Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Perempuan sial


__ADS_3

Akhirnya malam itu, suasana yang sekiranya serasa tegang untuk Mila menjadi tenang, kehadiran Bagas yang seolah mimpi buruk menjadi sedikit lebih baik. Merubah suasana hati menjadi lebih menenangkan dan ada manisnya.


Hingga saat itu Bagas yang hanya membawa nasi goreng satu saja penasaran dengan nasi goreng bang Jalu.


"Ini enak mila kamu doyan banget ya" Kata Bagas.


"Enak soalnya disini tuh lengkap banget mas, apa saja di masukin jadi enak. mau coba?"


Bagas pun mengangguk.


"A.. ayo" kata Mila yang kali ini tampak ingin menyuapi Bagas.


"Aku disuapi nih"


"Iya mas" kata Mila yang memasukan makanan itu kedalam mulut Bagas.


Hingga akhirnya Bagas pun tersenyum saat itu, saat Mila dengan romantisnya memberikan suapan kepada Mila.


Hingga mata mereka saling bertemu dan merasakan debaran yang ada.


"Jadi pengen cepet-cepet nikah sama kamu" kata Bagas


"Emang kenapa mas" tanya Mila.


"Pengen di suapin pakai mulut sama kamu" goda Bagas.


"Ih mas jangan ngomong gitu aku jadi deg-degan lagi" kata Mila tersenyum.


"Hahaha" Bagas malah tertawa Bahagia.


Bagas pun membelai rambut Mila sambil tersenyum.


Sementara itu ..


Dari kejauhan terlihat seorang pria yang melihat ke romantisan antara Mila dan Bagas, dan terlihat sangat tak suka yaitu Reza. Reza menatap kesal dari kejauhan dari dalam mobilnya.


Namun ia hanya melihat saja dengan tatapan penuh kebencian.


Tak berbuat banyak karena saat itu Reza bersama sang istri.


"Hey kenapa kamu berhenti, cepet jalan" kata Andrea


Lalu Reza pun pergi dengan menyimpan rasa kesal.


Sementara itu ..


kembali pada Mila dan Bagas yang tengah asyik makan berdua.


"Besok aku akan membawa mu ya, ke rumah ku.. kita ketemu papa dan mama" kata Bagas .


"Gak mau mas aku takut" ucap Mila ragu

__ADS_1


Lalu Bagas pun mencium tangan Mila.


"Semua baik-baik saja percaya deh" kata Bagas


"Kalau gak" kata Mila.


"Coba dulu" kata Bagas.


"Iya mas"


Hingga keesokan harinya.


Bagas sengaja membawa Mila untuk ke rumah orangtuanya, untuk bertemu dengan papa dan mamanya saat itu.


Hingga akhirnya mereka pun datang kerumah membawa Mila.


Dengan perasaan penuh debaran Mila datang, dirinya merasa takut saat itu.


Mata Alina membulat tajam menatap keduanya yang hadir saat itu.


berbeda dengan adnan, Adnan terlihat lebih santai saat melihat Bagas membawa Mila. karena memang Bagas setuju dengan hubungan mereka.


"Bagas ngapain kamu bawa perempuan ini!" Kata Alina kesal.


"Ma, Bagas membawa Mila bukti kalau Bagas serius. Bagas akan menikah dengan Mila" kata Bagas.


"Mama tidak setuju"


"Iya ma sudahlah biarkan saja mereka menikah, ingat ma... Mila ini sedang hamil, hamil cucu kita" bela Adnan.


"Pah dia pembunuh" ucap Alina lantang


Kata itu kembali terucap bahkan Mila menunduk takut.


"Ma kalau mama tidak setuju Bagas akan tetap menikah dengan Mila bagaimana pun caranya. Bagas tak peduli, kalau perlu Bagas akan pergi dari rumah ini jika tidak menikah dengan Mila" ancam Bagas.


"Bagas kamu ya!! " kata Alina melotot kesal. "Berani kamu sama mama"


"Ma.. Bagas akan kawin lari sama Mila, kalau mama tidak setuju"kata Bagas tetap pada pendiriannya.


"Pah ini anak di cekokin apa sih pah sama nih permpuan, eh kamu pakai susuk atau pelet ya.. anak saya yang tadinya gak respek sama kamu jadi seperti ini" kata Alina kesal.


