
Mila pun tampak tertunduk melihat kepergian Reza menuju kantor tempatnya bekerja.
Mila pun terdiam menatap perginya saat itu. Terdiam penuh luka itu sulit, luka dalam diam itu menyakitkan. Karena tak mampu meluapkan kemarahan yang ada. Bersembunyi dalam ketegaran hati walau sebenernya hati sudah hancur dalam keadaan terpahit ini.
Lalu setelah itu Mila pun berangkat dengan uang yang Mila pinjam pada umi Saidah sebesar 100.000. umi pun berkata pada Mila agar Mila tidak usah menggantinya. Tapi Mila berjanji akan tetap mengganti uang tersebut. Karena tak enak hati meminjam uang umi.
Lalu Mila pun naik angkutan umum untuk sampai ke kampus.
Selama perjalanan menuju kampus Mila terus saja termenung dengan nasibnya sendiri. Terembat luka lara di dalam hati, tetap bertahan dan berharap bahagia itu akan ada.
Hingga dirinya tak terasa sampai di kampusnya. Mila pun lebih banyak melamun dalam hidupnya saat ini.
Mila pun sampai dan terlihat sahabat dari Mila yaitu Jihan yang berada di depan kampus saat itu, Mila tersenyum saat melihatnya di sana. Dan menyambut Mila saat itu yang baru saja turun dari angkot.
"Hai" sapa Jihan pada Mila.
"Hai" jawab Mila dengan senyum.
Lalu mereka pun ke kelas bersama.
Soal diri Mila yang menikah dengan Reza Jihan tahu soal itu. Di kampus hanya Jihan yang tahu tentang Mila sudah menikah, karena saat itu Mila memang mengundang Jihan.
Tapi Mila memang tak mengundang yang lain karena acara memang pada saat itu digelar secara sederhana.
Jihan pun tampak tersenyum melihat pengantin baru yang Jihan anggap tengah bahagia dan hangat-hangatnya merasakan moment indah setelah menikah.
"Waah, sepertinya ada pengantin baru" ledek Jihan.
Mila pun tersenyum sekilas.
"Bagaimana?" Tanya Jihan.
Mila pun tak segera menjawab dan hanya diam tak merespon apapun.
"Mila, bagaimana?"
Mila pun hanya tampak memberikan sebuah gelengan.
"Maksudnya?"
"Tidak ada yang perlu aku ceritakan semua cukup aku yang merasakan"
"Pelit ih gak mau ceritain" kata Jihan.
Mila pun merangkul tubuh sahabatnya.
"Iya akan aku ceritain tapi gak sekarang ya" kata Mila.
Hingga jam kuliah mulai pun kembali fokus saat itu.
Hingga beberapa saat kemudian..
Jam pulang kuliah pun selesai, dan Mila pun bergegas untuk pulang..
Saat itu Jihan pun menanyakan Mila akan pulang naik apa dan dengan siapa.
"Mila, kamu pulang naik apa?" Tanya Jihan saat itu.
"Aku naik angkot sepertinya" jawab Mila.
"Baiklah dengan aku saja ya" kata Jihan menawarkan dirinya.
"Ah gak usah aku bisa naik angkot" kata Mila yang tak enak hati pada Jihan.
"Gak apa-apa, sekalian kan. Aku bawa mobil Mil" kata Jihan.
__ADS_1
Lalu Jihan pun mengajak Mila untuk pulang bersama dengan naik mobil miliknya.
Saat itu Mila hanya tampak mengiyakan saja. Karena dirinya juga memang tak membawa kendaraan dan kalau naik angkot pun terkadang sering lama karena supirnya yang suka ngetem di pinggir jalan.
Hingga selama perjalanan Jihan pun tampak mengbrol pada Mila dan masih saja terus mengorek malam pertama Mila menanyakan soal rasa dan diapain saja saat malam pertama.
Mila pun hanya tersenyum miring mendengar apa yang dikatakan sahabatnya. Mila enggan sekali menceritakan malam itu, Mila enggan mengorek luka itu.
Mila hanya tersenyum sambil mengatakan jika pernikahan itu indah walau secara garis besar Mila belum merasakan keindahan itu.
"Tapi meskipun indah, sebenarnya tak indah juga sih" kata Mila yang menjurus pada keadaan hatinya.
"Maksudnya?"
"Ya begitulah. Namun kamu harus anggap pernikahan itu sebuah ibadah dan saat itulah kamu akan siap menjalani hari mu dengan ikhlas" kata Mila yang seolah seperti petuah.
"Apa sih Mila jadi ragu sama pernikahan kamu, kamu gak bahagia ya" kata Jihan yang seketika berkata itu tanpa sadar.
Mata Mila pun seketika menatap Jihan, dan Jihan pun merasa tak enak hati saat Mila menatapnya.
"Oh aku harap itu hanya perasaan ku saja, maaf ya gak maksud membuat mu tersinggung. Karena dari raut wajah mu seolah mengatakan dirimu tak bahagia. Ya aku harap itu hanya perasaan ku saja dan tak pernah nyata" kata Jihan saat itu.
"Iya itu hanya perasaan mu saja Jihan" kata Mila.
Ya itu hanya perasaan mu saja dan itu memang benar. Perasaan mu benar Jihan, aku tak merasakan bahagia sedikit pun, tak merasakan sama sekali, batin Mila yang menjawab semua didalam hati.
Hingga tak lama ditengah perjalanan.
