
Hingga saat itu...
Hari ini adalah hari Sabtu, hari tampak cerah langit pun tampak biru, Mila pun membuka mata menebar senyum yang merekah. Dirinya tak pernah merasa se plong ini dalam hidup. Ada rasa bahagia yang tak bisa di jelaskan..
apakah karena dirinya telah jatuh cinta hingga semua hari menjadi terasa indah.
Mila pun memejamkan mata dan menaruh senyum di bibir, sambil menghirup udara segar melalui jendela di kamarnya.
Dalam hati Mila hanya berharap bahwa cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan seperti dulu, seperti saat dengan mantan suaminya yaitu Reza.
Mila juga berharap jika semua yang ada saat ini menjadi takdir baik untuk dirinya, jika ditanya Mila punya siapa dalam hidup ini Mila tak punya siapa-siapa lagi selain berharap. Manusia hanya bisa berharap, berdoa dan berusaha. Sisanya berserah diri...
Dan Doa yang selalu Mila panjatkan adalah kelak Mila akan di takdirkan dengan seorang suami yang akan menjadi imam yang terbaik untuk dirinya.
Hingga tiba-tiba suara handphone Mila berdering, Mila pun mengecek. Mila pun mengecek saat itu, dan ternyata dari pemilik PT angin ribut.
Ada apa dia menelpon ku, padahal aku tidak punya hutang dengannya? Oh mungkin kah dia rindu batin Mila tersenyum melihat nama Mas Bagas tertulis disana.
"Assalamualaikum" ucap Mila ditelpon.
"Walaikumsalam" ucap Bagas.
"Ada apa?" Tanya Mila.
"Sibuk gak hari ini?" tanya Bagas di telpon.
"Emm gimana ya, enaknya sibuk apa gak?"
"Serius"
"Gak sih lagi gak ada job nyanyi" kata Mila.
"Nonton yuk"
"Nonton film?"
"Iya" jawab Mila.
"Emm boleh udah lama gak nonton juga sih"
"Film romansa aja ya"
"Em terserah semua film aku suka"
__ADS_1
"Oke"
Lalu Mila pun tersenyum saat dirinya akan diajak oleh seorang pria menonton film yang Mila sendiri tak tahu film apa itu.
Mila pun juga sudah dua tahun tidak ke bioskop lagi, karena tidak ada yang ajak nonton juga. selama Mila menjalin hubungan dengan Reza, Reza hanya mengajaknya makan saja.
lalu Mila pun beranjak.
Hingga Mila pun tampak bingung memakai baju apa.
Akhirnya Mila memilih sebuah dress panjang berwarna cream dan membiarkan rambutnya tergerai indah.
Mila pun bercermin dan melihat perutnya yang masih tampak datar, dia tampak tersenyum membayangkan suatu hari perutnya membesar karena kehamilannya bertambah dan apakah badannya ikut melebar juga.
Mila sekali lagi tersenyum dan tak sabar membayangkan semuanya.
.
.
.
.
Saat itu Mila berangkat dengan naik ojek saja, karena bioskop yang akan di datangi lebih dekat dari tempat tinggal Mila. Jadi Mila tidak meminta Bagas untuk datang menjemput.
Beberapa saat kemudian...
Mila pun sampai, namun sayang Bagas baru memberi info bahwa datang agak terlambat karena keadaan agak macet ada jalan yang sedang di perbaiki. Mila pun dengan sabar menunggu hingga Bagas datang.
Karena kebetulan bioskopnya berada di dalam mall, Mila pun berkeliling dulu hingga ia memutuskan untuk membeli minum dulu di sebuah food court yang ada di dalam mall.
Mila pun memesan jus jeruk dan sedikit cemilan. Sambil memakan Mila pun menunggu Bagas sambil fokus dengan handphone nya. Mila tampak sibuk dengan group yang ada di handphonenya tampak ramai karena ada tugas kampus.
Mila pun seketika itu tak terlalu fokus pada sekitar hingga seseorang tampak datang.
"Permisi, boleh aku duduk di sini" tanya seorang pria dengan suara yang tak asing lagi.
