sebelum mendapat perintah dariku!!" tambah Raka tegas.
"Ba-baik Tuan," jawab Liben gagab dengan anggukan sebelum berlari dengan cepat dan meminta semua orang untuk bersembunyi.
"SEMUA ORANG SECEPATNYA MASUK KE PERSEMBUNYIAN BAWAH TANAH, INI PERINTAH LANGSUNG DARI TUAN RAKA,.!!!" penggumuman dari Liben.
"Ada apa ini,.??"
"Apakah sedang ada masalah besar,.??"
"Tidak usah banyak bertanya, kita ikuti saja perintahnya..."
"Benar juga, ayo cepat masuk..!!"
"Aku menjadi sedikit khawatir, apakah sedang ada masalah besar,.??"
"Kenapa kita harus bersembunyi... mending kita lawan saja jika ada yang membuat masalah..."
Seperti biasa, terjadi bisik-bisik perdebatan di antara orang-orang ini.
"Tidak usah banyak berfikir dan berdebat, kita ikuti perintah saja, ayo semuanya masuk,.!!!
"Cepat!!! Cepat!!! Cepat!!!
Kesepuluh yang terpilih juga membantu memandu semua orang agar dengan cepat masuk ke persembunyian mereka.
Suara gemuruh dan angin kencang mulai terasa dan terdengar dari banyaknya Helicopter.
"Apa itu,.??"
"Banyak sekali, apakah semua ini ingin menyerang kita,.??"
"Apakah ini yang membuat Tuan Raka meminta kita semua bersembunyi....
"Kenapa tidak kita lawan saja..
"Ingat, kita sudah bersumpah setia pada Tuan Raka, dan kita bersiap mengorbankan nyawa....
"Bukan masalah nyawa, tapi saat ini tugas kita adalah mengikuti perintah Tuan Raka...
Mulai banyak diskusi lagi dari seluruh bawahan Raka, setelah melihat banyaknya Helicopter mulai mendekat. Tapi semua orang tetap patuh dan langsung masuk ke tempat persembunyian. Raka bersama Liben dan 10 Anggota terpilih tetap berada di luar bersiap menemui pemimpin armada ini.
---
Didalam persembunyian, banyak yang mulai khawatir.
"Apakah persembunyian kita telah di temukan oleh pemerintah,.??"
"Jika memang kita harus berperang, apakah kalian semua siap.??"
__ADS_1
"Tidak mungkin sampai berperang, pasti Tuan Raka akan membantu kita bernegosiasi dengan pemerintah.
"Tapi seandainya berperangpun kita siap.
"Jangan berfikran yang aneh-aneh dulu, kita semua belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini,"
"Benar, kita tunggu saja keputusan Tuan Raka.
Sampai di dalam, semua orang masih membicarakan masalah ini, dan banyak yang mulai khawatir juga, karena disini banyak juga anak-anak dan perempuan. Ke 290 orang yang sudah berlatih pelatihan militer semua masuk dan di tugaskan untuk melindungi seluruh warga, sedangkan Raka bersama Liben dan 10 anggota terpilih, mereka Naik ke atas tebing untuk menyambut seluruh Helicopter.
Salah satu Helicopter termewah dan terbesar turun perlahan di atas tebing sebelum di ikuti yang lainya, karena atas tebing cukup luas untuk menampung 100 Helicopter.
Pintu Helicopter termewah di buka, dan keluarlah satu wanita yang sangat familiar, Raka sangat mengenalnya juga merindukanya.
Di sebelah wanita itu, juga ada wanita setengah baya yang terlihat masih sangat cantik dan menawan. Di belakang dua wanita cantik juga ada dua pengawal pribadi Randika, Raka juga sangat mengenalnya.
Di ikuti seluruh pintu Helicopter terbuka dan keluarlah seluruh pengawal yang bahkan lebih kuat dari pasukan militer sebuah negara.
Semua orang berbaris, berjejer layaknya pasukan militer yang sudah sangat terlatih.
