
Hingga keesokan harinya, Mila merasakan kekosongan dalam hatinya. Terdiam dan membisu dalam keheningan harinya.
Namun Mila masih tetap berusaha untuk mendapatkan simpati dari suaminya yaitu Reza.
Mila memberikan perhatian khusus untuk suaminya walau saat ini mungkin Reza sama sekali tak menganggap Mila.
Terlihat Reza yang baru saja terbangun dari tidurnya saat itu
Mila pun menyiapkan air hangat untuk Reza mandi.
"Aku sudah siapkan air hangat untuk A Reza mandi" kata Mila menatap Reza. Reza tak pandang Mila sama sekali.
Mila hanya ingin melakukan yang terbaik untuk suaminya.
Reza seolah cuek tak menjawab ucapan Mila.
A, aku yakin suatu saat nanti hati a Reza terbuka untuk Mila.. jika tidak saat ini tapi nanti batin Mila.
Hingga Reza yang selesai mandi Mila pun menatap sambil tersenyum.
"Untuk apa tersenyum" ketus Reza.
"Seneng aja liat a Reza wangi dan sudah bersih" jawab Mila.
"Hari ini a Reza sudah kembali kerja kan. Semangat ya A kerjanya, Mila selalu mendoakan yang terbaik untuk A Reza. Karier a Reza, kesehatan AA dan semuanya" terang Mila.
Mila pun hanya berusaha untuk tetap tersenyum saat itu pada Reza. Mila harus bisa memberikan cinta pada suaminya walau mungkin saat ini cintanya sudah hancur lebur.
Mila sadar, Mila tak sempurna tapi Mila harus memberikan yang terbaik pada suaminya yang sangat ia cintai.
Hingga suaminya berangkat kerja Mila pun berusaha tersenyum melihat kepergian suaminya yang saat ini untuk mencari nafkah. Dalam senyum bibir dan hati yang terasa pahit Mila berusaha tetap tegar dan memberikan doa terbaik untuk sang suami.
Seketika umi Saidah pun melihat Mila yang tersenyum melihat Reza berangkat kerja.
"Kenapa kamu tersenyum" ucap Umi Saidah melihat Mila saat itu.
__ADS_1
"Hanya berusaha untuk bahagia umi" kata Mila.
"Apakah Reza sudah bisa menerima mu" tanya umi.
"Mau a Reza terima Mila atau tidak itu terserah a Reza umi. Itu biarkan lah jadi keputusan Reza umi, Mila pasrah dengan semuanya. Tapi satu hal yang pernah umi katakan pada Mila saat menikah adalah, Mila harus menjadi istri yang Soleha untuk A Reza kan umi. Sampai saat ini ucapan itulah yang terus masih ada di benak Mila saat ini. Mila hanya ingin hidup bahagia saat ini" kata Mila saat itu.
Umi pun seketika menatap Mila sejenak dan sedikit menaruh rasa iba. Namun umi Saidah masih memunafikan rasa itu karena merasa jika Mila sampai kapan pun tak pantas menjadi menantu untuk dirinya. Apalagi latar belakang Mila yang pernah menjadi pembunuh itu.
.
.
.
.
Mila pun ke kamar dan melihat Poto Reza dimeja memegangnya lalu mencium foto itu.
"A Reza, sampai kapan Mila akan tetap cinta pada AA" jelas Mila menatap dan mencium Foto Reza.
Saat itu tiba-tiba seseorang datang, dan mencari Mila.
Mila tak menyangka jika saat itu yang datang adalah pak Adnan dan ibu Alina, pihak dari Bagas datang.
Mila pun tak menyangka juga jika mereka datang untuk menemui Mila. Ada apa mereka datang Mila tak tampak tak tahu, apakah mereka datang untuk mengajak ribut dan menuduh lagi.
Mila pun hanya berusaha untuk menemui mereka diruang tamu. Mila masih menatap penuh rasa benci suasana masih tampak sangat tegang.
Hingga saat itu tak disangka jika Alina mengatakan sesuatu hal yang Mila tak duga.
Mila pun duduk diruang tamu saat itu, disana terlihat ada ibu mertua dari Mila yaitu umi Saidah.
Bi Sarmi menghidangkan minum untuk keluarga dari Bagas yang datang.
Suasana saat itu tampak terlihat ibu mertua Mila yang duduk disamping Mila.
__ADS_1
Sementara Alina dan Adnan duduk bersebrangan.
Meski dalam hal ini umi Saidah mungkin tak peduli pada Mila tapi umi Saidah mau menemani Mila saat dirinya harus bertemu dengan keluarga dari Bagas.
"Mila, saya yakin kamu tahu maksud kedatangan saya" ucap Alina.
"Jelas saya tidak tahu dan jangan bilang bapak dan ibu ingin marah pada saya lagi" ucap Mila menatap keduanya.
"Baiklah jadi begini, soal Bagas yang sudah meniduri mu. Jadi anggap saja begini, kita sama-sama rugi dalam hal ini. Setelah saya pertimbangkan bagaimana kalau kita ambil jalan tengah, kamu jangan pernah laporkan ini pada polisi. Dan saya pun tidak akan melaporkan kamu pada polisi karena sudah menusuk Bagas saat itu" jelas Adnan.
Mila pun sejenak terdiam dan berfikir maskud dari uacapan pak Adanan pada Mila.
"Baiklah logika nya seperti ini, dalam hal ini kita untuk tidak saling lapor polisi daripada Bagas dipenjara karena kesalahannya dan kamu pun dipenjara karena kesalahan mu yang sudah menusuk Bagas. Biar kita sama-sama tak rugi bagaimana kalau kita damai" Ungkap Adnan pada Mila.
"Saya akan memproses ini secara hukum" jelas Mila.
"Kamu pun akan masuk penjara, saya pastikan itu" jelas Adnan.
"Ya setelah ini kamu akan tahu bagaimana rasanya berhubungan dengan keluarga saya. Hidup mu tak mungkin bahagia termasuk bapak mu" jelas Adnan.
Mila terdiam sejenak, satu sisi Mila merasa perlu melaporkan Bagas polisi memberikan hukuman untuknya tapi ia pun juga takut jika harus masuk penjara.
Dan untuk Adnan...
Saat itu meski Bagas dalam keadaan koma tapi memang secara garis besar Adnan tidak ingin kalau putranya masuk penjara saat ia bisa sadar kembali.
"Bagaimana, itu terserah pada mu jika kamu ingin melihat keluarga mu akan berususan juga dengan ku terutama bapak mu" kata Adnan saat itu.
"Baiklah, kita damai tapi satu hal. Jangan pernah anak bapak menggangu hidup saya. Dan kedua, saya bukanlah pembunuh dari Karin" jelas Mila.
" kita memang berdamai. Tapi tidak untuk pembunuhan soal Karin saya masih belum percaya kalau anda bukan pembunuhnya. Saya masih yakin jika dirimu adalah pembunuh dari putri saya. Saya masih anggap anda membunuhnya, apalagi terallau ringan bukan tangan anda dalam melakukan kejatahan"
"Saya tidak membunuhnya!!!" Terang Mila kesal.
"Saya masih tidak percaya dengan ucapan anda!!!! Dan daripada saya harus berlama disini dan menghabiskan waktu saya. Saya rasa sudah cukup, saya permisi" Adnan pun pergi.
__ADS_1