
Tania tampak terkejut mendengar penuturan Albert. Namun, sejurus kemudian Tania malah menopang dagunya dengan kedua tangan, lalu dia tersenyum manis menatap kearah Albert. Sebab dia tidak menyangka kalau Albert sekarang sudah berubah drastis.
" Benarkah apa yang kau katakan itu?" ucap Tania sambil tersenyum. Kemudian dia mulai meraih tangan Albert dan berniat untuk menggenggamnya.
Namun, Albert yang menyadari hal itu segera menggeser tangannya, hingga membuat Tania tak dapat meraihnya, lalu Tania memonyongkan bibir beberapa senti ke depan, karena dia merasa sedikit kesal.
Albert tersenyum di dalam hati. Sebab, dia merasa kalau gadisnya itu masih sama seperti dulu.
Namun, di luar dia tidak tersenyum melainkan Albert masih setia memasang wajah datarnya. Sedangkan Tania yang masih merasa kesal, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah samping. Hingga membuat ruangan privat itu tampak sunyi.
Tidak lama berselang datanglah pramusaji membawakan makanan terbaik di restoran mewah itu. Tapi, Albert dan Tania masih sama-sama berkutat dengan pikiran masing-masing.
Hingga pramusaji itupun pergi. Namun, keduanya masih belum juga ada tanda-tanda untuk memulai perbincangan.
Albert menarik nafas dalam. Melihat Tania yang masih setia dengan mode diamnya, lalu dia berinisiatif untuk memulai perbincangan.
" Kau tidak mau makan," tanya Albert kemudian. Lalu dia mulai mengambil sebuah piring, setelah itu baru ia mengambil nasi beserta lauk-pauknya.
Sedangkan Tania, dia masih diam tanpa berniat menikmati makanan yang berada di hadapannya. Meski tak dapat di pungkiri bahwa perut Tania sangat lapar saat ini.
" Kalau kau tak ingin makan tidak apa-apa, biarkan aku sendiri yang habiskan," ujar Albert acuh. Lalu dia kembali menikmati makanannya.
Sepersekian detik kemudian, terdengarlah suara perut Tania yang membuat Albert ingin tertawa. Namun dia tahan, sebab Ia tak ingin melihat Tania merasa kesal lagi.
" Baiklah aku akan makan, tapi kamu yang mengambilnya," ucap Tania sambil melihat jari manisnya.
Albert menghentikan sejenak aktivitas makannya, lalu dia menatap ke arah Tania.
" Tidak masalah, aku akan menuruti keinginan mu. Karena diriku tidak ingin melihat gadis cantik seperti mu merasa lapar, jika hal itu terjadi bisa-bisa nanti aku kena marah," jawab Albert. Kemudian dia mulai mengambil nasi beserta lauk-pauknya. Lalu Ia menyerahkan piring itu kepada Tania.
Tania pun tanpa sadar membuka mulut agak lebar, lalu dia menutupnya dengan kedua tangan. Sebab, ia tidak menyangka kalau Albert benar-benar menuruti keinginannya.
" Apakah Albert sudah berubah? apa dia sudah memaafkan kesalahanku? apa sekarang dia sudah mulai belajar mencintaiku kembali? Namun, jika hal itu terjadi, akulah gadis yang paling beruntung di dunia ini," batin Tania berkecamuk.
Tania masih diam saja, tanpa berniat menerima piring yang di sodorkan oleh Albert padanya, hingga membuat Albert menggeser posisi duduknya mendekat kearah Tania. Lalu dia mengibaskan tangan di depan wajahnya.
__ADS_1
" Kau kenapa? apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Albert.
Bukannya menjawab pertanyaan Albert. Tania malah tersenyum manis. Kemudian dia membuka mulut lebar-lebar. Dan sepertinya gadis itu sedang membayangkan kalau Albert saat ini sedang menyuapi dirinya dengan penuh cinta.
Sedangkan Albert yang melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Tania, diapun langsung mengerutkan kening.
" Gadis cantik, tapi aneh," ucap Albert dengan sedikit keras. Hingga membuat Tania tersentak kaget.
Tania yang sebelumnya sedang melamun, kini dia mulai sadar. Lalu Ia melihat ke arah Albert.
" Apa kau bilang, aku ini gadis aneh?" ucap Tania dengan sedikit keras.
