
"Baiklah kamu bisa langsung menuju kepuncak gunung sekarang, pelan-pelan saja saat menuju kesana nanti di takutkan orangnya melihatmu dan langsung pergi sebelum kamu membunuhnya" saran dan perintah Raka.
"Baiklah Tuan Muda, saya permisi" jawab Mizuka sebelum dia pergi meninggalkan Raka dengan sangat cepat.
"Wusssssssss" secepat angin kecepatanya...
'Tidak salah sama sekali, kamu memang sangat cepat' pikir Raka dalam hati.
Kembali ke Mizuka, dia berlari sangat celat dan melompat dari pohon ke pohon , seperti sudah sangat terbiasa melakukanya. Bahkan kurang dari 15 menit dia sudah sampai di puncak gunung. Sia bersembunyi di balik semak-semak karena tidak mau targetnya mengetahuinya.
Mizuka harus menunggu cukup laman sebelum targetnya datang.
Setela menunggu hampir 30 menit, akhirnya ada seorang yang terlihat mengenakan pelindung wajah mendekati kawah di atas gunung menunjukan aura kuat juga.
'Dilihat dari auranya sepertinya dia masih berada selevel di bawahku, aku tidak boleh ceroboh atu nanti bisa kehilangan jejaknya saat dia melarikan diri' ucap Mizuka dalam hati.
Orang tadi masih mendekati kawah dan sedetik kemudian dia merasakan kehadiran seseorang dengan sangat cepat meluncurkan sebuah senjata ninja. Yang telah meluncurkan senjata tersebut adalah Mizuka, dan dengan sangat cepat dia terbang mengejar senjatanya, dengan sangat lincah dan terampil juga mereka bedua bertarung , menghindari serangan, beradu pukulan dan tendangan sampai di udara, pertarungan yang hampir seimbang.
'Auranya tidak berubah sama sekali, tapi bagaimana mungkin aku hanya bertarung seimbang denganya' pikir Mizuka dalam hati di tengah pertarungan sengitnya. Mereka berdua bertarung sangat terampil dan tanpa sepatah suarapun dari mulut mereka, salung mengejar dan berlari dalam pertarungan yang sangat cepat, dalam kecepatan itu tak terasa mereka bertarung sudah 5 jam berlalu begitu saja. Pertarungan malam adalah pertarungan yang sangat mengerikan karena mereka tidak bisa melihat dengan jelas di sebabkan gelapnya malam, di puncak gunung tidak ada lampu. Jadi mereka hanya menggunakan indra pendengar dan perasa untuk merasakan bahaya.
Sampai tengah malam mereka masih bertarung seimbang. Mizuka juga di buat bingung dengan semua ini, dia tidak pernah bertarung dengan orang sekuat ini saat berada di Temanggung. Dia mengetahui semua level orang-orang di sini, dan semuanya bukan tandinganya. Tapi dia sekarang menghadapi musuh yang sangat kuat dan dibuat bingung karena swmua sudah dia keluarkan dari senjata keahlian dan segalanya yang dia tahu. Mereka bertarung tanpa lelah sampai sinar mentari di pagi hari pun terlihat semakin terang dan mereka masih bertarung tanpa hentinya. Mizuka dan lawanya sudah kehilangan semua senjatanya dan mereka bertarung dengan tangan kosong sangat cepat, terakhir mereka beradu dorongan telapak tangan dan keduanya terlempar jauh ke belakang. Saat lawanya lengah, mizuka mengambi samuarai yang tadi terlempar dan siap menebas dan mengakhiri pertarungan ini untuk selamanya. Kemudian suara yang sangat familiar pun terdengar "sudah cukup latihanya, aku pergi ke sekolah hari ini" ini membuat Mizuka berhenti bergerak saat pedangnya kurang satu inci dari leher lawanya. Saat mendengar suara tersebut dia gemetar dan merasa sangat ketakutan, dia mundur beberapa langkah.
Setelah mundur beberapa langkah, Mizuka langsung terjatuh dan keringat dingin menetes dari dahinya.
"Maafkan saya Tuan Muda, saya hampir membunuh anda" ujar Mizuka masih sangat ketakutan.
Setelah itu lawan dari Mizuka membuka pelindung wajahnya, ya ternyata benar bahwa yang bertarung dengan Mizuka adalah pangeran Randika sendiri, yaitu Raka Randika.
"Hahaha terimakasih atas latihanya semalam, ternyata memang benar kamu menyembunyikan banyak keterampilan" jawab Raka sambil tertawa.
"Maaf Tuan Muda" jawab Mizuka.
"Tidak apa, aku mengerti karena kakek pernah memberitahuku bahwa kamu istimewa" jawab Raka mengarang cerita agar Mizuka tidak merasa bersalah.
"Apakah begitu Tuan" tanya Mizuka.
"Ya tentu saja, aku akan pergi ke sekolah hari ini, ayo kita pergi dari sini" jawab Raka.
