
Seminggu Kemudian
Dion kini hidup sebatang kara, karena Ayah Dion juga pergi menyusul adiknya Gani. Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit.
Sebab, serangan jantung yang di derita ayah Dion tiba-tiba kambuh karena dia sangat terkejut melihat kematian Gani yang begitu tragis. Dan kini Dion hidup sebatang kara.
Belum lagi perusahaan milik keluarganya juga ikut-ikutan bangkrut, karena mengalami penurunan saham yang begitu drastis.
Sehingga rumah mewah milik keluarganya pun sekarang sudah di sita oleh pihak Bank untuk menutupi biaya Ayahnya selama di rawat di rumah sakit. hingga mau tidak mau Iapun akhirnya harus keluar dari rumah itu dan tinggal di kontrakan.
💦💦💦
Berbeda dengan Albert, hari-hari yang ia jalani sekarang sudah mulai normal seperti biasanya. Dan sekarang dia sedang berada di taman belakang Mension bersama dengan kakeknya Tuan Simon.
Tampak keduanya saling bercanda gurau, sehingga membuat taman yang tadinya sepi kini mulai terdengar ramai.
Namun, di tengah-tengah candaan mereka, tiba-tiba tuan Simon menatap kearah Albert dengan sendu. Kemudian Albert terdiam sejenak melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh kakeknya, lalu dia tersenyum tipis sambil meraih tangan yang mulai tampak kerutan di setiap jari jemarinya.
" Kau kenapa kakek?" tanya Albert akhirnya.
Tuan Simon tersenyum.
" Mungkin inilah saatnya aku mengutarakan isi hatiku, kalau sebenarnya saat ini diriku sangat ingin melihat dia menikah dan mempunyai anak," batinnya.
Sedangkan Albert yang melihat kalau saat ini kakeknya hanya diam saja, memutuskan untuk bertanya untuk kedua kalinya.
" Kakek, sebenarnya kamu kenapa? apa kau sakit?" tanya Albert. Lalu dia meletakkan tangannya di kening sang kakek.
" Kakek tidak apa-apa cucuku, hanya saja saat ini aku sedang memimpikan seorang anak laki-laki yang sangat menggemaskan, dan aku membayangkan kalau saat ini kami berdua sedang bermain di taman ini," ujar tuan Simon sambil tersenyum.
Albert terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh kakeknya barusan. Namun, karena dia tidak ingin menebak-nebak, akhirnya iapun memutuskan untuk bertanya langsung pada sang kakek.
" Maksud Kakek apa? Aku tidak mengerti," ujar Albert kemudian.
__ADS_1
Tuan Simon terdiam sesaat, sambil menarik nafasnya dalam dan menghembusnya dengan perlahan.
" Menikahlah dengan Tania, karena gadis itu sangat mencintai dirimu melebihi apapun."
Albert lagi-lagi terdiam memikirkan permintaan Kakeknya yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu.
Sedangkan tuan Simon yang melihat kalau cucunya hanya diam saja, kemudian dia memegang kedua tangan Albert.
" Kakek tau kalau gadis itu memang pernah menyakiti hati dan perasaanmu, tapi ingatlah bahwa dia telah menyesali perbuatannya dan sudah beberapa kali meminta maaf padamu, maka dari itu cobalah membuka hatimu kembali untuknya," ucap tuan Simon dengan sangat lembut.
Albert tidak mampu mengucapkan sepatah katapun, meski tidak dapat di pungkiri bahwa apa yang dikatakan oleh kakeknya itu memang benar.
Namun, sejurus kemudian Albert menatap kembali kearah kakeknya.
" Baiklah, kalau memang itu adalah keinginan kakek, aku akan mencoba kembali membuka hatiku untuk Tania. Tapi aku tidak bisa berjanji kalau suatu saat nanti kami berdua tidak bisa menuju jenjang yang lebih serius," ucap Albert.
Wajah tuan Simon yang tadinya tampak sendu, kini terlihat sedikit berbinar.
