
Semua yang terjadi seolah menusuk hati Mila paling dalam, air mata Mila seperti tak bisa berhenti. Mila terlalu lemah dalam keadaan ini tak bisa berbuat banyak selain kesal dengan semua takdir hidupnya.
Kini suara itu terdengar jelas kembali, pak Adnan mengatakan jika Mila adalah pembunuh.
Kata yang paling menyakitkan hati, disaat tuduhan itu seolah nyata.
Orang tua Reza seolah kaget tak percaya, dengan yang diutarakan oleh kedua orang tua Bagas bahwa Mila adalah seorang pembunuh.
Umi Saidah dan abi Husein tak pernah menyangka jika Mila memiliki masa lalu kelam yaitu sebagai seorang pembunuh.
"Kalian harus tahu dia bukan lah wanita yang baik, dia yang sudah membunuh anak perempuan saya bernama Karin"jelas Adnan dengan mata membulat berikut dengan tuduhan yang begitu menyakitkan.
Mila membulat mata dengan air mata tuduhan itu sungguh menyakitkan perasaannya.
"Tak pernah sekalipun saya ada niatan dalam hal itu tak pernah ada tak sekalipun, jelas itu bohong saya tidak mungkin membunuh Karin" ucap Mila membela dirinya sendiri.
"Siapa yang tidak tahu jika dirimu pembunuh, saat itu kamu lah orang pertama yang membuat putri saya terjatuh dari lantai atas hanya saja kamu tak mau mengaku. Mana ada penjahat mengakui itu" ucap Adnan marah pada Mila.
Orang tua dari Reza pun menggeleng kepala antara percaya dan tidak percaya, dirinya tak menyangka dengan semuanya.
Orangtua Reza, seperti kecewa dengan ucapan dari Adnan dan Alina. Pasalnya Reza seperti memilih wanita tanpa tahu latar belakang hidup seperti apa.
"Ingat Mila!!! Ingat!!! Jika anak saya mati karena mu, itu semua karena mu. Sekarang kamu lihat kan bagaimana kondisi Bagas saat ini" kata Adnan kesal.
"Tidak!!!! Saya yang paling dirugikan dalam hal ini saya yang paling dirugikan, saya diperkosa sama anak bapak dan ibu. Saya hanya membela diri saja saat itu, tidak ada niatan saya membunuh. Harusnya malam itu adalah malam bahagia untuk saya dan suami tapi apa!!!! Tapi apa?? Anak bapak lah yang menghancurkan hidup saya berikut dengan semuanya" Ucap Mila menangis.
"Kamu tidak kehilangan darah, tak ada yang terluka dari darimu, tapi putra saya bisa mati karena tangan jahat mu dan kamu menusuknya" ucap Alina menarik kasar Mila dan memaksa agar Mila melihat Bagas yang koma dari kaca.
"Lihat itu Mila, lihat!!!!" Tarik Alina kasar. "Karena mu putra say terbaring koma,puas kamu membunuh Karin sekarang kamu bunuh Bagas juga"
"Baiklah, baiklah.. Saya akan memberikan semua darah saya jika memang Bagas butuh. Jangan sisakan darah ditubuh ku ini, lebih baik aku yang mati" kata Mila putus asa dan tak peduli walau Bagas yang sudah jahat pada dirinya.
Bukannya mengucapkan kata yang lebih baik, justru Aluna menolak mentah.
__ADS_1
"Tidak perlu!!!! Tidak mau saya terima darah pembunuh dari mu. Tidak ada istilahnya saya terima kebaikan mu" kata Alina mendorong Mila kasar hingga Mila tersungkur
Mila pun terjatuh, dirinya seperti orang yang paling salah dalam hal ini.
Hingga saat itu Mila pun dibantu Abi Husein untuk berdiri, tapi umi Saidah tampak tak terima saat Mila dibantu berdiri.
Reza seperti seolah salah memilih wanita dalam hidupnya. Reza seperti membeli kucing dalam karung. Menikahi wanita yang tak jelas latar belakang hidupnya dan masa lalu yang kelam.
"Lepaskan dia, Abi. Lepaskan menantu sialan ini" kata Umi yang seolah tak Sudi lagi pada Mila. Sepertinya ucapan dari keluarga Reza tentang Mila seorang pembunuh adalah suatu hal yang umi Saida percaya. Dan ucapan
"Umi selama ini salah mengira pada mu Mila, umi pikir kamu buruk dari luar tapi ternyata kamu sangat buruk dalam dan luar. Reza sangat salah memilih wanita, Reza seperti membeli kucing didalam karung. Tak jelasan masa lalunya seperti apa. Dan ternyata kamu pembunuh!!!" Ucap Umi Saidah.
