
Air mata Mila tumpah saat itu sekuat apapun Mila menahan rasa sakit yang ada kenangan buruk itu masih tetap sama.
Mila pun menutup rapat semua yang ada dirumah itu mulai pintu dan gorden, dengan menutup semua yang ada.
Umi pun menyadari ada yang tak beres dengan diri Mila yang pulang kuliah seperti orang yang aneh dan tak karuan.
"Kamu kenapa, coba katakan pada umi" tanya umi yang melihat Mila tak baik-baik saja.
"Umi tadi Mila ketemu lagi dengan pria yang sudah jahat dengan Mila umi"
"Siapa?"
"Bagas namanya Bagas pria yang sudah merenggut malam itu. Umi tolong jaga Mila umi jangan sampai dia keisini lagi, aku mohon umi jaga Mila umi" kata Mila seraya sambil menangis.
"Tenanglah Mila, tenang lah" kata Umi yang saat itu akhirnya memeluk Mila erat.
Tak sedikit pun rasa kesal sedikit pun pada Mila. Umi saidah tak pernah menyangka wanita yang ia anggap tak baik dan tak pantas dengan anaknya itu umi mendadak sayang dan memeluknya kini dengan erat.
"Jadi hidung mu?"
"Aku di pukul olehnya" kata Mila yang terlihat Shock.
"Tenanglah dulu, tenang ya" kata umi yang menangkan Mila saat itu.
Mila pun masih terlihat ketakutan. Hingga menenangkan Mila dengan cara menyuruh nya untuk istirahat.
Umi Saidah pun memeluk Mila dan mengatakan.
"Kamu tidurlah, kamu sangat lelah Mila pasti. Umi akan temani kamu disini" ucap umi Saidah.
"Umi yakin akan menjaga Mila di sini" kata Mila yang masih merasa tak tenang.
"Iya"
Hingga beberapa saat itu Mila yang dipeluk umi tanpa terasa memejamkan mata dan tertidur.
Umi pun memandang Mila dengan tatapan dalam, dirinya tak menyangka akan bisa baik pada menantunya itu. Hingga saat itu Mila pun dielus bagian kepalanya.
Meski saat ini umi Saidah sudah menerima apakah Reza bisa. Umi pun mencium kening Mila yang tampak tertidur itu.
Umi Saidah yang tak memiliki anak perempuan merasa senang datang kehadiran sesosok wanita yang mungkin saat ini swcara perlahan sudah menerima Mila seperti anak perempuannya sendiri.
Mata Mila pun terbuka secara perlahan dan melihat umi yang masih tetap setia disampingnya menemani Mila tidur, Mila tak menyangka jika umi Saidah menemani dirinya.
"Umi temani Mila" tanya Mila.
__ADS_1
"Iya badan kamu panas juga"
"Umi, terimakasih sudah menganggap Mila"
"Iya Mila" jawab umi sembari tersenyum.
"Umi dulu, bukannya umi yang mengatakan jika Mila ini pembunuh. Sekarang kenapa umi bisa baik" kata Mila.
"Umi yakin kamu tak seperti itu" kata Umi Saidah yang merasa jika Mila bukanlah orang yang jahat.
Ya saat itu Mila pun tersenyum saat Umi saidah mampu menerima diri Mila.
"Terimakasih umi sudah baik pada Mila"
Dan Mila sudah perasaan nya merasa lebih baik saat itu, tak sehisteris saat dirinya pulang dari tempat kuliah.
.
.
.
Hingga malam itu saat Reza pulang kerja, Reza masih tak mau menatap Mila. Mila pun menghela napas beratnya saat sang suami seolah merasa Mila hanya sebuah beban untuknya. Perasaan Reza yang masih kesal karena Mila yang tak suci lagi seolah tak redam termakan waktu. Perasaan memburunya masih tetap sama.
Dengan menatap cermin Mila pun menatap dirinya dengan sangat dekat dan Mila mengambil bedak serta lipstik dan memakainya.
"A Reza lihatlah cantik dan seksinya Mila saat ini. Aku yakin a Reza tak akan menolak keinginan Mila untuk kita tidur di ranjang. Ayo AA, ayo A.." kata Mila yang memakai lipstiknya yang berwarna menor dan memasang wajah seksinya.
Hingga saat itu Mila pun memakai baju tidur dengan bahan satin tanpa menggunakan dalaman sama sekali Mila tak tahu apakah Reza akan tertarik padanya atau tidak. Hingga dirinya yang tak memakai dalaman pada bagian di dada itu tampak menyumbul pada bagian titik tengah itu.
Mila pun menatap lekat sang kekasih saat berada di depan matanya, sebagai lelaki Reza pun tampak menelan salivanya saat melihat sang istri tampak seksi dan cantik saat itu.
Mata Reza membulat tajam saat melihat sang istri keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang tampak seksi.
Hingga saat itu sebuah kecupan hangat Mila berikan kepada sang suami yaitu tampak pada bagian leher. Lanjut ke arah sang suami dengan membuka kancing bajunya namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan keduanya.
Tok..
Tok..
Tok...
Mila pun yang tadinya terlelap dalam keheningan suasana harus menahan rasa yang ada karena suara ketukan pintu itu datang secara tiba-tiba.
Reza pun tersadar dirinya baru saja tergoda pada istrinya istri dan saat di buka ternyata itu adalah keponakan Reza yaitu Angga.
__ADS_1
"Hallo om aku nginep ya, soalnya mama gak pulang..papa keja"
Mila pun tersenyum tipis dan menggigit bibirnya saat sang keponakan kecil itu hadir.
"Tidurlah disini bersama om" kata Reza tampak dingin.
Reza pun tak menatap Mila lagi, jiwa lelakinya jujur saja meronta. Tapi saat ia sadar sungguh ia memunafikan semuanya. Apalagi mengingat Mila yang tak lagi suci, itu daftar dari ketidaksudian Reza pada Mila.
Lalu Mila pun mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan sadar ada anak kecil di hadapannya saat ini.
Lalu dan tak Mila sangka lagi, anak kecil itu malah tampak meminta Mila mendongengkan sebuah cerita yang ia bawa.
"Tante aku gak bisa tidul kalo gak baca celita" kata Angga.
"Coba minta bacain sama om Reza dia biasa tuh bacain cerita. Beda sama Tante yang lebih suka menjalani cerita" kata Mila yang tersenyum.
"Sama Tante Mila aja, om ngantuk besok kerja" kata Reza memejamkan matanya.
"Ouh oke" jawab Mila.
Lalu Reza pun tersadar jika hidung Mila lebam.
"Tawuran dimana?" Tanya Reza yang kali ini tampak perhatian.
"Siapa?"
"Kamu lah, itu hidungnya"
"Aku dipukul" kata Mila.
"Sama siapa?"
"Bagas"
"Kamu ketemu dia lagi" kata Reza menatap Mila dengan tatapan marah.
"Iya aku gak sengaja, bener gak sengaja ketemu dia lagi"
"Awas kamu menemui dia" kata Reza kesal.
"Kenapa?"
"Aku yang akan membunuh dirinya" kata Reza.
Mila pun menatap Reza dengan tatapan lain, mungkinkah saat ini Reza sudah mulai suka pada dirinya atau kah masih sama.
__ADS_1