Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 32


__ADS_3

Sedangkan Tuan Simon dan Will, ketika waktu meeting itu di tunda, kemudian Ia langsung memesan kamar hotel untuk Tuan Simon. Dan saat ini mereka berdua sedang menuju ke Hotel, untuk beristirahat sejenak.


Namun, di saat di tengah jalan, tiba-tiba Tuan Simon memerintahkan Will untuk memutar balik kendaraannya.


" Will, antarkan aku bertemu dengan Tuan Hadi di rumah sakit, karena diriku ingin menjenguk anaknya yang sedang di rawat itu," ucap Tuan Simon.


" Tuan, bukan maksudku untuk menggurui anda. Tapi, untuk saat ini lebih baik Tuan istirahat dulu saja di Hotel. Kalau mengenai anak Tuan Hadi yang sedang di rawat di rumah sakit, besok pagi juga kita bisa kan menjenguknya," ujar Will.


Tuan Simon terdiam sejenak, menghayati apa yang telah di katakan oleh Will barusan. Namun, sejurus kemudian Iapun tampak tidak tenang, karena sejak tadi Ia tidak bisa berhenti memikirkan tentang keadaan anaknya Tuan Hadi.


" Bagaimana ini, kenapa sejak aku mendengar kabar, kalau anaknya Tuan Hadi masuk rumah sakit, hatiku tidak bisa tenang. padahal, aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya, pertanda apakah ini?" batin Tuan Simon bertanya-tanya di dalam hati.


Kemudian Ia kembali menatap ke arah Will yang sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Will, saat ini hatiku merasa tidak akan tenang, kalau aku tidak menjenguk anaknya Tuan Hadi di rumah sakit," ucap Tuan Simon kemudian.


" Tapi, Tuan...!" ucap Will tiba-tiba menghentikan kata-katanya, karena Tuan Simon langsung memotong ucapannya barusan.


" Sudahlah Will, lebih baik kita pergi sekarang ke rumah sakit. Sebab, kalaupun kita pergi ke Hotel percuma saja, karena nanti aku tidak akan bisa beristirahat dengan tenang. Karena memikirkan kesehatan anaknya Tuan Hadi. Jadi, sudah aku putuskan, lebih baik kita pergi ke rumah sakit saja sekarang," sarkas Tuan Simon.


Sedangkan Will yang mendengar keputusan dari Tuan Simon, bahkan saat ini dirinya sudah tidak bisa berbuat apa-apa, Ia hanya diam membisu, karena sebelumnya Ia telah mengingatkan Tuan Simon, untuk segera beristirahat. Namun, apa boleh buat, Jika Tuan Simon sendiri tidak ingin beristirahat, dirinya kan tidak mungkin memaksakan kehendaknya.


" Baiklah Tuan," ucapnya sambil memutar balik kendaraannya untuk menuju ke arah rumah sakit.


Dalam perjalanan, Will merasa ada yang aneh dengan Tuannya, padahal Tuan Simon kan tidak mempunyai hubungan apapun dengan Tuan Hadi, tapi kenapa dirinya bersikeras untuk menjenguk anaknya, sungguh aneh," batin Will. Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sepuluh menit kemudian, Mobil mewah yang mereka kendarai itupun berhenti di depan sebuah Rumah sakit yang Tuan Simon tuju. Dengan langkah yang sedikit tergesa, kemudian Ia langsung berjalan memasuki ruangan dengan logo Direktur utama. Dan menanyakan tentang keluarga atas nama Tuan Hadi.


Namun, sepertinya, Direktur utama rumah sakit itu mengenal banyak tentang Tuan Simon, sehingga Ia menyambut kedatangannya dengan sangat ramah.

__ADS_1


" Maksud Tuan Simon, Tuan Hadi. Yang anaknya bernama Adrian itu," tanya Direktur utama rumah sakit itu dengan sangat ramah.


" I..iya, Pak Direktur," jawab Tuan Simon terbata, karena sebenarnya Ia juga tidak mengenal nama anak dari Tuan Hadi tersebut.


" Baiklah kalau begitu, mari saya antarkan kedalam ruangannya," ucap Direktur rumah sakit itu.


Kemudian Ia langsung berdiri dari tempat duduknya. Lalu Ia berjalan di depan Tuan Simon dan Will.


