
Saat itu Mila pun berjalan menyusuri jalan dengan langkah kaki kecilnya yang terasa berat. Saat dirinya dibandingkan dengan derajat wanita yang lebih baik, kaya raya dan dari keluarga terhormat.
Bukankah semua wanita itu terlahir dengan cara yang sama, wanita itu semua sama. Mengapa aku merasa beda karena harta dan kehormatan. Aku merasa beda, tidakkah penderitaan ku sudah cukup dalam. Mengapa semakin kesini aku merasa semakin dalam dan berat aku menjalani semuanya. Ya Allah baru dua hari saja aku menikah baru dua hari saja aku merasakan menjadi istri sudah sesulit ini dengan ujian yang begitu maha dahsyat yang aku sendiri tak pernah membayangkan jika ujian ini yang aku alami akan seberat ini. Kepada siapa dan kemana aku bersandar jika diriku saja tak sanggup menahan. Aku hanya meminta semoga aku selalu kuat. Batin Mila yang saat itu meraksan sakit didalam hatinya.
Sindiran demi sindiran yang diucapkan oleh mertuanya sungguh membuat hati Mila teriris dan tertusuk begitu mendalam.
Mila pun memejamkan mata, menarik napas perlahan.
Lalu Mila pun kembali ke kamar dimana ia tidur. Dan dimana juga untuk pertama kali Mila ditiduri oleh pria lain yang bukan suaminya.
Mungkin ini terasa berat tapi Mila harus kuat, karena ditempat inilah surga Mila berada disuami Mila. Meski hingga saat ini Reza masih belum memberikan nafkah batin sedikit saja untuk Mila.
Perih hati Mila..
Jika semua wanita sedang bahagia dengan status barunya justru kesedihan begitu melanda hati Mila hingga relung hati terdalam.
Hingga malam hari tiba...
Malam itu tampak hujan turun, Mila menatap air yang turun dari langit melalui jendela.
Waktu pun sudah pukul 22.00 malam dan benar saja Reza tak pulang dari kantornya. Ucapan Reza benar adanya saat disurat itu, bahwa ia pergi dari Mila untuk menenangkan hatinya. Jika Reza pergi untuk menenangkan hatinya untuk pergi.
Apa kabar Mila, yang justru sebaliknya di penuhi rasa tak tenang karena Reza yang justru malah memilih untuk pergi.
Kenapa rumah tangga ku sesakit ini, kenapa semua perjalanan ku ini begitu menyakitkan. Baru saja aku berlayar namun aku sudah karam duluan. Mengapa semua terasa sakit batin Mila tak terasa menjatuhkan air matanya.
Mila pun kembali mengelus kasurnya yang tampak dingin itu.
Bagaimana dengan a Reza malam ini, apakah dia bisa tidur apakah dia bisa tidur malam ini. Ataukah dia seperti diriku yang tak bisa tidur malam ini batin Mila meringkuk sambil melihat kasur yang kosong disebelahnya.
Mila pun mengambil handphone nya mencoba menghubungi namun masih tak ada jawaban dan lebih parahnya nomer Reza tak aktif.
Mila pun kembali membelai kasur empuk yang kini Mila sudah ganti seprei baru, Mila hanya menatap kasur disebelah nya kosong dengan tatapan sedih.
Hingga pada akhirnya Mila pun memeluk guling sambil memejamkan mata dan membayangkan jika guling itu adalah suami tercinta.
"A Reza Mila mohon jangan pergi lagi, jangan tinggalkan Mila. Mila sedih dan hancur saat a Reza pergi dari Mila. Mila hanya sayang dengan a Reza, sayang banget sama A Reza huhuhu hiks hiks" ucap Mila yang berhalusinasi bahwa Reza itu adalah guling yang ia peluk.
Mila pun tak terasa tertidur dalam keadaan basah dengan air mata.
Hingga..
__ADS_1
Keesokan harinya Mila pun terbangun waktu sudah menunjukan pukul 04.00 pagi Mila pun melihat dirinya dicermin, matanya terlihat sembab habis menangis semalam. Mila hampir jarang menangis, sekalipun hidup tak sesuai harapan dirinya tapi kali ini terasa berbeda ujian ini begitu sangat menyayat hatinya.
Dan..
Mila tak sengaja membuka lemari dan melihat sebuah lingerie berwarna hitam didalam lemari, lingerie itu sebuah hadiah dari seserahan. Batin Mila pun hanya perih saat barang yang harusnya bisa ia pakai untuk suaminya hanya terpajang didalam lemari.
