
Malam itu Mila yang masih di anggap pembunuh oleh keluarga Bagas hanya bisa menerima pasrah terhadap apa yang terjadi.
Karena menurut Mila itu semua susah dijelaskan dengan kata, saat itu Mila hanya tahu jika Karin jatuh dari lantai atas paling atas disebuah gedung. Karena kejadian itu lah yang membuat Mila dituduh mendorong Karin. Tak ada saksi mata yang datang, Mila naik ke atas pun Karin sudah berada dibawah. Namun karena hanya Mila dilokasi membuat Mila dituding melakukan kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Mila sebenar sedih dengan semua yang terjadi, Karin yang menjadi sahabatnya harus meninggal tanpa suatu kepastian yang jelas hingga Mila hanya bisa menahan rasa sabar di dalam hati disaat semua serasa sulit di cerna.
Jika ditanya meninggal karena apa, sungguh Mila tak tahu kejadiannya seperti apa. Hingga Mila dijadikan tuduhan itu dilempar ke Mila karena sebelum kejadian sehari sebelumnya Mila berkelahi hingga saling tinju terjadi antara Mila dan Karin.
Saat Karin belum meninggal sang papa dan mama Karin pun sudah menyalahkan Mila saat Karin babak belur saat Mila hajar. Padahal dari situ Mila diserang duluan oleh Karin.
Hingga....
Kematian Karin seolah Mila rencanakan, padahal bila ingat Mila tidak mungkin membunuh apalagi memperebutkan seorang cowok.
Mila pun melawan saat itu karena Mila tak salah.
.
.
.
.
Hingga setelah pulang dari rumah Bagas Mila masih dengan kesedihannya.
Mata Mila pun memerah saat Bagas membela dirinya di depan keluarga.
"Keluarga mas Bagas adalah keluarga yang Mila paling hindari, paling Mila tak mau. Tapi kenapa Mila harus terjebak seperti ini" kata Mila sedih.
"Jadi kamu menikah dengan ku adalah sebuah jebakan menurut mu" Kata Bagas.
"Bagaimana tidak mas, bagaimana tidak.. aku dapat tuduhan itu"
"Mila, mau kamu pembunuh atau bukan. Aku sayang sama kamu"
"Jadi mas percaya kalau Mila pembunuhnya"
Bagas pun terdiam.
"Ya Allah mas Mila demiAllah tak pernah membunuh siapapun" kata Mila.
Bagas pun menghela napasnya.
"Sini mas peluk ya, udah gak usah kamu pikirin kita fokus aja. Kamu cinta kan sama aku"
"Cinta tapi pahit"
"Hehehe, yaudah sini. Ingat kamu jangan egois, anak kamu ini butuh ayah. Butuh kamu butuh aku, kita harus bersama demi anak kita"
Mila pun menghapus air matanya dan mengangguk.
Dalam hati kecil Bagas sebenernya, masih menganggap jika Mila pembunuh dari adiknya. Namun ia berusaha untuk melupakan kasus itu demi cintanya. Demi wanita yang ia cintai. Dan biarkan dirinya mampu menerima Mila mau Mila salah atau benar.
__ADS_1
.
.
.
.
Hingga tiga bulan berlalu...
Kini kandungan Mila sudah di usia tiga bulan, sudah sedikit mulai terlihat.
Hingga Bagas pun mempersiapkan semuanya tentang pernikahan yang direncakan itu.
Bagas yang meminta untuk di langsungkan pernikahan secara sederhana tak di indahkan oleh Adnan.
Adnan malah membuat acara secara meriah dan mewah, dengan menyewa gedung pernikahan. Semua acara di buat secara mewah karena Adnan berfikir Mila adalah jodoh putranya.
Meski awalnya Adnan membenci Mila karena di anggap telah membuat ia kehilangan putrinya, tapi Adnan tidak mau membela putranya juga yang sudah menghamili seorang wanita meskipun dianggap pembunuh itu.
Semua mata pun tertuju pada pernikahan Mila dan Bagas saat itu.
Mila terlihat cantik dan begitu mempesona saat itu, wajahnya yang cantik dan ayu membuat Bagas tersenyum indah melihat Mila.
"Mila jangan lupa senyum ya" kata bagas saat itu.
"Iya mas"
"Iya mas" jawab Mila tersenyum.
Mila pun sedih dan terharu bagaimana tidak, karena saat itu dalam setahun terakhir dia harus merasakan pernikahan untuk kedua kalinya.
Tak pernah ia menyangka itu..
