
Pelayan Eric yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Albert, mulai menyadari kalau tuan mudanya itu sedang gelisah. Hingga membuat Eric yang sempat ingin keluar, malah kembali lagi menghampiri Albert.
" Tuan muda, kalau boleh tau apa yang membuat anda gelisah seperti ini?" tanya Eric.
Albert sedikit tersentak, ketika mendengar suara Eric, sebab dia berpikir kalau Eric sudah keluar dari dalam kamarnya. Kemudian Albert membalikkan badan.
" Eh...kau Eric. kau masih disini? aku pikir tadi kau sudah keluar," ujar Albert.
" Iya Tuan Albert, tadinya aku memang sudah mau keluar, tapi karena aku melihat ekspresi anda segelisah ini. Jadi, kembali mengurungkan niatku," jawab Eric.
Albert terdiam sesaat, dan berpikir apakah dia akan menceritakan kegundahan hatinya saat ini kepada Eric.
Sedangkan Eric yang melihat tuan mudanya masih diam saja, Iapun memberanikan diri untuk memberikan sedikit nasehat. Berharap beban pikiran Albert bisa berkurang.
" Tuan. Jika kau merasa berat untuk melakukan permintaan kakek anda, maka jangan kamu lakukan. Sebab, hubungan yang terpaksa itu tidak akan baik di kemudian hari. Namun, jika anda masih ada cinta terhadap Nona Tania, maka kejarlah. Sebab, kalau Nona Tania sudah berpindah ke lain hati, maka kesempatan anda untuk kembali memilikinya sudah tidak ada lagi," ucap Eric kemudian.
Albert lagi-lagi terdiam mendengar ucapan Eric yang menurut dia ada benarnya. Namun, sejurus kemudian Eric kembali menasehati tuan mudanya.
" Tuan muda, lupakanlah masa lalu yang suram itu, dan cobalah mengingat kembali kenangan manis anda bersama Nona Tania, karena dengan hanya itulah yang membuat mu bisa melupakan penghinaan yang dia lakukan, kalau perlu kau jangan pernah lagi sekalipun mengingatnya," ucap Eric.
Kemudian Albert menatap kearah Eric dengan sangat lekat dan lembut.
" Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Albert kemudian.
" Nah... Gitu dong Tuan muda, kalau begitu tersenyumlah, karena dengan senyuman semua masalah bisa teratasi," ucap Eric dengan sedikit bercanda. Sebab, dia ingin mencairkan suasana hati Albert, yang sebelumnya sempat gundah gulana.
Setelah itu barulah Albert meninggalkan kamarnya, yang diikuti oleh Eric dari belakang, dan dia ingin mengantarkan Albert sampai di depan rumah.
" Hati-hati tuan muda," ucap Eric. sambil melambaikan tangannya terhadap Albert.
Sedangkan Albert yang melihat kelakuan Eric, dia sempat menggelengkan kepala, karena sifat pelayannya itu tidak seperti biasa.
__ADS_1
💦💦💦
Di Rumah Tania
Tampak gadis cantik itu sedang bersenandung ria, dan saat ini dia terlihat sangat bahagia, walaupun sebelumnya ia sempat merasa heran dengan kedatangan Will yang tiba-tiba. Padahal, dia tau kalau hari ini adalah hari libur.
Namun, karena ini adalah atas perintah Albert, akhirnya Tania bersedia datang menemui Albert di restoran mewah itu.
" Bagaimana dengan penampilanku, apakah sudah maksimal," ucapnya pada pantulan dirinya di depan cermin. Lalu dia berputar ke kiri dan ke kanan.
" Aku rasa sudah sempurna, tinggal mengoleskan lipstik warna pink ini saja," ucap Tania lagi-lagi berbicara pada dirinya sendiri. kemudian dia mengoleskan lipstik warna pink natural itu ke bibir indahnya.
" Sempurna...!" ucapnya kemudian.
Setelah itu barulah Tania turun dari dalam kamar, sambil menenteng tas kecil nan imut, senada dengan warna baju yang dia pakai.
Namun, disaat dia sampai di ruang tamu, tiba-tiba Pak Reno menghentikan langkah kakinya.