Mila pun seketika sontak menengok dengan seseorang itu saat Mila melihat dia adalah Reza.
Mila pun seketika terdiam tak percaya jika reza berada di hadapannya. Mila pun panik saat Reza datang.
"Pergilah" kata Mila.
__ADS_1
Perasaan Mila begitu memburu tak bisa membiarkan Reza duduk di depannya.
"Maaf anda bisa cari kursi yang lain" pinta Mila pada Reza.
"Baiklah aku akan berdiri saja tanpa duduk dihadapan mu. Aku mengira jika perceraian kita akan berakhir damai tapi nyatanya tidak. Dengan caramu meminta ku untuk pergi itu bukanya ada perang batin di antara kita" kata Reza saat itu memandang Mila lekat.
Mila pun memegang keningnya dan menghela napas, dirinya sontak saja masih merasakan sakit, pada pria yang ada dihadapannya kini. Meski tak menaruh dendam tapi tetap saja sakit. Mila tak berani memandang Reza sama sekali karena Mila takut jika hatinya akan luluh lagi dengan cintanya yang pernah Reza curahkan namun ternyata penuh dusta dan kepahitan.
Reza pun merasa jika Mila tak mau memandangnya sama sekali.
"Kenapa kamu tak mau melihat ku Mila, kenapa?" Tanya Reza memegang meja dan memandang tajam ke arah Mila.
Mila pun memejamkan matanya dan menggelengkan kepala.
"Padahal dulu kamu yang selalu memandang ku dari atas dan bawah, melihat ku sangat dalam. Kenapa sekarang lain Mila, kamu kenapa sekarang berubah Mila?" Tanya Reza penuh penekanan.
"Untuk apa, untuk apa aku memandang pria yang ternyata sudah menjadi milik orang lain. Untuk apa aku memandang pria yang bukan untuk ku lagi" ucap Mila yang masih membuang wajah dengan wajah sedih. Mila bukan sedih karena Reza tak bisa dimiliki, namun kesediha yang Mila rasakan adalah disaat dirinya dikhianati dan di buang seperti tak ada harganya. Bahkan kedatangannya seolah mengorek luka yang dulu. Tentang sebuah pengkhianatan cinta dan kepalsuan cinta.
"Mila pandang aku sekali saja, Mila"
Mila pun masih membuang wajahnya dan tak mau melihat Reza sama sekali.
Hingga seorang pria datang dengan gagah dan tampan. Dengan tampilan sangat mempesona memegang tangan Mila.
"Maaf sudah lama menunggu" ucap Bagas tersenyum.
Mila pun menyambut kedatangan Bagas saat itu dan langsung berdiri saat tangan Bagas dipegang lembut oleh Bagas.
"Ayo" kata Bagas tersenyum.
Mata Reza pun membulat saat melihat Mila bersama seorang pria yang tak pernah ia sangka. Ayah dari bayi yang Mila kandung.
"Kamu pergi dengannya" tanya Reza.
"Iya, permisi" Mila pun beranjak pergi. Dan Bagas pun langsung menggandeng tangan Mila erat berjalan menuju tempat yang memang ia tuju.
Mila pun langsung tersenyum saat melihat Bagas yang datang dan pergi meninggalkan Reza.
Tangan Reza pun terkepal dengan perasaan kesal melihat Mila bergandengan mesra layaknya seorang pasangan kekasih.
Reza pun menahan rasa pada hatinya yang tampak terasa panas membara di dalam hati melihat sang mantan istri bersama pria lain.
Perasaan terbakar api cemburu, kecewa, sedih dan marah seolah menjadi satu. Hingga Reza pun tampak tak bisa ikhlas dengan Mila yang ternyata sudah menemukan pengganti dirinya.
__ADS_1
Mila kenapa kamu pergi dengannya, kenapa kamu tega Mila. Kenapa Mila? padahal aku masih berharap pada mu Mila. Mila... Kenapa rasanya sesakit ini melihat mu pergi dengan pria itu batin Reza dengan perasaan yang terasa bercampur aduk.