
Sesampainya di rumah Mila pun langsung menjadi team rebahan yang merasakan badan yang begitu terasa melelahkan, serta sakit.. setelah seharian panjang berjalan luntang lantung di jalan.
Kalau di tanya mana yang paling sakit, semua terasa sakit dan pilu didalam hati.
Hingga saat ini bapak masih belum tahu kalau Mila sudah bercerai dengan Reza.. apalagi soal Reza yang sudah menikah lagi.
Dan menurut Mila nanti saja ada waktu yang tepat untuk mengatakan semua.
Mila yakin untuk urusan jodoh maut dan rejeki sudah di atur yang maha kuasa. Kita sebagai manusia hanya perlu menjalani prosesnya.
Hingga pada saat sore hari Mila terbangun dari tidur yang cukup panjang dan melelahkan entah bawaan bayi atau dirinya yang terpaksa tidur sepanjang hari dan terbangun hanya untuk hal penting saja, yaitu makan, solat dan mandi.
Muka bantal Mila pun tampak nyata terlihat saat sebuah ketukan pintu terdengar
Hingga bapak tampak terlihat pulang dari pekerjaannya. Dan menatap Mila yang hingga kini seperti orang yang tak punya suami karena sudah hampir dua Minggu tinggal bersama bapak.
"Mila" panggil ayah.
"Ya pak" sahut Mila saat itu menatap sang Bapak dengan tatapan sedihnya.
"Rumah keluarga suami mu kan besar kenapa tinggal disini bersama bapak. kemana suami mu" tanya Bapak.
"Ada pak, cuma dia memang sedang sibuk" ucap Mila yang menunduk dan tak bisa menjelaskan keadaan sebenernya.
"Tapi dia tahu, soal dirimu hamil kan"
"Tahu pak"
"Kalau memang ada masalah, kalian berdua bisa kalian selesai kan secara baik-baik tak perlu kamu pergi dari rumah Mila. Awal pernikahan memang semua akan di hadapakan dengan masalah. Tapi itulah bahtera rumah tangga" ucap bapak yang mengira jika Mila belum bercerai.
"Ya pak" jawab Mila sekali lagi dengan singkat.
"Mila mandi dulu ya" kata Mila saat itu.
"Iya mandilah, biar wangi dan bersih" kata bapak memegang tangan anaknya yang tampak ingin mengambil handuk.
"Oia bapak pergi dulu ya, ke rumah pak Dimas ada keperluan "ucap bapak.
"Iya pak"
Pak Dimas adalah teman bapak yang selalu baik pada bapaknya Mila.
Hingga kini memang Mila tak pernah sekalipun cerita dari awal hingga akhir, soal rumah tangganya yang sudah hancur.
Bahkan soal Mila yang hamil anak dari pria lain pun bapak tak tampak tahu soal itu. Bagi Mila berat menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, lidah Mila terasa kaku untuk menceritakan semuanya. Terlalu sulit dan sakit, biarlah semua yang terjadi pada diri Mila cukup Mila yang merasakan kesedihannya. Jangan bapak, jangan.. Mila tak sanggup melihat bapak sedih.
Mungkin saat ini Mila salah besar menyembunyikan semua tapi Mila hanya belum tahu kapan waktu yang pas untuk menceritakan semuanya.
Mila tak mau buat bapak kecewa apalagi sakit bapak kambuh.
Sungguh itu malah akan membuat perasaan Mila semakin hancur.
Mila pun mandi dan membasahi semua tubuhnya dari ujung kepala dan kaki, merasakan segarnya air untuk merelaksasikan pikirannya hati dan perasaan.
__ADS_1
Meski air mata Mila masih saja tumpah bila mengingat tentang semua terjadi.
Mila pun seketika mengingat Reza yang saat ini pasti sedang bahagia menikmati malam pengantinnya itu.
Mila pun bercermin dan melihat dirinya di kaca, apakah dirinya jelek sehingga sulit untuk mendapatkan cinta.
Mila pun menghela napasnya dan mengambil handuk lalu keluar kamar mandi.
Hingga..
.
Tok..
Tok..
Tok..
Suara ketukan pintu terdengar.
Mila yang baru selesai mandi dan belum selesai memakai bajunya lantas dengan cepat memakai baju karena ada ketukan pintu yang sepertinya ada tamu yang datang.
Mila dengan cepat memakai baju dan celananya saat itu.
Dengan rambut yang tampak masih basah karena habis mandi Mila pun membuka pintu.
Lalu Mila membuka pintu.
Ceklek..
Mila pun memandang pria itu dengan tatapan kesal karena yang tega meninggalkan di rest area.
"Kemarin kamu kemana? Meninggalkan aku di rest area" kata Mila saat itu.
"Sudah aku jelaskan di pesan kan jadi kamu gak usah banyak tanya. Ada hal yang aku ingin sampaikan" ucap Bagas menatap Mila dengan rambut yang basah dan melirik ke arah dalam.
