Ternoda Di Malam Pertama

Ternoda Di Malam Pertama
Ucapan menyakitkan Bagas


__ADS_3

Hingga saat pagi hari Mila pun terbangun dari tidur saat itu, Mila melihat tangan kekar sedang memeluknya erat. Mila yang tidur dengan piyama dan ia tidak teruskan dengan lingire hitam malah tampak seperti bukan sedang malam pertama.


Badan Mila di peluk erat oleh Bagas. Sementara Bagas tanpa mengenakan pakaian sama sekali, celana pun tidak entah konsep apa yang ia pakai hanya selimut tebal yang ia pakai di badannya.


Dasar pria mesum..


Sesekali tangan Bagas pun merayap kiri dan kanan sambil menggesekan miliknya.


Sementara Mila memakai piyama panjang demi menjaga kehangatan tubuhnya.


Sungguh berbanding terbalik.


Mila pun melihat tubuh kekar Bagas dan sedikit buku di dadanya saat itu. Terlihat seram tapi begitu mengesankan melihat otot kekarnnya Sungguh lelaki sekali!!!


Pria dewasa dengan umur diatas tiga puluh membuat Mila harus merasakan perjalanan hidup berliku.


"Laki banget sih dia" kata Mila melihat diri sang pria yang menjadi suaminya.


Entah dengar atau tidak Mila hanya mengatakan apa yang ia lihat. Sampai Mila pun melihat bulu ketiak dari suaminya.


"Untung saja wajahnya tampan, jadi bulu ini bisa menutupi segala kekurangan yang ada. Eh tapi bulu itu termasuk kelebihan apa kekurangan ya, ah entah" kata Mila menatap Bagas.


Mila yang tak punya bulu itu mengerinyitkan dahi melihat bulu-bulu dari seorang pria saat itu menjadi suaminya. Meski tidak bau tapi pemandangan yang sangat laki untuk Mila.


Bicara tentang Reza, Reza tak banyak memiliki bulu. Berbeda dengan Bagas yang bahkan ada bulu halus, dan kalau tidak dicukur kumis dan jenggotnya tiap hari dia sudah lebat sekali.


Lalu Mila pun berusaha untuk bangun tapi tangan kekar itu seolah menghalangi Mila untuk bangun.


"Mau kemana?" Tanya dirinya yang memegang Mila erat.


"Bangun yuk kita solat subuh ya mas" ajak Mila manja.


"Solat" tanya Bagas.


"Iya ayolah kita solat" kata Mila.


Bagas pun mengerinyitkan dahinya, Bagas bisa solat hanya saja ia lupa. Bagas jarang sekali solat lima waktu.


"Mas mari kita solat" ucap Mila.


"Aku lupa"


"Terakhir kapan solat?" Tanya Mila.


"Lupa Mila"


"Mas mulai sekarang solat ya, mas yang pertama kali di tanya di alam kubur itu solat mas" kata Mila.


"Kamu jangan sok menasehati" ucap Bagas sambil menutup mata dan berbicara di telinga Mila.


"Iya mas, kita hidup gak ada yang kekal. Yang bernyawa pasti akan mati dan yang dimintai pertanggungjawabannya di akhirat adalah amal ibadah" Ucap mila menatap sang suami lekat.


"Kalau aku solat hadiahnya apa?" Ucap Bagas.


"Hadiah dari Allah ya pahala mas" kata Mila membelai rambut Bagas dengan lembut.


"Minta hadiah dari kamu boleh"


"Boleh aja" Jean Mila


"Pahala ya" jawab Bagas.

__ADS_1


"Yang mana?" Tanya Mila.


"Kewajiban kamu sebagai istri" kata Bagas lagi.


"Eemm apa sih mas" kata Mila menatap wajah tampan pria dihadapannya kini.


"Begituan Mila"jawab Bagas memejamkan mata sambil menciumi tubuh Mila.


"Baru semalem udah minta jatah lagi"


"Gak apa-apa"


"Yaudah yuk mandi" ajak Mila.


"Mandi bareng ya"


"Ya terserah mas lah" jawab mila pasrah.


"Asiik" mata Bagas pun terbuka dan tersenyum.


Lalu Bagas dan Mila pun melanjutkan mandi saat itu, mereka tampak saling berciuman di kamar mandi mencurahkan hasrat yang ada.


Hingga selesai mandi baru mereka melanjutkan solat. Bagas yang jarang solat itu hampir lupa dengan bacaan solat dan akhirnya dia membuka di pencarian internet tentang bacaan solat. Dan akhirnya dia ingat setelah ada bagian bagian yang lupa.


"Besok aku belajar solat lagi" kata Bagas.


"Iya mas"


Mata Mila pun berbinar melihat suami yang sangat tampan itu.


Hingga saat itu Bagas mencium perut Mila dan membelainya dengan lembut.


Saat pagi harinya masih suasana di hotel, Bagas mulai melancarkan aksinya lagi apalagi kalau bukan menikmati tubuh dari wanita yang kini menjadi istrinya.


Meski Mila masih ada rasa trauma pada kejahatan yang pernah Bagas lakukan. Tapi bagi Bagas ia sama sekali tak peduli, selama Mila ada didepan mata tak ada istilah nya Mila menolak apa yang menjadi keinginan Bagas.


Bagas terus menikmati tubuh penuh wanita itu seharian yang ia mau. Tak peduli sejauh apa ia melakukannya.