"Mila aku mampir dulu ke rumah sakit sebentar ya. Tante suruh aku ke rumah sakit ada titipan roti buat sepupu ku, dia dirawat di rumah sakit ini. Gak apa-apa kan?"
"Yah, bagaimana kalau aku lanjut angkot"
"Gak apa-apa sebentar aja" terang Jihan.
Lalu Jihan pun memarkirkan mobil itu dirumah sakit yang Jihan ingin datangi, dan mereka pun masuk ke dalam.
"Apa iya jemput orang sakit dapat pahala walau pun aku gak kenal sama orang sakit itu" kata Mila.
"Ya anggap aja kenal, semua manusia itu saling bersaudara lagi. Saudara seiman" kata Jihan lagi.
"Oke oke" jawab Mila.
Lalu saat keruangan pasien dirawat, Jihan dan Mila tak melihat pasien yang dirawat.
"Kemana ya" kata Jihan yang terlihat mencari saudara sepupunya, dan Jihan mendengar suara air didalam kamar mandi. "Ah dia berada di kamar mandi"
Lalu Jihan pun menunggu sepupunya yang berada di kamar mandi tapi sepertinya masih lama, pada akhirnya Jihan pun malah teringat pada hal yang penting tapi ia lupakan yaitu roti. Roti yang ia bawa untuk sepupunya tapi ia tinggal di mobil.
"Aku tinggal sebentar ya" kata Jihan.
"Kenapa?"
"Rotinya ketinggalan di mobil" kata Jihan.
"Lah, kamu bagaimana bisa ketinggalan" kata Mila.
"Sebentar ya, kamu tunggu sini"
"Iya, jangan lama-lama"
"Okeh" kata Jihan saat itu.
Jihan pun pergi untuk mengambil apa yang seharusnya dia bawa.
Lalu Mila tampak di tinggal sendiri di ruang rawat sepupunya itu, tanpa Mila tahu siapa di ruang rawat itu.
__ADS_1
Hingga pintu kamar mandi itu terbuka.
Ceklekk...
Deg...
Saat itu seorang pria melihat seorang wanita yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Dan Mila pun menengok saat pintu kamar mandi di ruang rawat VIP terbuka.
Mata Mila pun membulat kaget saat yang Mila lihat itu adalah Bagas.
"Mas Bagas" kata Mila yang tak percaya saat itu jika sepupu dari Jihan adalah Bagas yang sudah menodai dirinya saat malam pertama itu.
Ingatan buruk itu pun kembali tentang keadaan Mila yang hancur karena ulahnya. Hati Mila terasa panas dan membara dada Mila bergetar saat Mila tahu kini Bagas sudah sadar dari komanya dan pulih kembali.
Tapi kedua insan itu tampaknya sama-sama menyimpan luka dan amarah yang mendalam.
Mila pun menelan salivanya dalam, saat Bagas menatap Mila dengan tajam.
Sampai infus yang berada ditangan Bagas, ia jatuhkan saat menatap Mila kini di depan matanya.
Ya wanita itu adalah wanita yang sudah Bagas renggut kesucian di malam pertamanya. Mesk Bagas jahat namun Bagas juga banyak menyimpan amarah karena Mila dianggap yang sudah membunuh adik tercinta.
Hingga Bagas pun langsung menghampiri Mila dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Kamu sudah membunuh adikku!" kata Bagas dengan suara keras.
Mila pun mundur secara perlahan dan menggelengkan kepalanya saat kata itu dilayangkan.
"Aku tidak pernah membunuh siapapun" kata Mila yang sontak saja melihat Bagas dengan perasaan takut.
"KAMU SUDAH MEMBUNUHNYA!!!!" teriak Bagas dengan tuduhan itu lagi.
Mila pun masih sama menggelengkan kepalanya dengan takut didalam hati melihat Bagas.
"Sialan kamu!!!"
Hingga Bagas pun mendekati dan mendorong Mila dengan cepat ke tembok dan mencekik lehernya.
"Aarrgghh" teriakan amarah Bagas.
Saat itu Mila berusaha melepaskan tangan Bagas yang berusaha mencekiknya dan tiba-tiba sebuah hantaman dari tangan Bagas pun menuju hidung Mila.
Bruggghhh. .. pukulan itu mendarat.
"Awwhhhh aahhh" teriakan Mila yang merasa sakit.
Hantaman mendarat hingga kepala Mila terbentur tembok.
"KAMU TELAH MEMBUNUHNYA!!!!!" Teriakan Bagas.
Air mata Mila pun jatuh merasakan sakit yang teramat dengan semuanya. Bagas seolah tak peduli sekalipun Mila adalah perempuan yang lemah, karena Bagas hanya melihat satu sisi dari Mila yakni seorang pembunuh adiknya.
Sebuah sakit hati dan pukulan itu bercampur satu Mila pun berusaha menarik dirinya dari Bagas. Saat terlepas...
Dengan cepat berlari saat itu, Mila keluar dari ruang rawat inap Bagas sambil memegang hidungnya yang kena baku hantam itu.
"Hiks hiks hiks" Mila tampak menangis dengan air mata dan hati yang teriris perih.
Mila berlari dengan derai air mata hingga Mila menyadari saat itu ada darah ditangan Mila yang berasal dari hidungnya.
Saat itu hidung Mila berdarah karena pukulan yang dilayangkan oleh pria bernama Bagas.
Mila pun seketika itu hanya tampak takut tak mampu membalas semua, Mila ingat akan kenangan buruk tentang Bagas yang sudah merenggut kesuciannya.
__ADS_1
Perih...
Semua terasa teramat perih dalam hati...