Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Tak semudah itu


__ADS_3

Saat itu setelah pertemuan Reza dengan Mila secara tak sengaja membuat Reza masih tak bisa lupakan Mila. Dan tak bisa melupakan semuanya, walau Reza sudah berusaha untuk melupakan Mila saat itu. Namun ternyata dirinya tak semudah itu melupakan, terlebih lagi dirinya melihat berjalan dengan pria yang kini menjadi suaminya.


Reza merasa kesal kenapa Mila menikah secepat itu, begitu mudahnya Mila menikah seharusnya tidak seperti ini.


Dulu Reza yang selalu ingin Mila pergi dalam hidupnya, namun kenyataan yang ada sulit bagi Reza melupakan Mila. Hingga saat itu Reza yang tengah membawa sang istri melihat Reza sedang meremas kepalanya setelah pertemuan yang tak di sengaja itu.


"Kenapa?" Tanya Andrea.


Reza menggelengkan kepalanya.


"Kamu masih merindukan mantan istri mu itu" kata Andrea menatap sang suaminya.


"Tidak untuk apa aku merindukannya" kata Reza yang tersenyum simpul.


"Apa jangan-jangan kamu yang merindukan dirinya, bukan Mila" kata Andrea menatap Reza curiga.


"Sekali aku tak Sudi dengannya tetap aku tak akan Sudi padanya" ungkap Reza.


Reza tampak memunafikan apa yang di rasa saat itu.


Hingga akhirnya Reza pun memutuskan pulang dengan keadaan perasaan kesal yang ia bangun sendiri.


Memang keinginan Reza untuk Mila pergi darinya tapi ternyata meninggalkan Mila tak semudah ia bayangkan disaat tak lagi bersama.


.


.


.


.


Mila pun menatap sang suami saat itu pria yang ia anggap baik untuk saat ini. Ya paling tidak seperti itu yang Mila rasakan.


Ada perasaan bimbang ragu kini kembali menggandrungi perasaan Mila. Karena Mila tahu masuk ke dalam keluarga yang membenci dirinya seperti masuk ke kandang macan.


Hah..


Jangankan Mila yang masuk sebagai pembunuh, Mila yang masuk sebagai orang yang tak punya salah di mata keluarga mereka, belum tentu mereka akan bisa terima kehadiran Mila yang notabene hanyalah dari kalangan keluarga biasa dan miskin.


Mila meski siap mental untuk menikah tapi dalam hatinya seperti tak siap masuk ke keluarga Bagas.


Tak siap..


Mungkin sampai kapan pun tak akan pernah siap.


Apabila mengingat Mila siapa, Bagas siapa.


Mila tak berpunya, Bagas memiliki apa yang paling ia ingin miliki.


Hingga kaki Mila, kini ia pijakan di sebuah rumah besar yang di bangun seperti istana.


Kini bukan debaran cinta yang terasa tapi debaran rasa takut.

__ADS_1


Takut melihat wajah Alina yang seperti macan liar yang buas saat melihat mangsa.


Perasaan deg degan pun mulai terasa saat Mila masuk ke dalam rumah milik Bagas yang memang mewah. Jangankan memiliki rumah seperti Bagas, membayangkan saja Mila tak pernah terlintas untuk tinggal di rumah milik Bagas.


Hingga dirinya kini masuk ke dalam keluarga Bagas, bukan sebagai tamu melainkan menantu keluarga mereka.


Dan Mila pun menelan saliva dalamnya saat suara hak sepatu Alina menuruni setiap anak tangga.


Mila tak berani melihat Alina hanya tertunduk, karena Mila tahu dirinya pasti tak akan diterima baik.


"Bagas sudah kamu liburan dengan wanita ini" kata Alina menatap Mila tajam, namun Mila masih menunduk.


"Saya harap kedatangan mu tidak membuat onar disini"kata Alina.


Mila pun mengangguk.


Lalu saat itu Alina pergi saat Mila datang, kali ini dirinya tak banyak berkomentar apapun pada wanita yang baru saja datang. Lalu Alina pergi saat itu.


Mila pun baru mengangkat kepalanya.


"Nah kan mama ku tidak lah terlalu jahat Mila, dia sebenernya baik"


Mila pun mengangguk.


"Masuklah anggap saja ini rumah mu" kata Bagas saat itu.


Lalu saat itu Bagas pun menggandeng Mila, dengan tangan kekarnya Bagas mengandeng wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.


Lalu setelah itu Mila pun masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan. Mila pun menatap kamar yang begitu Bagus dan mewah, di dominasi dengan warna putih dan abu-abu.


