Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Alina


__ADS_3

Mata Mila pun terbuka saat Bagas menatap Mila yang tanpa sengaja tertidur di samping suaminya kini. Mila pun menyesap bibir Bagas dengan senyumannya sambil tersenyum, dengan mata yang terbuka namun tak sempurna.


"Sepertinya kamu lelah sekali"


Mila pun tersenyum.


"Tidak ada yang lebih lelah selain hari-hari ku yang di dera ujian bertubi, hanya dengan mimpi aku melupakan bahwa aku merasakan sakit yang paling dalam" kata Mila tersenyum.


"Lalu untuk apa kamu tersenyum"


"Karena aku melihat dirimu, mungkin kamu adalah senyuman ku. Meski terkadang masih ada rasa pahit, tapi aku akan tetap tersenyum pada mu"


"Agar apa?"


"Agar kamu tersenyum juga pada ku" kata Mila menatap sang suami dan tidur di dadanya kini.


"Terimakasih atas semuanya" kata Mila.


"Untuk apa terimakasih, bukannya aku sudah memberikan luka" kata Bagas saat itu menatap Mila.


"Selain luka kamu pun juga memberikan aku cinta, cinta yang tulus" kata Mila tersenyum.


Bagas pun tersenyum.


"Sejak kapan kamu menjadi puitis" kata Bagas.


"Ya hidup ini terlalu serius untuk di ajak bercanda, jadi kita sekali kali bicara dari hati ke hati, setelah skin to skin" kata Mila tersenyum.


"Bisa aja, sih cantik ini" kata Bagas memuji. "Apa kamu mau menambah permainan lagi"


"Sudah cukup, apakah kamu tega menengok terus bayi dalam perut ini" kata Mila membelai pipi Bagas dengan senyuman yang menggoda. Bagas pun tersenyum dan mencium perlahan leher Mila. Hingga kini ke bagian dada.


"Heeem yaudah kalau gitu kita mandi bareng ya" kata Bagas tersenyum nakal.


"Mesum" kata Mila mengerucutkan bibirnya.


"Hehe gak apa-apa dong, aku yang sabunin badan kamu ya. Kamu pasrah aja terima bersih nanti semua badan mu aku bersihkan" kata Bagas tersenyum.


"Pakai apa bersihinnya?" Kata Mila.


"Pakai sabun sama tangan lah, emang maunya pakai apa?"


"Yaudah terserah mas"


Lalu Bagas pun menggendong Mila dan membawa Mila untuk mandi bersama, hingga Bagas kembali melihat tubuh Mila tanpa sehelai apapun itu.


Bagas pun dengan cepat membelai tubuh Mila dengan lembut dan Bagas pun mulai menyabuni tubuh Mila dari bawah dan ke atas. Mata Mila sontak terpejam saat tangan nakal Bagas mulai menyabuni dan terlihat Bagas yang menyalakan shower dengan setelan air hangat. Air pun mengalir dari tubuh Mila dari atas hingga bawah, begitu terasa hangat di tubuh.


Hingga akhirnya Bagas yang tak tahan lagi, lansung mencium leher Mila dalam. Dan menjurus ke mulut, mereka pun saling berciuman di atas shower yang menyala diatas kepala masing-masing.


Bagas membelai lembut tubuh Mila dan menikmati ciuman itu, hingga permainan lidah itu mereka lakukan sangat dalam. Bagas pun memeluk erat Mila, begitu merasakan dua gunung kembar menempel pada tubuhnya. Bagas terus menerus memainkan lidahnya dan membuat dirinya tidak tahan pada akhirnya Bagas pun menggendong Mila dengan cepat dan membawanya ke kasur lagi untuk menikmati tubuh Mila.


Mila yang tanpa pakaian itu dibaringkan lagi di kasur empuknya, bahkan dirinya belum handukan Bagas sudah siap menyerang Mila lagi dengan pusaka miliknya. Sehingga membuat Bagas memainkan perannya lagi sebagai pria dewasa yang memiliki hasrat terdalam pada sang istri.


Mmmmpppppp....


Mmppp muuaachh..


Ciuman terdalam mereka saling menikmati hingga Bagas melakukan nya lagi.


