Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 33


__ADS_3

Tuan Simon yang sejak tadi memeluk tubuh Adrian dengan sangat erat, kini dia mulai melepasnya begitu mendengar ucapan Albert barusan.


" Tidak, kau adalah Cucuku Albert, aku tidak mungkin salah lihat ataupun salah mengenali keturunanku sendiri dan kalau dirimu ingin bukti, mari kita pergi ke Mension. Lagi pula disini ada Tuan Hadi dan Nyonya Rianti, silahkan kau bertanya kepada mereka. apakah benar kamu ini adalah anaknya," sarkas Tuan Simon.


Kemudian Tuan Simon berjalan perlahan menuju kearah Nyonya Rianti. Lalu dia menarik tangannya agar segera mendekat kearah Albert.


" Silahkan kau tanyakan dan buktikan sendiri. Bahwa apa yang aku katakan sebelumnya adalah kenyataan," ujar Tuan Simon.


Albert, yang sedang berbaring di atas ranjang pasien, kemudian dia langsung duduk ketika melihat Bunda Rianti berdiri di sampingnya dengan berlinang air mata.


" Bunda, apakah benar apa yang dikatakan oleh kakek ini?" tanya Albert. sambil menunjuk kearah Tuan Simon.


Sedangkan Bu Rianti yang mendengar pertanyaan Adrian barusan, bahkan dia tak mampu menjawabnya, karena Ia sendiri sudah menganggap Adrian sebagai anaknya.


" Bunda, tolong jawablah pertanyaan ku, jangan biarkan aku memikirkan semua ini sendiri, karena aku sudah lelah dengan apa yang terjadi belakangan ini pada diriku," ucap Adrian. sambil meraih tangan Bu Rianti.


Sedangkan Nyonya Rianti yang melihat apa yang dilakukan oleh Adrian padanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, kemudian dia langsung memeluk Adrian. sambil menangis tersedu. Hingga membuat Adrian merasa bersalah atas apa yang dia katakan barusan.


" Bunda, maafkanlah kesalahanku, karena tanpa aku sadari, mungkin diriku telah menyakiti hati dan perasaanmu. Tapi aku mohon ceritakan lah kepadaku tentang kejadian yang sebenarnya, hingga membuat hatiku tidak bertanya-tanya lagi, siapa jati diriku yang sesungguhnya," ujar Adrian. sambil membalas pelukan Bu Rianti dengan sangat erat.


Namun, Bu Rianti yang mendengar ucapan Adrian barusan, kemudian dia langsung melepaskan pelukannya dari Adrian. Lalu Ia menghapus air mata yang sejak tadi mengalir dari sudut kelopak matanya dan tiba-tiba dia duduk di samping Adrian.


" Adrian anakku, memang benar, aku ini bukanlah Bunda yang melahirkanmu. Tapi, percayalah. Aku benar-benar sangat tulus menyayangi mu," ucap Bu Rianti. sambil mengusap wajah Adrian dengan penuh kasih sayang.


Adrian menarik napasnya dalam, ketika mendengar ucapan Bu Rianti barusan, lalu dia meraih tangan Bundanya yang sejak tadi mengusap wajahnya dengan penuh kasih sayang.


" Bukannya aku meragukan kasih sayangmu selama ini padaku Bunda. Tapi aku berhak mengetahui jati diriku yang sebenarnya," ujar Adrian dengan sangat lembut. Bahkan, hampir saja tak terdengar oleh Bu Rianti.

__ADS_1


Bu Rianti berpikir sejenak, tentang apa yang telah di katakan oleh Adrian. Karena dia melihat, bahwa sebenarnya Adrian sangatlah terguncang dengan kejadian ini. Tapi Adrian berusaha menyembunyikan hal itu dari semua orang.


" Baiklah Nak, aku akan mengatakan yang sejujurnya padamu, bahwa kamu bukanlah anak kandung kami, aku dan suamiku menemukan mu waktu itu terdampar di pantai dengan keadaan cukup menyedihkan," jelas Bu Rianti.


" A...Aku, terdampar di pantai," ucap Adrian dengan terbata.


