
Selesai mandi Mila pun mengenakan pakaian yang ia bawa yaitu kemeja berwarna navi dan celana jeans. Hari ini adalah hari dimana Mila akan melakukan aktivitasnya lagi, stelah kemarin libur kuliah seminggu. Lalu Mila pun naik keatas lagi untuk sikat gigi karena di kamar mandi bawah tidak ada sikat gigi Mila hanya berada di kamar nya. Setelah itu terlihat Reza yang sudah mandi dan lantai sudah tampak kering, karena Bi Sarmi yang sudah mengepel dan mengeringkan lantai yang basah itu.
Mila pun duduk diatas meja dan memakai bedak tipis dan lipbalm untuk membasahi bibirnya Mila melihat Reza dengan tatapan dalam dan diam tak bicara. Reza pun tampak sama hanya diam seolah Mila patung di depan matanya.
Mila pun tersenyum getir, tak menyangka jika pernikahan yang diawali dasar cinta itu lebih pahit dari pernikahan tanpa cinta. Padahal bayangan Mila itu indah cintanya akan bersemi setelah menikah dan bahagia setelah menjalani.
Kenyataan yang ada sama saja, dari detik itu saat malam itu Reza bukan lagi Reza yang Mila kenal. Entah sampai kapan Reza terus begini, mendiamkan Mila seperti tak ada. Dan menganggap ada namun seperti sampah.
Entah cinta yang tak suci dan tak nyata atau sudah tak ada cinta di dalam batin Reza. Reza mendadak hilang ingatan tentang cinta semenjak Mila tak suci lagi.
Apakah wanita yang tak suci tak ada cinta lagi dihatinya, rasanya menjadi janda lebih berharga ketimbang gadis tapi terlalu banyak ekspetasi yang malah menghancurkan mimpi yang ada. Tentang sebuah kehormatan yang akan diberi saat malam pertama, namun terenggut dimalam pertama juga tapi dengan dia yang tak punya hati dan perasaan.
Miris..
Serta..
tragis...
Terluka sekali namun berulang kali tak sembuh jua.
Jadi yang jahat disini siapa?
Reza yang mencampakan Mila ataukah Bagas yang sangat kejam itu.
Mila hanya berusaha untuk tetap cinta pada Reza dan berharap jika Reza akan sama dengan perasaan Mila saat ini. Serta membuka tangannya dengan lebar menerima Mila dengan segala apa yang dimiliki walau semua terasa sulit dan tak mungkin.
__ADS_1
Namun harapan Mila tak pernah putus meski terkadang hidup membawa Mila pada keadaan dan keputus asaan tentang cinta yang ada.
Hingga setelah Mila siap dan rapi Mila pun turun lantai bawah ikut membantu menyiapkan sarapan untuk sang suami dengan membuat kopi dan susu secara bersebelahan. Mila membuat keduanya siapa tahu Reza akan mau juga diantar kedua itu, jika Reza tak mau salah satunya Mila akan meminumnya.
Hingga Reza turun belakangan Reza pun tampak duduk terlihat tampan dengan kemeja abu-abu dan dasi hitamnya.
Begitu gagah dan tampan, batin Mila menatap lekat sang suami yang duduk diseberang Mila saat itu.
Mila pun seketika tersenyum tanpa sadar. Aroma parfum Reza sangatlah seger dan membuat Mila terhanyut dan tenggelam sangat dalam saat menatap Reza yang sangat tampan.
Namun Mila harus kembali sadar kejadian terberat yaitu sifat dan sikap Reza yang sadis dan dingin itu.
Sampai saat itu Mila yang akan berangkat kuliah berharap kalau Reza akan mengantar kuliah. Karena jujur saja Mila sudah tak punya uang saat ini untuk naik angkot. Yang Mila punya hanyalah diri sendiri.
Meski saat ini sudah lebih dari seminggu Mila menjadi istri Reza belum sekalipun memberi nafkah lahir dan apalagi batin.
Hingga akhirnya sebuah ucapan terlontar dari mulut umi Saidah.
"Kamu mau kemana?"
"Kuliah umi"
"Satu arah kan sama Reza"
"Iya umi"
__ADS_1
"Reza antar Mila kuliah"
"Gak bisa umi"
"Loh kenapa?"
"Reza buru-buru"
"Reza apa salahnya, jika Mila berangkat dengan mu gak akan menguras waktu mu"
"Ribet umi jadi terburu-buru" kata Reza yang kesal.
"Umi... "kata Mila yang memegang tangan umi Saidah agar umi tidak terpancing emosi dengan Reza dan marah. "Jangan paksa a Reza, Mila bisa berangkat kerja"
"Kalau saja ada Abi kamu berangkat dengan Abi, Abi sedang keluar kota"
"Ya umi gak apa-apa Mila bisa berangkat"
Lalu Reza pun pergi hendak terburu-buru Mila yang memegang tangan Reza ingin mencium punggung tangan dari suaminya. Namun Reza menariknya cepat dari tangan Mila. Berharap Mila tak mencium tangan dari suaminya.
Hingga terlihat Reza yang perlahan pergi dari pandangan Mila.
Mila pun hanya dapat tersenyum getir melihat kepergian Reza yang terasa nyata didepan mata.
Reza bagaikan sebuah burung yang sudah menemukan sangkar dan hidupnya sendiri.
__ADS_1
Tegar...
Mila harus berusaha tegar dengan kenyataan pahit yang ada.