Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 85


__ADS_3

Tania yang hendak pergi ke toilet sendiri langsung di halau oleh Botak, hingga membuat Tania cukup geram atas tindakan Bodyguard suaminya tersebut.


Namun, karena Botak berniat menjaga dirinya agar tidak terjadi sesuatu, akhirnya Tania pun hanya bisa memaklumi tindakan Botak tersebut.


Kemudian dia berjalan perlahan menuju toilet, sedangkan Botak menunggu di luar pintu masuk.


Sedangkan orang yang memperhatikan gerak gerik Tania sejak tadi, kemudian dia mengikuti langkah kaki Tania ke toilet, dan salah satu temannya bertugas untuk mengawasi Botak yang sedang berjaga di depan pintu masuk.


Di dalam Toilet


Saat Tania keluar dari dalam toilet, betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang sangat Ia kenal berada di hadapannya. Ya, dia adalah Dion mantan kekasihnya dulu.


" D...Dion," panggil Tania terbata.


Dion tersenyum tipis saat melihat Tania yang sekarang yang menurutnya tambah cantik dan seksi, Lalu dia berjalan setapak demi setapak untuk mendekat ke arah Tania.


" Jangan mendekat ke arahku Dion, jika kau tidak ingin aku teriak," ancam Tania seraya mundur beberapa langkah kebelakang.


Namun, ancamannya itu tidak di dengar oleh Dion sama sekali, Ia malah semakin mendekat kearah Tania.


Hingga membuat Tania gemetar dan ketakutan, kala melihat tatapan mata Dion yang menurut Tania cukup menyeramkan.


" Menjauh dariku," teriak Tania cukup kencang. Dan rupanya teriakannya itu di dengar oleh Botak yang sedang berjaga di luar pintu toilet.

__ADS_1


" Nona muda, apa sesuatu terjadi dengannya," batin Botak. Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya dan berniat masuk ke dalam toilet wanita.


Namun baru saja dia berjalan beberapa langkah, tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di kepalanya, dan hal itu membuat Botak terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.


Anak buah Zen masuk kedalam toilet yang tampak sepi itu, kemudian dia memberitahukan kepada Dion agar segera menyelesaikan tugasnya dengan cepat.


" Baiklah," ucap Dion. Kemudian dia mengambil kain yang sudah di campur dengan obat bius dari saku celananya. Lalu dia sedikit berlari menuju kearah Tania yang sudah bersandar di dinding pojokan toilet tersebut.


" Dion, apa yang ingin kau lakukan? cepat menyingkir dari hadapanku, dan biarkan aku pergi Dion, biarkan aku pergi...!" ujar Tania sambil menautkan kedua tangannya. Lalu dia berjongkok di hadapan Dion. Berharap pria itu melepaskan dirinya.


Dion tersenyum lebar, ketika melihat Tania memohon padanya, dan tanpa basa-basi lagi Dion langsung membekap mulut Tania dengan sapu tangan yang sebelumnya telah dia campur dengan obat bius.


Kini kesadaran Tania perlahan-lahan mulai memudar, dan tidak butuh waktu lama akhirnya diapun pingsan.


Dion yang merasa kalau tubuh Tania sudah tidak bergerak lagi, kemudian dia membopong tubuh itu keluar dari dalam toilet. Lalu dia keluar dari dalam Mall itu melalui pintu belakang.


Setelah Dion meletakkan tubuh Tania di belakang kemudi, lalu dia bersama anak buah Zen masuk kedalam mobil, dan langsung melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


💦💦💦


Albert yang sedang melakukan meeting di kafe B tidak bisa konsentrasi, karena dia terus saja memikirkan Tania.


" Ada apa denganku, tidak seperti biasanya," batin Albert sambil memperbaiki posisi duduknya, Lalu dia mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. Dan berusaha untuk konsentrasi.

__ADS_1


Namun, sekuat apapun dia berusaha untuk konsentrasi, tetap saja wajah Tania terlintas di pikirannya. Hingga Ia memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar untuk menghubungi Tania.


" Maaf pak Hasan, aku permisi ke toilet dulu, mengenai kelanjutan proyek pembangunan Hotel, anda bisa membicarakannya dengan asisten Will," ujar Albert.


Lalu dia berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia berjalan ke toilet dengan sedikit tergesa.


Di dalam toilet


Albert membasuh mukanya dengan air yang mengalir dari keran, berharap ke khawatirannya terhadap Tania memudar.


Namun, apa yang dia lakukan ternyata tidak berpengaruh sama sekali, justru wajah Tania semakin sering terlintas di dalam pikirannya.


" Pertanda apa ini sebenarnya," ujar Albert pada dirinya sendiri, lalu dia memutuskan untuk menghubungi Tania dan menanyakan langsung keadaannya.


Albert merogoh kantong Jas, lalu dia mengeluarkan ponselnya. Kemudian dia men-dial nomor Tania.


Cukup sering Albert memanggil nomor Tania, tapi tidak terhubung sama sekali, hanya suara operator seluler yang dia dengar.


Albert semakin khawatir, dan keringat dingin pun sudah mulai bercucuran dari wajahnya.


Hingga sepersekian detik kemudian, dia baru ingat kalau Tania pergi ke Mall bersama dengan Botak.


" Astaga, kenapa aku sampai lupa? bukankah Tania pergi ke Mall bersama dengan Botak," ucap Albert sambil menepuk jidatnya.

__ADS_1


" Mungkin aku terlalu khawatir, sampai-sampai aku melupakan keberadaan Botak," batin Albert.


Kemudian dia men-dial nomor Botak. Namun, Albert cukup heran, kenapa yang menjawab panggilannya itu bukanlah Botak? tapi orang lain.


__ADS_2