
" Rindu, kau mengenalnya? Sejak kapan? Dimana kau bertemu dengannya pertama kali? Dan satu hal lagi, apakah kamu tau alamat rumahnya dimana?"
Selain itu, masih banyak lagi pertanyaan yang di lontarkan oleh Tania, sehingga membuat Rindu yang mendengar pertanyaan tersebut.
Hanya bisa melongo, tanpa mampu menjawab satupun pertanyaan yang diajukan oleh Tania.
" Rindu," panggil Tania sekali lagi. Sambil menggoyangkan pundak Rindu, karena tampaknya Rindu saat ini sedang dalam mode bingungnya.
" A... apa Tania?" ucap Rindu terbata, kemudian Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. sambil memperlihatkan senyum devil nya.
Sedangkan Tania yang mendengar ucapan Rindu barusan, membuat dirinya merasa sedikit kecewa, karena ternyata Rindu tidak menjawab satupun pertanyaan yang Ia ajukan. lalu sejurus kemudian Ia membalikkan badannya dan langsung melipat kedua tangannya di dada.
" Ish...! Ternyata dirimu tidak menyimak pertanyaan ku," ucapnya dengan nada lesu, kemudian Ia menundukkan kepalanya.
" B... bukan seperti itu Tania," jawab Rindu terbata.
" Lalu apa?" ujar Tania seraya memonyongkan bibirnya ke depan hingga beberapa senti.
Saat melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Tania. kemudian Rindu menarik nafasnya dalam.
" Sahabat sekaligus saudara ku Tania, kalau bertanya itu satu-satu," ujar Rindu. Lalu Ia membujuk Tania yang tampak sedikit ngambek tersebut.
Namun, disaat mereka berdua sedang berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil nama Rindu.
" Rindu," panggil orang tersebut.
Sedangkan Rindu yang mendengar namanya di panggil, kemudian Ia menoleh sekilas.
" Oh... Ternyata kamu Robi, aku pikir tadi siapa," ujar Rindu kemudian.
Lalu Robi berjalan kearah Rindu dan melihat sekilas kearah Tania.
" Dia siapa," tanya Robi.
" Di adalah saudaraku. Perkenalkan, namanya adalah Tania, Ia berasal dari kota*******dan dia juga tinggal di sini bersama denganku," jelas Rindu.
Kemudian Robi melirik sekilas kearah Tania. yang tampak murung tersebut.
__ADS_1
" Cantik," batinnya.
Setelah itu, Ia kembali melirik kearah Tania. Dan Ia yakin, kalau saat ini gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu sedang memikirkan sesuatu, entah itu apa? Robi sendiri tidak mampu menebaknya.
" Hei... Kenapa kau juga malah ikut-ikutan, melamun seperti itu," ujar Rindu sambil menyenggol lengan Robi.
" Aku tidak melamun. Justru, saat ini diriku sedang memikirkan kalian berdua, kenapa kalian masih berdiri diluar, Ayo kita masuk," ajak Robi kepada Rindu dan Tania.
Sedangkan Rindu yang mendengar ajakan Robi, kemudian Ia menatap kearah Tania.
" Bagaimana, kita masuk kedalam sekarang atau tidak," tanya Rindu.
Tania yang tidak bisa berbuat apa-apa, kemudian Ia menghembuskan nafasnya dengan perlahan, Lalu Ia menganggukkan kepala, pertanda Ia menyetujui ajakan dari Rindu.
" Baiklah," jawab Tania pasrah.
Kemudian mereka bertiga masuk kedalam kafe. Dan baru saja mereka sampai di depan pintu, tiba-tiba Tania menghentikan langkahnya.
" Ada apa lagi?" tanya Rindu.
" Tidak ada apa-apa, kalian berdua masuklah duluan, nanti aku akan menyusul," ucap Tania sambil memegang dadanya dengan kedua tangan.
" Iya, Aku tidak apa-apa."
Setelah memastikan keadaan Tania, kemudian Rindu dan Robi pun masuk kedalam kafe secara bergandengan tangan.
" Hum...! suara Adrian benar-benar merdu ya," ucap Rindu, sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi. lalu Ia menatap kearah Robi sambil tersenyum manis.
Sedangkan Tania yang masih berdiri mematung di depan pintu, kemudian Ia berjalan perlahan mendekati panggung yang berada di dalam kafe tersebut.
