Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Tenanglah ini tidak akan lama


__ADS_3

Hingga saat itu ...


Bagas pun mulai menelusuri dan menindaklanjuti semua yang ada. Meski hingga waktu yang bergulir ternyata belum mendapatkan keterangan yang ada, sulit untuk mencari siapa penyebab di balik perkara. Karena kenyataan yang ada pelaku selain menghilangkan barang bukti, saksi mata pun kini sudah entah kemana. Bagas pun mengehela napas kasarnya saat itu, ia tak tahu harus bagaimana dengan semua misteri yang ada. Akankah terpecahkan atau selamanya akan menjadi misteri.


Dalam diam Bagas pun menelaah semua yang ada.


Hingga saat pagi hari kebetulan ini adalah hari Minggu dan Bagas berencana untuk mengajak Mila berjalan pagi di sebuah taman dekat rumah dan sekalian menikmati udara pagi yang begitu terasa menyejukkan dalam suasana hangat dan romantis itu Mila terus tersenyum memandang Bagas lekat dan terkagum melihat sang suami tampannya.


Meski perbedaan umur yang lumayan jauh tapi Mila bahagia karena Bagas perwakilan dari suami idaman yang Mila mau, meskipun diawali dengan kisah pilu yang terasa pahit.


Hingga kini Bagas yang menatap Mila heran mengapa hanya senyum yang dari tadi terpancar dari sang istri.


"Kenapa senyum-senyum" tanya bagus yang memegang tangan Mila dan merapihkan rambut Mila yang agak berantakan tertiup angin.


"Senyum itu ibadah"


"Selain ibadah untuk apa lagi?"


"Untuk menandakan sebuah rasa bahagia"


"Dalam hal apa?"


"Memiliki pasangan yang baik dan tampan seperti mu" kata Mila yang tersenyum berseri.


Bagas pun tersenyum lalu mengenang tangan Mila dan menciumnya.


"Istri Soleha ku ternyata bisa gombal juga" kata Bagas tersenyum.

__ADS_1


"Emang aku Soleha ya"


"Ya lumayan InsyaAllah kamu bisa kok jadi istri yang Soleha" kata Bagas yang menatap Mila lekat.


"Amin"jawab Mila.


"Kira-kira anak kita lagi apa ya?" Tanya Bagas yang menunduk lalu mendekatkan kupingnya ke perut Mila.


"Sepertinya dia lagi bahagia karena papa dan mamanya bersama"jawab Mila.


"Jadi gak sabar menunggu kelahiran buah cinta kita" jawab Bagas sambil tersenyum membelai perut Mila yang saat ini usia kandungannya sudah menginjak 4 bulan.


"Nanti gak usah di USG ya" kata Bagas.


"Kenapa mas?"


"Aku juga maunya sih gitu, tapi enaknya di USG mas. Kan biar tahu semua"


"Iya cuma cukup tahu keadaanya aja, jangan kelaminnya" kata Bagas.


"Tapi tahu juga gak apa-apa mas. Kan bisa prepare buat kebutuhan bayinya, dari mulai baju, selimut, bedong dan segala macamnya biar pas lahir sesuai sama jenis kelamin menurut aku sih" kata Mila membayangkan jika anaknya lahir.


"Iya sih, tapi terserah kamu aja asal kamu bahagia. Mudah-mudahan anaknya kembar laki perempuan" kata Bagas.


"Hehee amin, iya abis itu aku enak gak usah lahiran lagi kan sudah lengkap"


"Eh kan bikinnya tiap hari yakin tuh gak hamil lagi" sindir Bagas yang kini beralih mencium pipi Mila.

__ADS_1


"Ehhmm ya kita liat nanti aja ya mas, yang penting sekarang dulu semoga bayi kita sehat" kata Mila.


"Iya sayang" kata Bagas mendekap Mila di bahu kanannya.


Hingga saat itu ada sesuatu yang Bagas ingin utarakan karena ada tugas kantor yang mengharuskan dirinya ke Singapura untuk beberapa hari ke depan.


"Sayang?" Kata Bagas membelai lembut rambut sang istri.


"Ya.."


"Lusa aku ada tugas ke Singapura, aku harap kamu bisa jaga diri kamu" kata Bagas memegang tangan.


"Lalu bagaimana jika aku rindu" kata Mila.


"Kamu bisa video call atau telepon"


Seketika hati Mila pun perih mendengar kata itu yang terucap dari sang suami. Mila bukan manja juga bukan tidak mau, hanya saja hingga saat ini pundak ternyaman untuk Mila bersandar adalah pundak suaminya saat ini.


"Kamu kenapa?" Tanya Bagas yang melihat Mila yang mendadak tak baik-baik saja.


"Aku takut di tinggal sendirian disini tanpa mu" kata Mila menunduk.


"Tenang sayang aku akan setia"


"Lebih dari itu banyak hal yang aku takuti" kata Mila sedih.


"Tenanglah sayang gak lama ini cuma sebentar 4 hari aja yah sayang"

__ADS_1


Belum ditinggal pergi saja Mila sudah merasakan getir, takut serta khawatir bagaimana jika Bagas benar pergi. Dan Mila pasti merasa sedih yang begitu teramat melanda.


__ADS_2