
Sementara itu Bagas pun pulang lebih awal karena tugas dari Adnan ternyata lebih cepat dari dugaan.
Adnan meminta Bagas menggantikan tugas pertemuan dengan rekan bisnisnya karena Adnan sendiri ada tugas lain ke negara tetangga.
Bagas pun pulang disamping tugas nya sudah selesai ia juga mengingat dirinya sudah sangatlah rindu dengan sang istri, apalagi istrinya saat ini tengah hamil. Pasti sangat membutuhkan dirinya dan ingin sekali di manja.
Bagas sengaja datang tanpa pemberitahuan sama sekali dengan maksud memberi surprise pada sang istri dengan kedatangannya secara tiba-tiba.
Bagas pun menyempatkan diri juga membeli beberapa oleh-oleh baju bayi, untuk sang buah hati yang masih berada di dalam perut Mila.
Meski pun terlalu dini, tapi Bagas yakin Mila akan senang mendapatkan hadiah yang Bagas bawa untuk baby yang kelak akan lahir nanti.
Bagas pun tersenyum saat membayangkan wajah sang istri yang sedang tersenyum lembut padanya, hanya Mila saat ini di hati Bagas.
Bagas pun berharap jika perjalanannya berjalan lancar dan tak kekurangan suatu apapun hingga dirinya sampai bertemu dengan sang istri tercinta.
Meski Bagas merasa ada yang aneh, mengapa sampai saat ini Mila tak pernah menghubunginya sekalipun. Tapi Bagas mencoba berfikir positif Bagas berharap tidak terjadi sesuatu apapun pada diri Mila yang berada di sana.
"Sayang tunggulah aku pulang"
.
.
.
Sementara itu....
Saat ini Reza masih bersama Mila dalam satu mobil, Reza menatap sesekali wajah wanita yang pernah ada dihatinya. Mungkin bukan hanya pernah tapi masihlah ada di hatinya saat ini, hanya saja Reza terlambat menyadari.
Reza pun tak lantas membawa Mila ke rumah sakit karena Reza tahu jika di bawa ke rumah sakit akan ada suaminya yang tiba-tiba saja datang. Dan malah akan membuat Reza sulit bertemu dan bertatap muka pada wanita yang pernah menjadi istrinya.
"Tak boleh, tak boleh Mila aku kembalikan saat ini. Biarin saja si Bagas kelabakan cari istrinya. Siapa suruh dia membiarkan istrinya sendirian di jalan. Aku akan membawa mu ke rumah saja" kata Reza berbicara dengan dirinya sendiri.
Hingga Reza lebih memilih membawa Mila pulang ke rumah Umi .
Reza pun menarik napasnya saat itu. Masih sangat dalam perasan Reza pada Mila, semakin terasa perpisahan yang ada masih terasa pula debaran itu masih ada.
Reza pun memberhentikan mobilnya. Reza menatap Mila sangat dekat bahkan hampir mencium bibir Mila saat itu yang masih terpejam karena belum sadarkan diri. Hembusan napas Reza begitu terasa didekat wajah Mila yang terpejam. Seketika Reza menatap bibir manis dan lembut dari Mila. Reza yang nyaris ingin mencium bibir Mila itu pun tiba-tiba.
Cling cling cling..
Reza tersadar dengan suara telepon masuk, dan ia pun mematikannya.
Beruntung ia tak melanjutkan ciuman yang ingin ia berikan karena sejujurnya jantungnya serasa berdebar dan tak sanggup dengan semua yang terasa.
Napas Reza masih memburu dan masih di berikan sejuta rasa penasaran yang ada di dalam dada.
Hingga akhirnya ciuman pipi yang ia berikan.
Dan yang terakhir adalah kecupan hangat dileher Mila yang masih terasa wangi dengan parfum yang sama. Reza masih merasakan sekali parfum Mila yang tak pernah ganti dari awal bertemu.
Cup... Muaaachh..
Kecupan hangat dan dalam ia berikan.
Meski hanya ciuman pipi dan leher namun itu terasa sangat dalam bagi Reza yang saat ini, Reza semakin menyadari jika ternyata drinya masih mencintai wanita yang kini bukan istrinya lagi
Mila yang saat itu mata Mila masih terpejam. Tak tahu jika dirinya sudah di cium bagian pipi dan leher oleh pria lain.
Lalu Reza membuka jaket yang ia kenakan, dan memakaikan pada Mila. Badan Mila masih tampak demam, hingga Reza memakaikan jaket miliknya itu.
Tak selang lama...
Waktu sudah menunjukan pukul 11.00malam. Reza menggotong Mila menuju kamarnya dan dengan cepat ia memanggil dokter untuk ke rumah.
