Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Anak kita


__ADS_3

Suasana yang tampak tegang itu terselimuti dengan dinginnya malam udara disekitar membuat Mila merasakan dingin.


Tapi Mila hanya bisa menggosok-gosokkan tangannya agar lebih merasa hangat. Dirinya yang saat itu memakai dress hitam panjang hanya ditutupi dengan cardigan terlihat merasa dingin.


Mila menyesal kenapa dirinya lupa membawa jaket tebal, padahal hari itu susana habis hujan.


Mila pun serasa enggan meminta Bagas untuk mematikan ac mobilnya, karena orang kaya tidak mungkin terbiasa dengan mobil tanpa AC.


"Tumben ya agak dingin" kata Mila saat itu.


"Iya" kata Bagas singkat.


Bagas pun melihat Mila yang terlihat kedinginan saat itu karena beberapa kali ia memegang badannya.


Hingga Bagas memberikan jaket yang ia miliki untuk di pakaikan kepada Mila.


"Pakailah" kata Bagas saat itu.


"Jangan ini untuk mu" kata Mila.


"Pakailah, itu untuk mu" ucap Bagas yang terlihat kaku.


Mila pun tersenyum dan menatap Bagas lekat. Bagas pun tahu jika daritadi Mila memandangnya, hanya saja dirinya tak sanggup jika saling pandang satu sama lain Bagas hanya menjalankan mobilnya dengan perasaan kaku dan grogi.


Bagas tampak menarik napasnya berulang kali.


Dalam hidupnya tak pernah ia sekaku dan setegang ini saat dekat seorang wanita.


Hingga saat melewati jalan yang biasa lewati, Mila melihat tukang nasi goreng yang Mila paling suka, itu adalah nasi goreng favorit Mila yaitu nasi goreng bang Jalu. Nasi goreng yang menurut Mila tidak ada lawannya, namun keinginan Mila tertahan karena Bagas terlihat membawa mobil dengan agak cepat.


Hingga Mila terlihat menghela napas beratnya karena harus melewati tukang nasi goreng itu tanpa membelinya.


Padahal di dalam hatinya ia sangat lah ingin. Mila sebenernya ingin sekali membeli itu tapi dirinya merasa tak enak hati pada Bagas jika menyuruhnya untuk putar balik.


Hingga perjalanan menuju rumah Mila, Mila pun tampak terdiam seribu bahasa.


"Kamu kenapa?" Tanya Bagas.


"Ada tukang nasi goreng"


"Terus kenapa?"


"Pengen sih"


"Yaudah di depan ada" kata Bagas.


"Maunya yang ditempat tadi, nasi goreng Bang Jalu" jawab Mila.


"Oh bagiamana kalau aku putar balik"


"Gak usah mas tadi emang udah jauh sih jadi gak apa-apa next time aja lah. Masih banyak waktu kok, bisa besok besok" kata Mila merasa tidak perlu.


"Jangan dong Mila" kata Bagas.


"Gak apa-apa mas, aku sudah tak ingin lagi. jauh juga kalau harus putar balik" kata Mila.


"Ya baiklah" jawab Bagas tersenyum.


"Lagi pula aku masih kenyang juga" kata Mila.


"Yakin?" Tanya Bagas.


"Iya"


Saat itu keheningan kembali terasa keduanya tampak terdiam kembali satu sama lain.


Saat mereka sampai di depan gang Bagas pun memberhentikan mobilnya, dan membukakan pintu mobil untuk Mila.


Bagas bukan hanya mengantar di depan saja, tapi juga ke dalam gang rumah Mila.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya mereka sampai.


Bagas pun terdiam menatap Mila dengan senyum simpul, tak bisa berkata banyak tapi hatinya tampak ingin bicara. Ada hal yang ia rasakan dan mengungkapkan soal rasa di dalam hatinya.


Namun tertahan...


Karena saat itu dirinya merasa malu dan gengsi, Bagas pun malah terlihat sudah tampak salah tingkah dan bingung saat itu.


Bagas pun heran kenapa bisa salah tingkah begini di depan Mila, enggan untuk pergi tapi dirinya juga tak tahu harus bagaimana.


Sampai Bagas sendiri bingung harus bagaimana dia memulai.


Debaran dada itu sangat terasa, hingga tangan Bagas hanya bisa mengepal saja.


Apalagi bila melihat senyuman Mila yang tampak manis rasanya semakin sulit Bagas.


"Kenapa diam, oh ya kamu nungguin jaket kamu yang aku pakai maaf aku lupa" kata Mila melepaskan jaketnya.


"Bukan, bukan itu" kata Bagas.


"Terus?"


Seketika Bagas pun menarik tubuh Mila untuk lebih dekat dengannya dengan maksud ingin mencium kening Mila.


Sementara itu ..