Albert tersenyum mengejek.
" Bagaimana aku tidak bilang aneh, kau itu lucu sekali. Mau aku ceritakan detailnya," ejek Albert. Kemudian dia kembali duduk ke posisi semula.
" T... tidak perlu," jawab Tania terbata.
Kemudian Tania mengambil nasi yang tersaji di atas meja, lalu dia memakannya sampai habis.
Beberapa Jam berlalu. Makan siang yang tidak terlalu romantis itupun akhirnya berakhir. Dan sekarang Albert menatap kearah Tania dengan sangat lembut.
Bahkan sepertinya tatapan itu mengandung makna yang tersembunyi. Hingga membuat Tania merasa salah tingkah.
Sebab, inilah kali pertama Albert menatap Tania selembut ini, setelah kejadian beberapa tahun silam yang membuat Albert membenci dirinya. Dan Tania ingat betul tatapan Albert saat ini mengingatkan dia pada kejadian beberapa tahun lalu, saat Albert menyatakan cinta kepadanya.
" Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Tania Akhirnya.
" Ya," jawab Albert singkat.
Kemudian Albert merogoh kantong Jasnya, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah.
Lalu dia berdiri dan mendekat kearah Tania.
" Apa Albert ingin melamarku?" batin Tania. Karena dia sangat yakin kalau kotak merah yang di pegang Albert itu adalah sebuah cincin.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, kemudian Albert meraih tangan Tania dan menggenggam jari manisnya. Lalu Albert membuka kotak merah itu dan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.
Tania cukup terkejut menyaksikan perlakuan Albert padanya. Namun, dia tidak mengucapkan sepatah katapun, melainkan Ia hanya menikmati adegan demi adegan yang dilakukan oleh Albert.
" Selesai," ucap Albert akhirnya.
Setelah dia memasukkan cincin berlian itu ke jari manis Tania yang tampak sangat pas, dan tidak kebesaran ataupun kekecilan.
" Apa kau menyukainya," tanya Albert. Karena melihat Tania hanya diam saja.
Dengan menatap lurus ke depan, tanpa sadar Tania meneteskan air mata kebahagiaan. Dan sejurus kemudian, Iapun langsung memeluk tubuh Albert tanpa aba-aba.
" Aku sangat menyukainya Albert. Aku benar-benar sangat menyukainya," ucap Tania.
Gadis cantik itupun sekarang menangis tersedu di dalam pelukan Albert. Kemudian dia meminta maaf atas kesalahannya dulu.
" Maafkan kesalahan dan ke hilafan ku, aku benar-benar sangat menyesal karena telah menghinamu dulu, seharusnya aku sadar, kalau kamu adalah lelaki yang sangat aku cintai. Albert apa kau ikhlas memaafkan diriku?" ujar Tania dengan berderai air mata.
Albert yang tadinya tidak ingin merespon pelukan Tania terhadap dirinya. Kini tanpa sadar kedua tangannya sudah bertengger manis di pinggul Tania.
Sebab, dia merasa cukup iba mendengar gadis itu terus menangis di pelukannya.
" Sudahlah Tania, kau jangan menangis lagi, aku benar-benar tidak sanggup mendengarnya," ucap Albert sambil mengusap punggung Tania.
" Albert. Aku tidak akan berhenti menangis, jika kau belum memaafkan diriku," ujar Tania seraya mengeratkan pelukannya terhadap Albert.
" Baiklah, baiklah. Aku sudah memaafkan dirimu, jadi lepaskan pelukanmu sekarang," ucap Albert.
Tania pun melepaskan pelukannya terhadap Albert. Tapi, dia masih menangis sesenggukan. Hingga membuat Albert merasa iba, kemudian Albert mengambil sebuah sapu tangan berwarna hitam dari saku celananya. Lalu dia menyerahkannya kepada Tania.
" Hapuslah air matamu," ujar Albert.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, kemudian Tania meraih sapu tangan yang diberikan oleh Albert. Lalu dia mulai menghapus air matanya.
" Kau benar-benar sudah memaafkan ku 'kan," tanya Tania untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
" Iya. Aku sudah memaafkan mu," jawab Albert. tanpa sadar Ia menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis. Karena melihat Tania yang masih belum percaya dengan ucapannya.