" Ini benar-benar suara Albert, aku tidak mungkin salah dengar," ujar Tania yang masih memegang dadanya, lalu Ia menitihkan air mata.
Kemudian Ia berjalan menuju panggung. Dan menyambung lagu yang dinyanyikan oleh Adrian, sambil memejamkan matanya. Sedangkan Adrian yang begitu kaget, kala ada seseorang yang menyambung lagunya, Ia bahkan sampai berdiri dari kursinya. Dan sejurus kemudian Iapun menghampiri Tania yang saat ini tampak sangat menghayati lagu yang dinyanyikan olehnya.
Selangkah demi selangkah, Ia mengayunkan kakinya menuju kearah seorang gadis yang tidak Ia kenal tersebut. Lalu Ia memegang pundak Tania dari arah belakang.
Sedangkan Tania yang merasakan ada orang yang memegang pundaknya, kemudian Ia membalikkan badannya, lalu Ia membuka matanya secara perlahan.
__ADS_1
Namun, ketika bola matanya terbuka sempurna, dirinya sangat begitu kaget, kala melihat Albert sudah berdiri di hadapannya.
" Albert," ucap Tania, lalu Ia mendekat kearah Adrian. Dan sejurus kemudian Ia mengusap wajah Adrian yang Ia kira itu adalah Albert.
Sedangkan Adrian yang mendapat perlakuan tersebut, membuat Ia sangat begitu heran, bahkan Ia sampai melepaskan tangan Tania dari wajahnya dengan sedikit kasar. kala mendengar gadis itu memanggilnya dengan nama Albert.
" Hei... Gadis Bodoh, namaku bukanlah Albert, tapi Andrian," ucap Adrian tampak sedikit kesal, karena gadis yang berada dihadapannya itu sudah berani menyentuh wajahnya.
Sedangkan Rindu yang melihat kejadian tersebut, Ia lalu berjalan dengan sedikit tergesa menuju kearah Tania dan Adrian.
" Adrian," panggil Rindu dari arah belakang. Sehingga mau tidak mau, Adrian pun menoleh ke arah sumber suara.
" Eh... ternyata kau Rin," ucap Adrian singkat.
Lalu Ia kembali mengarahkan pandangannya kearah gadis yang berada di depannya. kemudian Ia memperhatikan penampilan Tania dari ujung kaki sampai ujung kepala.
" Wajahnya sih tampak cantik. Namun, penampilannya, oh... tidak!" batin Adrian sambil mengangkat sedikit bahunya ke atas.
Sedangkan Rindu yang baru saja sampai, ke tempat Adrian dan Tania berdiri saat ini, kemudian Ia menghampiri keduanya.
Dengan sedikit basa-basi, kemudian Ia menyapa keduanya, yang tampak saling menatap satu sama lain.
" Hai Tania, hai Adrian," ucap Rindu basa-basi. kemudian Ia langsung mendekat kearah Tania.
" Hai juga Rindu..!" ucap Adrian sambil melambaikan tangannya, kemudian Ia tersenyum manis kearah Rindu.
" Tania perkenalkan, dia adalah Adrian, sahabatku. Dan ini adalah Tania, sahabatku juga," ucap Rindu.
Tanpa mempedulikan ocehan Rindu, kemudian Tania menatap lekat kearah manik mata Adrian, lalu Ia menutup matanya sejenak, berharap ini adalah mimpi. Namun, ternyata apa yang Ia harapkan sungguh diluar dugaan, ini benar-benar kenyataan, kala dirinya menepuk kedua pipinya sendiri.
" Ah... sakit, ternyata ini bukan mimpi, tapi kenyataan," pekiknya kemudian.
Lalu Ia mundur beberapa langkah, setelah itu barulah dirinya berlari dengan secepat kilat meninggalkan Adrian dan juga Rindu.
Sedangkan para pengunjung kafe yang melihat gadis itu berlari meninggalkan Adrian, kemudian mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain.
" Apa yang terjadi dengannya, sungguh gadis yang sangat aneh, eh.. tapi tunggu sebentar, apakah dia itu adalah kekasihnya Adrian?" ucap para pengunjung kafe yang tampak sedikit ricuh dengan ulah Tania yang meninggalkan Adrian secara tiba-tiba.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan ocehan para pengunjung kafe, kemudian Adrian dan Rindu berjalan perlahan meninggalkan tempat tersebut, dan mereka berdua langsung duduk di atas kursi.