
Hingga saat kepulangan dari rumah Mila, Bagas pun tampak termenung dalam diam. Padahal baru saja bertemu dengan Mila namun hatinya seolah sangat rindu.
Apakah ada ikatan batin yang begitu menggebu antara dirinya dan Mila yang tengah mengandung anaknya. Hingga Bagas yang dalam perjalan pulang termenung sendiri dalam diam tak tahu mengapa ada keresahan dalam hatinya, apalagi mengingat Mila yang tadi bertemu dengan Reza. Bagas takut jika Reza ingin mengambil hati Mila lagi.
Apalagi yang Bagas tahu, Mila sangatlah mencintai Reza saat itu. Pasti ada sisa-sisa cinta yang mungkin tumbuh, Bagas tak ingin itu terjadi.
Hingga sebelum pergi dan kembali ke tempat Mila Bagas membelikan nasi goreng Bang Jalu untuk Mila.
"Bang pesan satu ya" kata Bagas.
"Berapa bungkus" tanya Bang Jalu.
"Satu aja, yang cepat ya. Yang spesial juga, yang enak, oke" kata Bagas tersenyum.
"Beli buat siapa mas?"
"Buat calon istri saya bang, dia suka banget sama nasi goreng abang"
"Siapa namanya bang?"
"Namanya Mila"
"Oh iya tahu, penyanyi yang cantik itu kan. Dia suka mampir makan disini buat makan nasi goreng biasanya bareng temen-temennya kalau abis pulang konser. Oh jadi ini calonnya neng Mila. Waah cocok banget"
"Masa sih?" Ucap Bagas.
"Iya, Mila nya cantik masnya ganteng juga. Serasi banget... Semoga berjodoh ya, kalau nikah undang-undang juga"
"Siap bang"
"Mila hebat juga ya cari suami mobilnya keren banget"
"Hehehe bisa aja bang saya mah cuma bawa, punya majikan" kata Bagas merendah.
"Ah masa iya, gak mungkin ah. Masa supir keren begini"
"emang supir gak boleh keren bang" ucap Bagas.
"Tapi saya mah gak percaya?"
Udah belum bang?" Tanya Bagas yang sudah tidak sabar memberikan nasi goreng itu pada Mila
"Udah"
"Berapa?"
"Dua puluh lima ribu" jawab Tukang nasi goreng itu.
Bagas pun memberikan uang sebesar seratus ribu rupiah.
"Ambil aja ya bang kembaliannya" kata Bagas pun pergi membawa nasi goreng itu.
Bagas melaju dengan mobil yang ia bawa, dengan perasaan dan penuh semangat.
Sambil memikirkan bagaimana ia kembali.
"Tadi Mila kan bilang aku gak boleh datang lagi. Terus pasti dia marah kalau aku datang. Aku bilang aja mau ambil jaketnya, kan jadi ada alasan tuh buat ketemu Mila lagi. Hahahaha tiap hari aja aku titip jaket di badannya biar bisa ketemu setiap saat. Aduuhh Mila kenapa aku ingin sekali ketemu dirimu lagi sih" kata Bagas sambil menyetir memikirkan Mila saat itu. Ada pikiran Bagas yang membuat dirinya tak tenang.
Ada sesuatu yang mengganjal tentang perasaannya pada diri Mila saat itu.
Waktu menunjukan pukul 9.00 malam saat itu, Bagas menembus dinginnya malam. Memang akhir-akhir ini hujan sering mengguyur jadi jalanan terasa basah karena hujan.
Waah dingin juga ya, andai aku udah sah. Sudah aku peluk cium Mila saat ini batin bagas mengingat Mila.
Hingga sesampai di tempat Mila, Bagas melihat kontrakan yang Mila tempati tapi terlihat gelap.
Bagas pun mengetuk pintu kontrakan Mila tapi tidak ada jawaban.
Tokk...
Tok...
Tok..
