Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Peristirahatan terakhir bapak


__ADS_3

Suasana haru dan sedih tampak terasa dan sangat memilukan hati disaat seorang ayah yang paling di cinta kini pulang ke pangkuan sang ilahi.


Mila tak kuasa menahan sedih saat jenazah sang Ayahanda berada di hadapannya kini.


Sosok keluarga satu-satunya yang Mila punya kini telah kembali kepada sang pencipta, air mata Mila tak kuasa untuk menahan tangisan yang ada. Menatap sang ayahanda yang tak bernyawa dan melihat untuk hari terakhir nya.


Begitu banyak kenangan manis dan pahit yang sudah Mila lalui bersama sang ayah, suka dan duka Mila lalui bersama. Mila baru sebentar saja bersama. Kini bapak sudah pergi untuk selamanya.


Mila memang sayang dengan ayahnya tapi Allah lebih sayang kepada ayah Mila.


Mila pun menyapu air matanya berkali-kali Mila pun memandang wajah bapak.


"Pak maafkan Mila yang gagal menjadi apa yang bapak paling inginkan, maafkan Mila yang belum memberikan terbaik untuk bapak, maafkan Mila yang tak bisa buat bapak bahagia sampai di hari terakhir pun bapak justru malah mendengar berita terburuk yang Mila alami. Maafkan semua kesalahan Mila, Mila sangat lah menyayangi bapak" Mila pun menatap bapak dengan derai air mata tapi Mila tak berani mencium bapak yang sudah dimandikan itu. Karena takut air matanya terjatuh mengenai bapak. Mila pun hanya mencium tangan bapak untuk terakhir kalinya. Tangan yang terlalu terbuka lebar untuk menerima semua, tangan yang sudah memberikan kasih sayangnya, tangan yang sudah memberi kebahagiaan kepada Mila dan menghidupi Mila hingga besar.


Mila pun meminta maaf juga pada bapak karena Mila belum lulus kuliah, sehingga bapak belum melihat Mila menggapai cita dan menjadi orang yang bapak inginkan.


Hingga pada saat itu, Mila pun membacakan surat Yasin didepan jenazah sang bapak. Setelah itu barulah bapak disolatkan dan dibawa menuju peristirahatan terakhir.

__ADS_1


Mila yang memang tak punya banyak uang, hidup pada garis kemiskinan membuat Mila tak cukup uang untuk biaya pemakaman.


Tapi Mila bersyukur bahwa masih ada orang-orang yang membantu untuk biaya pemakaman bapak, yaitu teman teman Mila nyanyi dan teman kuliah Mila saat ini.


Mila pun berterimakasih pada mereka yang sudah hadir didalam masa sulit yang Mila hadapi.


Saat jenazah ayah dikebumikan, Mila mendengar seroang ustad melantunkan suara adzan untuk bapak yang sudah berada diliang lahat.


Hingga hati Mila bergetar perih saat dirinya mendengar semua.


Semua orang menyukai sifat bapak, meski berbeda dengan Mila yang punya image buruk dimata tetanga karena pekerjaan Mila yang sering pulang malam.


Tapi bapak yang selalu support apa yang Mila kerjakan untuk Mila agar tetap kuliah dan menjadi pribadi yang mandiri.


Lalu bapak pun di kubur saat itu.


Air mata Mila terus menetes mana kala melihat kini sebuah papan nisan itu dengan tulisan Amin Bin Zakaria.

__ADS_1


Hingga saat yang lain sudah pulang mengantar bapak, Mila masih setia didepan kuburan bapak. Mila enggan untuk beranjak dari sana, Mila tidak mau pulang dan hidup dalam kesendirian yang membuat Mila sedih.


Mila memegang papan nisan dan memeluk kuburan bapak.


Hingga tak terasa langit tampak mendung seperti hati Mila yang sedang berduka.


Lalu tak lama hujan pun turun, hujan yang membasahi bumi tak membuat Mila beranjak dari kuburan bapak.


Mila menatap dengan tatapan kosong sambil memegang papan nisan. Mila seperti orang yang kehilangan seluruh hidup dan asa.


Hingga seseorang datang membawa payung hitam dengan serba hitam memayungi Mila yang sedang duduk di dekat kuburan sang Ayah.


Mila pun seketika menengok ke arah yang datang tiba-tiba dan ternyata itu adalah Bagas.


Pria yang Mila benci dengan semua yang sudah ia lakukan. Dan Mila membenci pria itu sangat dalam.


Dia adalah Bagas..

__ADS_1


__ADS_2