Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 31


__ADS_3

Setelah Will dan Tuan Simon duduk di atas kursi yang telah disediakan. Kemudian mereka mulai membicarakan kerja sama yang akan mereka jalin bersama.


Namun, baru saja sekitar sepuluh menit mereka membicarakan tentang kerja sama antara perusahaan yang akan mereka lakukan, tiba-tiba Ponsel Tuan Hadi berdering, hingga mau tidak mau meeting itupun di tunda untuk beberapa menit ke depan.


" Maaf Tuan Simon, meeting ini saya tunda dulu, karena Isti saya menelpon. Aku tidak tau ada hal penting apa yang sedang terjadi di rumah, karena tidak biasanya istri ku menelpon pada saat meeting seperti ini," ucapnya. Kemudian Ia berjalan perlahan meninggalkan Tuan Simon.


Sedangkan Will yang berada di samping Tuan Simon, Ia langsung berdecak kesal mendengar alasan sepele Tuan Hadi tersebut.


" Hm...! Pemimpin perusahaan ini tidak profesional, hanya karena istrinya menelpon, meeting yang bernilai milyaran ini, Ia mampu menundanya, benar-benar sungguh tidak profesional. Bagaimana Tuan Simon, apakah kita akan membatalkan kerja sama ini?" tanya Will kemudian.


Tuan Simon lalu menatap kearah Will dengan sangat datar, kemudian Ia menenangkan Will yang terlihat sedikit kesal.


" Diamlah Will, sebenarnya aku juga sangat merasa kesal dengan sikapnya, tapi apa boleh buat, ini semua menyangkut keluarganya, kalau terjadi sesuatu dengan salah satu keluarganya, uang yang bernilai milyaran pun tidak akan ada gunanya, begitulah hebatnya arti dari sebuah keluarga. Mungkin dia itu tipe orang yang mementingkan keluarga di bandingkan apapun," sarkas Tuan Simon.


Will terdiam mendengar ucapan Tuan Simon barusan, lalu Ia menundukkan kepalanya, karena menurutnya apa yang dikatakan oleh Tuan Simon tersebut benar adanya. Sebab, untuk apa memiliki harta yang sangat berlimpah, kalau keluarga kita sendiri tidak berada di samping kita.


Hingga beberapa menit. Di ruang meeting itupun terjadi keheningan tanpa ada satu orang pun yang berbicara.


Namun, pada saat keheningan itu terjadi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sangat tergesa menuju ruang meeting.


Ya, Dia adalah Tuan Hadi yang akan menunda meeting itu sampai besok siang.


" Maafkan saya, karena telah membuat waktu Tuan-tuan terbuang secara cuma-cuma, tapi saya menunda waktu meeting ini, karena ada alasan yang jelas. Anak saya tiba-tiba masuk rumah sakit. Dan aku sangat takut kalau terjadi sesuatu dengannya. Sebab, akhir-akhir ini Ia sedang mengalami sakit di kepalanya, yang aku sendiri tidak tau apa penyebabnya. Sekali lagi maafkan saya," ucap Tuan Hadi dengan sangat lesu.


Semua kolega bisnisnya tampak kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Tuan Hadi. Namun, berbeda dengan Tuan Simon, Ia malah berjalan menghampiri Pak Hadi sambil menenangkan nya.

__ADS_1


" Tenanglah Tuan Hadi, aku tidak akan membatalkan kerja sama kita. Dan sekarang lebih baik kamu segera menyusul anakmu itu ke rumah sakit," ucap Tuan Simon.


Mendengar ucapan Tuan Simon barusan, membuat Tuan Hadi merasa sangat lega, karena kalau sampai kerja sama ini di batalkan oleh Tuan Simon, perusahaannya akan merugi hingga puluhan milyar. Dan dia juga tidak menyangka kalau Tuan Simon ternyata sangat bermurah hati.


" Terima kasih Tuan, maafkan atas ke tidak profesionalan ku dalam bekerja," ucapnya kemudian.


Setelah mengucapkan hal itu, kemudian Ia langsung meninggalkan Tuan Simon. Dan bergegas menuju ke rumah sakit.


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, hati Tuan Hadi tampak tidak tenang, memikirkan bagaimana keadaan Adrian saat ini. Sehingga Ia meminta kepada Pak supir untuk menambah kecepatan laju kendaraannya.