Hingga beberapa kali tapi masih tidak ada jawaban.
Hingga Bagas pun mencoba menelpon Mila saat itu, tapi sayangnya tidak aktif.
"Mila kamu kemana? Pergi kemana? Kenapa dirimu tak ada" kata Bagas saat itu terlihat resah.
Ya ampun Mila malem-malem kamu mau kemana sih, kerja atau kemana. kamu kemana sih, Aku bawain nasi goreng kesukaan kamu nih Mila. Batin Bagas.
Hingga Bagas yang duduk didepan pintu rumah Mila, ada tetangga yang melihat Bagas.
"Eh cari siapa?" Tanya ibu.
"Mila kemana ya"
"Tadi saya lihat dia sih pergi tapi gak tahu kemana, bawa tas"
"Hah bawa tas" kata Bagas kaget. "Mau kemana ya?"
"Nggak tahu, kayanya sih bawa baju"
"Apa dia pindah" tanya Bagas.
"Kalau pindah seperti nggak karena dia gak bilang sama saya, saya kan yang punya rumah. tadi cuma mau bilang mau pergi aja" kata si ibu itu.
"Pergi, mau kemana dia malam-malam" tanya Bagas.
__ADS_1
"Kurang tahu ya" jawabnya.
Bagas pun langsung berlari.
Dengan cepat Bagas pun membawa mobilnya menyusuri kemana Mila saat itu. Dan berusaha untuk mencari Mila.
Bagas tahu Mila tak punya siapapun lagi bahkan saudara saja Mila tidak punya. Kalau pun ada tidak ada di Jakarta.
Batin Bagas meronta ada perasan tak karuan dengan Mila yang pergi tanpa berpamitan itu.
Mila.. Mila... Batin Bagas memanggil Mila yang tak terlihat di jalan.
Bagas tampak bingung saat itu.
Hingga hujan datang kembali dan mengguyur. Bagas semakin resah kemana mencari Mila. Bagas berkali-kali mencoba menelpon Mila tapi masih tak ada jawaban. Hingga Bagas memberhentikan mobilnya dan menepi karena hujan sangat lebat saat itu. Ada perasaan yang mengganjal dan tak enak saat itu.
Mila asal dirimu tahu bahwa aku mencari seorang wanita tak pernah sampai seperti ini. Tak pernah sekalipun aku merasa resah, cuma sama kamu aku seperti ini, batin Bagas.
Hingga Bagas pun menjalankan lagi mobilnya dengan perlahan namun pasti, hingga ia berhenti lagi dipinggir jalan.
Bagas pun menghela napas nya lagi sambil duduk.
Namun seolah takdir..
Bagas pun melihat seorang wanita yang sedang duduk sendiri sambil menunduk.
Saat itu Bagas ragu kalau itu Mila, namun saat melihat jaket yang Mila pakai. Bagas sangat yakin bahwa itu Mila.
Hingga Mila yang sedang duduk diwarung yang sudah tutup itu, Bagas pun menghampiri Mila dari dekat.
"Mila...." Kata Bagas saat itu.
Mila yang menunduk itu pun lantas menengok ke arah suara itu.
"Mas Bagas..."
"Aku mencari mu ke rumah mu, aku mencari mu kemana-mana namun tak ada. Kalau kamu mau pergi kenapa tidak bilang sama aku biar aku antar" kata Bagas.
Mila pun tak menyangka jika Bagas menemui dirinya. Mata Mila terlihat memerah saat itu.
"Kalau ternyata aku ingin pergi dari mu, apa perlu aku minta antar sama kamu juga" kata Mila tak sanggup melihat Bagas dengan mata yang merah seolah menangis.
"Hey hey kenapa menangis. Kamu kenapa menangis" kata Bagas saat itu mendekati Mila.
"Jangan dekati aku, pergi. Cepet pergi" titah Mila.
"Hey.. hey kamu kenapa?" Lalu Bagas pun mendekati Mila. Dan Mila pun langsung menangis.