Mila pun menatap Bagas lekat saat itu, menatap ketampanan dari seorang pria yang kini tengah mengucap ijab dan kabul dengan lantang. Hingga mata Mila beralih pada umi saidah saat itu.
Sang mantan mertua...
Mila tak pernah menyangka dirinya yang dulu di benci umi saidah dan di anggap anak kini hanya sebuah kenangan.
Mila selalu merindukan umi Saidah walau Mila sadar hubungan Reza hanya tinggal kenangan.
Mila yang tak pernah merasakan lagi hadirnya sesosok ayah dan ibu membuat Mila menjatuhkan air mata saat menatap umi Saidah.
Mila pun menatap sekali lagi bagas disampingnya, menikahi Bagas seolah mimpi dalam hidup Mila.
Mila menyerahkan kehidupan pernikahannya yang seperti sebuah misteri, hadirnya anak dalam perut Mila membuat Mila harus berjodoh dengan pria yang tak pernah Mila bayangkan sebelumnya.
Yaitu Kakak dari sahabat Mila sendiri. Pria tampan, punya karir cemerlang dan kehidupan yang serba kecukupan.
Namun menjalani hidup bersama orang kaya raya sebenarnya membuat Mila tak percaya diri karena pasti akan ada saja masalah kehidupan soal tahta dan harta sedang Mila hanyalah seorang yatim piatu dan tak berpunya.
Mila sedih disaat hidup tak memihak padanya, namun atas dasar rasa cinta dan naluri seorang wanita untuk seorang pria yang mau bertanggung jawab untuk anaknya.
__ADS_1
Mila terima....
Mila tak pernah menganggap bahwa Bagas seorang pahlawan nyatanya dia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan karena dia yang sudah mengambil semua yang Mila miliki.
Cinta..
Kesucian...
Dan harga diri...
Mila pun merasa sedih jika mengingat semua yang terjadi.
Seolah kesana kemari rasanya sepertinya akan sama.
Hingga saat Mila sungkeman, Mila adalah orang yang paling menangis haru saat itu. Tangan Mila bergetar saat itu. Mila tak banyak bicara hanya tangisan yang Mila rasakan.
Pernikahan Mila jelas tak sambut hangat oleh sang ibu mertua Mila yang baru yaitu Alina. jangan kan menyapa tersenyum saja tidak.
sakit...
sudah pasti hal itu membuat Mila merasakan kesakitan hati.
Mila hanya tertunduk saat itu..
Mila pun kini duduk di pelaminan bersama Bagas saat itu. Pasangan pengantin yang serasi saat itu.
Hingga umi menghampiri Mila dan memeluk Mila sangat erat saat Mila sudah di pelaminan
"Ya Allah anak umi, kamu menikah lagi nak" kata umi sedih melihat Mila yang kini sudah menjadi istri orang lain, dan bukan menantunya lagi.
"Mila meskipun Mila bukan menantu umi, tapi Mila masih menjadi anak umi" kata umi saidah.
"Iya umi" jawab Mila dengan suara seraknya karena sedih.
"Jadilah istri yang Soleha tetap lah menjadi anak baik ya sayang" ucap umi menasehati Mila agar tetap menjadi sosok wanita yang baik.
Mila pun mengangguk dan memeluk umi.
Lalu setelah itu Umi pun bersalaman pada Bagas.
Bagas pun mencium tangan umi saidah.
"Nak Bagas jaga anak umi, jaga anak umi, yang umi sayang ini. Jangan kamu sakiti dia jaga dia jangan kau kecewa kan dia" kata umi saidah menitihkan air matanya melihat sang menantu yang ia rindukan kini bersama pria lain.
"Ya umi Bagas akan berusaha menjaga Mila, menjaga Mila dengan sangat baik" Kata Bagas saat itu.
Hingga Mila pun tersenyum haru saat itu.
Bagas tahu apa yang menjadi tangisan Mila saat itu, banyak hal yang paling membuat dirinya sedih. jika ditanya satu persatu mungkin terlalu banyak, hingga yang paling mendasar Mila masih takut masuk ke dalam keluarga Bagas saat ini. Terlebih lagi soal mamanya yang masih menganggap Mila sebagai pembunuh, Bagas mungkin masih merasa kan yang sama. Merasakan yang sama saat ini Mila rasakan soal ketakutan batinnya.
Tapi Bagas hanya tak bisa menyakiti Mila. Harus meredam dendam demi wanita yang ia cintai agar dapat tersenyum.
Bagas tak peduli soal siapa Mila yang Mila harus tahu saat ini bahwa Bagas mencintai dirinya apadanya.
__ADS_1