Hingga keduanya melepaskan satu sama lain pada jalur perkawinan yang mereka lakukan.


Keduanya saling mengerang satu sama lain lagi, bahkan menumpahkan semua kepada wanita nya itu.


"Mas aku mandi lagi dong ini" kata Mila dengan wajah yang terlihat sedih namun mode manja.

__ADS_1


"Mandi saja air kan banyak, apa perlu aku mandiin" kata Bagas.


"Ya ampun mas, kalau kamu yang mandiin sampenya ke kasur lagi ke kasur lagi" kata Mila yang merasa lelah mandi lagi, dan main lagi.


"Ya begitulah kalau jadi istriku, selama kamu ada didepan mataku ya aku apa-apain" kata Bagas.


"Sadis uhhhhh heeemm ahhhh" kata Mila yang mengeluarkan suara indahnya karena Bagas terus melakukan hal yang membuat Mila merem melek.


"Anggap aja tidak" kata Bagas yang sedang menggigit kecil buah dada Mila bergantian


"Ishhhh mas sakit kamu seperti bayi besar yang melakukan itu..." Kata Mila.


Bagas terus saja melakukan hingga keduanya melakukan pelepasan lagi.


Keduanya pun menarik napas lagi setelah keduanya sudah pada titik yang mereka inginkan.


"Huuufff..." Helaan napas tedengar dari Mila yang langsung bangun dan mandi lagi.


Mila kali ini mandi sendiri tak mau diganggu oleh sang suami mengingat jika mandi bersama Bagas bukannya mandi malah kembali lagi melakukan itu lagi dan lagi.


Mata Bagas selalu membulat sempurna melihat aurat sang isteri yang selalu membangkitkan gairah dan tanpa celah.


Suara Mila yang bagus dan sangat feminim. Rambut Mila yang warna coklat dan panjang sepinggang itu, paras cantik dan ayu membuat siapa saja melihat Mila sempurna tanpa celah.


Ditambah badan Mila yang memang tinggi semampai dan tubuhnya yang sintal membuat Bagas semakin tergoda.


Mila memang hampir tak pernah memotong rambut panjangnya, kalau pun dipotong tak pernah sampai Bondol.


Sadar Mila yang bekerja diatas panggung hiburan itu, selain suara yang ia jual. Penampilan pun seperti sebuah modal utama dirinya dalam menarik masyarakat.


Rata-rata rambut panjang itu seperti sebuah simbol kecantikan dari seorang wanita apalagi untuk Mila yang bekerja diatas panggung. Kalau saja dirinya bukan bekerja di dunia hiburan mungkin Mila lebih memilih untuk pangkas rambutnya. Tapi kembali lagi, lebih bagus jika di kerudung karena lebih terjaga. Dan merupakan kewajiban umat muslim.


Hingga setelah selesai dari kamar mandi dan memakai baju yang layak ia pakai di rumah mertua Mila pun tampak mengeringkan rambut nya dengan shower sambil bercermin.


"Niat banget ya bawa shower kesini, takut diliat abis begituan ya" kata Bagas tersenyum melihat Mila.


"Aku haus mas" kata Mila.


"Ambil aja di dapur ada susu kamu ambil juga untuk ku" titah Bagas.


"Susu? Aku baru ingat aku belum minum susu hamil. Kamu mau juga gak susu hamil" kata Mila menawarkan susu hamil kepada Bagas.


"Gak ah susu kamu aja" goda bagas pada Mila.


"Mulai deh" kata Mila. "Yaudah aku ambil buat kamu ya"


"Aku aja Mil, yang ambil ya" kata Bagas.


"Gak apa-apa, aku aja ya mas.. kamu tunggu sini saja" kata Mila saat itu tersenyum pada Bagas.


Mila sebenernya takut kalau harus keluar kamar apalagi jika bertemu dengan mama mertuanya. Tapi Mila tak mungkin bersembunyi terus di dalam kamar untuk menutupi rasa takut yang ia rasakan.


Mila pun memberanikan dirinya untuk turun ke dapur membuat susu untuk Bagas dan untuk dirinya.


