
Dion yang mendapat jeda pukulan Albert kemudian dia berdiri, walaupun seluruh wajahnya sudah tampak babak belur, tapi ternyata dia belum menyerah.
Dengan kemarahan yang luar biasa kemudian Dion mengambil sebuah pisau kecil yang dia selipkan di sepatu bot koboi yang dia pakai.
"Albert sialan.... matilah kau," teriak Dion sambil berjalan sempoyongan menuju Albert yang saat ini sedang menghajar Rifki habis-habisan.
Sedangkan Will yang melihat hal itu, kemudian dia langsung berteriak keras memanggil Albert.
" Tuan muda awas....!" teriak Will.
Albert seketika membalikkan badan saat mendengar teriakan Will barusan, dan dia begitu kaget melihat Dion yang berjalan kearahnya sambil memegang pisau di tangannya.
" Hiat...!" ujar Dion sambil terus berjalan kearah Albert.
Bhug....
Botak dan Liam yang datang dari arah belakang, langsung memukul punggung Dion dengan sebuah balok kayu, sedangkan Dion dia langsung tersungkur ke tanah kala mendapat serangan Botak yang begitu tiba-tiba.
Albert merasa lega. Bahkan Ia sampai mengusap dada hingga beberapa kali. Sedangkan Dion ia yang melihat anak buah Albert ikut campur dalam urusannya dia tampak sangat begitu kesal. Lalu dia menatap kearah anak buah Albert dengan sangat tajam.
" Kalian berdua, kenapa selalu ikut campur dalam urusanku," teriak Dion kesal.
Albert tersenyum. Lalu dia berjalan kearah Dion yang sedang bertengkar dengan Botak dan Liam.
" Kau sendiri tidak melarang Rifki untuk ikut campur, jadi kenapa kau malah marah saat anak buah ku ikut campur," ujar Albert saat dia sudah sampai di hadapan Dion.
Sedangkan Will, untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan, saat melihat Albert meninggalkan Rifki yang terengah-engah karena mendapat pukulan bertubi-tubi dari Albert, kemudian dia mendekatinya dan menyuruh anak buahnya untuk segera menghabisi nyawa Rifki.
__ADS_1
Dor...dor...dor
Sebuah tembakan bertubi-tubi mengarah pada Dada Rifki, dan sekarang Bos kalajengking itupun langsung mati di tempat dalam keadaan mengenaskan.
Sedangkan di tempat lain
Anak buah Albert sudah mulai menguasai tempat itu, dan anak buah Rifki yang sebelumnya berjumlah ribuan kini hanya tinggal beberapa orang saja.
Anak buah Albert terus melancarkan serangan pada anak buah Rifki, hingga anak buah Rifki menyerah dan mengakui kekalahan mereka.
" Kami menyerah," ucap anak buah Rifki sambil membuang senjata dan mengangkat tangan mereka ke atas. Berharap Albert mengampuni nyawa mereka dan membiarkan mereka tetap hidup.
Anak buah Albert yang mendengar hal itu segera menghentikan serangannya, dan segera menyuruh salah satu bawahannya untuk memberitahukan hal ini pada Tuan muda mereka.
Para bawahan itupun berlari kecil menuju kearah Albert dan Will.
" Tuan muda, bagaimana. Apakah kita akan membiarkan mereka tetap hidup atau kita akan menghabisi nyawa mereka?" bisik salah satu bawahan itu di telinga Albert dan Will.
Albert dan Will saling menatap satu sama lain.
" Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini Will," ujar Albert.
" Menurut pendapatku orang yang sudah menyerah dan mengakui kekalahan, kita tidak mungkin membunuhnya, tapi kalau kita tidak membunuh mereka aku takut mereka akan membuat kelompok baru dan akan kembali balas dendam terhadap kita," ucap Will tampak serius.
Albert terdiam beberapa saat, kemudian dia menatap kearah Dion yang saat ini sedang di hajar habis-habisan oleh Botak dan Liam.
Keheningan pun terjadi. Ia bingung harus berbuat apa pada anak buah Rifki yang menyerah dan sudah mengakui kekalahannya.
__ADS_1
Will yang melihat Tuan mudanya itu bingung, lalu dia pun mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Albert.
" Tuan, kita tidak perlu membunuh mereka, tapi kita 'kan bisa mengirim mereka semua ke pulau yang dihuni oleh para binatang buas, dan aku rasa itu lebih menyakitkan dari pada di tembak mati," ucap Will.
Albert mengangguk, menyetujui ide brilian Will barusan. Lalu diapun menghentikan Botak dan Liam yang menghajar Dion saat ini.
" Botak, Liam, hentikan. Ada tugas yang lebih penting untuk kalian lakukan," ucap Albert.
Botak dan Liam yang mendengar perintah Tuan mudanya itu langsung berhenti menghajar Dion, lalu mereka berdua serempak mendekat kearah Albert.
" Tugas apa itu Tuan muda?" tanya Botak saat Ia sudah berada di hadapan Albert.
" Kalian berdua pergilah ke pulau yang dihuni oleh bintang buas, dan bawa semua anak buah Rifki yang sebelumnya sudah menyerah, dan biarkan mereka semua menjadi santapan lezat untuk hewan peliharaan kita di sana," ujar Albert.
" Lalu bagaimana dengan Dion si pecundang itu, apa kami juga perlu membawanya ke sana Tuan muda?" tanya Botak.
Albert berpikir sejenak, sambil mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di kening.
" Tidak perlu, aku akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri," ujar Albert.
Kemudian dia mengambil senjata Laras panjang yang berada di tangan salah satu bawahan yang memberikan informasi tadi, lalu dia mengarahkannya pada Dion. Dan tidak lama berselang, terdengarlah suara tembakan bertubi-tubi menghantam seluruh tubuh Dion.
Dion pun kini sudah mati mengenaskan, dengan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh timah panas.
Sedangkan Albert, dengan melihat kematian Dion akhirnya dia merasa lega karena sudah berhasil membalaskan dendamnya selama ini.
END
__ADS_1