Sedangkan Tania, dia tersenyum manis mendengar pertanyaan itu, lalu Ia sedikit mendekat kearah Papinya. Hingga membuat Pak Reno merasa heran dengan tingkah laku anak gadisnya.
" Jangan bilang kau mau berkencan dengan seorang lelaki," tebak Pak Reno langsung mengutarakan apa yang ada didalam pikirannya.
Tania lagi-lagi tidak bicara sedikitpun, dia hanya menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman.
" Sudahlah Papi, aku mau berangkat, nanti saja aku ceritakan. Karena aku tidak ingin terlambat," ucap Tania sambil melirik sekilas kearah Jam tangan yang ada di pergelangannya.
Kemudian Tania meraih tangan Papinya, lalu dia mencium punggungnya.
" Dah... Papi, selamat tinggal. Semoga liburan mu di rumah menyenangkan," ucap Tania. sambil tersenyum kearah Papinya yang masih mematung di tempat.
Tania pun langsung masuk ke dalam mobil, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
💦💦💦
Berbeda dengan Albert. Saat ini dia sudah sampai di restoran mewah itu, kemudian Ia langsung berjalan menuju ruangan privat yang sudah di pesan oleh Will sebelumnya. Dan kini Albert sudah duduk manis di atas kursi, sambil menunggu kedatangan Tania.
Tidak lama berselang datanglah Tania yang diantarkan oleh seorang pelayan. Kemudian dia duduk berhadapan dengan Albert.
" Hai... Albert. apakah aku terlambat? dimana tamu istimewa perusahaan kita? apa mereka sudah datang?" deretan demi deretan pertanyaan di ajukan oleh Tania kepada Albert. Namun, Albert hanya menanggapinya dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
Tania merasa sedikit kesal dengan sikap Albert. Meskipun tidak dapat di pungkiri ada rasa bahagia di dalam hatinya karena Albert mulai tersenyum padanya.
" Hei... Bukannya menjawab pertanyaan dariku, kau malah tersenyum. ada apa denganmu? tumben sekali anda tersenyum manis, biasanya kau selalu memasang wajah datar jika ada di hadapanku," ujar Tania seraya menatap kearah Albert penuh dengan teka-teki. Dan dia merasa kalau saat ini Albert sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Mendengar ocehan Tania barusan, membuat Albert kembali memasang wajah datar, lalu dia memperbaiki Jasnya yang tampak sedikit berantakan. Dan sejurus kemudian, Albert mulai menceritakan kalau sebenarnya tidak ada tamu istimewa perusahaan yang datang menemui mereka saat ini.
Tania pun langsung terkejut mendengar penuturan Albert, Kemudian dia berdiri dari kursinya.
" Jadi, untuk apa aku datang ke mari! bukankah Will mengatakan kalau ada tamu istimewa, dan itu tandanya dia membohongi diriku?" tanya Tania akhirnya.
Albert terdiam sesaat, lalu dia menyuruh Tania untuk duduk kembali.
" Silahkan duduk dulu, dan kau tidak perlu marah begitu, dan baiklah aku akan mengakuinya kalau akulah yang meminta Will menyuruhmu datang ke mari," ucap Albert.
Tania cukup merasa kaget mendengar ucapan Albert barusan. Lalu dia kembali duduk pada kursinya.
" B... baiklah. silahkan kau jelaskan, apa yang kamu inginkan dariku. Dan satu hal lagi, katakan apa tujuanmu mengundang ku datang ke mari," ujar Tania anggun. Namun, mengandung ketegasan di setiap kalimatnya.
Albert terdiam sesaat, kemudian dia mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
Sebenarnya Albert merasa tak sanggup mengakui kalau dirinyalah yang mengundang Tania datang ke restoran mewah itu. Tapi, demi kakeknya dia akan mengakui di hadapan Tania, kalau dia sendirilah yang mengundang Tania.
" Hm... baiklah, aku yang mengundang mu datang ke mari, dan baju yang kamu pakai itu, aku juga yang membelinya," ucap Albert dengan sangat pelan. Namun, masih terdengar oleh Tania.
__ADS_1