
Suasana hari itu pun di penuhi dengan kecupan hangat dan pelukan hangat dari seroang istri yang akan ditinggal pergi oleh sang suami. Tak sanggup bagi Mila di tinggal pergi oleh suaminya walau semuanya sebenarnya sebentar saja.
Mila pun menempel terus pada bahu sang suami yang sedang sibuk mengepack barang untuk dia pergi ke Singapura. Mila pun menempel terus tak banyak bicara namun hatinya seolah bicara jangan pergi.
Hingga tangan kekar sang suami mendekap erat tubuh istrinya saat ini.
"Tenanglah sayang, ini tak akan lama. Aku cuma empat hari" kata Bagas menatap wajah sang istri.
"Empat hari itu berapa jam ya mas, pasti lama. Jangankan empat hari sejam saja aku tak sanggup" kata Mila cemberut.
"Mas janji akan membawakan kamu oleh-oleh dari sana, kamu mau apa? Coklat, baju, atau apa?" Kata Bagas menatap lekat.
Mila pun menggelengkan kepala.
"Apa? Jadi mau apa?" Kata Bagas sekali lagi.
"Aku tidak mau apa-apa yang aku inginkan hanya kamu mas"
"Mungkin kamu tidak butuh siapa tahu bayi kita, butuh oleh-oleh nanti aku belikan baju bayi disana" kata Bagas tersenyum.
Mila pun hanya mengangguk saja, karena merasa berat meninggalkan suami yang akan pergi saat ini.
Mila tak menyangka dirinya akan merindukan suaminya saat ini, dulu yang Mila membenci Bagas sekarang sangat mencintai dan semua hal itu sulit untuk Mila.
Hingga saat itu Bagas pun tampak menaruh kepala di pangkuan Mila yang sedang duduk dipinggir kasur.
Mila pun membelai rambut Bagas yang berwana hitam dan menatap wajah Bagas lekat. Hidungnya yang mancung dan matanya bulat, alisnya yang tebal membuat Mila jatuh hati pada pria yang kini menjadi suaminya.
Mila pun membelai pipi sang suami dan membelai pipinya perlahan.
"Aku mau manja-manjaan di paha kamu" kata Bagas manja.
"Paha kiri apa kanan" tanya Mila.
"Dua-dunya dong" jawab Bagas.
"Ummm iya boleh" jawab Mila singkat.
__ADS_1
"Mila?" Kata Bagas saat itu.
"Ya mas"
"Kalau aku pergi kamu jaga dirimu baik-baik ya" kata Bagas saat itu menatap wajah Mila yang menatap dirinya dengan rambut yang terurai.
Sebenernya Mila ingin mengatakan sekali lagi agar Bagas lantas jangan pergi. Tapi semua serasa sulit untuk mengatakan semua itu, Mila takut jika Mila dianggap tak support apa yang menjadi karier sang suami. Jika mengeluh dan mengatakan untuk jangan pergi.
.
.
.
Keesokan harinya ...
Hingga saat pagi hari, Mila pun mengantar Bagas menuju bandara melepaskan kepergian sang suami dengan air mata yang penuh haru, Mila sudah sering di tinggal pergi saat dulu masih pacaran dengan Reza. Ah sudah lah jangan bahas Reza dulu. Yang paling terasa saat ini adalah..
berat..
Namun Mila harus bisa berusaha menerima kepergian sang suami dengan bulir air mata yang terjatuh. Hingga sampai saat itu Mila hanya mampu memeluk badan kekar sang suami.
"Ingat ya, jaga dirimu baik-baik" kata Bagas.
Kata-kata itulah yang Bagas katakan pada Mila. Mila pun mengangguk.
Mila pun menatap dengan tatapan sedih melihat sang suami yang melangkahkan kakinya meninggalkan Mila.
Mila pun merasa perih melihat sang suami saat itu. namun kesedihannya ia tahan. berat..
.
.
.
Selama perjalanan..
__ADS_1
Mila pun termenung dalam diam, memikirkan suaminya saat itu.
Mila berharap empat hari itu adalah hari yang singkat untuknya, dan berharap tak ada aral melintang di hadapannya. Tak ada hal buruk yang menimpa pada sang suami.
Mila hanya bisa berdoa dalam hati agar suaminya berangkat dan pulang dengan keadaan baik.
Sejenak Mila teringat jika orang tua Bagas tak seratus persen menerima dirinya. Bagaimana jika dirinya tak di terima baik.
Bagaimana?
Mila lagi-lagi hanya bisa berharap yang terbaik, dan menghela napasnya berat.
Sesampainya di rumah...
Benar saja Mila pun saat mengetuk pintu dan membuka pintu sudah di tunggu oleh pemilik rumah yaitu nyonya Alina yang terhormat.
Di sambut bukan dengan senyuman, melainkan mata sinis seolah menyimpan amarah yang Mila sendiri tak tahu salah apa dan dimana?
"Udah kangen-kangenan nya. Udah luapin rindunya, cepet masuk!!!!" Ucap Alina mata membulat menatap Mila yang baru saja datang.
Dengan cepat Alina pun menarik Mila ke kamar mandi untuk mengerjakan tugas di rumah besar itu.
"Pokoknya jangan ada yang membantu dirinya mengerjakan tugas di rumah ini. Semua wanita murahan ini yang mengerjakan!!!" Kata Alina menatap Mila tajam.
Mila pun menatap Alina.
"Kenapa kamu gak terima saya suruh!!!" Kata Alina.
Mila pun mengangguk, lalu Alina pun menggeledah kantong dan tas Mila. Dan mengambil handphone Mila.
"Ma berikan handphone ku" pinta Mila.
Namun ucapan Mila tak ia indahkan, handphone Mila ia tahan.
Alina sengaja lakukan itu agar Mila tak mampu menghubungi suaminya.
Lalu bagaimana kah kelanjutannya?
__ADS_1