Lalu terlihat Reza dan Reza hanya menatap Mila dengan tatapan tajam, Reza pun tak pernah menyangka jika dirinya menjadi wanita yang dulunya seorang pembunuh.
Reza pun mendekati wanita yang kini menjadi istrinya tapi seperti kapas yang terombang ambing dan tak jelas jalan hidupnya.
Dengan tatapan penuh rasa emosi begitu dalam Reza menatap istrinya bukan dengan cinta malah seperti rasa benci.
"Kejutan apa lagi dari mu Mila, kejutan apa lagi. Aku tak pernah menyangka dirimu pembunuh" ucap Reza. " Mengapa kamu tak pernah jujur dari awal soal ini, kenapa semua baru di buka saat ini. Andai saja aku tahu tentang ini dari awal, sungguh aku tak mau menikahi mu apalagi mengenal mu Mila" jelas Reza sekali lagi.
"Jadi a Reza menyesali semua ini" kata Mila dengan mata yang penuh air mayam
"Iya!" Jelas Reza.
ucapan Reza seperti menusuk paling dalam.
Hati Mila pun semakin sakit, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Reza.
Mana janji Reza saat dulu sebelum menikah, mana kasih dan sayang Reza saat dulu. Dimanakah cinta yang dulu dan yang sebenernya? Mengapa Reza menjadi sesosok yang berubah, Mila seolah kehilangan sesosok Reza yang dulu.
Mila pun lemas dan mundur perlahan, Mila pun berlari meninggalkan tempat itu dengan air mata yang tumpah penuh dera dan sakit hati yang teramat dalam.
Saat Mila berlari Mila berharap banyak jika Reza mengejar Mila saat itu juga tapi sayangnya tidak. Tidak sama sekali Reza mengejar.
__ADS_1
Baru saja...
Baru saja, Mila merasakan cinta dan kebahagiaan itu. Tapi hal paling pahit itu terjadi nyatanya cinta itu cuma omong kosong tak pernah ada dan nyata.
Mila pun tak langsung pulang saat itu, Mila pun terlihat putus asa dia menatap langit yang biru dan cerah tapi tak secerah hatinya saat itu. Mila tampak menangis dan tanpa terasa matanya terasa gelap, Mila pun seketika pingsan saat itu.
Seseorang pun menolong Mila yang tergelatak dipingir jalan.
Beruntung saat itu ada seseorang yang tahu jika itu adalah istri dari Reza karena dia datang ke acara nikahan Reza.
Dan langsung mengantar Mila pulang ke rumah Reza.
Beberapa saat kemudian Mila pun membuka mata dan menyadari jika dirinya kini berada dirumah Reza.
Mila pun menatap sekeliling dengan tatapan begitu sayu. Seorang wanita datang dan itu adalah asisten rumah tangga dirumah Reza bernama Bi Sarmi. Bi Sarmi begitu kasihan melihat Mila yang begitu tampak pucat dan tak bertenaga lemah dan tak berdaya.
"Non Mila makan dulu ya, non Mila sangat pucat tadi non Mila ada yang antar katanya pingsan dijalan" kata Bi Sarmi.
"Saya kehilangan selera makan Bi" jelas Mila dengan tatapan kosong.
"Tapi non mila harus makan"
"Saya akan makan tapi saya boleh minta sesuatu"
"Apa non?" Tanya Bi Sarmi.
"Pinjam pundaknya bi sebentar saja, perasaan saya saat ini sangat hancur. Perasaan saya sangat sedih" ucap Mila menjatuhkan air matanya.
"Tentu boleh, peluk Bi Sarmi non peluklah" kata bi Sarmi.
Tangis Mila pun kembali pecah saat itu dalam pelukan bi Sarmi. Mila sangat hancur sehancurnya perasaannya begitu tersayat dan pilu.
tak ada satupun orang yang Mila bisa didekatnya saat ini.
__ADS_1
jujur saja Mila tak berani mengatakan semuanya pada bapak karena Mila tahu jika bapaknya punya penyakit jantung dan tak boleh mendengar hal buruk tentang apapun itu. Mila tak mau jika bapak sakit karena dirinya, Mila tak mau.