Mila pun sejenak terdiam dan tak lama adzan subuh pun terdengar, Mila pun memutuskan untuk solat subuh. Ya solat sendiri tanpa siapapun.
Sampai pada akhirnya saat pagi itu Mila pun membantu masak dengan bi Sarmi. Bi Sarmi mengatakan jika ingin mengajari Mila masak, selama Mila tinggal di rumah keluarga Husein masakan bi Sarmi sangatlah enak. Membuat Mila senang saat memakannya.
"Bi Sarmi yakin akan mengajari saya masak?" Tanya Mila yang melihat bi Sarmi sedang sibuk didapur.
"Ya non"
"Jangan panggil non panggil aja Mila"
"Eh gak ah bibi gak biasa panggil nama aja kalau sama majikan, apalagi ini istri dari tuan Reza"
"Bi santai aja, Mila juga bukan siapa-siapa hanya orang biasa. Tapi Bi Sarmi bisa masak dari mana? Belajar sendiri atau bagaimana?" Tanya Mila yang saat itu membantu memotong sayuran.
"Awas ya non kena tangan, pisaunya tajam habis bibi asah tadi" jelas Bi Sarmi yang masih saja memanggil dengan sebutan non pada Mila.
"Bi panggil Mila aja jangan pakai non ya" kata Mila.
"Yasudah terserah bibi ajalah" jawab Mila pasrah.
Seketika bi Sarmi pun melihat Mila yang matanya sangat bengkak itu.
"Non" ucap bi Sarmi.
"Ya Bi" jawab Mila.
"Non Mila semalaman nangis ya" tanya bibi.
"Kata siapa?"
"Mata non Mila bengkak"
Seketika Mila pun menghela napas beratnya.
"Ya, iya bi" jawab Mila.
__ADS_1
"yang sabar non" kata bibi.
"InsyaAllah Mila selalu sabar. terimakasih ya Bi" ungkap Mila.
"Tapi tadi bibi belum jawab, bibi belajar masak atau bagaimana masakannya bisa enak" kata Mila.
"Oh bibi bisa masak karena mamanya bibi pinter masak, dia yang mengajari masak. Non Mila udah bisa masak apa? Diajarin masak apa sama mamanya?" Tanya Bi Sarmi.
Mila pun seketika itu terdiam sejanak menggelengkan kepalanya.
"Tidak pernah, tak pernah sekalipun mama aku mengajari masak"
"Pasti karena takut kena api ya"
"Bukan tapi mama ku pergi entah kemana saat aku masih kecil bi"
"Bagaimana bisa" tanya Bi Sarmi.
"Panjang intinya kita jangan bahas mama aku dulu ya, kita bahas masakan aja"
"maaf ya bibi gak maskud mengingatkan" kata bibi tak enak.
"iya bi gak apa-apa" kata Mila.
"Ada apa non mau masak, apakah karena sesuatu yang membuat non ingin bisa masak?" tanya Bi Sarmi.
"Iya nih bi, kemarin aku cobain masakan kak Arini. Enak bi, enak banget Mila tak mau menyaingi Arini hanya saja Mila ingin belajar masak untuk A Reza, suami Mila Bi" kata Mila menjelaskan.
"Wah bagus" jawab Bi Sarmi.
"Iya, Mila ingin memberikan perhatian pada a Reza. Memberikan cinta yang tulus pada a Reza melalui masakan yang Mila buat. Meski masih dibantu bibi gak apa-apa kan ya" kata Mila tersenyum.
"Jelas gak apa-apa non Mila, mari kita buat ya" kata bi Sarmi.
"Iya bi"
Tiba-tiba terdengar suara Arini yang datang pagi-pagi dengan membawa makanan dan kedatangan Arini jelas disambut oleh Umi Saidah yang memang Arini malah seperti menantunya, beda dengan Mila yang hanya dianggap tak ada saat itu.
bahkan saat itu Mila melihat umi Saidah tampak begitu hangat merangkul Arini. Dan kali ini terlihat Arini datang bersama mamanya. Mila pun hanya tersenyum pahit saat melihat kebersamaan Umi Saidah dan Arini.
Mila yang melihat sekilas dari dapur menghela napas panjang saat Arini seperti orang yang paling disayang oleh Umi Saidah.
__ADS_1
Mila pun kembali tertunduk dan terasa getir saat semua hal begitu terasa menyakitkan di hati.
Bi Sarmi pun melihat ke arah Mila dan menatap Mila menyadari jika Mila saat ini hatinya sedang hancur dengan semua kenyataan pahit yang ada. Di tambah lagi kehadiran Arini yang seolah mampu meruntuhkan kepercayaan diri Mila yang dari awal sudah hancur itu.