
Lalu saat itu Reza pun pulang ke rumah dengan rasa yang masih tak percaya jika Mila hamil anak dirinya.
Tak mungkin...
Semua ini tak mungkin...
Hingga saat itu Bagas yang sedang melamun tiba-tiba kedatangan Adnan saat itu.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya pa?" Tanya Adnan.
"Soal wanita itu"
"Kenapa?"
"Anak siapa yang ia kandung"
Bagas pun tersenyum miring seolah tak peduli.
"Dia?"
"Jadi anak siapa?" Tanya Adnan.
"Wanita itu mengatakan jika anak yang ia kandung adalah anak ku" ucap Bagas santai.
"Segera lah kamu bertanggung jawab"
"Tidak ada, tidak akan. Untuk apa?"
Lalu Adnan langsung menarik kerah baju dari Bagas.
"Kamu harus bertanggung jawab!!!!! Sebagai lelaki papa tidak mengajarkan mu untuk menjadi pecundang" kata Adnan.
"Wanita itu yang tidak mau bukan Bagas yang mau!!!"
"Kamu harus bertanggung jawab apapun yang terjadi. jika kamu masih ingin papa anggap anak!!!"
"Jadi papa membelanya"
"Paling tidak sampai anak itu lahir"
"Baiklah, aku akan ikuti mau papa. Bagas akan datangi dirinya" kata Bagas pasrah.
Tiba-tiba terdengar suara seroang wanita.
"Tidak ada!!! Bagas tidak boleh menikahi wanita itu. Tidak cocok untuk Bagas.. dan ingat!!! wanita itu juga yang sudah jahat pada anak kita Karin. Dia pembunuh" ucap Alina tegas yang mendengar semua.
__ADS_1
"Ma, ini bukan masalah siapa yang salah dan yang benar bukan soal cocok atau tidak. Anak yang berada di dalam kandungan wanita itu adalah garis keturunan kita, cucu mama dan papa. apa mama tega!!!" Kata Adnan marah.
"Pa, jangan gunakan perasaan untuk masalah ini" kata Alina.
"Papa tidak suka dengan sikap mama yang seperti ini. Tega mama membiarkan cucu dari keluarga ini lahir tanpa ayah" kata papa.
"Kenapa papa keras begini"
"Yang keras itu mama, salahkan pada anak mama ini yang menaruh benih sembarangan tanpa memikirkan jangka panjang!!!"
Lalu Adnan pun pergi saat itu.
"Ma Bagas harus menikahi wanita itu, apa yang dikatakan papa benar" kata Bagas.
"Bagas.. Kamu boleh menikahinya, tapi pastikan kamu harus bercerai setelah anak itu lahir"
Bagas pun hanya mengangguk.
Satu sisi Bagas memang salah dalam hal ini karena menghamili Mila tapi satu sisi Bagas masih kesal dengan Mila yang membunuh adiknya.
.
.
.
Bagas yang tadinya akan pergi ke kantor kini menatap Mila tajam yang saat itu masih termenung dengan sepi dan kesendirian.
Bagas saat itu masih lah menaruh dendam dan benci pada seorang wanita yang kini tengah ia pandang.
Namun pikirannya seolah membuat Buyar saat Mila yang tengah duduk sendiri kini tengah di goda oleh seorang pria yang Bagas tak tahu.
Mata Bagas pun membulat tajam saat seorang pria yang mencolek Mila dengan tangan nakal.
Jelas Mila akan digoda, karena hingga kini pakaian Mila terlihat sangat anggun dan sedikit terbuka.
Ya Mila belum sempat mengganti pakaiannya. Hanya make up saja yang tampak hilang diwajahnya. Tapi keanggunan dan kecantikan tetap terpancar meski saat itu Mila tak dengan Make up.
Mila yang memakai dress panjang, dan agak terbuka dibagian belakangnya jelas membuat orang jadi ingin menggodanya.
Hingga seorang pria tampak berani menggoda Mila dengan berani
"Hallo cantik"
"Mau apa kamu?" Ucap Mila.
"Ikut saya aja neng" kata seorang pria itu.
__ADS_1
"Saya gak mau" tolak Mila.
Hingga pria itu menarik tas Mila untuk mendapatkan perhatian Mila dan berlaku kurang ajar juga dengan berusaha memeluk Mila.
Mila pun tampak berusaha untuk melepaskan diri.
Hingga seorang pria datang dan lansung memelintir tangan pria itu.
Dan dia adalah Bagas...
"Jangan pernah sentuh dirinya, kembalikan tas nya" kata Bagas yang akhir terlihat marah.
Bagas tampak marah dan tak boleh membiarkan Mila tersakiti.
"Ampun bos"
"Tak boleh kamu menyentuhnya sedikit saja" ungkap Bagas.
"Ampun boes lepaskan saya"
Bagas pun melepaskannya saat pria itu ketakutan.
Pria itu pun lari dengan kencang saat Bagas mampu memberi pelajaran.
Hingga mata Bagas menatap Mila lekat.
"Kamu gak apa-apa" kata Bagas.
Mila pun menggelengkan kepala, mengatakan dirinya baik baik saj.
Dan Bagas pun memberi jaket pada Mila. Untuk menutup gaun yang tampak terbuka dibagian belakangnya.
"Aku antar kamu pulang ya"
"Gak mau"
"Cepatlah, naik.." Kata Bagas saat itu.
Mila pun masih meragu.
"Oh gak mau, kalau gitu aku panggil orang yang tadi, biar kurang ajar lagi sama kamu ya"
"Jangan jangan" kata Mila pada Bagas.
"Tapi benar kan kamu antar saya pulang, Serius?" Kata Mila.
"Cepatlah Mila aku sibuk aku banyak kerjaan"
__ADS_1
"Baiklah" kata Mila pasrah.