
Setelah perceraian itu selesai yang hadir tampak seolah mimpi, Mila sudah memenuhi panggilan dari pengadilan agama untuk perceraian dirinya.
Dan kini akta cerai itu sudah Mila pegang, itu artinya kini Mila sudah resmi menjadi seorang janda.
Kata :janda' kata yang tak pernah terbesit dalam pikirkannya, karena itu bukanlah cita-cita dan keinginan melainkan takdir yang Mila harus jalani.
Bahkan saat panggilan itu Mila penuhi, Mila tampak pasrah menerima takdir yang ada. Batin terasa perih, bukan karena perceraiannya tapi pernikahan yang gagal. Pernikahan yang berjalan hanya sebulan seolah ada yang salah dalam diri Mila. Tak bisa marah, hanya bisa terima.
Berharap jika kelak Mila bisa hidup bahagia dengan sesuatu yang Allah takdirkan, walau harus beberapa kali menemui perjalanan sulit.
Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, Allah yang menentukan.
Mila pun tak bilang pada Bagas. Cukup Mila saja yang jalani proses itu sendirian.
.
.
.
.
Hingga setelah itu... Setelah perceraian yang berjalan kurang lebih seminggu Mila hanya berusaha untuk menata hidup lagi, kegagalan dalam berumah tangga bukan berati hidup Mila harus gagal dan berantakan juga.
Hingga saat pagi itu Mila tampak selsai mandi dan bercermin melihat wajah diri di dalam cermin, hingga sebuah ketukan pintu terdengar saat itu.
Mila yang baru saja selesai mandi dan sudah rapi itu tampak keluar dari rumahnya
Saat Mila mengintip dari jendela, Mila melihat sosok pria yang kini tak asing lagi yaitu Bagas. Dulu Bagas adalah pria asing bagi Mila namun kini ia tampak sosok yang Mila rindukan tapi harus menahan segala kerinduan yang ada.
Mila yang sudah bilang pada Bagas untuk jangan datang dulu tapi tampaknya masih saja ia datang.
Mila pun membukan pintu, Mila pun melihat Bagas begitu tampak tampan dengan setelan kantor nya kemeja abu dan celana panjang hitamnya. Bagas terlihat sangat tampan, rapi dan gagah. Mila pun tersenyum lembut.
"Hallo Mila"
"Ya hallo, kok kesini pagi-pagi"
"Kebetulan aku lewat aja sih, mau mampir ke rumah kamu aja gak apa-apa kan"
"Oh" jawab Mila singkat.
"Mila, kamu gak mau beli sesuatu gitu. Aku mau traktir kamu" kata Bagas.
"Traktir apa?"
"Terserah, kamu mau apa?"
__ADS_1
"Ulang tahun ya?"
"Ya gak juga kalau mau traktir kan gak selalu ulang tahun" kata Bagas.
"Siapa tahu ulang tahun, ulang bulan, atau ulang hari" kata Mila.
"Nah kalau ulang hari iya, kalau ulang tahun gak. Lagi juga cowok kan emang di takdirkan sering traktir makan" ungkap Bagas.
"Siapa yang kamu sayang?" tanya Mila.
"Depannya M belakang nya A"
"Siapa ya, oh Mulyana si akang Mulyana kan" tanya Mila dengan nada bercanda.
"Hemm mulai deh kamu" kata Bagas tersenyum.
"Aku datang jauh-jauh loh takut kamu rindu sama aku" kata Bagas tersenyum.
"Wah heemmm, mulai deh" kata Mila sembari tersenyum.
Bagas pun tersenyum lembut kepada Mila dengan menaruh senyum yang tulus dari hatinya.
Meski yang sebenarnya paling rindu adalah Bagas, tapi Bagas seolah memutar balikan kata itu kepada Mila.
Tak pernah Bagas merasakan rindu pada seorang perempuan, tak pernah ia rasakan sedalam ini sebelumnya. Batinnya terus meronta bahagia dan merasakan getaran yang teramat dalam setiap kali ia memandang wanita yang kini tengah mengandung darah dagingnya.
Hingga Bagas pun mengajak Mila untuk pergi keluar
"Keluar yuk beli makan" kata Bagas.
"Kamu gak usah repot-repot" kata Mila.
"Keluar aja sebentar ya" kata Bagas.
Lalu Mila pun mengangguk pasrah.
Hingga akhirnya Bagas pun mengajak Mila untuk berjalan sekitar daerahnya saja dengan mobil yang ia bawa. Meski cuma sekedar jalan-jalan biasa, Mila senang karena ternyata Bagas itu manis juga. Kata manis yang tak pernah terbesit pada pria yang ia benci dalam hidupnya.
Dan..
Bukan sebuah makanan yang mewah yang Mila inginkan, melainkan sebuah ice cream coklat dengan harga murah yang Mila beli di pinggir jalan.
Hingga Bagas terheran kenapa ada wanita yang sangat sederhana ini seperti anak kecil yang membeli ice cream yang harganya tak sampai 10.000.
"Kenapa ice cream?" Tanya Bagas yang melihat Mila melahap ice cream sambil menjilat kesana kemari.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kenapa beli ini, yang lain kan banyak"
"Contohnya" tanya Mila
"Pizza, spaghetti, atau sate aku bisa cari buat kamu" kata Bagas.
"Ehm iya makasih banyak tak usah kamu repot ya"
"Tapi makan ice creamnya biasa aja kali gak usah pakai lidah"
Mila pun langsung menarik lidahnya dan memutar badannya memunggungi Bagas agar tidak menjadi ledekan Bagas saat itu.
Bagas pun tersenyum melihat Mila yang malah semakin menggemaskan.
Hingga tanpa Mila meminta Bagas pun tampak membawa Mila ke restoran dan take away banyak menu.
Bagas pun terlihat sangat perhatian pada Mila saat itu hingga Mila tak mampu menahan rasa yang ada.
Bahkan Bagas terus aja memperhatikan Mila saat itu, hingga hal yang paling Mila tidak terduga Bagas menanyakan sesuatu pada dirinya.
"Apakah bayi di dalam perut sehat" Tanya Bagas.
Mila pun mengangguk.
"Iya selama ini tak ada masalah" kata Mila singkat.
"Boleh aku memegangnya sebentar saja" pinta Bagas.
"Boleh"
Hingga tangan Bagas pun mulai memegang perut Mila saat itu.
Mila pun memandang Bagas saat itu sangat dekat dengan wajahnya. Melihat Bagas bak mimpi yang tak pernah Mila bayangkan sebelumnya. Ada debaran yang sangat dalam saat itu. Apalagi melihat wajah Bagas yang terasa begitu lekat di dalam hati.
"Aku pinta kamu jaga dia baik-baik ya, karena ini anak kita milik kita yang harus kita jaga. Meski kamu membenci ku" kata Bagas.
"Apa yang kamu katakan? Aku gak salah dengar kan"
"Mila, aku salah dulu pernah meminta menggugurkan anak dalam perut mu. Tapi aku sadar saat ini, ternyata aku mencintaimu" kata Bagas.
"Kamu mencintai ku"
"Iya"
Mila pun terharu dan senyum malu saat itu. Apalagi sebuah kata cinta itu ia utarakan.
Hingga saat itu Mila pun merasa bahagia, mungkin untuk pertama kalinya Mila merasakan kembali kebaikan dan perhatian dari seorang pria, yang sebelumnya Mila hanya mendapat sebuah kepahitan hidup yang tiada hentinya.
__ADS_1