
Sedangkan Will yang melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Nyonya Amarta, kemudian Ia menyeringai cukup menyeramkan. Lalu dia kembali bertanya kepada Nyonya Amarta untuk kedua kalinya.
" Hei. Nyonya, cepat katakan! Kelompok mana yang bekerja sama denganmu?" tanyanya dengan nada cukup tinggi.
Sementara Nyonya Amarta yang mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Will padanya, dia hanya terdiam tanpa mau mengucapkan sepatah katapun. Sehingga membuat Will merasa sangat geram.
" Aku tanya sekali lagi, kalau kau masih mengunci mulutmu, maka jangan salahkan aku untuk mencelakai anakmu Robert," ancamnya kemudian.
Nyonya Amarta yang sebelumnya menunduk, Seketika dia menatap kembali kearah Will. Karena Ia merasa kalau saat ini dirinya benar-benar terpojok, dan tak mampu melakukan apapun. Sehingga mau tidak mau akhirnya dia menyerah.
" B... Baiklah, tapi aku mohon. Jangan pernah kalian mencelakai anakku Robert, dan aku akan bersedia menuruti apa yang kau minta, termasuk meninggalkan kota ini," ucapnya cukup sedih. Mengingat setelah ini dia tidak akan bertemu lagi dengan anaknya Robert.
Will langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan senyuman.
" Ternyata, gertakan ku berhasil," batin Will kemudian.
" Baiklah Nyonya, cepat katakan."
Tanpa basa-basi lagi, kemudian Nyonya Amarta langsung menceritakan kalau kelompok Serigala hitam lah yang membantu dirinya.
" Aku sudah menceritakan semua yang kau inginkan. Jadi, aku mohon lepaskan aku, dan penuhi semua janji yang kau ucapkan Will," ucap Nyonya Amarta dengan suara yang mulai melemah.
" Baik, karena kau sudah menceritakannya, maka aku akan memenuhi semua janji yang aku ucapkan," ujar Will. Lalu dia memanggil Botak yang sedang berjaga di luar pintu.
" Botak...!" panggil Will dengan lumayan keras.
Sehingga Botak yang berada di luar pintu, begitu mendengar namanya dipanggil oleh Will, dia langsung bergegas menghampirinya, sambil mematikan cerutu yang dia hi..sap sebelumnya.
" Ada apa tuan," jawabnya.
" Cepat lepaskan Nyonya Amarta dan antarkan dia ke kamarnya," ucap Will. kemudian dia kembali menatap ke arah Nyonya Amarta dengan sangat tajam.
" Aku peringatkan kau Nyonya, jangan sekali-kali membuat ulah, karena kalau sampai itu terjadi. Maka jangan salahkan aku untuk mencelakai anakmu Robert," ucap Will datar.
__ADS_1
" B... baik." jawab Nyonya Amarta terbata.
" Dan kau Botak, cepat awasi dia sampai besok pagi, karena besok pagi dia akan meninggalkan kota ini," ujar Will sambil berdiri dari atas Kursi. Lalu dia pergi meninggalkan Botak bersama dengan Nyonya Amarta.
Setelah kepergian Will. Botak langsung membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Nyonya Amarta. Lalu dia menyuruh wanita paruh baya itu untuk berjalan menuju kamarnya.
" Nyonya. Seperti yang dikatakan oleh Tuan Will barusan, kau jangan sampai berbuat yang macam-macam, karena kalau tidak... Pistol yang berada di tanganku ini akan menembus kepalamu dalam sekejap," ujar Botak dengan mata yang menyala. Lalu dia mengarahkan Pistol itu tepat di kepala Nyonya Amarta.
" B... Baik," ucap Nyonya Amarta yang lagi-lagi membuatnya tak berdaya.
Setelah itu, Botak kembali memasukkan Pistolnya ke dalam saku Jas hitamnya.
💦💦💦
Di Dalam Kamar Nyonya Amarta
Wanita paruh baya itu langsung mengganti pakaiannya yang basah. Lalu dia dengan sangat cepat mengemasi barang-barang dan perhiasan miliknya dan memasukkannya ke dalam koper. Walaupun, saat ini tubuhnya merasa kedinginan. Tapi hal itu tidak menjadi halangan baginya.
Namun, disaat dirinya sedang sibuk mengemasi barang-barang miliknya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Yang ternyata itu adalah anaknya Robert.