Umi yang sudah mau tidur itu pun lantas kaget saat putranya membawa seorang perempuan, dan saat ia lihat lebih kaget lagi itu adalah Mila.
"Kenapa dia ada disini?" tanya umi.
"Udah umi diem dulu ya, nanti Reza jelaskan Mila pingsan dan dia butuh perawatan dokter saat ini"
Dokter yang Reza panggil pun memeriksa Mila yang terbaring lemah dan tak berdaya. Hingga dokter memberikan infusan pada Mila yang masih lemah itu.
"Bagaimana dokter" tanya Reza khawatir.
"Kondisinya sudah lebih baik, dia kelelahan dan seperti nya kurang asupan. Nadinya lemah dan tekanan darahnya pun rendah. Besok pagi saya akan kembali untuk mengecek kondisinya lagi"
"Baik dokter terimakasih"
"Untuk saat ini di infus saja dulu ya pak, agar kondisi cepat membaik"
"Ya dokter"
Dokter pun pulang saat itu.
Hingga umi yang memang tahu jika Mila sudah memiliki suami saat ini memarahi Reza yang tak membawanya ke rumah sakit atau ke rumah suaminya.
"Apa-apaan kamu?" Ucap umi yang kesal dengan kelakuan sang putra membawa istri orang sembarangan.
"Maksudnya apa umi"
"Kamu tahu kan dia istri dari pria lain, cepat telepon suaminya atau keluarganya jangan sampai apa yang kamu lakukan menyebabkan fitnah, kasihan Mila"
"Buat apa aku kasih tahu umi, biarkan saja. Asal umi tahu, Bagas itu tidak lebih dari seorang pecundangg dan pengecut yang meninggal kan istrinya sendiri di jalan"
"Apa yang kamu tahu belum tentu itu kenyataanya" kata umi.
"Tapi kalau memang Bagas sayang dan cinta tak mungkin dia meninggalkan Mila begitu saja, apalagi dia sampai pingsan umi"
"Lalu apa bedanya sama kamu???"
Deg...
Ucapan umi pun seolah menyadarkan Bagas saat itu.
"Apa bedanya sama kamu?" Jelas umi sekali lagi. "Apakah kamu tidak sadar, kamu pun lakukan hal yang sama pada Mila dulu. Kamu meninggalkan dia sendiri di saat terberat dalam hidupnya, tak ada kepedulian sedikit pun dari mu saat itu Reza" jelas umi kepada sang putra.
Reza pun termenung dan terdiam sejenak.
"Tapi jujur Reza tak bisa jika Mila di sakitin oleh Bagas. Reza bakal tunjukin ke Mila tentang semuanya"
__ADS_1
"Tentang apa? Tentang kamu yang masih mencintainya, iya? Kemarin kamu kemana saja. Sekarang Mila bukan lagi istri kamu Reza, sesayang apapun dirimu saat ini padanya. Ingat lah Reza kamu bukan lagi suaminya dan kamu harus terima itu"
Ucapan umi membuat perasaan Reza sakit dan Reza pun menggelengkan kepala dengan apa yang dikatakan uminya membuat Reza semakin perih.
"Baiklah umi, paling tidak hari ini sudah malam biarkan saja Mila disini sampai besok pagi"
"Jangan berbuat hal yang tidak-tidak Reza, ingat saat ini posisi mu siapa dan Mila siapa?" Ucap umi mengancam Reza agar tahu batasan dirinya yang hanyalah mantan suami Mila.
Hingga pada saat itu Reza pun masuk ke dalam kamar yang mila tempati, tepat dimana kamar yang pernah menjadi saksi bisu dengan semua ujian rumah tangga yang pernah mereka alami.
Kamar yang pernah Mila tiduri dan saksi di mana malam pertama antara Mila dan Bagas terjadi, bila ingat semua itu hati Reza teramat perih. Tak bisa ia sembunyikan rasa sakit itu, tapi hal yang paling perih juga adalah.. kini Mila bukan istrinya lagi, Mila yang selalu menangis di kamar ini kerap kali Reza abaikan bahkan tak pernah Reza hiraukan. Reza tak mau peduli dengan sakit perasaan Mila, bahkan dengan mudah nya Reza mengatakan pisah. Padahal hal yang terindah adalah penyatuan cinta anatara dirinya dengan wanita yang ia pacari selama dua tahun yaitu Mila Safira.
Kenangan tentang Mila di hati tak pernah ia hapus begitu saja, Reza terlalu bodoh tentang rasa yang ada hingga kini wanita yang ia cintai di miliki pria lain dengan kesalahan Reza sendiri yang tak bisa menerima kekurangan Mila.
Seketika saat itu.
