
Raka pun tampak tersenyum saat mendapat sebuah bekal ditangan yang dikemas dalam sebuah rantang, tak pernah Raka mendapat bekal selama ini selain dari umi Saidah dan wanita Cinderella itu. Ya Mila, Raka menyebut diri Mila sebagai wanita Cinderella, karena ia selalu pergi begitu saja dan tergesa gesa.
Tampak sekali lagi Raka tersenyum..
Hidup dalam dinginnya suasana hati dari sang istri membuat Raka tak pernah merasa cinta yang sebenernya, cinta dari sang istri. Raka dan istri lebih banyak menaruh kepura-puraan saja demi cita-cita rumah tangga yang langgeng meski didalam hal ini hanya cita-cita saja tanpa cinta.
Tapi Raka tetap menjalani demi nama baik keluarga dan harapan setiap kedua orang tua agar rumah tangga tetap bersama tanpa peduli rasa yang sebenarnya ada. Apalagi jika bukan anak juga lah yang membuat Raka bertahan.
Raka pun membuka isi bekal yang Mila berikan, ada rasa yang tak bisa dijelaskan. Dan rasanya Raka baru akan makan nanti malam, karena dirinya tak mungkin makan disaat sudah kenyang. Tapi Raka merasa ini sangatlah istimewa dengan cara sederhana yang Mila berikan dengan tulus. Membuat Raka terasa sulit melupakan Mila walau sadar Mila adalah istri dari adiknya sendiri.
.
.
.
Sampai pada saat itu Mila pun tersadar jika Mila masih memakai Blazer milik Raka di badannya. Wangi Raka sangat harum, Mila pun senang ternyata ada pria sewangi ini.
Reza pun juga sebenernya harum, tapi sepertinya harum Raka lebih soft di banding harum Reza yang agak lebih strong.
Dalam hati, Mila ingin mencari minyak wangi yang sama persis seperti Raka untuk bapak, tapi bingung nama minyak wangi apa yang Raka pakai. Ah entahlah...
Hingga tak lama kemudian sampailah Mila di depan rumah.
Mila yang berangkat dengan kaus putih dan celana jeans kini pulang pakai gaun dengan belahan yang agak tinggi dan kaki mulus Mila tampak terpampang nyata. Meski Mila sudah memakai blazer tapi tetap ada kesan seksi di dalamnya.
Dari situ Mila di pandang tetangga dengan tatapan tak biasa.
"Abis dari mana Mila?" Tanya tetangga.
"Ya biasalah" jawab Mila santai.
__ADS_1
"Eh dia anaknya pak amin kan, biduan dia, emang gak tahu ya" ucap tetangga yang pada akhirnya membicarakan Mila.
"Oh pantesan seksi, ih saya sih kalau punya anak perempuan gak mau anak saya kaya gitu" ungkap tetangga. "Mila emang kamu biduan ya?"
"Iya Bu emang kenapa?" Sahut Mila yang saat itu merasa diomongin didepan umum.
"Ah paling kamu mah suaranya jelek, tapi sok-sokan jadi biduan segala, cuma modal goyangan aja kan!!!"
Mila pun hanya tertawa sambil terima.
"Sudah ya Bu, saya permisi" kata Mila yang tak meladeni para ibu-ibu yang membicarakan dirinya. Mila merasa enggan menyahuti satu persatu dari mereka jadi Mila sudah tak mau tahu lagi.
Mila lebih banyak menutup telinga dan mata disaat dirinya mungkin tak ada baiknya di mata nitizen eh salah tetangga.
Tapi Mila yakin mereka semua baik, hanya saja mereka tidak ada bahan obrolan jadi Mila yang menjadi bulan-bulanan mereka.
Dan dalam menyanyi pun Mila sebenernya tidak terima juga jika dibilang hanya mengandalkan penampilan dan aksi panggung nyatanya saat Mila melamar di tempat itu. Mila harus di tes suara dulu, dan latihan vocal beberapa kali. Tapi diam itu lebih baik bagi mereka yang tidak tahu.
Mila pun menatap bapak dengan tatapan yang berbeda juga.
"Pak kenapa lihat Mila begitu?" tanya Mila merasa aneh dengan bapak.
"Kamu habis dari mana?"
"Nyanyi pak, lumayan dapat duit" kata Mila polos.
"Mila, kenapa kamu gak bilang" ucap Bapak.
"Bilang apa pak?" Tanya Mila.
"Kamu hamil kan?"
__ADS_1
Mila pun seketika terdiam sambil menghela napas saat bapak tahu soal Mila yang tengah hamil itu.
"Mila bapak tanya, kenapa kamu diam?" Kata bapak sekali lagi.
"Bapak jangan bikin cerita yang tak benar" ucap Mila tersenyum kura-kura dalam perahu, Pura-pura tidak tahu.
"Mila bapak tahu, kamu mual-mual karena hamil kan" ucap bapak sekali lagi.
"Tidak semua yang mual itu hamil pak bisa saja masuk angin atau lihat orang jelek hehehe tapi tenang bukan bapak" kata Mila yang malah bercanda.
"Lalu susu hamil ini apa?" Ucap bapak serius menunjukkan susu hamil yang diterima dari umi saidah.
Mila pun terdiam sejenak lagi saat bapak punya bukti soal kehamilan Mila. Mila sengaja menutupi kehamilannya, namun sepertinya terbongkar juga.
Lalu dengan senyum bapak memeluk Mila erat, Mila kaget dengan sikap bapak yang ternyata bahagia.
"Mila, kamu hamil ya, ya Allah Alhamdulillah, akhirnya kamu hamil itu artinya bapak akan punya cucu nak" Ucap bapak senang bukan kepalang
Padahal kalau saja bapak tahu yang sebenernya, Mila tak akan yakin bahwa bapak tersenyum. Apalagi andai bapak tahu jika Mila hamil karena sebuah kasus yang pahit itu.
Perih batin Mila tak kuasa melihat bapak jika ikut merasa apa yang Mila rasa.
"Pasti saat ini Reza senang pun kamu hamil. Reza sudah tahu kan Mila" ucap bapak lagi.
Perih saat bapak mengatakan hal itu.
Mila pun tersenyum getir dalam kepura-puraan dirinya
Andaikan bapak tahu betapa Mila sedang menderita karena kehamilan Mila sendiri, Mila yakin tak akan ada senyuman bapak hari ini. Tidak akan ada...
Mila pun hanya bisa menutupi semua dengan senyum palsu karena tak ingin membuat bapak sedih dan kecewa.
__ADS_1