"Salam Tuan Randika,." ucap Silvia dan Mizuka bersamaan,
"Salam Tuan Muda Randika,." kemudian di ikuti oleh Alfaro dan Elfaro bersaudara juga seluruh barisan pengawal keluarga. Suara mereka serempak dan sinkron, sampai bergema di seluruh tengah hutan.
"Baik, terimakasih,." ucap Raka yang merasa senang.
Liben dan 10 anak buahnya yang dari tadi mengikuti Raka dan hampir kencing di celana. Mereka ketakutan melihat banyaknya pengawal yang lebih kuat dari mereka. Sekarang bisa bernafas lega, karena ternyata semua ini adalah pasukan keluarga Randika yang sangat Liben kagumi.
Liben sekarang lebih terkejut lagi setelah mendengar semua orang menyapa Raka, semua pengawal dengan terang-terangan berucap "Tuan Muda Randika" itu berarti, Tuan mereka selama ini adalah Tuan Muda keluarga Randika.
Liben hanya bisa menatap Raka dengan perasaan yang aneh, ada takut juga gembira.
"Tenang saja Liben, dan kalian, aku sudah berjanji akan memajukan pulau ini, jadi aku pasti akan menepati janjiku,." ucap Raka tegas seraya berbalik menatap Liben dan anak buahnya.
"Tuan-Tuan Muda,." ucap Liben dan 10 anggota terpilih dengan gagab sebelum terduduk di tanah, mereka pernah meragukan ucapan Raka, tapi sekarang mereka benar-benar di kejutkan dengan semua ini dan akhirnya bisa yakin 100% percaya pada Raka.
"Tuan Muda maaf,." ucap Mizuka seraya berlari sebelum memeluk Raka, dia sudah sangat merindukan Raka.
"Aku sangat merindukan anda Tuan Muda-." ucapnya lagi seraya memeluk Raka dengan erat. Raka hanya bisa membalas pelukanya sebelum berucap "Aku juga sangat merindukanmu Mizuka,."
Raka dan Mizuka berpelukan cukup lama, untuk memuaskan rindu di antara keduanya.
Silvia merasa senang melihat kedekatan anaknya dengan Tuan Muda Randika. Silvia mendekat sebelum menepuk bahu Mizuka "Pelukanya nanti lagi, sekarang kita diskusikan yang penting terlebih dahulu,.!!" ucap Silvia pada Mizuka.
"Ah-ah iya maaf Bu," jawab Mizuka yang gagab seraya menghapus air mata yang keluar di ikuti dengan senyuman bahagia.
"Eh iya, Tuan Muda, sepertinya otot-otot anda semakin kuat dan keras, apakah anda sering berlatih dan mengembangkan pelatihan,.??" tanya Mizuka yang sudah merasakan tubuh dan otot Raka semakin kuat dan banyak.
"Iya tentu saja, aku harus banyak berlatih untuk melindungi rakyatku juga,." jawab Raka tersenyum.
"Pantas saja, aura anda sangat berbeda dengan terakhir kali kita ketemu,. sepertinya sekarang anda jauh lebih kuat daripada saya," puji Mizuka.
"Kamu paling bisa merendahkan dirimu sendiri," ucap Raka seraya mengelus dahi Mizuka.
"Hemmmn, tapi beneran kok,." tegas Mizuka.
"Baiklah, sekarang sudah cukup, kita langsung turun dan bernegosiasi di tempatku saja,.!" pinta Raka sebelum berbalik menatap Liben dan 10 anggota terpilih.
"Tolong laporkan ke bawah segera, dan persiapkan penyambutan tamu, aku akan turun perlahan bersama mereka,." perintah Raka tegas.
"Baik Tuan Muda,." jawab Liben dengan anggukan, sebelum turun tebing bersama 10 anggota terpilih.
"Sepertinya Anda bertambah dewasa Tuan Muda,." ucap Silvia kagum.
"Hemmmm,. apakah Anda Dokter Silvia Ibu dari Mizuka,.??" tanya Raka yang penasaran, kedua wanita ini sangat mirip tapi berbeda usia saja.
__ADS_1
"Benar sekali," sahut Mizuka dengan bangga sebelum Silvia sempat menjawab.