"Huhuhu"
"Kenapa?"
"Apa yang dikatakan mas Bagas bener aku gak pantas buat mas Bagas. Aku pergi aja, jangan datangi aku mas" kata Mila sekali lagi.
"Tapi gak Mila, aku cintanya sama kamu" ucap Bagas meyakinkan Mila.
"Iya cinta, tapi setelah anak ini lahir aja kan. mas akan ceraikan aku kan. Iya kan"
"Aduh, kata siapa?" Kata Bagas.
"Mamaya mas Bagas bilang gitu"
"Iya itu dulu" kata Bagas.
"Tuh kan bener" kata Mila.
"Iya Mila, itu sebelum aku sadar. Sekarang aku sudah sadar Mila, aku sudah sadar aku salah dan aku cinta sama kamu" kata Bagas.
"Bohong, gak cinta" kata Mila sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku cinta"
"Gak cinta" ucap Mila kekeuh.
"Astaga cinta Mila, aku cinta kamu"
"Bohong"
"Apa perlu kamu mau bukti"
"Gak perlu bohong"
"Mila aku cinta kamu" kata Bagas.
"Gak"
"Apa perlu aku cium bibir kamu biar kamu percaya"
"Apa?"
Lalu sontak saja Mila langsung menutup bibirnya saat Bagas bilang seperti itu, dirinya tak mau dicium oleh Bagas.
tapi mila menatap Bagas dengan air mata yang masih menggenang bibir nya merah dan hidung nya memerah
Keadaan Mila yang seperti itu justru Bagas pun semakin gemas dan panas melihat Mila yang begitu cantik dan lucu baginya.
Hingga akhirnya Bagas yang menatap Mila sangat lekat begitu dalam memandang wajah Mila saat itu dan langsung menarik tangan Mila dan langsung mencium bibir Mila.
Mmmmppppphh...
__ADS_1
Keduanya saling tak percaya..
Tangan Mila yang Bagas pegang itu tampak ia taruh di lehernya, hingga keduanya saling berciuman.
Hati Mila berdebar sangat kencang, begitu pula Bagas pun berdebar sangat kencang saat dirinya mampu memberikan ciuman lembut kepada Mila.
Meski Bagas pernah meniduri sekali, tapi baru kali ini Bagas mencium bibir Mila sangat dalam.
Karena Bagas saat itu lebih fokus pada dendam, hingga Bagas lebih menginginkan Mila merasakan sakit dan saat itu Bagas hanya ingin merusak hidup Mila. Itu saja.. Namun kali ini tampak cinta.
Hingga Mila menarik bibir Mila dari dari Bagas, namun Bagas menahannya saat itu. Bagas terus saja mencium Mila dengan tembok yang menjadi sandaran Mila saat itu.
Mila langsung menunduk dan menangis dalam pelukan Bagas.
"Huhuhuhu... Aku takut mas Bagas seperti Reza, aku takut" kata Mila.
"Tenanglah Mila"
"Aku takut berumah tangga lagi mas, kalau aku hanya untuk disakiti, aku lebih baik sendiri. huhuhuhu"ucap Mila dalam tangisan yang begitu terasa sesak di dada.
"Maafkan aku Mila, maaf kan. Kamu jangan sedih lagi" kata Bagas.
Mila pun masih dalam air matanya.
"Mila bisa kamu ceritakan bagaimana rumah tangga mu bisa hancur sehingga kamu takut mengulang kisah masa lalu"
Mila pun menceritakan apa yang ia alami sehingga membuat dirinya trauma atas luka masa lalunya.
Seketika ia pun menunduk.
"Asal mas Bagas tahu, asal mas Bagas tahu saja. saat malam pertama itu... Saat malam mencekam itu terjadi, saat malam yang menyedihkan itu terjadi. Pernikahan impian ku, pernikahan yang seharusnya menjadi malam istimewa untuk ku, namun saat malam itu malah menjadi tragis. Karena Reza sebagai suami tak pernah mau menyentuh ku setelah tau aku ternoda oleh" kata Mila dengan suara yang terasa serak dan sesak.
