
Mila pun berlari dengan langkah yang cepat sambil menangis memegang hidungnya yang terasa sakit dan perih.
Hidungnya berdarah setalah mendapat pukulan keras dari seorang pria yang tampak tega pada dirinya.
Meski dalam situasi Bagas masih dirawat di rumah sakit, tapi Bagas memukul Mila dengan tangan kerasnya. Seketika Mila merasakan perih.
Mengapa seorang pria sangat tega pada dirinya..
Mila yang sudah terenggut kesuciannya dan kali ini harus menanggung sebuah pukulan yang dilayangkan oleh Bagas. Mila pun menangis merasakan sakit yang teramat perih.
Hingga Mila yang langkah kakinya terhenti dilorong rumah sakit dengan air mata yang mengalir di pipi, bertemu dengan Jihan saat itu.
Jihan pun melihat Mila, alangkah kagetnya saat itu melihat Mila yang tengah menangis dan hidung yang tampak berdarah.
"Mila hidung mu, bagaimana bisa?" Tanya Jihan melihat Mila.
Mila tampak ketakutan.
"Aku harus pergi! Aku harus pergi!" Ucap Mila berulang kali dari mulutnya.
"Mila, tapi hidung mu berdarah, kamu kenapa?"
"Maaf aku harus pergi aku tak mau disini, permisi" kata Mila yang saat itu langsung pergi dan tak peduli kan Jihan.
"Kamu bisa tetap disini aku akan pulang, aku akan pulang sendiri saja"kata Mila yang lantas pergi.
"Mila tapi kamu?"
"Aku pulang, permisi!!!"
Mila pun pergi...
Jihan pun hanya tampak bingung saat itu.
__ADS_1
Mengapa Mila, pergi begitu saja. Ada apa dengannya? Tanya Jihan didalam hati. Langkahnya tetap ia lanjutkan dan menuju ruang rawat Bagas.
Bagas pun tampak kesal saat itu dan terlihat selang infus yang sudah copot dari tangannya.
Ya Bagas memang pindah rumah sakit saat ia koma dan itu semua tanpa sepengetahuan Mila. Hingga Bagas saat itu pindah ke rumah sakit di mana Mila tak tampak tahu, hingga kini dirinya kembali dipertemukan dalam keadaan yang tak terduga.
Bagas masih saja menyimpan amarah, tanpa berkaca pada dirinya yang sudah meninggalkan luka yang teramat dalam. Dan tak ada obat yang dapat menyembuhkan luka Mila, dan Bagas tak sadar akan hal itu.
Lalu Jihan pun masuk melihat Bagas dan memberikan sebuah roti di meja.
"Kak Bagas aku pulang duluan ya mau cek temanku dia sedang menangis" kata Jihan yang tampak panik dan berusaha pergi.
"Kenapa buru-buru"
"Kak temenku hidungnya berdarah" kata Jihan.
"Berdarah"
"Iya"
"Iya apa ini ada hubungannya dengan kak Bagas" kata Jihan.
Bagas pun mengepalkan tangannya dan membuang wajahnya.
"Kak apa yang sudah Kakak lakukan pada temen ku" kata Jihan yang tidak tahu menahu soal masa lalu Mila.
"Tidak ada urusannya dengan mu"
"Kalau memang iya tidak ada, lalu kenapa ia menangis saat keluar dari ruang ini"
"Sudah aku bilang itu bukan urusan mu"
"Apa Kakak yang memukul Mila"
__ADS_1
"Iya, kalau iya memang kenapa?"
"Tega Kakak sama perempuan" kata Jihan terlihat marah pada Bagas.
"Asal kamu tahu dia adalah pembunuh dari Karin" kata Bagas.
"Tidak mungkin"
"Itulah kenyataannya Jihan itu sebabnya Kakak marah padanya" kata Bagas.
"Aku tidak percaya? Aku tidak percaya"
"Terserah kamu percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya"
"Sekarang bukan apa yang dilakukan Mila pada saat itu, tapi apa yang kak Bagas lakukan setelah ini. Apa Kak Bagas kira dengan semua yang kak Bagas lakukan itu benar. Apa yang sudah kakak lakukan itu mungkin Kakak anggap benar dengan cara memukulnya namun itu salah besar, itu salah besar kak. Mungkin saat ini Kakak menganggap apa yang dilakukan oleh kak Bagas seolah hukuman tapi dengan cara yang salah Kaka membalas orang yang jahat. Saat ini pasti Mila sedang hancur.." kata Jihan lalu pergi.
Sementara itu Mila pun tampak pulang dengan naik angkot dengan hidung yang tampak memar dan berdarah, kenangan terburuk dalam hidup seolah kembali. Melihat Bagas didepan mata seolah hal terburuk untuk Mila, Mila tak kuasa menahan semua rasa sakit yang ada.
Air mata pun tampak mengalir mengapa hidupnya seperti ini.
Hingga dirinya pulang ke rumah dan terlihat umi yang melihat Mila dengan hidung yang tampak memar saat itu.
Mila pun masih tampak shock umi pun khawatir pada Mila dengan luka lebam di area hidungnya.
"Kamu kenapa Mila, hidung mu sini umi kompres ya" kata Umi.
Mila pun terdiam dengan air matanya.
"Mila gak nyangka umi saat tadi Mila bertemu pria itu lagi"
"Siapa?"
"Pria yang itu, tolong Mila umi. Mila takut dia datang lagi" kata Mila yang terlihat shock dan ketakutan" kata Mila tampak histeris takut jika dirinya akan dinodai lagi oleh pria yang bernama Bagas.
__ADS_1
"Umi tolong rumah ini di kunci rapat umi, Mila takut dia datang lagi. Mila kotor umi, Mila sudah kotor. Jangan sampai ia hadir lagi dan kerumah ini" kata Mila yang menutup semua pintu dari depan dan belakang. Hingga gordyen pun Mila tutup rapat, Mila pun ke kamar dan menutup tubuhnya dengan selimut sambil ketakutan dan tampak menangis.
Mila trauma berat dan takut hal buruk tentang bagas terulang kembali.