Mila pun perlahan dengan pasti jalan menuju dapur dan Mila serasa masuk ke dalam rumah hantu, Mila takut ada mertuanya yang tiba-tiba datang dengan menggertak atau mungkin bisa saja marah-marah tanpa sebab.


Namun Mila berusaha untuk tetap berusaha tenang.


Hingga ia sampai di dapur.


Hingga Mila yang berjalan tanpa suara itu tetap saja mertuanya datang dengan tatapan sinis melihat Mila yang membuat susu. Mila pun tetap melanjutkan meski terlihat Alina tak suka atas keberadaan Mila.


"Buat apa kamu?" Tanya Alina.


"Buat susu ma" kata Mila menunduk.

__ADS_1


"Buat siapa?"


"Saya satu, mas Bagas satu Tan eh ma" kata Mila tegang saat itu.


"Yang mana buat kamu" tanya Alina.


"Yang susu coklat ma"


Lalu Alina pun menarik susu yang Mila buat dan langsung membuangnya ke wastafel.


"Kenapa di buang" tanya Mila sedih.


Alina pun tak menjawab ia hanya kesal dengan diri Mila dihadapannya kini.


"Hebat kamu ya" kata Alina.


"Hebat bagaimana ma?"


"Hebat pura-pura hamil anak Bagas, demi bisa tinggal disini. Dan hebatnya lagi anak saya tidak mempersoalkan siapa kamu padahal kamu jelas cuma pembunuh" kata Alina kesal.


"Ma, anak yang Mila kandung anak mas Bagas ma, cucu mama" kata Mila sedih.


"Cucu, apa katamu cucu!!! Sampai kapan pun saya tidak akan pernah anggap anak pembawa sial itu cucu saya" kata Alina.


"Sial, nggak ma gak sial" kata Mila sedih sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya anak itu pembawa sial seperti kamu" kata Alina sinis.


"Maa..."


"Dasar wanita haram. wanita edan pembawa sial" kata Alina.


"Sampai kapan pun saya tidak akan menganggap mu sebagai menantu saya berikut dengan anak haram yang kamu kandung"


Ucapan Alina seperti menusuk ke relung hati Mila terdalam, uacapan tentang Mila yang mengandung anak haram seperti sebuah tusukan luka yang sangat dalam. Hingga tanpa terasa air mata Mila terjatuh karena ucapan Alina yang memilukan.


Hingga ..


Saat itu ..


Bagas pun yang merasa heran dengan Mila yang lama datang itu lantas menemui Mila yang sedang dapur...


Dan melihat Mila yang sedang menunduk sambil menjatuhkan air matanya di hadapan Alina.


Mata Bagas pun membulat saat itu.


"Apa yang terjadi ma, kenapa Mila menangis, mama apakan Mila ma" ucap Bagas kesal melihat Mila yang menjatuhkan air matanya.


Mila pun masih menunduk tak menjawab.


"Mila kamu kenapa sayang, pasti mama yang sudah membuat mu sedih" Kata Bagas.


"Halah kamu baru sehari menikah saja sudah membela perempuan ini!!!!! Dia saja yang cengeng, kenapa nangis dasar lemah!!!" Ucap Alina kesal pada Mila.


"Ma.. kalau mama berani membuat Mila sedih, aku akan pergi dari sini" ancam Bagas.


"Kamu berani sekali sama mama" kata Alina kesal pada Bagas


"Ma, mulai sekarang terima Mila jangan mama sakiti dia bagaimana pun Mila adalah istri Bagas" bela Bagas. Bagas benar mengancam mamanya saat itu terlihat dari sorotan mata yang tajam.


"Baiklah jangan pergi, tetap lah disini.. mama tidak bermaksud begitu, mama tidak mau kamu pergi Bagas"


"Baiklah, untuk kali ini Bagas maafin mama tapi ingat Bagas tak mau mama sakiti Mila lagi" kata bagas membawa Mila ke kamar.


Sedang Alina menatap kesal pada Mila.

__ADS_1


Sialan kamu perempuan edan ternyata anakku benar-benar peduli padamu, sialan,batin Alina kesal.


__ADS_2