"Tapi Tuan," kata Mizuka masih merasa bersalah karena hampir membunuh Tuan Muda nya.
"Tenang saja, aku senang kok, lagian seandainya aku tidak memintamu melakukan sesuatu yang serius dan jika hanya memintamu untuk bertarung secara langsung denganku, kamu pasti tidak akan serius dalam bertarung, jika seperti itu aku tidak akan puas," jawak Raka sambil tersenyum.
"Terimakasih Mizuka karena kamu bertarung sungguh-sungguh denganku, aku jadi mengerti kekuranganku sendiri setelah bertarung denganmu, aku akan memperbaikinya, dan kuharap kamu tetap akan berlatih agar bisa melatihku kembali suatu saat nanti," lanjut Raka.
Mizuka hanya diam saja, dia masih sangat takut, bagaimana seandainya tadi dia tidak mendengar suara Raka saat bicara. Mungkin dia sudah memenggal kepala Raka.
"Ahhhhhhhh.." teriak Mizuka tiba-tiba.
"Sudahlah ayo, nanti aku terlambat ke sekolah," ucap Raka sambil memegang tangan Mizuka dan menyadarkanya dari lamunan.
"Tuan maaf," ucap Mizuka sambil menundukan kepalanya.
"Sudahlah ayo," jawab Raka sambil menarik tangan Mizuka dan langsung membawanya melompat dan dengan cepat mereka sampai di kediaman Raka.
"Kamu tunggu aku di sini ya, aku sudah meminta kepada paman Patrik Jonson agar sementara kamu berada di sisiku untuk melatihku," ucap Raka sebelum masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Mizuka hanya bisa diam dan mengangguk saja, dia sebenarnya juga ingin terus bersama Raka. Tapi dia juga sadar bahwa tidak mungkin Raka akan menyukainya. 'Mungkin Tuan Muda hanya ingin saya melatihnya, kenapa saya terlalu benyak berfikir,' pikirnya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
*****
Rakapun pergi kesekolah dengan ferrarinya, kemarin sebelum dia mengejar Mizuka, dia sudah lebih dahulu membawa mobilnya pulang.
"Aow...." Tiba-tiba ada yang mencubit Raka, siapa lagi kalau bukan Angelica.
"Kenapa dari kemarin kamu tidak balas pesan dariku??" Tanya Angelica langsung sambil cemberut, terlihat dia cemburu.
"Iya aku kemaren sibuk hehe maaf ya," jawab Raka kemudian mencubit hidung Angel.
"Uch sakit," ucap Angel pelan dan manja.
"Sibuk ngapain dengan wanita itu??" lanjut Angelica.
"Ya biasa berlatih, lagian kan aku tidak mungkin berlatih dengamu," ucap Raka masih belum peka.
"Uchhhh," ucap Angelica , kemudian menuju tempat dudu Susi yang biasa untuk duduk Deni.
"Loh kenapa kesini?," tanya Susi ke Angelica.
"Aku mau duduk sini Sus, apakah tidak boleh??" Tanya Angelica ketus, terlihat masih marah.
"Ya boleh lah, siapa yang bilang tak boleh," jawab Susi.
"Apakah kamu sedang ada masalah dengan Raka??" lanjut Susi.
Angelica hanya diam tak menjawab pertanyaan Susi. Susi pun hanya mengela nafas kasar dan membiarkanya saja.
Tidak ada yang menjawabnya hanya Susi memberi tanda ke Deni agar pergi dan duduk bersama Raka.
Denipun peka dan pergi ke tempat duduk sebelah Raka dan menepuk bahunya.
"Kamu apakan tuh tuan putri,??" Tanya Deni langsung saat dekat dengan Raka.
"Aku tidak apa-apain dia, memangnya kenapa,??" Tanya Raka merasa dia tidak melakukan apapun pada Angelica.
"Dasar laki bodoh tak peka," tiba-tiba suara Susi lantang sekali saat dia berdiri.
"Sudah Sus diem," ucap Angelica menenangkan Susi.
Susi hanya mengangguk dan melirik Raka dengan tatapan permusushan.
"Ada apa sebenarnya ayo jawab bro, ceritakan tentang kamu kemarin ke aku,??" Raka semakin penasaran tentang perlakuan Raka ke Angelica, bagaimana bisa Angelica begitu marah padanya, padahal seingat Deni, Angelica sangat senang saat keluar dari kamar bersama Raka. Kenapa hari ini mereka bertengkar hebat.
Raka berfikir sedikit sebelum bicara "aku mengerti pasti tentang Mizuka, nanti biar aku yang bicara dengan Angel, kalian tidak perlu ikut campur," jawab Raka tegas.
"Baiklah, baiklah," jawab Deni, sejak mengetahui kekayaan keluarga Raka, dia menjadi sangat patuh saat di perintah Raka.
Mereka akhirnya belajar seperti biasanya dan saat pulang pun biasa saja sebelum Raka menarik tangan Angel.
