Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Pulang


__ADS_3

Hingga saat hari itu, Mila pulang bersama pria bernama Bagas.


Dalam keheningan perjalanan Mila tampak terdiam dan tak banyak bicara.


Dirinya tak menyangka karena harus pulang bersama orang yang ia benci dalam hidupnya.


Rasanya keduanya enggan untuk saling bicara satu sama lain.


Mila pun kalau bukan karena terpaksa rasanya lebih memilih untuk tidak mau pulang bersamanya.


Mila pun hanya bisa menatap jalan berharap jalan yang ia tapaki berlalu lebih cepat dari biasanya.


"Segeralah bawa mobil mu dengan cepat" Kata Mila menatap jalan yang ia lalui.


"Kenapa?"


"Aku ingin segara sampai"


Bagas tak menjawab iya atau pun tidak.


Sementara itu...


dalam diri bagas masih bingung bagaimana ia cara mengatakan ia akan tanggung jawab soal anak yang Mila kandung. Bahwa sebenernya ia juga enggan untuk mempertanggungjawabkan anak yang dikandungan Mila jika bukan karena desakan dari papanya.


Hingga Bagas lebih memilih diam untuk tidak mengatakan apa-apa.


Dalam perjalanan Mila masih tampak terdiam, dan tak mengatakan hal apapun.


Hingga dirinya meminta Bagas untuk ke rest area karena ia kebelet pipis.


"Berhenti dulu aku mau buang air kecil" kata Mila.


"Cepatlah" kata Bagas saat itu.


Bagas pun menunggu di sebuah rest area.


Tiba-tiba terdengar suara handphone Bagas yang berdering mengatakan jika ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal dan Bagas harus pergi saat itu juga.

__ADS_1


Hingga Bagas pun meninggalkan Mila sendiri di rest area saat itu dengan cepat karena dia memang ada pertemuan dengan investor dari luar negri.


Bagas yang teramat terdesak itu pun pergi dan akan mengabari Mila jika dirinya sudah sampai di kantor.


.


.


.


Sementara itu Mila pun saat keluar dari toilet karena perutnya terasa sakit dan bingung saat keluar tidak ada Bagas saat itu.


Padahal Bagas sudah bilang bahwa dirinya akan mengantar namun mengapa dirinya menghilang begitu saja.


Hingga Mila akhirnya memilih untuk duduk terdiam sendiri dan duduk sambil melamun.


Mila bingung bagaimana caranya ia pulang saat itu. Karena rest area ini di dalam tol dan membuat Mila tak bisa langsung pulang.


Mila pun terdiam merenung dan tak bisa melakukan banyak hal hingga menunggu Bagas yang entah kapan akan kembali.


Mila yang sudah menunggu Bagas satu jam membuat Mila harus bertemu dengan seorang pria dan itu adalah Raka, namun kali ini ia bersama istrinya dan putra kecilnya.


Mila yang merenung terdiam sendiri lalu di hampiri oleh Raka saat itu.


"Mas Raka" kata Mila saat itu.


"Kenapa kamu sendiri di sini"


"Entahlah kemana pria yang bersama ku saat ini, aku sudah menunggunya satu jam tapi tidak tampak ada" kata Mila saat itu.


"Kita pulang bersama ya" kata Raka kali itu.


Akhirnya Mila pun mau tidak mau pulang bersama kakak iparnya saat itu. Karena menunggu Bagas seperti menunggu suatu hal yang tidak pasti.


Mila pun dikenalkan Raka kepada wanita yang saat ini menjadi istrinya, istrinya bernama Sandra. Mila pun tersenyum kepada Sandra, tapi Sandra tak sama sekali membalas senyuman Mila. Padahal secara garis besar Mila adalah adik ipar meski sekarang sudah menjadi mantan adik ipar.


Mila pun duduk di kursi belakang bersama putra kecilnya.

__ADS_1


"Mila kamu habis dari mana dan mau kemana?" Tanya Raka.


"Mau pulang"


"Habis dari mana?"


"Kerja" jawab Mila singkat.


Mila pun tak banyak bicara saat itu dirinya pun tak bisa mengatakan yang sebenarnya terjadi soal dirinya yang sudah diceraikan oleh Reza. Biarkan semua Reza yang mengatakan pada keluarganya sendiri.


Mila pun pulang...


Sesampainya di rumah Mila terdiam dan merenung sendiri, hari itu Mila masih shock dengan apa yang menimpa dirinya hingga dirinya enggan untuk bicara.


Bahkan makan saja tidak sanggup.


Tak lama ada pesan masuk dan itu dari bagas. Bagas baru mengatakan jika dirinya tak bisa mengantar Mila pulang. Karena sibuk.


Miris...


Disaat ia sudah sampai rumah dirinya baru mengatakan.


Telat sekali dia mengatakan ini, dirinya bak seorang pahlawan kesiangan yang menolong ku tapi dia sendiri dengan tega meninggalkan ku di rest area. Semua pria sama saja batin Mila dalam hati.


.


.


.


Sementara itu Bagas pun masih terdiam setelah acara pertemuan itu, dirinya rasa enggan sekali untuk mengatakan soal dirinya akan bertanggung jawab soal Mila yang hamil anaknya itu. Meski papanya mengatakan jika sampai anak itu lahir tapi tetap aja berat.


Sejujurnya Bagas itu tipikal orang yang enggan untuk menikah dan lebih senang dengan kehidupan sendiri, namun senang bermain wanita tanpa adanya ikatan pernikahan. Bagas memiliki banyak teman wanita untuk dirinya tidur.


Hingga akhirnya dia ingin mengambil jalan tengah saja.


Yaitu meminta Mila menggugurkan kandungannya.

__ADS_1


Yang pastinya jangan sampai papa tahu soal ini, karena bila sampai tahu dirinya akan di habisi oleh papanya.


__ADS_2