
Raka yang setelah tahu Mila adalah adik iparnya hanya berusaha untuk menerima kenyataan yang ada, meski saat itu hatinya kesal saat tahu Mila hanyalah adik iparnya. Tapi tetap saja Raka selalu menatap lekat saat melihat Mila.
"Mas Raka" kata Mila.
"Mmmmm" kata Raka singkat.
"Maaf soal kemarin, aku gak maksud apa-apa soal mas Raka yang adalah Kakak ipar Mila. Mila tidak menutupi semuanya" kata Mila yang merasa tak enak.
"Ya gak apa-apa" kata Raka cuek yang pada akhirnya membuang wajahnya.
Mila pun hanya terdiam sedikit merasa tak enak hati pada kakak iparnya, Mila khawatir jika mas Raka menganggap Mila sombong yang tak mau mengakui dirinya saat pertemuan pertama dengan kakak iparnya disebuah mall.
"Mila permisi dulu ya, Mila mau mandi" kata Mila yang merasa tak enak belom mandi namun sudah berada ditengah keluarga suaminya.
Lalu Mila pun kembali ke atas dan langsung mandi pagi itu. Setelah mandi Mila pun tak turun ke bawah lagi, Mila merasa dirinya tak seharusnya berada di tengah keluarga mereka. Terlebih lagi tidak ada Reza disamping Mila saat ini.
Lalu beberapa saat kemudian, Mila melihat bi Sarmi yang hendak ke pasar. Mila pun ada perasaan ingin ikut Bi Sarmi ke pasar.
"Bi, Mila ikut ya" kata Mila.
"Jangan nanti capek, saya berangkat naik angkot"
"Gak apa-apa bi"
Lalu Mila pun seolah melarikan diri dari suasana yang tampak canggung itu untuk ikut Bi Sarmi ke pasar.
Hingga sampai dipasar Mila tak pandai memilih sayuran dan mengikuti Bi Sarmi dari belakang.
Mila teringat akan hari esok adalah ulang tahun Reza, tapi Mila merasakan hal yang tak mengenakan hati tapi sebuah dan justru kepahitan hati tentang sifat Reza yang tak lagi sama. Hingga bayang-bayang tentang Reza seolah terus masuk ke dalam pikiran Mila tapi bukan cintanya, tapi sebuah perubahan sifat dan sikap Reza yang menyakiti. Apalagi soal kata-kata Reza yang menusuk hingga relung hati terdalam. Mila pun hanya mencoba menghembuskan napas dengan perasaannya saat ini yang tak baik-baik saja. Hingga saat di pasar itu Mila tampak melamun terdiam dan pikirannya terombang ambing.
__ADS_1
"Non Mila kenapa?" Tanya Bi Sarmi.
Mila pun tersadar saat itu dirinya yang sedang menatap kosong.
"Mila hanya pusing" jawab Mila.
"Pusing kenapa?" Tanya bi Sarmi"
"Gak apa-apa"
"Kalau non perlu sesuatu bilang ya, mau apa bilang aja ya" ucap bi Sarmi yang mengkhawatirkan Mila kenapa-kenapa.
"Ya Bi" jawab Mila singkat.
Hingga beberapa saat kemudian Mila pun hanya membantu menenteng tas belanja milik bi Sarmi dan sampailah mereka di rumah. Bi Sarmi pun segera pergi ke dapur dan menyiapkan beberapa hal untuk memasak.
Saat sesampainya dirumah mas Raka dan putranya sudah tidak ada sepertinya mereka sudah pulang.
"Non Mila pucat lebih baik, non Mila istrihat. Biar bibi aja yang masak non Mila gak usah repot" kata bi Sarmi.
"Tapi Bi" kata Mila.
"Non Mila dikamar aja ya" titah bi Sarmi kepada Mila.
"Yaudah Bi, Mila bungkus kado dulu ya ke kamar. Nanti setelah selesai Mila kembali lagi" kata Mila yang saat itu yang belum membungkus kado untuk Reza.
Lalu Mila pun menatap kasur yang terlihat berantakan karena ulah dari ponakan suaminya itu. Barang-barang tampak turun dari meja yang ada didalam kamar itu. Lalu Mila pun kembali membereskannya.
Saat Mila sedang sibuk merapihkan kamar tiba-tiba Umi Saidah datang menemui Mila dikamar.
__ADS_1
"Mila"
"Eh umi"jawab mila yang sedang merapihkan satu persatu barang yang berserakan.
Umi pun menghampiri Mila saat itu dan memberikan sebuah map coklat ditangannya.
"Ini dari Raka kakaknya Reza, katanya ini hadiah pernikahan kamu" seketika Mila pun terdiam menerima hadiah dari kakak iparnya itu.
"Isinya apa umi?" Tanya Mila.
"Isinya kurang tahu coba kamu buka aja ya"
"Terimakasih umi, apakah mas Raka masih " tanya Mila.
"Sudah pulang, ia hanya ingin tahu kabar Abi dan umi setelah itu ia pergi ke kantor"
"Baik umi"
setelah Mila diberikan sebuah amplop itu, lantas ibu kembali ke bawah.
Lalu Mila pun membuka sebuah map coklat yang berada ditangannya saat Mila membuka, Mila melihat sebuah tiket liburan ke kota Lombok selama 7 hari. Dan yang diberika itu adalah tiket pesawat dan lengkap dengan hotel. Dan di dalam amplop itu juga bertuliskan sweet honeymoon. Hati Mila pun teriris perih melihat sebuah hadiah bulan madu super romantis yang ternyata tidak lebih dari kata tragis.
Mila pun menahan air matanya yang ada di pelupuk mata itu.
Ya meski Raka kecewa saat ia tahu Mila adalah adik iparnya, tapi Raka tidak menahu Soal apa yang menimpa Mila. Dan apa yang diberikan Raka, semata-mata sebuah kasih sayang kepada kakak untuk adiknya.
Dan didalam map itu bertuliskan, dari tulis tangan Raka.
'Sekamat menempuh hidup baru di tunggu untuk Reza dan Mila junior ya'
__ADS_1
Hati Mila semakin teriris dengan sebuah kata yang tampak semu dan perih.
Mila tak menyalahkan soal kakak iparnya yang memberikan tiket bulan madu, hanya saja keadaan yang tampak salah saat ini.