"Apakah ada pria di dalam" tanya Bagas yang mengira Mila membawa seorang pria.
"Siapa maksud kamu, bapak?"
"Bukan mungkin saja pria yang baru saja tidur dengan mu, karena rambut mu basah" kata Bagas.
Mata Mila pun membulat tajam. Dan menelan saliva nya kata-kata Bagas menghina dirinya yang mengira Mila menyimpan laki-laki di rumahnya
"Jangan asal bicara" kata Mila kesal.
"Aku ingin masuk, ada hal penting" ucap Bagas yang langsung masuk dan duduk tanpa Mila menjawab boleh.
Bagas pun langsung duduk di kursi didalam rumah Mila.
Mila pun kesal dengan Bagas yang main masuk saja.
"Ehhh.... Aku tidak meminta mu untuk masuk kedalam!!" jelas Mila kesal pada Bagas.
__ADS_1
"Sebentar, aku ingin bicara penting padamu!!" ucap bagas santai.
Mila pun memandang tajam pada Bagas yang tengah duduk di ruang tamu. Dengan tatapan kesal pastinya.
"Apa benar kamu hamil anakku" tanya Bagas memastikan lagi.
Mila pun terdiam dan tak memberikan jawaban. Baginya tak perlu menjawab lagi, karena Mila sudah bilang dari kemarin bahwa anak yang Mila kandung benar itu adalah anak Bagas. Tapi terserah dirinya mau percaya atau tidak.
"Tidak perlu aku jawab" kata Mila.
Lalu hal yang tak terduga Bagas memberikan sesuatu.
"Ini..." Kata Bagas memberikan uang senilai 10 juta rupiah kepada Mila didalam amplop, ia letakkan diatas meja.
Bagas pun menatap Mila tajam sementara Mila membuang wajahnya.
"Kamu paham dengan amplop ini. Asal kamu tahu, aku pinta pada mu, gugurkan kandungan itu" ucap Bagas.
Deg...
Ucapan Bagas membuat Mila yang tadinya membuang wajahnya kini menatap Bagas dengan tatapan marah.
"Apa katamu!!" Ucap Mila marah dengan desah napas yang memburu kesal. Namun Mila masih berusaha untuk menahannya.
"uang itu baru awalnya saja. Kalau sudah kamu gugurkan baru aku berikan lagi" kata Bagas.
Mata Mila pun membulat sempurna disaat pria tanpa hati datang mengatakan hal paling buruk dalam hidup yakni membunuh anaknya sendiri.
"Kamu tega sekali membunuh darah daging mu sendiri Bagas!!!" ucap Mila kesal namun dengan mata yang berkaca seolah tak percaya.
Bagas seolah tak peduli dengan ucapan Mila saat itu
"Satu lagi, jangan pernah katakan ini pada siapapun soal kamu yang gugurkan kandungan mu" jelas Bagas lagi.
"Aku pikir kedatangan mu baik, ternyata tidak lebih baik dari apa yang aku pikirkan. Bawalah uang mu, aku tidak butuh!!!" Kata Mila.
"Mila, kamu masih kuliah. Kita sama-sama tidak butuh anak dalam hal ini. Kita tak perlu berada dalam situasi ini, kamu bisa jalani hari mu. Dan aku bisa jalani hari ku" jelas Bagas sambil terlihat mengepalkan tangannya.
"Coba berfikir dulu sebelum berbicara. Jangan asal kalau bicara, tak sepantasnya kamu mengatakan itu!! Lebih baik, sekarang kamu pulang!!!! " Ucap Mila kesal.
"Aku harus pastikan kamu lakukan itu, terserah dengan cara apa!" Kata Bagas pergi begitu saja.
Lalu Bagas pun pergi ..
Dengan meninggalkan yang yang diatas meja itu. Mila pun mengejar Bagas.
"Segera ambil uang ini aku tidak butuh!!!!" Kata Mila menaruh uang itu di hadapan Bagas.
"Salah aku bicara sama kamu, salah!!! Tak seharusnya dari awal aku mengatakan ini anak mu, kalau aku tahu ini yang aku dapatkan. aku takan mengatakan ini. Aku bisa hidup tanpa mu, ambil uang ini.. dan pergi!" Ucap Mila dan lansung menutup pintu dengan kuat.
Dirinya tahu mungkin saat ini miskin, tapi demi apapun semua hal tidak bisa diukur dengan uang. Sebanyak apapun Bagas memberikan uang kepada Mila.
Mila tak akan pernah menggugurkan kandungan Mila saat ini, sekali pun Mila tak pernah menginginkan kehamilannya saat ini.
__ADS_1
Mila pun menyapu air mata yang tanpa terasa terjatuh membasahi pipi. Mila menarik napas perlahan dan memejamkan mati merasakan sakit dihatinya dan perih akan sebuah kenyataan hidup yang tak pernah ia inginkan.