Mila yang terlihat masih memejamkan mata dan lemah itu menyebut sebuah nama.
"Mas Bagas.. mas Bagas.. mas..." kata itu membuat Reza menyadari bahwa bukan dirinya lagi di dalam hati Mila melainkan nama pria itu.
Dulu Reza ingat jika Mila pernah menyebut namanya tapi itu dulu, itu dulu ..
Hingga saat itu, Reza pun hanya mengepal erat menahan rasa sakit dan kesal memandang Mila yang kini hatinya tak lagi untuknya.
Malam itu Umi saidah mencari tahu nomer Bagas agar umi saidah dapat memberitahu kan Bagas, bahwa Mila ada di rumahnya.
Umi Saidah pun menceritakan tentang Mila yang kini berada dirumahnya.
Beruntung Abi Husein tahu nomer Bagas yang pernah masuk rumah sakit, kena luka tusuk dari Mila dulu. Dan saat itu abi Husein masih menyimpan nomer handphone Bagas. Hingga mudah untuk menghubungi Bagas.
.
.
.
Malam itu Bagas sampai di bandara yang ada dijakarta pukul 11.30 malam. Bagas tersenyum saat dirinya sudah sampai di mana dirinya akan bertemu dengan sang istri tercinta.
Pikirannya saat ini hanya fokus pada sang istri yang paling ia rindukan.
Bagas tak sabar untuk bertemu sang istri malam itu juga.
Dan saat ia sampai teleponnya pun berdering tanpa ia tahu dari siapa karena nomer itu tidak di save olehnya
Kringg....
Kring...
Bagas pun menjawab telepon masuk itu.
"Hallo, apa benar ini dengan Bagas" kata Abi Husein.
"Benar ini saya, maaf ini siapa?" Kata Bagas.
"Nak Bagas, saya mau memberitahukan istri anda pingsan dan saat ini ada di rumah saya"
"Apa? Pingsan?" Kata Bagas yang tak percaya akan hal itu.
"Iya dia berada disini"
Bagaimana bisa istriku berada di rumah pria itu, bagaimana bisa. Apa yang terjadi dengannya, ya Allah aku harap dia tidak kenapa-kenapa, dia baik-baik saja batin Bagas .
.
.
.
.
Saat itu..
Mila pun membuka mata perlahan menyadari dirinya ada di sebuah kamar yang dulunya sering ia tempati tapi kenapa kini ia berada sini lagi.
Apakah Mila masih bermimpi.
Mata mila pun tak bisa terbuka sepenuhnya hanya rasa sakit di kepalanya, hingga yang ia lihat di depan mata adalah Reza.
"Mila akhirnya kamu sadar" ucap Reza yang memegang tangan Mila erat dan bahkan dirinya tanpa sadar mencium tangan Mila berkali-kali.
Bahkan Reza saat itu memegang tangan Mila menatap wajah Mila lebih dekat lagi.
"Mana mas Bagas,. dimana? Aku rindu padanya, aku rindu" ucap Mila dengan rasa perih dan membatin. Yang paling ia inginkan saat ini bukan siapapun selain sang suami tercinta.
"Mas Bagas, mas..." Ucap Mila dengan suara lirihnya tak terasa jatuh air mata Mila.
Umi pun datang saat mendengar Mila sudah sadar saat itu.
"Reza pergilah, jangan kamu dekati Mila" titah umi.
"Tidak mau " tolak Bagas.
"Suaminya saat ini sedang menuju kesini, lebih baik kamu menjauh darinya sebelum semua malah akan semakin rumit" ucap umi yang saat itu yang langsung menggantikan posisi duduk Reza yang tengah memegang tangan Mila erat dan melepaskan tangan Reza yang memegang tangan Mila.
"Apa yang umi lakukan kenapa umi menghubunginya" kata Reza tak terima.
"Memang itu yang harusnya kita lakukan" jelas umi.
"Umi tega umi, padahal saat ini Reza hanya ingin melepas rindu pada orang yang Reza sayang umi"
"Reza! Kamu harus menyadari semuanya. Kamu harus sadar.. ini yang harus kamu lakukan
Sudah cukup Mila menderita, jangan kamu buat dia menderita lagi dengan kelakuan kamu yang membuat suaminya berpikiran buruk tentangnya" kata umi saat itu bersikukuh agar Reza jangan masuk ke dalam urusan rumah tangga Mila saat ini.
tiba-tiba
Teng
Nong..
Teng
__ADS_1
Nong...
Hingga suara bel berbunyi yang umi yakini bila itu adalah suami dari Mila.
"nah itu dia" kata umi.
Bi Sarmi pun membukakan pintu dan benar saja itu adalah Bagas.