Dengan Mila..


Mila pun seketika menatap Bagas lekat. Ada perasan yang sangat dalam dan getaran yang begitu terasa yang tengah Mila rasakan. Mungkin kah diri Mila mencintai pria dihadapannya kini. Namun Mila tak terburu-buru mengatakan bahwa itu adalah cinta, pengalaman Mila saat dirinya di khianati oleh Reza membuat Mila harus berfikir ulang tentang cinta yang tak selalu nyata, bahkan ternyata semu dan sakit.


Mila pun tampak menghindar saat keningnya ingin mendapat sebuah kecupan hangat dari Bagas.


"Lepaskan"


"Kenapa menghindar" tanya Bagas.


Mila pun hanya menggelengkan kepala.


Bahkan ternyata Mila takut untuk jatuh cinta kembali, pengalaman pahit yang ternyata Mila rasakan membuat Mila takut bahwa Bagas akan seperti Reza.


"Pulanglah" pinta Mila.


"Aku masih mau disini"


"Pulanglah, permisi.." kata Mila yang saat itu beranjak pergi.


Tak ada kata cinta dan ucapan apa-apa lagi yang Mila katakan.


Hingga saat Mila ingin pergi ke dalam, Bagas pun menarik tangan Mila.


Lalu Bagas pun menarik Mila dan berusaha memeluk Mila, namun Mila menahan dengan kedua tangannya agar Bagas tidak memeluk dirinya.


"Lepaskan aku mas kita belum" kata Mila yang meminta lepas.


"kita belum menikah" kata Bagas.


"Iya kita belum halal mas"


"Baiklah Mila aku hargai itu, aku siap menunggu" jawab Bagas tersenyum.


Bagas pun terdiam dan menghargai Mila saat itu lalu Bagas pun berpamitan untuk pergi.


"Aku pulang dulu ya"


Hingga saat Mila masuk ke dalam Mila pun tertunduk dengan perasaannya sendiri.


.


Mencoba menghela napas dengan semua yang terjadi, berharap jika kebaikan Bagas memang tulus ikhlas tidak seperti Reza yang menjanjikan cinta namun berkahir dusta dan kebencian.

__ADS_1


Mila menarik napas lagi lalu mengambil cincin yang ada di dalam laci yang Bagas berikan.


Mila merasa sakit bila mengingat semua, namun ia tak bisa hindari bahwa dirinya sebenernya ada getaran getaran yang ada dihati.


Hingga cincin yang ada di laci saat ia pakai kembali ia tampak menciumnya, hanya itu yang bisa Mila lakukan saat ini. Demi mengobati rasa yang menggebu didada.


.


.


.


.


Hingga 20 menit kemudian..


Ketukan pintu terdengar.


Tok..


Tok..


Tok..


Mila heran siapa yang datang saat itu.


Mila pun seketika membuka pintu dan melihat siapa yang datang saat itu, saat Mila melihat ternyata itu adalah Bagas.


Bagas...


Mila tak percaya jika Bagas datang lagi dengan membawa sesuatu ditangannya.


"Maaf aku kembali" kata Bagas.


"Ya mas Bagas ada apa?" Tanya Mila.


"Ini nasi goreng yang kamu mau"


Mila pun kaget.


"Untuk apa kamu membelinya" kata Mila.


"Aku sengaja, karena aku tahu kamu ingin" kata Bagas.


"Mas.. harusnya tidak usah ini merepotkan mu" kata Mila tak enak hati dengan Bagas yang kembali.


"Kamu sedang hamil ini untuk mu dan anak kita" kata Bagas.


Sontak saja apa yang menjadi ucapan Bagas membuat Mila terharu dan tak menyangka jika Bagas mengatakannya.


Anak kita...


Mila pun menangis tersedu dengan apa yang Bagas katakan.


Bagas yang pernah mengatakan agar Mila menggugurkan kandungannya kini ia menerima kehadirannya.


Bagas pun heran kenapa Mila menangis sampai seperti itu padahal Bagas tak berbuat salah sedikit pun.


"Hey hey kamu kenapa menangis" kata Mila yang menjatuhkan air matanya, menangis sambil terisak membuat Bagas bingung.


"Aku terharu mas" Mila mengatakan sambil menangis.


"Kenapa?"


"Kamu mengatakan anak kita, Itu sungguh membuat-" ucap Mila yang tak melanjutkan kata ia langsung menangis lagi.


Bagas pun tersenyum lembut pada Mila memegang tangan Mila lalu menciumnya.


Mila malah semakin menangis terisak.

__ADS_1


"Cup cup cup jangan nangis ya" kata Bagas menghapus air mata Mila dengan ke dua tangannya.


Lalu setelah itu Bagas pun langsung pulang karena tak enak dengan tetangga karena waktu memang sudah larut.


__ADS_2