"Aku bertanya dengan Ibumu, bukan kamu,." gerutu Raka sebelum menyentuh lembut pipi cantik Mizuka. "Kamu semakin cantik,." tambah Raka.
Mizuka yang mendengar pujian dari Raka langsung menundukan kepalanya karena wajahnya memerah dan jantungnya berdetak begitu cepatnya.
"Kamu kenapa,.??" tanya Raka sebelum menyentuh dagu Mizuka dan mengangkatnya agar Mizuka juga menatap Raka.
"Kamu sangat cantik,." Raka masih saja memuji kecantikan Mizuka.
"Apakah sudah selesai kangen-kangenya,.??" goda Silvia.
"Ah maaf,..Tante,." ucap Raka gagab dan sedikit malu juga dan menundukan kepalanya sebelum melepaskan tanganya dari wajah Mizuka.
"Jadi sekarang bagaimana Tuan Muda,.??" tanya Silvia.
"Baiklah kita turun dan bicara di bawah saja,." jawab Raka setelah menghela nafas panjang.
"Separuh ikut kebawah, dan separuh lainya berjaga disini,.!!" perintah Silvia pada semua pengawalnya.
"Baik Nona,." jawab semua serempak.
Semua pengawal yang sangat terlatih dengan mudah membagi tugas masing-masing.
Al dan El bersaudara mengikuti ke bawah tebing bersama Raka, Silvia dan Mizuka.
Sampai di bawah, semua rakyat Raka sudah berada di luar untuk menyambut tamu penting mereka.
"Selamat datang, Nona Muda dan Nona,." ucap semua orang serempak.
"Terimakasih atas keramahan kalian semua,." jawab Mizuka di sertai senyum dan anggukan.
"Ternyata Nona Muda sangat cantik,." puji seorang anak kecil yang membuat Mizuka menoleh padanya.
"Ah maaf Nona," ucap Anak tadi sedikit ketakutan dan menundukan kepalanya setelah melihat Mizuka menatapnya.
Mizuka malah semakin mendekati anak tadi sebelum mengelus kepalanya,
"Terimakasih atas pujianya, kamu juga terlihat kuat,." ucap Mizuka dengan lembut.
"Ahhhh, terimakasih Nona,." ucap anak tadi merasa lega.
"Ternyata Nona Muda sangat baik,." ucap sebagian orang yang semakin menyukai Mizuka.
"Yah seperti itulah Mizuka yang ku kenal,." sahut Raka.
"Tuan Muda , bisa saja membuatku malu,." jawab Mizuka pada Raka.
"Kenapa harus malu, memang benar yang mereka bicarakan,." sahut Silvia dengan bangga, anaknya sangat lembut dan baik hati. Berbeda sekali denganya yang sedikit keras dan tegas.
"Ahhh Ibu," jawab Mizuka sebelum melompat dan memeluk Ibunya karena senang.
"Baiklah, sekarang kita masuk dulu, segalanya telah di persiapkan di dalam,." perintah Raka pada semuanya.
500 orang pengawal yang turun dari tebing, semuanya di tugaskan untuk berjaga di luar, sedangkan Al dan El bersaudara mengikuti ke dalam bersama Raka, Mizuka, Silvia dan lainya.
Silvia dan Mizuka di buat kagum, karena seluruh interior dalam ruangan bawah tanah tidak kalah megah di bandingkan dengan Villa keluarga Randika. Semuanya sangat indah dan mewah. Apalagi di dalam terpancar banyak batu kristal murni yang menerangi seluruh ruangan.
"Sungguh bangunan yang indah," gumam Silvia merasa kagum.
"Ini semua pekerjaan mereka Tan, aku hanya memberi perintah,." ucap Raka.
"Kakek anda pasti sangat bangga bila mengetahui semua ini Tuan,." jawab Silvia merasa senang.
"Semoga saja Tan, tapi ini semua milik mereka, bukan miliku,." ucap Raka mengingatkan.
__ADS_1
"Tapi kami semua milik anda Tuan,." sambung Liben pada pembicaraan keduanya.