
Setelah kepergian dari pak Adnan dan Ibu Alina dari kediaman keluarga Husein. Mila pun hanya bisa terdiam dan tak banyak bicara lagi.
Mila pun hanya bisa sabar dengan semua yang menerpanya kali ini.
Umi Saidah pun tampak pergi meninggalkan Mila saat itu, hingga setelah itu Mila pun naik ke lantai atas untuk ke kamar. Sampai pada saat dilantai atas Mila pun melihat sebuah brosur perjalan ke Bali.
Seketika Mila mencoba berfikir apakah Reza akan mengajak dirinya berbulan madu setelah ini seketika Mila pun tersenyum saat melihat daftar perjalanan yang berada di brosur itu.
Ada deretan perjalanan yang memang pasti akan indah saat dilalui bersama.
Dan tak terasa saat itu Mila membaca surat kecil dibelakang brosur itu. Sebuah surat yang Reza tulis untuk Mila.
"To:Mila istriku"
Mila pun tersenyum saat nama to Mila istriku ditulis disebuah amplop kecil.
Mila pun membuka secara perlahan surat itu yang memang ungkapan isi hati dari Reza.
To Mila:
Kita tak perlu bersama untuk beberapa hari kedepan, kita tak perlu lagi hidup bersama untuk beberapa waktu ke depan.
Dirimu memang tak salah dalam hal ini, tapi aku merasa tak bisa terima semua dalam hal ini. Aku tak menyuruh mu pergi dalam hidupku, karena aku terlalu jahat jika kita berpisah terlalu cepat. Hanya saja aku tak bisa jadi seperti yang dulu.
Sakit Mila, sakit...
Disaat aku tahu kamu tak suci lagi terlebih itu di malam pertama saat kita menikah.
Sakit ...
Meski itu bukan kesalahan kamu Mila tapi tetap aku tak bisa terima ini..
Bulan madu yang sudah aku beli tiketnya terpaksa, aku batalkan. Terpaksa aku batalkan semuanya.
Ini bukan lah pernikahan impian kita.. kesalahan orang lain namun aku yang harus emban semuanya. Disaat orang mampu merasakan tubuh mu tanpa ada tersisa. Disaat orang lain dapat merasakan kenikmatan tubuh mu saat itulah aku tak bisa terima. Aku tak bisa terima disaat dirimu cuma wanita bekasan dari pria lain. Wanita bekas itu seperti pukulan untuk diriku Mila. Aku tidak bisa terima disaat aku tahu dirimu bekas orang lain.
Jangan cari aku Mila aku pergi untuk tenangkan hati ku dan itu tak tahu kapan...
Mila pun menjatuhkan air matanya saat Reza mengatakan hal paling sakit yaitu cuma wanita bekasan.
Wanita bekasan..
Mila pun langsung memejamkan matanya ari matanya tak terasa jatuh di pipi, begitu sakit disaat dirinya hanya wanita bekasan.
__ADS_1
"Aku ini istri mu, mengapa kamu tega menyebut ku wanita bekas. Padahal seharusnya dalam hal berat dan tersulit dalam hidupku saat ini kamu dapat menemani aku A Reza" ucap Mila sambil memegang kertas ditangan dan menahan rasa sakit didalam hati.
Hingga saat siang hari kemudian Mila pun tampak membantu umi Saidah dirumah dengan cara mengepel lantai dan membantu segela pekerjaan rumah. Mila sadar dirinya hanya menumpang saat itu, Mila pun menatap Poto keluarga yang dipajang diruang tengah. Dan ada satu Poto yang Mila tak tahu dia siapa? Sepertinya itu adalah kakak kandung dari Reza. Ada sebuah foto pernikahan yang begitu tampak bagus saat itu berada diruang tengah. Tanpa sadar Mila menanyakan siapa difoto itu pada umi Saidah.
"Umi ini foto nikahan siapa?" Tanya Mila yang saat itu sedang memegang gagang pel.
"Itu Kakaknya Reza, namanya Raka. Istrinya cantik kan" kata umi Saidah.
"Iya umi cantik tapi kenapa saat nikahan aku dan a Reza. Mas Raka dan istrinya tidak datang umi" tanya Mila dengan polosnya.
"Oh jelas umi tidak mengundangnya"
"Kenapa umi" tanya Mila.