"Selamat malam, saya ingin bertemu dengan istri saya, dimana istri saya" ucap Bagas dengan tatapan tajam dan dalam hadir untuk menjemput sang istri.
"Dia.. ada di kamar" Ucap Bi Sarmi. Bi sarmi serasa gemetar melihat suami Mila yang terlihat seperti menahan amarah.
Ya bagas menahan amarah yang ada saat ia tahu bahwa sang isteri di rumah mantan suami saat ini.
Beruntung saat itu Bagas lebih fokus pada kondisi istrinya ketimbang dengan Reza yang menatapnya dengan tatapan sinis juga.
Bagas dan Reza saling bertatap saat tahu Bagas datang.
Bagas pun berjalan dengan langkah yang pasti menuju kamar Reza tanpa pedulikan Reza.
Dan benar saja Bagas melihat sang istri yang terbaring lemah dengan selang infus di tangan, saat itu di temani oleh umi saidah.
Saat melihat itu Bagas pun langsung berlari dengan cepat mengahampiri sang istri yang tengah terbaring.
Seperti mimpi menjadi nyata saat melihat sang suami di depan mata, Mila pun sangat bahagia.
"Mas Bagas" ucap Mila dengan suara lirih.
"Iya ini aku sayang, ini aku" ucap Bagas menatap sang istri lekat.
"Mas Bagas" ucap Mila tak terasa air mata nya terjatuh.
Hingga akhirnya Bagas pun memeluk sang istri dengan segenap rasa kerinduan yang ada, begitu terasa dalam...
Tangisan Mila pun pecah saat kerinduan dan rasa sakit yang ada terobati dengan kehadiran suaminya yang kini tengah memeluknya.
"Hiks hiks hiks mas Bagas" Mila pun menangis haru saat pelukan sang suami terasa dalam dan hangat itu.
"Mas jangan pergi tinggalin aku" ucap Mila.
"Tenanglah sayang, mas akan jaga kamu" ucap Bagas tanpa sadar mencium kening dan pipi Mila lembut.
Hingga umi saidah menyadari saat tahu ada suami Mila yang tengah melupakan rasa yang ada.
saat itu umi pun memilih meninggalkan Bagas dan Mila yang saat itu memadu kerinduan di dalam hati dan tak ingin menggangu mereka.
Saat Umi saidah telah pergi.. Bagas pun menyadari itu.
Hingga akhirnya Bagas pun mencium bibir Mila begitu hangat dan lembut, dengan posisi Mila yang masih terbaring dan Bagas diatasnya.
Bagas melepas kerinduan yang ada. Antara dua insan yang saling mencintai, mereka saling berciuman saat itu.
Begitu terlihat bagaiamna Bagas sangatlah mencintai wanitanya saat itu.
Sementara itu pintu yang masih terbuka, tanpa Bagas sadari Reza melihat jelas Mila yang saat itu tengah berciuman dengan suaminya.
Di kamarnya...
Ya dikamarnya..
sakit..
perih...
sudah pasti..
Begitu sakit perasaan Reza...
Sangat lah sakit melihat sang mantan istri yang ternyata masih ia cintai berciuman dengan orang yang kini menjadi suaminya dan sudah mengambil semuanya.
tangan Reza terkepal dengan rasa kesal yang begitu membara andai itu bukan suami dari Mila, sudah pasti Reza menghabisi.
Reza pun langsung pergi dengan membawa perasaan sakit hatinya dan rasa cemburu setelah melihat semua di depan mata.
Sementara itu ....
Kembali pada perasaan Bagas dan Mila yang saling berciuman merasapi rasa yang ada. Ciuman penuh rasa cinta yang ia satukan itu.
sangat dalam dan begitu dalam..
Hingga di sela-sela Bagas pun melepaskan ciumannya.
hingga ucapan yang terlintas membuat Mila shock.
"Ayo sayang kita pulang" ucap Bagas.
Ucapan Bagas membuat Mila kembali takut.
Mila pun menggelengkan kepalanya.
"nggak mas gak mau pulang" kata Mila sambil menangis.
"kenapa?"
"Mas aku tidak mau aku takut pada mama mu mas, aku tidak mau, aku takut hiks hiks hiks" ucap Mila menangis.
"Kenapa?"
"mama mu yang pergi meninggalkan aku sendiri, mama mu mas" ucap Mila penuh air mata.
Deg...
ucapan Mila pun menyadari jika Alina sudah jahat pada istri nya saat Bagas pergi.
"Jadi kamu sampai seperti ini karena mama"
............
.
.
__ADS_1
.
Yaaah ternyata masih bersambung.. aku pikir ini eps Terkahir... Ternyata jari jemari ku tidak kuat menulis lagi. Besok lagi ya.....🤧