" Pak supir, tolong tambahkan kecepatannya, karena saat ini Adrian sedang tidak baik-baik saja," ucap Tuan Hadi merasa sangat khawatir dengan keadaan Adrian.


" Baik Tuan," ucap Pak supir. Kemudian Ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan pembalap profesional. Dan menyalip beberapa kendaraan yang berada di depannya dengan sangat lihai.


Hingga tanpa butuh waktu lama, akhirnya Mobil itupun berhenti di depan sebuah rumah sakit yang mereka tuju.


Sedangkan Bu Rianti yang melihat kedatangan suaminya, Ia langsung berhambur memeluk suaminya. Kemudian Ia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya.


" Pah... Adrian," ucap Bu Rianti di sela-sela tangisnya.


" Tenanglah Mah, Papa yakin Adrian akan mampu melewati semua ini," ucap Tuan Hadi. Sambil mengusap rambut Istrinya dengan sangat lembut.


Kemudian Ia menuntun istrinya itu untuk duduk di atas kursi, lalu Ia menyuruh asistennya untuk mengurus semua administrasi Adrian.


Setelah menunggu beberapa Jam, akhirnya Dokter pribadi yang menangani kesehatan Adrian selama ini keluar dari dalam ruang IGD.

__ADS_1


Tuan Hadi dan istrinya yang melihat Dokter itu keluar dari dalam ruang IGD, mereka berdua serempak menghampirinya.


" Bagaimana dengan keadaan anak saya Dokter? apakah Ia baik-baik saja?" ucap Tuan Hadi. Tampak sangat khawatir.


Sedangkan Dokter pribadi mereka yang mendengar pertanyaan Tuan Hadi, Ia tidak menjawabnya sama sekali, melainkan Ia malah balik bertanya kepada Nyonya Rianti.


" Nyonya Rianti, sejak kapan Adrian mengalami sakit kepala seperti ini," tanya sang Dokter.


Nyonya Rianti menundukkan kepala, begitu mendengar pertanyaan Dokter itu barusan. sedangkan Tuan Hadi yang melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh istrinya, kemudian Ia menyuruh istrinya itu untuk segera menjawabnya.


" Mah, kenapa kau malah diam saja, cepatlah jawab pertanyaan Dokter pribadi Adrian," ucapnya.


Nyonya Rianti yang tadinya menundukkan kepala, kemudian Ia mengangkat kembali wajahnya untuk menghadap sang Dokter.


" Dokter, maafkan aku sebelumnya. Karena aku tidak segera memberitahukan hal ini kepadamu. sebenarnya Adrian mengalami sakit kepala, sudah beberapa Minggu yang lalu, tapi yang paling hebat baru kali ini," ucapnya merasa sangat bersalah, sebab Ia tidak memberitahukannya kepada sang Dokter.


" Apa...!" ucap sang Dokter merasa sangat kaget mendengar ucapan yang di utarakan oleh Nyonya Rianti.


Begitu juga dengan Tuan Hadi, Ia juga merasa sangat kaget mendengar pengakuan istrinya.


" Mah, kenapa kau melakukan hal ini? bukankah Mama tau kalau Adrian merasa sakit kepala seperti ini, itu pertanda Ia mengingat sekilas tentang masa lalunya," ujar Tuan Hadi kemudian.


" Maaf Pah, aku melakukan ini semua, karena aku tidak ingin kehilangan Adrian. Dan aku juga ingin menjadi Ibundanya Adrian seutuhnya, maafkan aku Pah, karena aku sudah terlalu egois," ucap Bu Rianti.


Sedangkan Dokter pribadi yang menangani kesehatan Adrian selama ini, Ia langsung menarik nafasnya dalam, setelah mendengar pengakuan Nyonya Rianti.

__ADS_1


" Nyonya, sekali lagi jangan lakukan hal ini lagi. Karena pasien berhak mengetahui masa lalunya, apalagi ini menyangkut identitas aslinya. seharusnya, anda membantu mengingat kembali masa lalunya, bukan malah membiarkannya," ucap sang Dokter. Kemudian Ia pergi meninggalkan Nyonya Rianti dan Tuan Hadi yang masih berdiri mematung di tempatnya.


__ADS_2