Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Selidiki


__ADS_3

Setelah kejadian itu Bagas pun membawa masuk Mila ke dalam kamar, Mila akhirnya tak jadi minum susu yang ia sudah buat karena sudah dibuang oleh ibu dari Bagas.


Hingga Mila pun termenung sendiri dan diam tak banyak bicara lagi. Mila seolah bingung dengan keadaannya sendiri saat ini. Seperti buah simalakama yang terasa sangat rumit menghadapi semua yang menimpa dirinya.


"Mila.. Kamu kenapa?" Tanya Bagas melihat Mila.


Mila pun terdiam..


"Katakanlah apa yang paling ingin kamu katakan" kata Bagas menatap Mila saat itu.


Mila pun mencoba menela'ah semua yang terjadi dan tak memandang hanya dalam satu sisi saja.


"Aku tahu mas, menjadi mama mu sulit untuk memaafkan seseorang yang telah di anggap sebagai pembunuh anak tercinta. Aku pun tidak marah pada mama mu yang marah besar terhadapku, yang telah menganggap aku membunuh anaknya. Karena baginya itu pasti berat, untuk menerima keadaan pahit ini. Aku hanya bingung kenapa aku bisa ditakdirkan pada keadaan seperti ini" kata Mila.


Bagas pun menatap Mila lekat.


"Dan.... mas Bagas tahu, aku dan Karin adalah sahabat. Tak ada niat sedikit pun dari ku untuk menyakiti dirinya. Mungkin sekarang mas masih tak percaya dan anggap jika aku adalah pembunuhnya. Tapi satu hal yang paling mas Bagas tahu, satu hal yang paling mendasar adalah hati aku. Aku mencintai Karin lebih dari diriku sendiri mas. Lebih dari diriku sendiri. Tapi tetap saja sebagaimana pun aku katakan mas tidak percaya, sekarang mas mau percaya atau tidak aku hanya mengatakan apa yang memang ingin aku katakan" kata Mila terlihat memijat kening


Hingga Bagas pun terdiam tak memberi jawaban apapun. Karena dirinya masih antara percaya dan tidak percaya jika Mila pembunuh atau bukan. Hingga dirinya pun terdiam.


Hingga waktu malam tiba, Bagas pun menatap Mila yang tengah berbaring dalam keheningan malam dalam tidurnya. Wajah tampak indah membuat Bagas enggan memalingkan wajahnya dari wanita yang kini di dekatnya. Hingga Bagas menatap Mila yang sedang tidur dan menginggau sebuah nama mas Bagas.

__ADS_1


"Mas Bagas aku sayang pada mu, jangan tinggalkan aku" ucap Mila yang matanya terpejam dalam tidur namun seolah ia sedang dalam dunia nyata hingga Bagas mendekapnya erat.


"Aku tak akan meninggalkan mu Mila" kata Bagas saat itu mengecup kening Mila yang tampak menginggau.


Bagas ingat sekali saat nama Reza yang pernah Mila sebut saat dirinya pingsan, dan kini sebuah nama yang ia sebut yaitu namanya.


Mas Bagas.. kata itulah yang Mila ucapkan.


Dan Bagas pun menyadari jika Mila memang benar Mila sayang pada dirinya, sekalipun di alam bawah sadarnya.


Hingga saat itu Bagas pun memeluk Mila untuk tidur dalam dekap nya.


"Tidurlah sayang dalam pelukanku, kamu akan baik-baik bersama ku" kata Bagas yang memeluk Mila.


Keesokan harinya..


Sampai saat itu Bagas pun ke kamar Karin sang adik, sudah hampir 5 tahun kamar itu tidak di tempati. Dan kosong namun tetap tertata rapi seolah Karin itu ada.


Di keluarga Karin dianggap selalu ada dan tak pernah dianggap tak ada apalagi di tinggalkan. Itu sebabnya setiap Alina ingat Karin yang di ingat adalah Mila.


Sang pembunuh...

__ADS_1


Jangankan tahu siapa yang bunuh, Bagas ingat sekali saat Karin yang pernah menangis di cubit oleh seorang guru hingga biru itu pun karena kelakuan Karin yang memang salah sudah melawan guru saat itu. Tapi tetap Alina marah besar hingga ingin melaporkan guru karena dianggap kekerasan dan tidak bisa menerima keadaan.


Alina sangat mencintai anak perempuannya, jangankan Karin yang benar Karin yang salah tetap ia akan membela. Apalagi saat ia tahu kematiannya tak diketahui karena apa. Selamanya Alina akan menuduh Mila pembunuh, selama bukti kuat mengarah pada Mila.


Tak ada yang bisa di salahkan dalam hal ini selain Mila yang kemungkinan besar itu terjadi.


Bagas pun membelai kasur milik Karin dengan lembut, hingga matanya tertuju pada sebuah album foto.


Bagas pun tersenyum saat melihat Karin dalam sebuah album foto saat itu, mengobati segala kerinduan yang ada. Hingga di lembar kedua banyak foto yang ia pajang bersama Mila, banyak moment bersama yang Karin dan Mila lewati. Karin tampak menjaga foto itu dengan baik hingga sebuah curahan hati di tulis di paling belakang sebuah foto milik Karin dan Mila.


Dear Mila,


Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku dapatkan dalam hidup ku, kamu sangat baik hingga diri mu membuat ku banyak berubah menuju arah yang lebih baik. Selama ini cuma kamu yang bisa memberikan semangat belajar, kamu memberikan aku sebuah arti hidup. Aku yang tadinya malas belajar bertemu dengan mu membuat ku ingin belajar dan menggapai cita, selain itu kamu asik dan kamu baik.


Dan satu hal yang paling membuat aku kecewa kamu memiliki pacar yang sama dengan ku Mila. Aku tak bisa terima itu...


Namun meski begitu meski kita berkelahi tapi aku sayang padamu.


Kata sayang dari seorang Mila membuat Bagas berpikir dalam dan pada akhirnya, Bagas pun mengambil handphonenya.


"Selidiki siapa pembunuh Karin sebenernya" kata Bagas ditelpon. "Berapa pun bayarannya saya akan bayar" katanya lagi.

__ADS_1


Bagas menelpon seseorang yang ia percayai untuk membuka kasus yang Mila hadapi.


Sekalipun memang Mila pembunuhnya, keterangan mengatakan Mila pembunuhnya. Aku tetap cinta pada mu Mila tak akan aku tinggalkan kamu. Aku berharap jika dirimu bukanlah pembunuhnya, batin Bagas saat itu dengan sorot mata tajam.


__ADS_2