Raka membawa Angel ke taman belakang sekolah karena tempat ini cukup sepi. Merekapun duduk di bawah pohon yang sejuk. Angel masih cemberut dan mambuang muka kesamping dan ini membuat Raka tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kamu tertawa ichhhh.... " ucap Angel sinis.
__ADS_1
"Yah kamu lucu sih seperti anak kecil yang mainanya di ambil teman saja," ucap Raka menggoda Angel, tidak lupa juga mengelus rambutnya pelan sebelum mengobrak abriknya dan menjadi berantakan sebelum tertawa lagi.
"Ah Raka...." teriak Angel sambil mencubit pipi Raka dengan gemas dan manja.
"Auw sakit" ucap Raka kemudian memeluk Angel.
"Sudah jangan cemberut saja, aku akan ceritakan semuanya, tapi kuharap kamu tutup mulut kepada siapapun ya, termasuk ayah kamu," lanjut Raka.
Angel tidak menjawab dan hanya mengangguk kecil.
"Senyum dulu yah, kalau gak senyum aku gak jadi cerita," kata Raka menggoda.
Angel pun senyum sedikit karena terpaksa agar Raka menceritakanya. Setelah Angel senyum Raka pun mencium bibirnya seperti biasanya sebelum bercerita.
"Jadi begini sayang...... " Raka pun menceritakan semuanya mulai dari saat Raka keluar dari rumah Angelica. Hanya dia tidak menceritakan tentang siapa sebenarnya Mizuka.
"Kuharap kamu tidak menceritakan kepada siapapun, dan maaf ya membuatmu khawatir dan pasti cemburu hehehe," lanjut Raka. Sambil mengelus punggung Angel yang masih di peluknya.
"Permintaan maaf tidak di terima, uch...." ucap Angel yang terlihat masih ngambek dan manja sambil memukul dada Raka pelan. 'Aku harus terlihat marah agar dia perhatian hehe' pikir Angel dalam hati.
"Uch dasar manja," ucap Raka kemudian tanganya memegang kedua leher Angel dan ******* bibirnya pelan setelah itu di lepaskan sebelum berucap "aku sangan mencintaimu sayang, jangan berfikir aneh-aneh ya, hatiku hanya untuk kamu,"
Angel pun tersenyum tapi menundukan kepalanya karena malu jika Raka mengetahuinya.
"Ayok kita jalan-jalan kemanapun kamu mau," ucap Raka sambil berdiri dan menarik tangan Angel yang manja ini.
'Nah gitu donk hehehe,' pikir Angel dalam hati sambil ngikutin Raka.
*****
Laras yang melihat ini hanya bisa menahan amarahnya, 'suatu hari akan ku balas kalian,' pikirnya dalam hati.
"Ayo kita pergi saja dari sini," ucap Siwi ke Laras, sebagai sahabat dia paling peka dan mengetahui tentang kecemburuan Laras.
"Bailah, ayo kita pergi......" jawab Laras ketus.
Kemudian mereka pergi ke sebuah tempat bernama Famili Bar Karaoke yang baru beberapa di buka. Karena masih sangat baru, disini masih gratis hanya untuk bernyanyi saja. Jika minum Anggur atau membutuhkan Pemandu Karaoke baru bayar. Tempat ini mendapatkan ijin resmi, jadi boleh minum asalkan minuman yang berlebel, di tempat ini dilarang mengkonsumsi obat-obatan seperti Narkoba dan sejenisnya ataupun minuman oplosan.
Jika melanggar akan langsung di berikan kepada pihak berwajib, karena sudah terpasang CCTV di setiap kamar.
"Aku mau minum anggur merah 4 botol dan bernyanyi untuk menenangkan pikiranku," ujar Laras pada pelayan bar tersebut.
"Baiklah ini nona, semuanya menjadi 340 ribu rupiah, kamar yang kosong ada di atas, semuanya belum terisi, mau pilih kamar nomor berapa silahkan pilih ini kuncinya nona" jawab pelayan wanita sambil memberikan kunci beserta nomor untuk kamar di lantai atas.
Setelah membayar, Laras dan Siwi memilih nomor 002 di lantai atas, langsung menuju kamar dan masuk setelah menyalakan layar mic dan sound mereka bernyanyi seperti gadis gila yang sedang patah hati, berteriak-teriak sangat keras, untung setiap kamar kedap suara, jadi tidak terlalu bising di luar.
< hanya diaaaaaa dia dia dia dia dia dia dia dia hanya diaaaaaaam.....
Teriak keduanya sambil minum anggur, mereka benar-benar seperti gadis gila.
*****
Di tempat lain, Raka dan Angel pergi bermain bersama dengan mobil Raka. Angel sudah meminta anak buahnya untuk mengambil mobilnya di sekolah agar dia bisa di antar Raka saat pulang nanti.
Mereka pergi berkeliling Temanggung, karena Raka sekalian ingin mensurvei semua bangunan yang dalam proses pembangunan.
__ADS_1
Sampai keduanya berhenti di suatu tempat yang agak familiar.