
Namun, Dion yang hendak melayangkan bogem mentahnya pada Albert tiba-tiba di halau oleh Will.
" Kau jangan coba-coba menyentuh Tuan muda kami dengan tangan kotor mu itu," ucap Will sambil membuang kepalan tinju Dion kesamping.
Dion terkekeh saat mendengar ucapan Will barusan, lalu dia kembali mendekat ke arah Albert sambil bertepuk tangan.
" Aku pikir kita akan bertarung satu lawan satu, tapi ternyata aku salah, kau melibatkan orang kepercayaan mu yang tidak berguna ini dalam urusan kita berdua," ucap Dion sombong. Bahkan dirinya sempat-sempatnya menertawakan Albert.
" Kau....!" tunjuk Will pada Dion. Lalu dia mengepalkan tangan dan bersiap melayangkan bogem mentahnya pada wajah Dion. Namun tindakannya itu langsung di hentikan oleh Albert.
" Hentikan Will. Seperti yang aku peringatkan tadi bahwa kalian tidak boleh menyentuh Dion si pecundang ini selain diriku," ujar Albert sambil mengibaskan tangannya.
Dion yang mendengar Albert menyebut dirinya sebagai pecundang, tiba-tiba wajah yang tidak terlalu tampan itu berubah masam.
__ADS_1
" Kau...!" tunjuk Dion tepat di wajah Albert. Bahkan muka Dion sudah berubah merah menahan amarah yang kian bergejolak di dalam dirinya.
Albert tersenyum. Lalu dia menepis jari telunjuk Dion dari hadapannya.
" Seperti yang kau inginkan pecundang, kita akan bertarung satu lawan satu," jawab Albert seraya tersenyum mengejek.
" Aku bukan pecundang, seperti yang kau katakan. Bukankah kamu yang pecundang, apa kau ingat saat kita berada di bangku SMA dulu, kau malah lari terbirit-birit saat mendengar namaku saja," ujar Dion di sertai kesombongan yang sangat luar biasa.
Namun, Albert yang mendengar hal itu ia malah tersenyum, dia tidak ingin terprovokasi atas ucapan Dion. Jadi dia lebih memilih diam saja sambil mengawasi situasi.
" Apa kau masih mengingat kejadian tujuh tahun lalu, bahwa istrimu yang sangat kau cinta itu juga pernah menghina dirimu, dan kalau aku menjadi dirimu aku bahkan sudah tidak sudi melihat wajahnya, lagi pula di dunia ini banyak perempuan cantik selain dirinya," ujar Dion menatap kearah Albert.
Albert yang mendengar ucapan Dion tidak bergeming sama sekali, tapi satu hal yang dia yakini bahwa sebenarnya Dion juga sangat terluka, karena Tania lebih memilih dirinya.
__ADS_1
Dion terus saja mengoceh tentang bagaimana kehidupan Albert dulu, bahkan saat ini dia dengan lantangnya menghina Tania di depan Albert. Dan dia juga mengatakan dengan sangat enteng kalau dirinyalah yang menjual Tania pada pria hidung belang kemaren malam.
Albert seketika marah besar, kala mendengar pengakuan terang-terangan dari Dion, Ketenangan yang dia tunjukkan tadi kini sudah berubah menjadi kemarahan yang luar biasa.
Kemudian dia mengepalkan tangan dan langsung melayangkan bogem mentahnya tepat di pipi sebelah kanan Dion.
Tubuh Dion seketika terhuyung ke kiri dan ke kanan, bahkan gigi yang sebelah kanannya sudah rontok di hantam oleh kepalan tinju Albert.
" Berani-beraninya kau menjual istriku pada pria hidung belang, memangnya kau siapa, hah...!" bentak Albert. Lalu dia menghampiri Dion dan menghujaninya dengan bogem mentahnya.
Sedangkan Rifki yang melihat Dion di hajar habis-habisan oleh Albert, kemudian dia menghampiri Albert. Dan melayangkan satu pukulan keras tepat di belakang kepala Albert.
Albert kemudian berbalik arah, dan menatap Rifki dengan mata nyalang. Dan dia sudah tak mampu lagi mengontrol emosinya yang meledak-ledak.
__ADS_1
" Kau... bajingan tanggung seperti dirimu ingin bermain-main dengan Albert Bridam," ujar Albert, sambil melayangkan bogem mentahnya tepat di pipi kanan Rifki.
Mulut Rifki seketika mengeluarkan darah segar, lalu dia meludahkan darah itu kesamping, dan tanpa Ia sadari, ternyata giginya juga sudah rontok tiga biji.