"Mila aku memiliki hasrat yang besar aku lupa mengatakan itu pada dirimu diawal menikah" kata Bagas.


Mata Mila masih terpejam tak mau melihat Bagas.


"Iya" jawab Mila singkat.


"Kalau aku mau tiap hari gak apa-apa"


Mila pun terdiam tak menjawab ia atau pun tidak.


"Mila aku tanya kenapa kamu diam" tanya Bagas.


"Lakukan apa yang kamu ingin lakukan mas, selama pinggang mu tidak encok" kata Mila yang tak mau melihat Bagas tapi Bagas terus saja menelusup ke dalam, hari itu Mila benar benar di nikmati semua yang Mila miliki.


Bagas pun tertawa kecil...


Rupanya dia menantang ku! Batin Bagas.


Bagas yang memang suka dengan Mila dari awal bertemu bahkan sebelum ia tahu bahwa Mila pembunuh, dan kini semakin suka dengan Mila yang kini menjadi istrinya.


Ya, walau Bagas masih menganggap Mila pembunuh.


Hingga Bagas enggan untuk memakai pakaian saat itu. Bagi Bagas, Mila seorang istri idaman meski Bagas tahu Mila banyak kekurangan termasuk harus menikahi seorang pembunuh untuk Bagas, seolah tak jadi masalah asalkan Mila bisa ia miliki dan cintai. Walau awalnya Bagas tak terima itu.

__ADS_1


Hari itu..


Seolah Mila menjadi tawanan Bagas tak bisa kemana mana selain melayani suaminya meski ia hanya bisa makan saja.


Mila tetap melayani dengan ikhlas walau harus melawan traumi melayani pria itu.


"Mila"


"Ya mas"


"Aku sayang pada mu, walau..?"


"Walau apa mas?


"Wlaupun kamu seorang pembunuh"


Deg..


Mila tak mengira ucapan itu masih saja Bagas lontarkan.


"Mas aku bukan pembunuh, kenapa mas mengatakan itu" kata Mila lirih


"Siapa yang menjamin kalau kamu bukan pembunuhnya, Mila" kata Bagas.


"Sumpah demi apapun, aku bukan pembunuh" kata Mila dengan rasa sedih.


"Mila aku cinta sama kamu tak peduli jika kamu pembunuhnya"


"Tapi aku bukan pembunuh mas" ucap Mila dengan air mata.


"Lalu saat kamu menusuk ku, saat kamu menusmku Mila. apa namanya kalau bukan pembunuh. Lihat Mila bahkan bekas tusukan tangan mu dengan pisau diperut ku masih berbekas Mila" ucap Bagas memegang tangan Mila dan menyuruh Mila memegangnya.


Seketika Mila pun tak berani memegang Hanau menatap perut Bagas yang memang masih ada luka bekas jahitan. Mila pun menunduk perih ada perasan antara penyesalan dan amarah yang kini seolah menjadi satu.


Mila seperti salah jika tidak membela diri saat itu, namun menjadi salah pula disaat ia melakukan sesuatu yang jahat pada orang lain, dan orang lain itu kini menjadi suaminya. Seperti luka yang masih basah dan masih terasa sakit.


Mila pun menahan air matanya jika mengingat semuanya yang terjadi.


"sulit untuk aku katakan jika kamu bukan pembunuh, termasuk pernah berniat untuk membunuh ku pula" kata Bagas dengan tatapan yang menusuk.


"Mas.. aku hanya membela diri tak maksud membunuh mu mas, hiks" ucap Mila yang akhirnya menangis.


"Mungkin itu juga yang kamu lakukan pada Karin, kamu tidak niat membunuh nya hanya membela diri saja tapi pada akhir nya tanpa sadar kamu membunuh nya" kata bagas menatap tajam Mila.


Seketika hati Mila terasa terobrak abrik dengan uacapan Bagas yang begitu menyayat hatinya.


"Mas, kalau mas percaya mas bisa selidiki sendiri lebih dalam bahwa aku memang bukan pembunuhnya" kata Mila.


"Tidak ada yang menjamin kalau kalau kamu bukan pembunuhnya, kamu menutup rapat semua dengan rapi Mila, bahkan saat kamu menusuk ku itu sebenernya sudah mewakili betapa kamu memang pembunuhnya. Semakin aku gali, semakin aku sakit Mila. Aku yang akan menutup nya sendiri dengan waktu dan cinta. Meski saat ini, aku mencintai wanita pembunuh seperti mu"


Mila pun langsung menangis tersedu dengan penuturan yang diucapkan Bagas sungguh menyayat hatinya.


Bagas pun langsung menatap Mila dan meminta maaf saat mila menangis.


"Aku tidak tahu bagaimana cara meyakinkan semua orang yang ada, aku tidak tahu. Bahkan pada suami ku sendiri" Ucap Mila dengan air mata.


"Mila kamu menangis.. ya ampun.. Maafkan aku yang mengatakan ini semua, maafkan aku Mila. Aku hanya mengatakan apa yang aku alami dan aku rasa. Mila"


Mila pun terdiam tak bergeming.


Mila pun semakin menangis dengan mengepal tangannya perasannya sungguh sakit saat dirinya selalu berada di posisi yang sulit. Terjebak dalam keadaan yang salah dan rumit.

__ADS_1


Memang Mila mencintai Bagas hanya saja ucapan Bagas kali ini sungguh terasa menyakitkan.


Hingga usai malam pertama tetap saja Mila merasakan sakit atas uacapan Bagas yang menyakitkan.


__ADS_2