"Karena umi belum yakin sama kamu, makanya pas nikahan kamu cuma tetangga aja yang umi undang. keyakinan umi pun terbukti kalau kejadian buruk itu menimpa mu. Umi merasa kamu tak pantas mendapat anak saya Reza" kata umi Saidah.
Mila pun yang tadinya biasa saja kembali sedih dengan ucapan umi Saidah.
"Istrinya namanya Lestari, lulusan S2. Punya pekerjaan bagus dan memiliki latar belakang yang baik dan memiliki bibit yang bagus juga. Raka tak pernah salah dalam memilih tidak seperti Reza yang menikahi wanita seperti membeli kucing dalam karung tidak jelas latar belakangnya"ucap umi Saidah.
Perasaan Mila pun hancur berikut kenyataan pahit yang ada.
Perasaan Mila pun sakit berikut hatinya yang hancur mendengar apa yang dituturkan oleh umi Saidah.
"Mana ada Mila, seorang ibu yang Sudi anaknya menikahi seorang pembunuh" ungkap Umi Saidah lantang .
"Tapi bukan Mila yang membunuh umi"
"Kalau memang bukan, untuk apa keluarga itu menuduh orang sembarangan. Dan saat kamu menusuk pria itu bukankah betapanya berani kamu saat melakukan hal diluar batas"
"Umi, Mila tidak sengaja"
"Sengaja atau tidak kenyataan yang ada adalah iya. Kamu melukai pria itu kan sampai koma. Kalau sampai pria itu mati, itu artinya kamu pembunuhnya" kata Umi Saidah.
Air mata Mila pun menggenang Dimata.
Mila pun tak kuasa dengan ucapan umi Saidah, Mila pun langsung terburu-buru menyelesaikan pekerjaan rumahnya dengan perasaan sedihnya.
Saat itu hanya berusaha untuk tegar. Dalam hal ini Mila tak mau banyak bicara biarlah waktu yang membuktikan jika Mila memang tak bersalah.
Hingga saat siang itu Mila pun disuruh makan siang oleh umi Saidah.
Mila yang masih sibuk dengan pekerjaan rumah. Umi tampak menyuruh Mila makan siang.
__ADS_1
"Mila"
"Ya umi" sahut Mila.
"Kamu bisa makan dulu"
"Ya umi"
Lalu Mila pun makan dengan hidangan yang sudah disiapkan di meja makan saat itu. Mila pun dengan lahap memakan yang sudah disediakan oleh umi Saidah saat itu.
Menu yang tersaji adalah ayam saus mentega, capcay dan kentang ampela. Menu yang cukup mewah bagi Mila saat itu. Mila pun memakannya..
"Bagaimana enak?" Tanya umi Saidah.
"Enak umi enak sekali" ucap Mila.
"Kamu tahu?"
"Apa umi"
"Ini masakan Arini loh, Arini yang memberikannya tadi"
Ucapan umi Saidah pun membuat Mila tak kuasa kaget tak percaya dengan semuanya.
"Arini?" Ungkap Mila seketika mematung mendengar nama Arini disebut.
"Iya"
Mila pun yang tadinya nikmat menyantap seolah sulit untuk menelan lagi saat nama Arini yang tak ia sangka disebut.
"Arini itu ya, sudah baik, cantik dan pintar masak juga. Pria manapun pasti beruntung mendapatkan wanita seperti dirinya. Punya latar belakang yang baik, keluarga yang baik"
Mila pun mengangguk menahan perasaannya yang begitu terasa didalam hati Mila.
Mila pun yang tadinya bisa menikmati santap siang itu malah merasa sakit termat dalam hati Mila.
"Andai saja ya umi, andaikan saja Mila bisa seperti Arini yang begitu cantik, baik dan pintar masak" ucap Mila yang tak kuasa menahan kesedihan yang ada.
Tanpa sadar air mata Mila pun terjatuh saat itu.
Mila pun berlari ke kamar dan menahan semua rasa sakit yang ada saat itu. Saat dirinya tak ada baiknya, disaat dirinya dibandingkan dengan wanita yang punya segalanya.
Tidak seperti Mila yang memiliki banyak kekurangan dan tak berguna.
__ADS_1
Mila pun hanya bisa menangis dikamar saat itu.