Saat akan memasukan baju ke lemari, Mila melihat baju milik Bagas yang di lemari. Mila pun tersenyum saat baju Bagas begitu banyak yang bagus. Tersimpan rapi di dalam lemari.


Orang kaya memiliki baju banyak sekali, lebih seperti toko baju, bahkan lemari ini sangat besar batin Mila.


Bagas mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang. Lalu mencium leher Mila.


Bagas tersadar jika Mila menatap lemari baju Bagas lama.


"Kenapa takjub ya?" kata Bagas.


"ini terlalu mewah untuk ukuran lemari baju, bahkan bisa muat berapa orang di dalam sini" kata Mila.


Bagas pun hanya tersenyum.


"Tapi dalam hidup ini aku punya prinsip" kata Mila.


"Apa?" Tanya Bagas membelai wajah Mila. Lalu kini mereka saling berhadapan.


"Aku selalu mengistimewakan sesuatu yang sederhana" kata Mila.


"Contohnya, seperti aku padamu" sahut Bagas.


"Ya bisa juga. Hal biasa bisa menjadi luar biasa jika dilakukan dengan cinta. Dan hal luar biasa menjadi hambar bila tak ada cinta di dalamnya. Hidup ini hanya sekali, yang berharga bukan harta. Tapi waktu yang kita jalani dengan memberikan kenangan manis" kata Mila.

__ADS_1


"Hem.. cukup dalam" kata Bagas mengecup bibir Mila.


"Dari hidup yang sementara seharusnya kita belajar" kata Mila menatap sang suami lekat. Menaruh tangannya di pundak Bagas.


"untuk?"


"Untuk mencintai seseorang yang kita miliki saat ini dengan sepenuh hati, karena waktu tak pernah tahu kapan datang saatnya perpisahan entah ajal atau? Dan disaat orang itu telah tiada yang ada hanya sebuah kepedihan dan penyesalan" kata Mila.


Bagas pun tersenyum.


"Jadi?" Kata Bagas.


"Jadi hargai setiap apapun yang ada seelagi ada karena kita tak pernah tahu kedepannya akan seperti apa" ucap Mila.


Lalu Bagas pun langsung memangku Mila, Bagas langsung mencium bibir Mila dengan hangat.


Mila pun mulai belajar menerima apa yang Bagas berikan saat itu, ciuman mesra belai lembut dan semuanya. Kini Mila mulai bisa merasakan semuanya. Karena Mila tak bisa pungkiri bahwa Bagas kini adalah suaminya.


Saat tangan sang suami mulai memainkan perannya.


Mila pun di dorong ke kasur dan memulai permainan panasnya yang begitu dalam dan lembut.


Dan kini Mila mulai bisa menerima dan merasakan semuanya dengan lebih tenang dan bisa terima setiap belaian yang Bagas berikan.


Hingga selesai dalam permainan Mila pun terpejam dan memeluk dekap sang suami yang kini berada di sampingnya.


Lalu bagas pun menatap Mila dan mencium kening Mila.


Lalu memegang tangan Mila lalu menatap tangan Mila yang lembut dan putih.


Seketika Bagas pun berfikir sejenak tentang kasus yang menimpa Mila soal kematian adiknya.


Ada perasaan perih bercampur aduk yang Bagas rasakan.


Bagas bukan tak mau membuka kasus dan mencari tahu siapa yang membunuh sang adik sebenarnya walau tuduhan itu masih ia tuduhkan kepada Mila.


Bagas hanya takut, jika tuduhan itu terbukti adanya Mila yang membunuh. Bagas takut jika Alina tak terima akan semua itu, Mila akan di penjara.


Sungguh Bagas tak mau itu.....


Terlebih lagi Mila sedang hamil anak dari dirinya Bagas tak mau jika Mila merasakan hukuman.


Bagas tahu betul Alina adalah orang yang keras, ia tak mungkin membiarkan Mila hidup bebas tanpa hukuman jika ternyata dari bukti yang kuat Mila adalah pembunuhnya.


Hingga Bagas pun menjatuhkan air matanya bila harus tahu keadaan yang sebenernya tentang pembunuhan itu. Bagas tak mau jika Mila masuk penjara.


Bagas tak mau dirinya harus terpisah dengan wanita yang saat ini menjadi istrinya.


Mungkin dulu Bagas bisa terima kalaupun memang Mila harus masuk dalam jeruji besi seumur hidupnya, Bagas tak peduli.. karena dirinya lebih banyak menaruh dendam dibandingkan cinta.


Namun ....


Tidak untuk saat ini, sungguh Bagas tak bisa.

__ADS_1


Bagas tak bisa melihat Mila hidup penjara.


__ADS_2