" Iya Nak, bahkan kamu hampir Dua Minggu tak sadarkan diri, dan ketika kamu sadar, Dokter pribadi yang merawat mu waktu itu memberitahukan kepada kami, bahwa kamu tidak mengingat jati dirimu yang sebenarnya, maka dari itu aku dan suamiku mengangkat mu sebagai anak kandung kami sendiri," jelas Bu Rianti.


Namun, pada saat Bu Rianti berbincang tentang jati diri Adrian yang sesungguhnya. tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. sehingga mau tidak mau Adrian dan Bu Rianti pun menghentikan pembicaraan mereka.


" Masuklah, pintunya tidak di kunci," ujar Pak Hadi dari dalam.


Sehingga membuat Rindu dan Tania yang berada di luar pintu, begitu mendengar seseorang menyuruh mereka untuk segera masuk, keduanya pun langsung mendorong pintu itu secara perlahan.


Namun, ketika pintu itu terbuka lebar, Tania langsung terkejut melihat keberadaan Tuan Simon di dalam ruang rawat Albert.


Sama halnya dengan Tania, Tuan Simon juga sangat terkejut melihat kedatangan Tania.


" Nak Tania, kamu sendiri kenapa bisa sampai di sini?" tanya Tuan Simon. sambil mengerutkan keningnya. karena dia sangat terkejut melihat ke datangan Tania.


" Begini Kek, aku kesini tadinya hanya sekedar berkunjung ke rumah paman. Untuk melupakan seseorang yang sangat begitu penting di dalam masa laluku. Tapi, hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya terjadi, diriku tiba-tiba di pertemukan kembali dengannya, sehingga kini hidupku mulai berwarna kembali, walaupun orang itu tidak mengenali diriku. Tapi, aku yakin suatu saat nanti dia akan mengingatku," ucap Tania. sambil menghapus bulir bening yang jatuh dari sudut kelopak matanya.


Sedangkan Rindu yang mendengar penuturan Tania barusan, kemudian dia menghampiri Tania, lalu Ia mengusap punggungnya dan berharap agar keinginan Tania itu akan segera terkabul.


Begitu juga dengan Tuan Simon, dia pun memberi semangat kepada Tania, agar selalu bersabar menunggu hari itu tiba.


Namun, Adrian yang sedang berada di atas ranjang pasien, begitu melihat ke datangan Tania, sakit di kepalanya mulai kambuh. Hingga membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu merasa sangat panik.

__ADS_1


" Ah...!" teriak Adrian. sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. sebab bayangan Tania selalu saja terlintas di dalam pikirannya akhir-akhir ini. apa lagi saat ini Tania sedang berdiri di hadapannya.


" Adrian, kau kenapa Nak? Apa sakit di bagian kepalamu kambuh lagi?" tanya Bu Rianti. sambil memegang tangan Adrian.


" Iya Bunda," jawab Adrian singkat.


Sedangkan Tuan Simon, begitu melihat keadaan Cucunya seperti itu, kemudian dia memerintahkan Will, agar segera memanggil Dokter.


" Will, cepat kau panggilkan Dokter sekarang juga," ucap Tuan Simon. karena dia sangat panik melihat keadaan Albert untuk pertama kalinya.


Kemudian dia mendekat ke arah Albert dan menenangkannya.


" Tenanglah cucuku, sebentar lagi Dokter akan datang memeriksa mu," ucapnya sambil mengusap-usap punggung Albert.


Tidak lama kemudian, terdengarlah suara pintu terbuka, dan muncullah seorang Dokter beserta suster yang selama ini merawat kesehatan Adrian.


Dokter itupun langsung menyuruh semua orang yang berada di dalam ruangan itu untuk segera keluar. Karena dia ingin segera memeriksa keadaan Adrian.


Di Luar Ruangan


Terlihat wajah semua orang menunjukkan rasa khawatir dengan keadaan Albert saat ini.


Apa lagi dengan Bu Rianti, dia terlihat sangat khawatir, karena sejak tadi Dokter yang memeriksa keadaan Adrian belum juga keluar sampai saat ini.


" Pah, apakah keadaan Adrian akan baik-baik saja," tanya Bu Rianti.


" Tenanglah Mah, Papa sangat yakin keadaannya akan baik-baik saja, apa lagi sekarang disini sudah ada keluarganya," ujar Pak Hadi.

__ADS_1


__ADS_2