" Ah... Sial, disaat seperti ini masih saja ada yang datang, untuk mengganggu pekerjaanku," ocehnya yang langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.
Tanpa ada jawaban dari Mommynya. Robert langsung mendorong pintu kamar itu.
Namun, disaat dirinya hendak masuk ke dalam kamar Momnya dia langsung kaget, saat melihat Mommynya sedang berkemas. Dengan langkah kaki seribu iapun segera menghampirinya.
" Mommy mau kemana," tanya Robert kemudian.
Nyonya Amarta langsung terdiam sejenak, sambil memikirkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh anaknya. Karena kalau salah sedikit saja dia mengucapkan kalimat, bisa-bisa nyawa Robert melayang.
Kemudian dia tersenyum manis, sambil menarik nafas dalam. Lalu Nyonya Amarta memegang kedua pipi anaknya Robert.
" Kau tidak perlu merasa khawatir sayang, Mom hanya butuh menenangkan pikiran dengan cara liburan ke Amerika. Apa kau ingin ikut?" tanya Nyonya Amarta sambil tersenyum, menutupi kegelisahan di dalam hatinya. Karena Botak saat ini sedang berada di kolong tempat tidur, dan mendengar semua pembicaraannya dengan anaknya Robert.
__ADS_1
" Oh...! Mom ternyata mau liburan, aku pikir mau kemana. Tapi untuk saat ini, aku minta maaf Mom. Aku tidak bisa menemani dirimu berlibur, karena pekerjaan ku di kantor sangatlah banyak, bahkan meja kerjaku hampir penuh dengan semua berkas yang belum aku tanda tangani," jawab Robert.
Kemudian Nyonya Amarta tersenyum paksa. Sambil melepaskan tangannya dari pipi Robert, kemudian dia membalikkan badannya. Dan pura-pura sibuk merapikan pakaiannya.
" Mom," panggil Robert.
" Sayang, Mom mau berkemas."
Tanpa mempedulikan Robert yang berada di sampingnya, kemudian Nyonya Amarta melanjutkan kembali mengemas semua barang-barangnya.
" Baiklah, sepertinya Mom sedang sibuk," ucap Robert. Kemudian dia langsung pamit untuk masuk ke dalam kamarnya.
Berbeda dengan Botak yang saat ini berada di bawah kolong tempat tidur, begitu dia melihat kalau Robert sudah pergi dari dalam kamar Nyonya Amarta, diapun langsung keluar dari dalam persembunyiannya. Kemudian dia kembali menghampiri Nyonya Amarta. Sambil melirik jam yang berada di pergelangan tangannya.
" Sudah tidak ada waktu lagi, dan mari kita berangkat sekarang juga," ujar Botak. Lalu dia menarik koper Nyonya Amarta.
Sedangkan Nyonya Amarta, dia hanya terdiam, sambil mengikuti kemana arah Botak melangkahkan kakinya.
Sementara Will, saat ini dia sudah berada di bandara untuk mempersiapkan keberangkatan Nyonya Amarta ke Amerika. Lalu dia menelpon Botak setelah semuanya selesai.
" Kau sudah berada di mana Botak," tanya Will. setelah sambungan Ponsel itu terhubung.
" Aku sudah sampai tuan Will, dan saat ini aku sedang berada di parkiran, dan hendak keluar dari dalam mobil," jawab Botak.
" Oh...! Yasudah cepatlah ke mari, aku menunggumu di ruang tunggu," jawab Will. Kemudian dia mematikan sambungan Ponselnya.
Sedangkan Botak yang sudah mendapat informasi, kalau Will sudah menunggunya di ruang tunggu, Kemudian dia bersama Nyonya Amarta langsung bergegas dengan sangat cepat. Sehingga tanpa butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua sampai di tempat Will.
Will yang melihat kedatangan Botak bersama dengan Nyonya Amarta, kemudian dia berdiri dari tempat duduknya.
" Apa dia membuat ulah?" tanya Will.
" Kau tenang saja Bos, dia tidak membuat ulah sama sekali, karena aku selalu berada di sampingnya, sehingga tidak ada ruang baginya untuk hal itu," jawab Botak sambil tersenyum bangga, karena Ia sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik.
__ADS_1
" Bagus," ujar Will. sambil menepuk pundak Botak dengan sangat pelan, di iringi dengan senyum tipis di bibirnya.