"Ya ampun buat apa Tante, Buat apa saya pakai itu" kata Mila merasa tidak memakai apa-apa.


"Itu buktinya anak saya jadi tergila-gila sama kamu, yang notabene cuma seorang pembunuh. Eling Bagas eling, kamu menikahi seorang pembunuh kamu mau kita di bunuh sekeluarga oleh perempatan ini. Ingat pembunuh tetaplah pembunuh!"


"Ya Allah Tante saya tidak mungkin melakukan pembunuhan pada siapapun. Apalagi sampai sekeluarga" kata Mila yang kaget.


"Bagas kamu akan menyesal menikahi seorang pembunuh" kata Alina kesal.


Bagas pun seolah tak peduli hingga sebuah kata cukup mengejutkan Bagas lontarkan saat itu.

__ADS_1


"Ma, Bagas tidak peduli pada apapun tentang Mila. sekalipun Mila pembunuh. Bagas tetap pada Mila ma, karena Bagas mencintai Mila" kata Bagas penuh keyakinan.


Mata Mila pun menatap Bagas dengan tatapan haru tak percaya dengan ucapan Bagas yang sungguh mengejutkan.


"Mas kamu yakin dengan ucapan kamu sendiri." kata Mila dengan tatapan tak percaya.


Meski Bagas masih percaya jika Mila pembunuh, tapi Bagas seolah tak peduli dan kehilangan Mila.


"Mas, kamu jangan melawan mama mu. bagaimana pun dia mama mu" kata Mila yang menatap lekat. "Tinggalkan aku mas"


"Bagus kamu sadar!!!" kata Alina.


"Tidak ada, aku tidak akan meninggalkan mu" kata Bagas memegang tangan Mila.


"Ma, Kalau mama tidak setuju, Bagas akan tetap pergi dari rumah ini, bersama Mila" kata Bagas memegang tangan Mila erat saat itu untuk segera keluar dari rumah.


''ayo Mila kita pergi" kata Bagas menarik tangan Mila keluar.


"pah kamu jangan diem aja anak kita pergi pah dari rumah sama perempuan jahanam itu, papa kok lembek banget sih" kata Alina kesal.


"Ya ampun mah, Bagas dah besar punya jalan hidup sendiri" kata Adnan biasa saja.


"eh gak bisa gitu pah"


Sementara itu...


Mila menatap Bagas Mila malah merasa tak enak hati, jika Bagas melawan dengan mamanya bahkan sampai kabur dari rumah.


"Mas kamu jangan begitu sama mama kamu, lebih baik kita kembali. kita minta maaf, bagaimana pun itu mama kamu. aku gak mau kamu jadi anak yang durhaka mas" kata Mila merasa tak enak hati.


"Mila kamu ini bagaimana sih. ayo ikut aku, aku tetap pada pendirian ku untuk menikahi mu. Kita bisa hidup bersama tanpa mama" kata Bagas saat itu.


Bagas merasa jika dirinya harus mengatakan dan melakukan ini pada mamanya, agar dirinya bisa menikah dengan Mila tak peduli konsekuensinya.


namun...


Tiba-tiba terdengar Alina memanggil dari kejauhan.


"Bagas jangan pergi!!!!" Kata Alina yang memanggil sang putra.


lalu Bagas dan Mila pun menoleh.


"Kamu boleh menikah dengan wanita itu. Tapi jangan harap mama bisa terima dia keluarga ini, kalau bukan karena kamu anak mama satu-satunya tak akan pernah mama mau!!!!" Kata Alina pergi dengan kesal melihat Bagas yang terlihat begitu sayang pada Mila.


Alina pun masuk ke kamar dengan perasaan kesal.


Alina takut kehilangan kasih putranya. Karena bagaimana pun hanya tinggal Bagas anak mereka saat ini.


Karin telah tiada....


Itu sebabnya Alina takut kehilangan sang putra.

__ADS_1


"Sialan itu perempuan bisa-bisanya di merebut hati putraku satu-satunya, setelah ia membunuh anak perempuanku, awas kamu ya" kata Alina emosi jiwa dan raga.


__ADS_2