Perasaan Bagas seolah ikut hancur mendengar apa yang dituturkan Mila.
Apa benar seperti itu batin Bagas.
"Aku selalu menjaga apa yang menjadi kesucian wanita harus merasakan pahitnya kisah cinta karena sebagai suami Reza tak pernah Sudi menyentuh ku mas. Jangan kan untuk menyentuh, memandang mata ku saja tidak mau. Semua di matanya selalu salah, bahkan cinta yang di bina selama dua tahun itu seperti sampah yang tak ada artinya. Hanya karena aku sudah tak gadis lagi mas" kata Mila menangis.
"Dia bahkan bilang bahwa tubuhku haram disentuh olehnya, hati perempuan mana mas yang tak sakit disaat suami yang masih sah namun harus mengatakan itu"ucap Mila yang menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis.
"Mila" kata Bagas yang memegang tubuh Mila.
Bagas pun turut sedih dengan apa yang Mila ceritakan.
"Bahkan saat Reza tahu aku hamil, dia cerai aku. Aku terima semua walau pahit. Namun ada yang paling pahit lagi..." Kata Mila.
"Apa?" Tanya Bagas menatap Mila lekat.
" Dia yang bilang dirinya sudah tak Sudi lagi menyentuh diriku tapi dia meminta ku untuk tidur dengannya, bahkan saat gugatan cerai itu berjalan. Aku turuti apa yang menjadi maunya malam itu. karena dia mengatakan bahwa kita akan kembali rujuk. Tapi bukan rujuk yang aku dapat..." Kata Mila masih dengan air mata namun tersenyum getir.
"Tapi ternyata dia menikah lagi. Bahkan pernikahan itu dilakukan secara diam-diam" ucap Mila menangis. "Dia Me-ni-kah lagi mas"
Hingga Bagas pun memeluk Mila.
"Hancur hidup ku mas"
Bagas pun mememluk Mila saat itu, karena dia mengira jika dia hanya menghancurkan hidup Mila saja.
Tapi tanpa ia sadari ada yang paling hancur saat itu adalah hati dan perasaan Mila.
Mila pun mengehela napasnya..
"Saat aku tahu Tante Alina mengatakan jika dirimu akan menceraikan ku setelah melahirkan. Jujur aku lebih baik mundur" kata Mila.
"Mila jangan katakan itu, yang paling penting kamu. Jangan menangis lagi dan tetap bersama ku" kata Bagas.
"Tadi kamu mencium ku ya" kata Mila yang mulai sedikit lebih tenang setelah mencurahkan semua.
"Iya maaf ya"
"Lain kali jangan"
"Kenapa?"
"Ya jangan ajah"
"Hehee iya maaf"
"Tadi jantung ku mau copot" kata Mila.
"Hehehe sama, tapi aku tidak tahan"
"Jangan lagi, nanti di grebek sama RT sini"
"Hahahaha" Bagas malah tertawa. "aku bawakan nasi goreng untuk mu" kata Bagas.
Lalu Bagas pun mengambil nasi goreng itu di dalam mobil. Dan kembali dengan sekotak nasi goreng di strefoam yang Bagas bawa.
Mata Mila pun langsung tertuju melihat nasi goreng itu.
"Nasi goreng bang Jalu"
"Iya, aku suapi ya" kata
Hingga Bagas pun tampak menyuapi Mila saat itu.
"Ayo A makan ya, mas suapi Mila"
Mata Mila pun berbinar tak pernah dirinya di perlakukan seperti itu oleh seroang pria. Tak pernah Mila disuapi oleh seorang pria.
__ADS_1
Meski saat itu Bagas salah tapi Bagas sangatlah manis. hingga hati Mila luluh menerima kebaikan Bagas.