" Tidak masalah cucuku, yang penting kamu sudah mau mencobanya kakek sudah senang," ucapnya kemudian. Lalu dia memeluk Albert dengan sangat erat.
Tidak lama kemudian, tuan Simon pun melepaskan pelukannya terhadap Albert dan berniat pergi ke kamar untuk beristirahat.
Namun, sebelum dia pergi ke kamar, tuan Simon lalu menepuk pundak Albert sambil mengatakan.
" Temuilah Tania dan ajak dia untuk makan siang, siapa tau setelah kalian berdua bertemu benih-benih cinta yang dulu pernah hilang akan tumbuh kembali," ujarnya.
Setelah selesai mengucapkan hal tersebut, tuan Simon lalu meninggalkan Albert di taman itu sendiri. Dan membiarkan Albert untuk menenangkan pikirannya.
Sebab dia tau permintaannya memang tidak mudah bagi Albert. tapi apa boleh buat, Jika ia tidak melakukan hal itu, Albert tidak akan pernah bisa lepas dari masa lalunya, karena akan selalu terbayang dengan sakit hati yang dia alami.
Mungkin, dengan apa yang dia lakukan sekarang, akan membuat Albert merasa sakit hati, tapi itu hanya awalnya saja, karena Tuan Simon yakin kalau cucunya Albert masih mencintai Tania. Dan dia juga berharap setelah ini Albert akan membuka hatinya kembali untuk Tania seperti dulu lagi.
Sedangkan Albert yang masih menyindiri di taman, Ia mulai memikirkan bagaimana cara agar dia bisa mengajak Tania untuk makan siang.
__ADS_1
Namun, sudah hampir satu jam Albert menyindiri, dia belum juga bisa menemukan ide yang pas. Hingga Albert yang mulai bosan kini mulai menarik nafasnya dalam.
" Bagaimana aku bisa mengajak Tania makan siang? Bukankah selama ini aku selalu berusaha untuk menghindari dirinya. Jika aku tiba-tiba mengajak dia makan siang, dia akan merasa besar kepala. Ah...! apa yang harus aku lakukan?" ucapnya dengan sedikit berteriak. Kemudian Albert mulai mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
Sedangkan Will yang melihat ke putus asaan Albert, dia mulai mendekat dan ingin memberikan saran.
Kemudian Will mulai berjalan perlahan ke arah Albert.
" Tuan muda kau sedang apa?" tanya Will pura-pura tidak tau apa yang dipikirkan oleh Albert.
Albert terkejut, bahkan dia hampir terlonjak kaget mendengar suara Will yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
" Will, sejak kapan kau disini," tanya Albert kemudian.
" Baru saja Tuan muda," jawab Will berbohong.
" Baguslah," ucap Albert. Lalu dia menyuruh Will untuk duduk di sampingnya. Dan berniat menceritakan tentang kegundahan yang melanda hatinya saat ini.
Will pun duduk di samping Albert, dan mulai mendengarkan keluh kesah Tuan mudanya itu.
" Menurutmu apa yang harus aku lakukan Will?" tanya Albert Akhirnya. Setelah dia menceritakan apa yang diinginkan oleh kakeknya tadi.
Will terdiam sesaat.
Namun, sejurus kemudian dia mulai memberikan saran kepada Albert. Dan Albert pun mulai mendengarkannya dengan seksama.
" Bagaimana menurutmu Tuan muda, apa rencana ku kali ini cukup bagus," tanya Will. Sambil menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.
Albert manggut-manggut dan mulai memikirkan apa yang di rencanakan oleh Will barusan.
" Lumayan, aku rasa itu patut dicoba," jawab Albert akhirnya. Setelah cukup lama dia memikirkannya.
" Baiklah tuan muda, kalau begitu aku akan mengatur dan mempersiapkan segalanya, kau hanya tinggal duduk manis saja di kafe itu," ucap Will.
__ADS_1
Setelah itu dia pamit kepada Albert dan mulai meninggalkan taman itu, untuk melakukan tugasnya.
Begitu juga dengan Albert, dia mulai meninggalkan taman, dan berjalan masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.