Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Makanan mewah


__ADS_3

Bagas yang sudah sampai di negara Singapura itu pun lansung cek in di sebuah hotel yang ada disana, sesampainya disana Bagas pun langsung mencoba menghubungi sang istri yang berada di tanah air. Berulang kali Bagas menelpon namun masih tak ada jawaban. Hingga Bagas pun berulang kali menelpon masih tak ada jawaban. Bagas pun terpejam matanya menatap sang istri begitu sulit di hubungi.


Hingga Bagas pun menelpon sang mama yang berada di rumah untuk memastikan bahwa sang istri baik-baik saja dengan tangan terasa gemas karena kerinduan meninggalkan sang istri Bagas pun menelpon, dan Alina pun mengangkat.


"Ma, ini Bagas" ucap Bagas.


"Ya kenapa?"


"Mana Mila, kenapa dirinya tak bisa aku hubungi" Kata bagas yang cemas pada sang istri.


"Dia sedang tidur di kamar, kerjaan istri kamu itu ya tidur mulu di kamar. Kaya gak ada kerjaan lain aja" kata Alina berkilah.


"Betul kah begitu mah" tanya Bagas.


"Iya" jawab Alina.


Alina pun membohongi Bagas saat itu, padahal di balik itu semua Alina memperlakukan Mila bak babu. Semua pekerjaan rumah Mila yang mengerjakan dan semua pembantu dilarang untuk membantu Mila.


"Kalau begitu bilang Mila tolong jawab telepon dari Bagas ma"


"Eh mama lupa bilang kalau handphone istri kamu kecopetan"


"Kalau gitu beliin yang baru ma" kata Bagas.


"Udah katanya gak usah mau belinya pas kamu pulang aja minta beliin yang mahal gak mau yang jelek" kata Alina lagi-lagi membohongi Bagas.


"Yasudah bilang nanti Bagas beliin melalui online"


"Tapi dia minta maunya beli langsung gak mau online"


"Masa sih"


"Iya, udah tunggu kamu aja" kata Alina yang takut ketahuan kalau dia menyiksa Mila dengan cara yang ia mau.


Alina ingin sekali membalas dendam pada wanita yang kini menjadi istri dari putranya.


"Yaudah kalau udah bangun beritahu Bagas ya ma" kata Bagas meminta info tentang istrinya.


"Ya"


"Satu lagi jaga istri Bagas ma, jaga kandungannya dia sedang hamil"


"Halah gak usah dijaga sudah terjaga, lah orang daritadi kerjaannya tidur terus. Gak ada kerjaan dia" kata Alina


Lalu bagas pun menutup telepon saat itu, ia pun termenung dengan ucapan sang mama.


Di lain sisi..


.


.

__ADS_1


Mila sedang mengepel seluruh ruangan di sana, tanpa tersisa dan terkecuali. Mila tak diberikan jeda untuk beristirahat, Mila tak ada hentinya bekerja saat itu.


Hingga saat itu Alina pun menyiapkan hidangan yang begitu menggugah selera berada diatas meja makan.


Menu restoran yang begitu terpampang begitu lezat. Alina sengaja membelinya untuk ia pajang.


"Mila sini!!!" teriak Alina.


Mila pun tak lantas hadir karena sibuk dengan lantai yang sedang ia pel.


"Miiiiiillllllaaaaaa.....!!!!!!!" Teriak Alina keras.


Mila pun langsung bergegas berlari pada teriakan sang ibu mertua.


Ketika Mila datang sumpah serapah itu pun dilayangkan.


"Dasar tuli!!! Gak punya kuping" ketus Alina.


"Punya ma" jawab Mila.


"Kalu punya tuh di pake jangan di tempel" kata Alina kesal.


"Ya ma"


"Duduk buruan sini" kata Alina yang mempersilahkan Mila duduk.


"Wah, enak banget nih pasti buat aku" kata Mila yang tersenyum karena akhirnya dia di ajak makan. Karena dirinya memang belum makan siang. Dan langsung mengambil sendok.


"Foto m"


"Iya cerewet!!!" Kata Alina emosi. "senyum ya" perintah Alina yang menyuruh Mila duduk dengan hidangan di depannya.


"Senyum awas kalau gak senyum" ancam Alina.


Mila pun senyum..


Cekrekk....


"Bagus banget fotonya" kata Alina mengirim foto Mila ke pada Bagas.


Alina pun tersenyum saat Alina mampu mengirim foto pada Bagas seolah Mila yang sedang bahagia di manja padahal berada di gubuk derita.


"Udah" kata Alina menyuruh mila pergi.


"Hah udah ma" kata Mila yang tak percaya dengan ucapan Sang mama mertua.


"Iya udah!!!"


"Maksudnya?" Tanya Mila heran.


"Udah fotonya, kamu boleh pergi" kata Alina yang membulat mata tajam.

__ADS_1


"Terus ini makanannya"


"Ya bukan buat kamu!!! Buat saya makan!!" Kata Alina kesal.


"Terus Mila makan apa ma?"


"Makan angin" jawab Mila ketus.


"Angin ma?" Ucap Mila kaget.


"Ah udah sana sana pergi"


"Ya Allah ma"


"Pergi!!!, Gak ada buat kamu. Kamu nanti setelah saya makan, kali aja ada sisa wlaupun cuma tulang" Kata Alina kesal.


Lalu Mila pun menatap dengan tatapan sedih memegang perutnya yang sudah keroncongan namun ia tak diperbolehkan makan. Mila pun hanya menelan salivanya dalam.


Hingga Mila akhirnya mengambil air putih dan meminumnya untuk mengurangi rasa lapar yang ada meski sebenernya air putih yang ia minum tak bisa menahan rasa lapar.


"Syukurin perempuan edan, gak usah makan aja. Mati sekalian kamu Mila, emang enak aku siksa kamu" kata Alina tersenyum sinis.


Mila pun hanya tertunduk dan melanjutkan pekerjaan rumahnya.


.


.


.


.


Sementara itu Bagas pun yang menerima pesan dari sang mama tersenyum melihat Mila yang sedang senyum di meja makan. Berharap jika Mila memang benar baik di sana.


Hingga pada akhirnya sebuah panggilan masuk yaitu orang suruhan Bagas untuk mengetahui soal pembunuhan sang adik.


"Bos"


"Ya, bagaimana?" Tanya Bagas.


"Saya sudah menemukan saksi kunci, kasus pembunuhan itu"


"Siapa orangnya"


"Masih dalam pengejaran karena dia berada di luar negeri saat ini"


"Kejar terus jangan sampai lolos, berapapun itu saya akan bayar"


"Baik bos"


Mila aku akan bantu kamu selesaikan ini semua. Apapun kenyataannya aku akan terima Mila. Dan aku harus yakin kamu bukan lah dalang di balik semua ini.. batin Bagas.

__ADS_1


__ADS_2