💦💦💦


Sedangkan Adrian. Keadaannya sudah semakin membaik, sehingga suster yang bertugas merawat Adrian, kini mereka sudah memindahkannya ke dalam ruang rawat.


Di Dalam Ruang Rawat


Tampak Bu Rianti sedang mengusap kepala Adrian dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Tuan Hadi, mengupas Buah Apel dan memotongnya hingga beberapa bagian.


" Anakku Adrian, sekarang buka mulut mu. Dan makanlah buah Apel ini, biar kau cepat sembuh," ucap Tuan Hadi. Sambil mengarahkan buah Apel itu kedalam mulut Adrian.


" Ayolah... Coba sedikit saja Nak, rasanya juga enak dan manis," Ujar Tuan Hadi.


Namun, pada saat Tuan Hadi mengarahkan kembali buah Apel itu kedalam mulut Adrian, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.


Sehingga membuat Tuan Hadi dan istrinya saling melirik satu sama lain.


" Pah, siapa yang datang? Bukankah ini adalah Jam istirahatnya Adrian, Dan suster juga baru saja keluar dari dalam ruangan ini," tanya Bu Rianti kepada suaminya.


" Aku sendiri tidak tau Mah," ucap Tuan Hadi. Sambil berjalan menuju kearah Pintu, kemudian Ia langsung memutar kenop pintu tersebut dan menariknya perlahan.


Begitu Pintu Dibuka

__ADS_1


Mata Tuan Hadi langsung membulat sempurna, ketika melihat orang yang berdiri di hadapannya.


" T... Tuan Simon," ucapnya terbata.


" Ya, Tuan Hadi, aku datang kemari hanya untuk menjenguk anakmu, siapa tadi namanya Will," tanya Tuan Simon kepada Will.


" Adrian, Tuan," Jawab Will.


" Oh... Iya, kenapa aku sampai lupa? Padahal Direktur utama rumah sakit ini tadi sudah memberitahukan namanya kepadaku, tapi kenapa sampai di sini, aku tiba-tiba lupa," ucap Tuan Simon.


Tuan Hadi yang mendengar ucapan Tuan Simon barusan, membuat dirinya tersenyum kecil, setelah itu barulah Ia mempersilahkan Tuan Simon untuk segera masuk.


" Mari silahkan masuk Tuan, aku tidak menyangka kalau kau sudah menyempatkan waktu mu untuk menjenguk anak saya di rumah sakit ini, terima kasih banyak," ucap Tuan Hadi.


Sedangkan Direktur utama rumah sakit yang mengantarkan Tuan Simon sebelumnya, begitu Tuan Simon dan Tuan Hadi saling bertemu, kemudian Iapun meninggalkan keduanya dan berjalan kembali menuju ruangannya.


Begitu Tuan Simon masuk ke dalam ruang rawat tersebut, tiba-tiba Ia menghentikan langkahnya, karena dirinya merasa sangat terkejut melihat seorang Pemuda tampan yang sedang berbaring lemas di atas ranjang pasien itu.


" Albert, cucuku," ucapnya. Sambil berhambur memeluk tubuh Albert yang berada di atas ranjang pasien itu.


Begitu juga dengan Will, Ia bahkan mengucek matanya hingga beberapa kali, karena dirinya juga sangat terkejut melihat seseorang yang begitu mirip dengan Albert.


" Aku tidak salah lihat kan? Apakah ini kenyataan atau hanya mimpi," ucap Will. Sambil menepuk pipinya hingga beberapa kali.


" Aduh... Ternyata lumayan sakit, itu tandanya ini adalah benar-benar kenyataan," ucap Will. Kemudian Ia berjalan menghampiri Tuan Simon yang masih memeluk tubuh Albert.


Sedangkan Adrian yang mendengar namanya dipanggil Albert dengan dua orang yang berbeda, Iapun langsung mengerutkan keningnya.


" Tuan, apa yang kau lakukan, lepaskan pelukanmu sekarang juga dariku, aku ini Adrian bukan Albert," ujarnya kemudian.

__ADS_1


Sedangkan Bu Rianti dan Tuan Hadi, saat ini mereka berdua tidak bisa berbuat apa-apa, mereka berdua hanya menonton adegan demi adegan yang terjadi di depan mata mereka.


" Pah, apakah sudah saatnya kita berpisah dengan anak kita Adrian," ucapnya. Sambil menitihkan air mata kesedihan.


__ADS_2