
Mila yang terbaring lemah tak berdaya itu terlihat berkali-kali memanggil nama pria yang sudah mengecewakan dirinya yaitu Reza.
Bahkan mata yang terpejam seolah enggan untuk tidak menangis, dalam rintihan perih hati yang terasa Mila tanpa sadar terus memanggil nama pria itu.
Hingga beberapa saat Mila mulai sadar dan membuka mata secara perlahan.
Napasnya terasa berat untuk bernapas, semua seolah sulit ia resapi.
Dan saat Mila membuka mata Mila kaget karena ada pria yang sangatlah ia benci berada disampingnya tengah duduk memandangnya.
"Kamu" kata Mila membuka mata terkejut dengan keberadaan Bagas.
Mila pun sontak panik dengan keberadaan Bagas saat itu.
"Pergi! Pergi!" Teriak Mila yang tak mau Bagas berada di dekatnya.
"Tenanglah dulu, aku tidak akan apa-apakan kamu"
Mila pun tampak menangis sedih disertai rasa takut saat melihat Bagas.
"Sudah cukup, hiks, hiks, sudah cukup..dirimu membuat ku menderita. Sudah cukup!!!" Kata Mila yang takut melihat Bagas dan memukul nya dengan bantal.
"Tenanglah"
Tapi Mila masih tak tenang ia terus saja meronta dan memukul Bagas dengan barangnya ada di dekatnya.
"Pergi!!! Pergi!!! Huhuhu jangan ganggu hidup ku, aku sudah cukup menderita untuk semuanya. Rumah tanggaku, semua yang kamu lakukan sudah cukup untukku" kata Mila yang membuat dirinya menangis.
Mila saat itu terlihat trauma, takut dan frustasi. Apalagi saat ia sadar itu adalah Bagas. Orang yang saat ini ia benci.
Hingga Bagas menyuruh suster menenangkan Mila agar lebih tenang.
Lalu suster pun datang dan berbicara pada Mila untuk tetap tenang. Lalu suster memberikan obat tidur ke selang infus Mila. Hingga yang sebelumnya Mila masih histeris takut melihat Bagas kini terlihat kembali tidur.
Hingga saat itu Mila yang masih terpejam matanya, dimintai data pasien oleh seorang suster.
Bagas pun tak berani membangunkan Mila karena Bagas takut bila wanita itu akan histeris kembali, hingga Bagas mengambil tas Mila untuk mengambil identitasnya.
Bagas melihat uang Mila yang berada di dompet hanya dua ratus ribu.
"Dikit sekali dia punya uang" ucap Bagas saat melihat dompet Mila.
__ADS_1
Lalu Bagas pun mengambil identitas Mila untuk keperluan administrasi lalu tanpa sengaja Bagas melihat surat di dalam tas Mila yang berasal dari pengadilan agama.
Dan Bagas pun dengan berani membaca surat yang ada ditas Mila.
Dan surat itu adalah gugatan cerai dari pengadilan agama.
Bagas pun mengerinyitkan dahi dengan surat itu tak menyangka dengan semuanya.
Bagas pun masih bertanya-tanya dalam hatinya, anak siapa yang Mila kandung saat ini.
Anak Reza ataukah anak dirinya? Pertanyaan ini terbesit di dalam pikirannya.
Hingga tanpa sadar Bagas menatap wajah Mila lekat dengan seksama menghela napas beratnya.
Dan dalam hati masih berharap jika Mila tak pernah mengandung anak dirinya, Takan pernah.
Hingga sore itu, Bagas pun meninggalkan Mila di rumah sakit. Karena ada keperluan yang memang harus ia kerjakan.
.
.
.
.
Hingga Bagas kembali datang melihat Mila dengan tatapan yang masih kosong.
Bagas duduk dan melihat Mila yang masih terlihat frustasi, Bagas pun menatap Mila tajam. Dan menanyakan soal Mila yang tengah mengandung itu.
"Ada hal yang aku ingin tanyakan pada mu?" Tanya Bagas.
Mila terdiam dan tak menjawab apa yang menjadi pertanyaan Bagas.
"Mila, kamu dengar aku?" Kata Bagas bertanya.
Mila pun langsung membuang wajahnya tak mau melihat Bagas sama sekali.
"Aku ingin tahu? Anak siapa yang saat ini kamu kamu kandung?" Tanya Bagas bertanya dengan raut wajah tegang.
Mila pun masih terdiam.
__ADS_1
"Aku bertanya tolong jawab aku!!!" Kata Bagas sekali lagi dengan lantang.
"Pertanyaan ku hanya satu, jika ini anak mu. Apakah kamu percaya?" Kata Mila.
"Jangan main-main dengan ku, katakan ini bukan anak ku" kata Bagas sekali lagi.
"Anak yang aku kandung adalah anak mu" kata Mila.
"Lalu kenapa kamu tak mengatakan dari awal" kata Bagas lantang.
"Untuk apa aku mengatakannya untuk apa!! Aku tidak akan pernah meminta pertanggung jawaban dari mu. Untuk apa memberitahu mu. Untuk apa?"
Seketika Bagas terdiam dengan apa yang Mila katakan.
"Kamu boleh pergi, kamu bisa pergi. Karena selamanya aku tak akan pernah menganggap kamu adalah ayah dari anak ini" kata Mila sekali lagi.
Sejenak Bagas termenung dan seolah mengikuti apa yang menjadi ucapan Mila.
"Baiklah memang itu yang aku harapkan, aku pun juga tak mau menerima anak yang ada didalam kandungan mu!!!" Jelas Bagas.
Bagas pun pergi begitu saja dengan apa yang diucapkan Mila. Mila tidak mau meminta dan mengemis pertanggung jawaban pada pria yang sudah sangat menghancurkan hidupnya.
Mila pun mengepal tangan erat merasakan sakit semua yang ada. Semua seolah menjadi satu, dan terasa sakit di dalam hati.
Hingga setelah itu Bagas pun memutuskan pulang dan tak peduli lagi soal Mila.
Keesokan paginya, Mila pun untuk memutuskan pulang dari rumah sakit itu.
Mila tak tampak tahu berapa tagihan rumah sakit yang harus ia bayar. Sampai ia melihat sebuah nota dengan harga satu juta dua ratus ribu rupiah.
Mila pun memejamkan matanya, uang yang ia kumpulkan kini harus ia membayar rumah sakit yang sebenernya mungkin murah bagi yang memiliki uang banyak tapi untuk Mila ini cukup mahal baginya.
Mila pun menelan saliva dalam-dalam, karena artinya mila harus kerja lebih extra bila mengingat tagihan yang cukup banyak itu.
Mila pun membayar dengan kartu ATM ia punya uang hasil dari manggung beberapa hari terakhir.
Indahnya saat ini ada 1.5 juta dan sisanya tinggal 300.00 lagi.
Hingga saat pulang Mila menatap dengan tatapan kosong. Dan membiarkan dirinya melamun di depan halte depan rumah sakit.
Banyak taksi dan kendaraan umum yang lalu lalang tapi tak satupun Mila hentikan rasanya Mila terasa enggan untuk pulang. Mila hanya terlihat seperti orang bodoh dan kehilangan arah tujuan.
__ADS_1