Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 91


__ADS_3

Tania terdiam mendengar ucapan Rani barusan, lalu dia mengusap dagunya karena merasakan sakit yang luar biasa.


Namun walaupun begitu, Tania tak merasa takut sama sekali dengan ancaman Rani, sebab menurutnya itu hanya gertakan semata, agar dia merasa takut. Hingga sepersekian detik kemudian Tania berusaha untuk melakukan perlawanan dengan menginjak kaki Rani dengan sekuat tenaga, dan berniat merebut senjata api yang berada di tangan Rani.


Lalu Tania mendorong tubuh Rani dan juga Rina secara serentak, hingga membuat kedua wanita kembar itu jatuh tersungkur ke belakang, dan senjata api yang berada di tangan Rani pun sampai terlepas dan terlempar ke arah sudut ruangan.


Sedangkan Tania yang melihat senjata api yang terlepas dari tangan Rani, kemudian dia berusaha untuk meraihnya.


Namun, usaha yang dia lakukan ternyata hanya sia-sia belaka, karena Tania belum sempat mengambil senjata api itu tiba-tiba Dion datang dan mengambilnya. Kemudian Dion mengarahkan pandangannya pada Rina dan juga Rani yang terlihat sedikit berantakan.


Dion terdiam beberapa saat, lalu dia menyuruh Rina dan Rani keluar. Dan menatap Tania dengan mata elangnya sambil mengarahkan senjata api itu pada kening Tania, hingga membuat wanita cantik itu tidak bergeming sama sekali.


Setelah kepergian Rina dan Rani dari ruangan itu, Dion pun mulai mendekatkan diri pada Tania, hingga membuat gadis cantik itu mundur beberapa langkah. Sedangkan Dion yang melihat tingkah laku Tania yang begitu ketakutan, kemudian dia langsung menyunggingkan senyuman sembari mengikuti langkah kaki Tania.


" Jangan bergerak, jika kau tidak ingin timah panas ini menembus kepalamu," Bentak Dion.

__ADS_1


Lalu dia mendekatkan wajahnya ke arah Tania sembari mengelus rambut panjang Tania dengan penuh kelembutan.


Sedangkan Tania yang mendapat perlakuan yang tidak senonoh itu dari Dion, lalu dia dengan refleks menampar pipi Dion dengan sekuat tenaga yang dia miliki.


" Jangan coba-coba untuk menyentuhku lagi Dion, walaupun itu hanya sehelai rambut, ingat itu...!" ujar Tania marah.


Dion tersenyum tipis, lalu dia mengelus pipinya yang tampak kemerahan, karena tamparan Tania memang cukup keras. Namun, walaupun begitu Dion tidak menyerah sama sekali, dan berniat membalas perlakuan Tania pada dirinya. Dengan wajah yang sulit di artikan, kemudian dia mendekat ke arah Tania dan langsung menarik rambut panjang Tania dengan sangat kencang. Hingga membuat gadis cantik itu berteriak kesakitan.


Teriakan kesakitan pun terus menerus keluar dari mulut Tania, Tapi Dion tidak memperdulikannya sama sekali. Sebab dia berpikir kalau dia tidak memperlakukan Tania seperti itu, mantan kekasihnya itu tidak akan pernah mau menuruti keinginannya. Dan tidak butuh waktu lama akhirnya kata ampun pun keluar dari mulut Tania.


Dion tersenyum lebar kala melihat Tania sudah menyerah. Namun, dia sama sekali belum berniat melepaskan genggaman tangannya dari rambut panjang Tania, malah dia semakin bernafsu menarik rambut panjang Tania. Sebab, dia kembali teringat bagaimana adiknya Gani mati dengan cara yang cukup mengenaskan.


" Aku akan membunuhmu secara perlahan, dan ini akan membuat suamimu Albert mengingat apa yang telah dia lakukan pada adikku Gani," ujar Dion seraya menampar pipi Tania dengan sangat kencang. Bahkan tubuh Tania terlempar hingga beberapa langkah.


Tidak hanya itu, Dion kembali meraih tubuh Tania yang sudah tidak berdaya, dan berniat menyiksanya kembali. Namun tiba-tiba Rifki datang dan melihat apa yang telah Dion lakukan pada Tania.

__ADS_1


" Apa yang kau lakukan Dion? apa kamu berniat membunuhnya sekarang? jika hal itu terjadi, semua rencana mu untuk membangun perusahaan mendiang ayahmu tidak akan pernah terwujud," ujar Rifki.


Kemudian dia berjalan perlahan mendekat ke arah Dion sembari membisikkan sesuatu ditelinga Dion.


" Dia adalah ladang uang bagi kita, dan sekarang lepaskan lah dia. Sebab, pria hidung belang yang memesan dirinya sudah menunggu di Hotel, dan apa kau tau... dia bahkan sudah mentransfer separuh pembayaran untuk wanita ***.*** ini," ucap Rifki.


Wajah Dion seketika berbinar, lalu dia kembali mendekatkan wajahnya pada Tania, dan berniat mengancam wanita cantik itu agar tidak melakukan perlawanan lagi.


" Dengarkan perkataan ku Tania, jika kau masih ingin hidup dan bertemu dengan suami tercintamu Albert, maka turutilah apa yang aku katakan, jika tidak...!" Dion tiba-tiba menghentikan ucapannya, karena Tania memotongnya.


" Jika tidak apa Dion, apa kau akan membunuhku?" tanya Tania disertai dengan senyuman tipis. Sebab, dia merasa lebih baik mati daripada menuruti keinginan Dion yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


Mendengar ucapan Tania barusan, membuat Dion kembali tersulut emosi dan berniat melayangkan sebuah tamparan pada pipi Tania. Namun tindakannya itu lagi-lagi di halau oleh Rifki.


" Kau jangan terprovokasi oleh ucapnya Dion. Sebab, itulah yang dia inginkan. Dan sekarang lebih baik kau menyuruh Rina dan Rani untuk segera mendandaninya, agar kita mengantarkan wanita ini ke Hotel, dan ingat... dia adalah ladang uang bagi kita," ujar Rifki kembali mengingatkan Dion.

__ADS_1


" Baiklah," ucap Dion. Kemudian dia memanggil Rina dan Rani yang sedang menunggu di depan pintu.


__ADS_2